
Cedric pergi ke dapur, lalu menarik sebuah kursi dan meletakannya di depan wastafel. Dia pun mulai mencuci tangannya. Setelah itu mendorong kursi yang tadi baru saja dia pakai.
Cedric mendorongnya sampai ke meja makan, lalu mengambil kotak bekal makannya, dan mulai memasukan nasi kepal, sushi,buah, susu ke dalam kotak makannya, “Ma, hari ini kita akan pergi kemana?”
“Kita pergi untuk melihat sekolah barumu,” jawab Flavia.
“Apa papa Felix akan menemani?” tanya Cedric.
“Tidak sayang, hanya kita saja, papa Felix sedang sibuk menyelamatkan dunia,” jawab Flavia tertawa sambil mengelus lembut puncak kepala putranya itu.
“Ma bolehkah aku pergi ke taman bermain?” tanya Cedric.
“Kita lihat nanti, ok!” jawab Flavia yang merasa saat ini prioritas utama adalah sekolah Cedric.
“Bekal makan sudah siap, saatnya pergi melihat-lihat ke sekolah,” ujar Flavia lagi.
Cedric mengambil tas ransel kecilnya, memakai celana pendek warna biru. Kemeja berwarna putih dengan dasi kupu-kupu dan sepatu kets berwarna senada dengan celana pendeknya. Flavia bersimpuh di depan Cedric, menciumi gemas wajah putranya itu lalu memakaikan kaca mata hitam, seraya berpikir, ‘Kau semakin mirip dengan papamu’
“Ma, kenapa aku harus pakai kacamata hitam?” tanya Cerdric.
“Karena kau terlalu tampan, Mama takut ada orang yang mau menculikmu,” jawab Flavia sambil teringat dengan Eryk Lin.
Mereka masuk ke dalam mobil, “Kau yang pilih sekolah pertama yang mau kita kunjungi ya,” ujar Flavia seraya memberikan semua brosur-brosur sekolah ke Cedric.
Cedric membuka satu persatu, brosur itu, “Kita pergi ke sini,” ujarnya seraya memberikan brosur yang dia pilih.
“Ok,” jawab Flavia lalu melajukan mobilnya kearah sekolah yang Cedric pilih.
Cedric menempelkan wajahnya di jendela mobil, ketika melihat taman bermain yang dia lihat tadi malam, ‘Itu milik Tuan tampan’ ujarnya dalam hati.
“Ma, tidak perlu pergi ke tempat lain. Aku sekolah di sini saja,” ujar Cedric.
“Sayang, kita belum sampai sekolah lho, kau bahkan belum melihatnya,” ujar Falvia.
“Sepertinya sekolah itu bagus,” jawab Cedric sembarang.
Begitu sampai, Flavia pun tidak bisa berkata lagi, ‘Sekolah ini memang bagus’ ujarnya ketika melihat design bangunannya.
“Benar-benar mau sekolah di sini, tidak mau lihat yang lain dulu?” tanya Flavia.
“Tidak Ma, ini bagus sekali,” jawabnya sambil berlari-lari senang.
Flavia mengirimkan pesan kepada assiten He, ‘Naga kecil telah memilih sekolahnya’ isi pesan tersebut.
‘Semua akan diatur dengan baik, untuk Tuan muda’ balas pesan dari assiten He.
Flavia pun memasukan ponselnya, lalu memanggil Cedric, putranya itu pun berlari mendekatinya, “Ma, apa kita bisa bermain ke taman bermain?” tanyanya.
Flavia berpikir sejenak, berpikir sudah membawa bekal makan dan ternyata hanya satu sekolah yang dihampiri maka Flavia pun mengangguk, “Baiklah,” jawabnya.
“Terbaik,” ujar Cedric senang.
Cedric berdiri di depan pintu gerbang taman bermain itu seraya berpikir, ‘Apa ini yang dimaksud hadiah yang banyak’ ujarnya dalam hati.
“Tunggulah di sini, Mama akan membeli tiketnya dulu. Kali ini jangan pergi kemana-mana ok!” ujar Flavia mengingatkan.
“Ya Ma,” jawab Cedric dengan patuh sambil membawa tas bekal makannya.
Antrian tiket mengular alangkah panjangnya, Cedric mulai bosan menunggu, “Mengapa lama sekali,” ujarnya sendu.
Akhirnya Flavia berhasil mendapatkan tiket masuk sekaligus tiket untuk bermain seluruh wahana yang ada di dalamnya, “Ayo,” ajaknya kepada putrnya itu.
Cedric pun berjalan masuk sambil sedikit berlari-lari kecil karena terlalu senang. Mereka mencoba semua wahana, kecuali pada wahana yang Flavia anggap berbahaya untuk Cedric.
“Ma aku ingin naik itu bersama Mama,” ujar Cedric menunjuk pada sebuah komedi putar.
Flavia pun ikut naik. Namun, kuda yang di dapat tidak bisa duduk bersebelahan. Meski terpisah Flavia tetap menuruti kemauan putranya untuk naik. Hari ini beberapa Fotografer milik grup Lin akan memotret acak bagian-bagian taman bermain dan juga para pengunjung.
Fotografer itu menangkap senyuman Flavia dalam lensa fotonya dan juga kamera ponselnya, lalu segera mengunggahnya di situs resmi media sosial Lin Grup, dengan menyematkan kalimat, ‘Tidak ada kata terlambat jika untuk bermain, sekedar mengenang masa kecil yang bahagia’
Baru saja di unggah, foto Flavia yang terlihat bahagia sedang menaiki komedi putar itu langsung saja mendapatkan banyak tanda suka. Sudah lelah bermain, Cedric pun meminta pulanng. Flavia menggendongnya. Cedric terlelap di bahunya.
Di Grup Lin, Eryk sedang dalam pertemuan membahas project terbaru mereka, Manajer pemasaran mulai memperlihatkan hasil-hasil foto yang baru saja diambil oleh Fotografer mereka. Satu demi satu side foto itu diperlihatkan kepada Eryk.
“Berhenti di situ,” ujar Eryk,
Semua mata memandang pada foto flavia yang sedang tersenyum dengan cantiknya, “Aku ingin rekaman semua CCTV taman bermain,” ujarnya sambil meninggalkan ruang pertemuan itu.
Eryk seperti orang yang baru saja kerasukan langsung saja melajukan mobilnya dengan cepat, tak peduli lampu merah semua diterabas. Itu adalah wanita yang dia cari selama ini, ada di depan mata maka dia tidak ingin kehilangan lagi.
“Tunjukan semua rekaman CCTV!” perintah Eryk.
Semua terdiam tertunduk, tidak ada satupun yang berani menjawab, “Ayo cepat!” ujar Eryk dengan nada marah.
“Kau …” bentak Eryk memanggil.
“Ma-maafkan kami Tuan, entah mengapa rekaman CCTV hari ini hilang semua, seperti ada yang menghapusnya,” jawab petugas itu.
Sebelumnya Fl;avia meminta bantuan Felix untuk menghapus semua jejak mereka di taman bermain ini. Karena itulah Eryk sama sekali tidak mendapatkan satupun rekaman itu, “Sial,” ujarnya marah seraya menyapu semua benda yang ada di atas meja dengan tangannya itu.
Semua nampak terkejut, Tuan Muda Lin yang begitu dingin dan pendiam, hari ini bertingkah seperti orang yang baru saja kerasukan, Bahkan Eryk menendang sebuah meja sampai bergeser dari tempatnya. Lalu keluar dan membanting pintu dengan keras.
Eryk pergi ke tempat komedi putar tadi, membayangkan hantu wanita yang selama ini di cari, tadi ada di taman bermainnya, duduk tertawa, tersenyum di komedi putar ini, “Mulai besok komedi putar ini tidak beroperasi lagi!” perintanhnya kepada asisten He.
“Sebagai gantinya, buat yang baru!” perintah Eryk Lin lagi.
“Baik Tuan,” jawab asisten He.
Eryk pergi dengan wajah kecewa, dia melajukan mobilnya kembali ke grup Lin, ketika sampai di sana, receptionis langsung menyapa Eryk, “Direktur Lin, tadi ada yang mengantarkan ini untuk Tuan.”
Eryk mengambil kotak bekal makan itu, lalu melihat kartu nama yang sama seperti yang waktu itu, “Bocah tengil,” ujar pelannya.
“Siapa yang mengantarkan ini?” tanyanya lagi.
“Tuan Zhang, dia bilang ini hadiah dari tuan muda kecilnya,” jawab receptionis itu lagi.
“Lain kali jika ada bekal seperti ini lagi, langsung saja letakan di ruanganku!” perintah Eryk.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
DUKUNG NOVEL ini dengan :
- Vote
-Like
-Komen
- Tap favorit yang tanda hati ya
- Poin, hadiah.
🤗🤗🤗 LEMPAR VOTE DAN POIN YANG BANYAK YAH GAES
DUKUNG JUGA FLAVIA DAN ERYK, YANG SEDANG IKUT LOMBA NOVEL GENRE WANITA MANDIRI