Blue Moon

Blue Moon
Bab 10 Another ?



Video pertengkaran antara Nathan dan Luke sudah tersebar di internet. Luke telah dilporkan atas perbuatannya, melakukan penyerangan pada Nathan di wilayah kampus. Namun aku sendiri masih tidak yakin, apakah dia akan jera atau masih akan tetap menggangguku.


            Pihak kampus juga tidak melepaskan aku dan Nathan begitu saja. Mereka memberikan sanksi padaku dan Nathan. Alasannya karna sebuah perkelahian tidak dapat dibenarkan, dan hal tersebut telah merusak nama baik kampus.


            Bagaiman dirumah?


            Suara ibuku dari balik sambungan telepon. Pihak kampus telah menghubunginya, menceritakan semua hal yang terjadi padaku. Akibatnya ibuku merasa khawatir telah meninggalkan aku seorang diri.


            Tidak ada apa-apa.


            Maaf. Kami masih belum bisa kembali. Pekerjaan kami masih belum selesai. Suara ibu terdengar sedih.


            I’m okay Mom.


            Hemmm, baiklah kalau begitu. Kamu jaga diri ya sayang. We”ll miss you.


            Yeah, Miss you too Mom. Ucapku mengangguk dan menutup panggilan telepon darinya.


            Aku tahu, aku tidak bisa serakah dan mengharapkan kepulangannya. Sendiri juga sudah menjadi kebiasanku selama ini. Tapi sosoknya yang jarang bersamaku, kadang membuatku merasa kesepian. Perasaan iri pada mereka yang bisa tertawa bersama orang tuanya, terkadang menyakiti dan melukai hatiku.


            Seminggu dirumah terasa sangat membosankan. Aku tidak bisa datang kekampus selama dua minggu karna scorsingku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Nathan, dia sama sekali tidak menghubungiku setelah kejadian itu. Menghilang seperti biasanya.


            Sebuah ketukan terdengar dari pintu balik pintu kamarku. Setelah sekian lama dirumah tubuhku terasa berat dan tidak mau beranjak dari tempat tidurku.


            “Mbak Zee, ada tamu datang.” Suara wanita dari balik pintu.


            “Ya.” teriakku. “Siapa?” Aku masih tidak bergerak.


            “Mey katanya.” Suara wanita itu lagi.


            Mey? Ada apa. Aku bangkit dan berlari menuju pintu kamarku. Membukanya, seorang wanita paruh baya sudah berdiri disana. Tersenyum kearahku.


            “Serius bu?” ucapku pelan. Dia hanya mengangguk.


            “Yasudah, tolong katakana padanya untuk menunggu sebentar.” ucapku tersenyum. Wanita itu mengangguk dan pergi meninggalkanku. Beliau adalah Bu Alice, salah satu orang yang membantuku mengurus rumah. Orang kepercayaan ibuku, sekaligus wanita yang ibuku beri amanat untuk menjagaku selama beliau pergi. Wanita paruh baya yang hidup sendiri, sejak anak-anaknya menikah.


            Mey sedang duduk disalah satu sofa diruang tamuku. Secangkir minuman dan makanan sudah terletak dan tersedia diatas meja. Wajahnya tertunduk menghadap kearah ponsel ditangannya.


            “Sudah lama?” kataku mengagetkannya.


            Mey menatapku, wajahnya terkejut. “Tidak.” Ucapnya dan menggelengkan kepalanya.


            Aku berjalan mendekatinya, duduk disalah satu sofa yang lain. “Ada apa?” tanyaku.


            “Tidak ada, hanya memastikan keadaan.” Dia menatapku.


            Aku tertawa mendengarnya. “Aku baik-baik saja. Tidak perlu khwatir”


            “Siapa tahu.” Ucapnya. Tangannya bergerak mengambil gelas minumannya.


Aku menatapnya yang terus minum dan hampir mengahabiskan isi didalam gelas itu.


            “Ada apa? Kau pasti ingin mengatakan sesuatu.” Ucapku padanya.


            “Hemmm.” Mey menghentikan minumnya. Mengangguk kearahku.


            “Jadi? Ada apa kali ini?” tanyaku.


            Mey diam. Tidak berbicara. Menatapku dan melihat sekeliling ruangan. Memastikan sesuatu atau mencari sesuatu, aku tidak tahu.


            “Zee, aku meninggalkan Steve." Ucapnya pelan.


            Aku terkejut mendengarnya. Mey sama sekali tidak terlihat bersedih. Wajahnya datar dan sudah siap dengan keputusan yang telah dia buat.


            “Kamu tidak apa-apa?” aku menatapnya. Mendekati dan duduk disebelahnya.


            “Yeah, aku rasa ini keputusan terbaik yang sudah aku buat.” Jawabnya mengangguk.


            “Terimakasih Zee. Sudah mau mendengarkan aku selama ini. Aku tahu aku salah, dan semoga ini adalah keputusan terbaik antara aku dan Steve.” Mey tersenyum mengucapkannya.


            “Tidak masalah. Tapi, bagaimana dengan Steve?” tanyaku.


            “Aku tidak tahu. Setelah mengiriminya pesan bahawa aku ingin putus, aku langsung memblokir dia. Aku takut jika dia berbicara padaku, maka hatiku akan goyah seperti dulu.” jawab Mey padaku.


            “Semoga tidak akan jadi masalah.” Ucapku.


            Mey menganggukkan kepalanya.


“Jadi Zee, bagaimana kamu dengan Luke? Aku sudah melihat videonya.” Mey melihat kearahku. Khawatir terlihat jelas diwajahnya.


            “Entahlah.” Aku mengangkat bahuku. “Aku sudah tidak perduli. Kau tahu sendirikan bagaimana Luke, dan aku sudah menyelesaikannya baik-baik. Tapi dia, masih seperti itu. Makanya, aku juga khawatir antara kamu dan Steve.


            Mey mengangguk. “Tenang saja. Aku yakin Steve berbeda dari Luke. Aku sudah mengenalnya cukup lama.”


            “Tapi Zee,” ucap Mey. “Bagaimana dengan Nathan? Kenapa dia bisa mengenal Luke? Aku sampai heran melihat kemarahannya di video itu.” Mey menatapku penasaran.


            Mendengar nama Nathan membuatku tersenyum sendiri. Mengingat kejadian yang terjadi antara aku dan dia waktu itu. Senyumannya, hadiahnya, pelukannya, dan bahkan ciumannya. Hal manis yang terjadi dalam satu hari.


            “Zee !!” Mey berteriak menggoyang tubuhku. “Kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri?”


            Aku tertawa malu menatapnya. “Tidak ada. Kenapa? Apa? Kamu bertanya apa tadi?” ucapku tergagap.


            “Aku tanya, kenapa Nathan bisa mengenal Luke?” ucap Mey.


            “Ohh, iya itu.” Aku menatapnya. “Nathan pernah menolong ku, ketika Luke datang dan memaksaku untuk kembali bersamanya.” Jawabku.


            “Kapan? Kenapa aku gak tau?” Mey melihatku curiga.


            “Sudah lama. Aku lupa. Tapi dia kebetulan saja lewat, aku melihatnya, dan akulah yang meminta bantuannya. Awalnya dia juga sama sekali gak mau bantuin aku.” Ucapku pada Mey.


            “Ohhh., kirain kan. Setau aku kan Nathan agak cuek. Jadi kenapa dia bisa baintuin kamu. Itu yang buat aku bingung.” Mey tertawa.


            Aku ikut tertawa bersama Mey. “Iya itu, aku sampai mohon segala supaya dia mau membantu aku. Memang agak lain dia.” Ucapku.


            Mey mengangguk dan tertawa mendengar ucapanku.


            “Jadi, kamu dan Nathan tidak ada hubungan apapun kan?” Mey menatapku.


            “Hubungan? Hubungan apa maksudnya?” ucapku malu-malu. Senyuman terasa menghiasi seluruh wajahku.


            “Hubungan, kamu dan dia tidak berpacaran kan?” tanya Mey.


            “Ohh ituu.. Belum. Ehh, bukan-bukan. Maksud aku enggak.” jawabku tergagap. Wajahku terasa memerah menahan senyuman. Tidak tahu apa yang ada dalam fikiran Mey mendengar perkataanku.


            “Ohh, iya kalau gtu. Aku kira.” Ucap Mey.


            “Kenapa memang? Kamu suka dia ya?” tanyaku.


            “Tidak ahh. Aku hanya penasaran. Karna dia membela kamu waktu itu, dan memukuli Luke sampai terluka parah.” jawab Mey tersenyum dan menatapku.


            Aku mengangguk mendengar ucapannya. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaan dan apa yang difikirkan oleh Mey.


            “Aku kira kamu secepat itu melupakan Steve dan berpaling pada Nathan.” Ucapku.


Mey tertawa mendengarnya.


            “Tidak kok. Tidak mungkin secepat itu. Cinta kan butuh proses, dan memerlukan waktu yang juga cukup lama untuk berubah.” Mey menatapku.


            “Aku hanya penasaran saja pada Nathan. Dia terlihat misterius dan mengeluarkan aura yang berbeda. Seperti ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa berpaling dari pesonanya.” Ucap Mey lagi.


            Aku menatap Mey bingung. Heran dengan maksud perkataannya. Mey yang melihatku bingung hanya tersenyum dan tertawa.