
"Sebenarnya Zea, Nathan itu..."
"Mbak Zea, maaf mengganggu pembicaraannya. Ada tamu didepan."
Bu Alice sudah berdiri dihadapanku. Menghentikan Brian melanjutkan kalimatnya.
"Siapa Bu?"
Brian yang mendengar perkataan Bu Alice langsung berdiri dari duduknya. Seperti mengetahui sesuatu. Meninggalkan aku dan berjalan kearah pintu.
"Siapa ya Mbak saya juga lupa namanya. Buru-buru saya tadi. Katanya harus segera bertemu Mbak. Ada yang penting."
"Yasudah Bu. Biar saya sendiri yang memastikannya." Ucapku.
Aku meninggalkan Bu Alice dan menuju kearah Brian pergi. Tidak tahu kenapa, tapi Brian yang pergi tadi terlihat sangat takut dan khawatir.
"Siapa Bri?"
Aku menepuk pundak Brian yang terdiam mematung. Dia hanya berdiri didepan pintu rumahku, dan memandang kearah seorang pria yang berada dibalik pintu pagar.
"Nathan?"
Suaraku yang sedikit keras memanggil nama Nathan, membuat Brian yang terdiam terkejut.
"Ahh, Zea!! Sejak kapan kamu ada disini?"
"Sejak tadi. Kamu kenapa disini? Itu Nathan sedang ada diluar, kamu bilang kamu khawatir. Kenapa kamu tidak menemuinya saja sekarang?"
Brian hanya diam. Tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Tidak apa-apa. Aku sudah tidak khawatir lagi. Tapi sepertinya Nathan ingin menemui kamu Zea?"
"Aku tidak yakin tentang itu." Ucapku pelan.
"Ayo, kita kesana. Seperti biasa, dia selalu menolak untuk masuk kedalam." Aku melanjutkan kalimatku.
Brian hanya diam, mengikuti langkahku dari belakang menuju tempat Nathan berdiri dan menunggu.
"Zea?"
Nathan menatapku tersenyum.
"Hai... Kenapa tidak masuk?"
"Tidak apa-apa. Aku lebih baik menunggu disini saja." Ucap Nathan.
Nathan yang diam kemudian melirik kearah seseorang yang berada dibelakangku.
"Sedang apa?" Ucap Nathan mengarah pada Brian yang ada dibelakangku.
"Hai?" Brian menjawabnya dan melambaikan tangan.
Aku hanya diam, memperhatikan tingkah mereka berdua. Nathan dan Brian terlihat akrab, namun juga seperti ada tembok yang menghalangi mereka berdua.
"Sedang apa kamu disini? Pulang sana!!"
Nathan menatap Brian dengan kesal. Tidak suka dengan kehadirannya yang ada dirumahku.
"Oke. Oke. Aku pulang. Aku tunggu penjelasanmu nanti."
Brian menatapku dan Nathan bergantian. Menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.
"Sorry Zea, ceritanya tidak selesai. Akan aku lanjutkan lain kali. Terimakasih tehnya."
Setelah mengatakannya, Brian langsung pergi meninggalkan aku yang bingung. Nathan yang masih kesal, terlihat melambaikan tangannya menginstruksikan Brian untuk segera pergi.
"Zea, kamu baik-baik saja?"
Nathan menatap kearahku yang terdiam. Aku masih bingung dengan hubungan antara Nathan dan Brian, dan Nathan yang tiba-tiba saja datang kerumahku. Sebuah kebetulan yang sangat aneh.
"Ahh ya." Ucapku sedikit terkejut.
"A-aku baik-baik saja sekarang. Kamu tidak ingin masuk? Kamu bilang ada sesuatu yang penting tadi."
Nathan tertawa mendengar ucapanku yang sedikiti gagap.
"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu kamu segera. Itu hanya alasan yang aku buat-buat."
"Serius? Aku kira memang ada sesuatu yang penting."
Suaraku terdengar melemah dan kecewa. Tentu saja. Aku kira Nathan datang untuk menjelaskan semuanya. Tapi ternyata dia tidak ada niat sama sekali.
"Kenapa? Kamu sakit ya?" Nathan menatapku dengan khwatir.
"Tidak, aku sudah lebih baik. Jika kamu tidak ada urusan apapun, sebaiknya kamu pulang saja. Aku juga ingin beristirahat sekarang."
"Zea, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu jadi aneh seperti itu. Aku datang ingin bertemu kamu. Tapi kenapa kamu seperti mengusirku sekarang."
Nathan menatapku dengan khawatir dan bingung. Aku hanya diam dan tidak mengatakan apapun.
"Zea..." Suara Nathan melemah.
"... Maafkan aku jika aku ada salah. Aku datang hanya ingin menemui kamu." Ucapnya lembut.
Nathan berjalan mendekatiku yang masih terdiam. Tangannya menarik salah satu tanganku dan menggenggamnya dengan lembut.
"Ada apa? Aku tidak akan tahu kalau aku telah melukai kamu, jika kamu tidak mengatakan apapun."
Nathan yang menatapku diam terlihat khawatir. Aku tidak ingin hal ini terjadi. Namun egoku tidak ingin mengalah dan menahan rasa kesal padanya.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khwatir." Ucapku melihatnya yang masih terlihat sedih.
"Kamu yakin?" Nathan menggenggam erat tanganku yang masih dipegang olehnya.
Tidak Nathan. Aku tidak baik-baik saja. Teriakku dalam hati. Apa hubungan kamu dengan May? dan ada apa antara kamu dan Brian. Tidak bisakah kamu membaca fikiranku sekarang.
Huuhhh?!. Tidak mungkin sepertinya. Ini semua mustahil. Aku tidak ingin curiga tentang kamu dan May. Tapi hati dan fikiranku tidak berfikiran sejalan tentang hubungan kalian berdua.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan May."
Nathan menatapku lembut dan tersenyum. Suaranya seakan memberikan kehangatan pada hatiku.
"Kamu tidak perlu khawatir seperti itu Zea. Cukup percaya saja padaku. Aku tidak akan pernah menyakiti kamu."
Aku menatap Nathan bingung. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui apa yang ada difikiranku saat ini.
"Hah?! I-Iya aku tahu kok. Kamu tidak perlu menjelaskannya. Aku kan tidak bertanya apapun pada kamu." Ucapku pura-pura tidak peduli.
Nathan yang melihatku hanya tertawa. Dia tidak membalas perkataanku sama sekali.
"Tidak ada yang lucu. Kenapa kamu tertawa seperti itu?" Ucapku kesal melihatnya.
"Ahhh, tidak. Kamu hanya terlihat sangat lucu sekarang Zea. Aku sangat merindukan kamu."
Nathan menarik lenganku, menjatuhkan tubuhku kedalam pelukkannya yang hangat.
"Ada apa?" Tanyaku kepadanya yang memelukku semakin erat.
"Tidak ada. Aku hanya khawatir dan sangat merindukkan kamu."
Nathan terus memelukku dengan erat. Tangannya sesekali mengusap rambutku. Dia juga mendaratkan sebuah ciuman disana.
"Kamu tidak malu? Sekarang kita sedang berada dipinggir jalan. Mungkin saja ada orang yang lewat dan memperhatikan kita."
Memang benar. Sesekali aku melihat ada orang yang lewat dan melihat kearah kami. Ada yang tertawa, dan ada pula yang menggoda kearahku.
"Tidak pa apa. Aku tidak kenal mereka dan aku juga tidak peduli. Mereka tidak tahu saja, kalau aku sangat merindukan kamu."
Nathan mengatakannya dengan keras. Membanggakan dirinya dan perasaan yang dimilikinya.
"Tapi aku peduli!!"
Aku mendorong Nathan, melepaskan pelukannya dari tubuhku. Nathan yang terpaksa melepaskan pelukannya padaku, terlihat kesal.
"Lihatlah.!!"
Aku menunjuk kearah seseorang yang baru saja melewati kami.
"Kamu tidak tinggal dirumah ini, makanya kamu tidak kenal dan tidak peduli. Tapi aku tinggal disini. Mereka mengenalku. Aku yang malu." Ucapku lebih kesal.
Nathan diam menatap kearahku. Wajah kesalnya telah menghilang dan digantikan oleh rasa bersalahnya.
"Aku tidak tahu itu. Kedepannya sebelum memeluk kamu, aku akan memperhatikan sekitarnya." Ucapnya pelan. Suaranya terdengar cemas.
"Hahahaha."
Aku tertawa keras melihat Nathan yang merasa bersalah.
"Kenapa kamu tertawa!!" Ucapnya kesal.
"Aku kan sudah merasa bersalah. Kenapa? Apa ini terasa lucu untuk kamu Zea?"
"Tidak. Maaf. Maaf." Ucapku menahan tawaku.
Perutku sudah sangat sakit menahan tawaku melihat wajah cemberut Nathan.
"Aku tidak akan menertawai kamu. Sekarang ayo kita masuk. Jangan berdiri disini saja."
Aku menarik lengan Nathan, dan membawanya masuk kedalam. Sebuah senyuman terlihat menghiasi wajahnya.