Blue Moon

Blue Moon
Bab 2



Matahari masih bersembunyi dibalik awan. Angin yang bertiup terasa dingin menusuk kulitku. Parkiran yang minggu kemarin terisi oleh mobil-mobil, kini terlihat seperti taman yang kosong. Hanya terdapat beberapa mobil disana. Suasana yang dapat ditebak.


            Dimana?


Ponsel hitam yang sedang aku genggam bergetar. Tanganku segera mengetik balasan pesan yang masuk.


            Parkiran. Dimana?


            Masih OTW


            Serius? Aku sudah setengah jam disini.


            Biasa, jemput Elisa. Tunggu Aria, dia sudah hampir sampai.


            Hemm... Aku ke kelas duluan.


            Lorong-lorong kampus terlihat sunyi. Cat berwarna putih dominan menghiasi. Waktu seakan berjalan melambat mengikuti langkahku. Aku melihat ponselku, sudah pukul delapan; namun masih sedikit orang yang datang. Kelasku yang berada dilantai tiga selalu menjadi masalah dan kekesalanku. Anak tangga yang terlalu tinggi


dan banyak, memaksa kaki harus melangkah lebih tinggi. Tidak hanya itu, detak jantungku juga akan selalu bekerja lebih keras. Memberikan pekerjaan lebih pada pernafasanku untuk menghela lebih panjang. Saat dimana aku berharap gedung tua ini memiliki Lift didalamnya.


            Ruangan-ruangan yang aku lewati masih terisi oleh beberapa orang. Kelasku berada dipaling akhir membuatku akan melewati beberapa ruangan terlebih dahulu. Gedung tua ini hanya milik fakultasku. Fakultas lain sudah memiliki fasilitas yang lebih baik. Gedung bertingkat dengan kaca-kaca besar, Lift dan Eskalator sudah menjadi hal biasa. Sebuah fasilitas yang akan dicintai anak millennial, sedangkan gedung fakultasku masih menunggu recana pembangunan ulang yang tidak tahu kapan akan dimulai.


            Aku memandang pintu tua dihadapanku. Pintu kelas yang seharusnya masih tertutup, kini sudah terbuka. Aku yakin, aku yang pertama kali datang. Sejak tiba, aku sama sekali tidak bertemu dengan teman sekelasku. Tubuhku terdiam, sesaat aku ingin melangkahkan kakiku. Dia disana. Nathan. Sosok laki-laki misterius yang menjadi mahasiswa baru. Sudah seminggu dan dia masih terlihat selalu sendiri. Teman-teman dikelasku pernah mendekatinya, namun sifat dingin yang dia miliki membuat mereka memilih mundur dan tidak memperdulikannya lagi. Tidak hanya wanita dikelasku, wanita dari kelas lain juga sering mencari perhatian darinya. Balasannya, dia hanya diam dan tidak peduli.


            Nathan laki-laki yang aneh. Jarang berbicara dan tersenyum. Dari pertama, dia lebih memilih duduk dikursi paling belakang, walau masih banyak kursi kosong didepan yang bisa dia pilih. Tidak ada seorang pun yang duduk dibelakang. Dia memilih sebuah kursi yang terletak disebelah sebuah jendela. Dia disana, duduk dikursinya. Salah satu tangannya menopang dagunya. Jendela besar itu terbuka, sebuah tirai biru menutupinya. Angin bertiup dan menerbangkan tirai itu, seperti merasakannya dia ikut memejamkan kedua matanya dan menikmati hembusannya. Sebuah senyuman tergores diwajahnya. Mataku terpanah memandangnya. Berharap waktu berhenti saat itu. Sebuah pemandangan yang belum pernah terlihat olehku dan yang lainnya.


            Kemeja berwarna coklat terang dan kulitnya yang putih terasa menyatu dimataku. Matahari yang sudah bersinar, juga menebarkan cahaya berkilau ditubuhnya. Rambutnya terlihat ikut bergerak mengikuti irama angin yang berhembus.


            “Zea..?”


            Aku menoleh kepemilik suara itu. Pundakku berdenyut menerima pukulannya. Aria sudah berdiri disamping dan menatap wajahku.


            “Kenapa berdiri disini?”


            “Hahh.. Ummm.. Ini mau masuk.” Suaraku terdengar canggung. Aku menatap kearah jendela tadi. Kosong. Hanya tirai biru yang masih berterbangan terkena hembusan angin. Aria sudah duduk, dan sosok Nathan yang tadi aku lihat telah menghilang. Pandanganku sudah menebar keseluruh ruangan namun aku tidak menemukannya.


            “Kenapa?” Wajahnya terlihat bingung melihatku.


            “Tadi, sepertinya aku melihat Nathan.”


            Aku duduk disebelahnya. Sebuah kursi berwarna coklat dengan bahan baku utama kayu. Disalah satu pinggirnya terdapat sebuah meja. Khas kursi anak kuliahan dengan meja kecil yang menyatu.


            “Nathan?” Aria mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. Celana jeans yang selalu dia kenakan dipadukan sebuah kaos berwarna merah. “Dia tidak masuk hari ini.”


            “Hemmm.” Dia mengangguk, tangannya mendorong kursiku menjauh. “Urusan keluarga. Brian memberitahuku.”


            “Hanya itu?” Aria mengangkat kedua bahunya tidak menjawab. Wajahnya terlihat tidak peduli sama sekali. Brian adalah penanggung jawab kelas sekaligus kekasih Aria. Semua hal tentang kelas pasti diketahui Aria. Tidak ada hal yang tidak dia ketahui, dengan karakternya dia mampu memaksa Brian untuk menceritakan segalanya. Aku sendiri heran kenapa Brian bisa begitu mengalah pada Aria.


*****


“Hey Zea.. Mau kemana?” Brian berjalan mendekatiku. Tubuh tingginya terlihat mendominasi orang yang ada diseklilingnya. Kali ini dia mengenakan kemeja kotak-kotak dengan lengan yang tergulung. Sebuah tato bergambar bintang terlihat disalah satu lengannya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terlihat


berantakan. Sama sekali tidak terlihat seperti seorang mahasiswa.


            “Pulang. TA ya?” Aku bercanda menertawainya.


            “Aria dimana?”


            “Masih di kelas.” Brian berdiri dihadapanku. Menghentikanku langkahku menuju ke parkiran. Kedua alisnya dikerutkan. Menunggu sebuah jawaban.


            “Ngantuk.” Satu kata yang membuat dia diam dan hanya mengangguk mendengar ucapanku. Penanggung jawab yang pengertian.


            “Sebentar Zea.” Tangannya menarik lenganku. “Nathan gimana?” Wajahnya berubah serius.


            “Maksudnya? Gak masuklah. Kan kamu yang bilang ke Aria dia gak masuk.” Aku menatapnya. Melepaskan genggaman tangannya. Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya sama sekali.


            “Aku tau. Tapi, aku tadi kan gak masuk. Aku mana tau dia beneran gak datang.” Brian terlihat kesal. “Ya sudahlah.”


            “Memangnya kenapa?." Aku bertanya padanya.


            Brian mengangkat tangannya. Salah satu jarinya diletakkan keatas bibirnya, seolah memberitahuku untuk diam. "Dia itu keponakan Rektor. Tapi aku diberi perintah mengwasi dia. Aneh gak sih?” Aku hanya tertawa melihat Brian yang mendadak serius.Tingkahnya justru terlihat dialah yang diawasi. Bukan sebaliknya.


            “Aku serius Zea.”


            “Iyaa. Iyaa. Jadi kamu tau kenapa dia pindah kemari? Terutama fakultas kita?”


            “Tau.” Dia menganggukkan kepalanya. Rambut panjangnya juga bergerak mengikuti. “Dia pindah karna dikampus sebelumnya ada masalah. Tapi aku gak tau kenapa, pak Rektor gak menjelaskan.” Aku menganggukkan kepalaku. Penasaran, tapi aku juga tidak ingin bertanya lebih jauh. Panas matahari siang sudah mempengaruhi kepalaku. Aku berpamitan dan meninggalkan Brian. Aku ingin segera pulang dan beristirahat.


*****


Bulan tidak terlihat dan bintang-bintang menghilang tertutup awan. Angin bertiup menerbangkan tirai putih jendela kamarku Dinding berwana biru, dan gambar-gambar yang masih tertempel disana mengingatkanku pada kenangan masa lalu. Berharap untuk melupakan, namun sebuah kenangan tetap akan sulit untuk dihilangkan. Membuatku masih terpenjara oleh masa lalu.


            Kilasan masa lalu dan kenanganku tentang dia kembali terukir. Cinta pertamaku. Sebuah kisah yang kala itu cinta adalah segalanya. Membangun angan setinggi langit. Menerjang badai berdua dan akan selalu selamanya. Cinta yang aku percaya jika diperjuangkan bersama akan berakhir indah. Namun pada akhirnya hanya meninggalkan luka. Setiap kali berusaha melupakan justru bayangan terus datang dan tidak menghilang.


            Ketika malam datang, dan bumi seakan terlelap, suara itu akan datang. Aku selalu mendengarnya. Sebuah jeritan akan kesedihan dan kerinduan. Penasaran, aku akhirnya bertanya pada penjaga rumah, namun mereka sama sekali tidak mendengar adanya suara. Hanya aku yang merasakan kehadiran dan sedihnya suara itu. Sebuah suara yang selalu dibawa oleh angin malam dan sampai ketelingaku. Terkadang suara itu terdengar lebih menyakitkan, membuatku ikut meneteskan air mata. Tidak memiliki kata, namun perasaan suara itu benar-benar tersampaikan kehatiku.