
Kenapa berisik sekali?
Siapa yang memanggil namaku?
Apa yang sedang mereka bicarakan sih? Kenapa harus dikamarku mengganggu saja.
"Kalau kamu hanya ingin mengganggu, sebaiknya kamu keluar sekarang."
Suara Nathan? Kenapa Nathan ada dikamarku sekarang?
Bu Alice, kenapa dia mengizinkan Nathan masuk kekamarku?
"Ehmmm..." Tubuhku sedikit menggeliat. Suara-suara terus mengganggu tidurku.
"Berisik" Teriakku. Menghentikan suara-suara yang semula bersahutan.
Aku membuka kedua mataku, mengedarkan pandanganku kesekeliling.
"Nathan?" Ucapku pelan.
Nathan sedang duduk disebelahku menatap kearahku. Tubuhku masih terbaring diatas tempat tidur dan berbalut selimut.
"Kamu sudah baik-baik saja?" Tanyanya.
Aku hanya diam, memandangi wajah Nathan yang menatapku lekat. Wajahnya tampak lebih pucat, dengan bola mata merah yang sudah menghiasi kedua matanya.
"Mata kamu..." Aku mengangkat salah satu tanganku keluar dari dalam selimut, dan menyentuh pelipisnya.
Nathan tersenyum memandangiku, tangannya menggenggam tanganku yang masih berada diwajahnya.
"Aku tidak apa-apa. Jangan takut. Aku akan menjelaskannya nanti. Bagaimana dengan kamu?"
"Aku tidak apa-apa." Jawabku pelan. Natahan yang mendengar jawabanku hanya tersenyum, dan melepaskan tanganku dari wajahnya.
"Hei... Hei.., hentikan ini. Kenapa justru aku sang penyelamat tidak diperdulikan sama sekali." Suara seorang pria memecah suasana.
Seorang pria sudah duduk disebuah kursi yang ada didalam ruangan. Dihadapannya sudah ada meja yang telah terisi penuh oleh berbagai jenis makanan.
"Kamu sudah sadarkan? Tidak bisakah kamu mengucapkan terima kasih padaku? Kenapa manusia jaman sekarang tidak memiliki etika sama sekali." Ucapnya sinis.
Aku hanya diam memandanginya. Nathan yang semula baik-baik saja, terlihat mulai kesal. Dia berdiri dari duduknya dan mendekati pria itu.
"Sejak awal aku sudah mengatakan, jika kamu tidak bisa lebih tenang lagi, sebaiknya kamu keluar. Jangan mengganggu dan merusak suasana." Bentaknya.
"Kenapa kamu yang marah? Seharusnya aku yang marah. Kenapa dia bisa ada disini sekarang dan sampai masuk kedalam hutan. Padahal hutan itu sudah aku beri penghalang!"
Pria itu ikut kesal. Tidak terima dengan Nathan yang mengusirnya keluar.
"Berarti penghalangmu saja yang lemah, sampai dia bisa masuk dan melewatinya." Ucap Nathan membalas perkataannya.
"Kalau penghalangku lemah, mereka itu tidak akan tertangkap olehku. Kalau tau seperti ini, seharusnya aku membiarkan saja dia dibunuh mereka. Untuk apa aku selamatkan segala." Pria itu menunjuk kearahku.
Nathan yang kesal mendengar perkataannya berjalan mendekati pria itu. Dia menarik kerah bajunya dan melayangkan sebuah tinju kearah wajahnya.
"Hentikan." Suara seseorang.
"Aku sudah yakin pasti akan jadi seperti ini jika meninggalkan kalian berdua. Kalian tidak lihat, didepan kalian masih ada seseorang yang terbaring." Brian menatap kearah Nathan dan pria itu.
"Brian, kamu tidak perlu ikut campur. Ini antara aku dan dia. Kenapa wanita itu bisa masuk dan melewati penghalang buatanku. Bukankah itu aneh? Dia hanya manusia." Ucap pria itu membela.
"Alvin!" Nathan berteriak.
"Hentikan. Keluar sekarang!"
"Jika kamu tidak mau keluar juga, jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi. Kamu sudah keterlaluan sekarang." Natham mengusirnya. Menunjuk kearah pintu agar dia segera pergi.
"Lihat saja nanti!" Ucap pria itu dan meninggalkan ruangan. Sebuah suara bantingan pintu terdengar keras.
"Kamu juga Nathan, kenapa kamu tidak berterima kasih dan menjelaskan semuanya padanya. Alvin bukan tipe orang yang gampang marah seperti itu." Briam memandang kearah Nathan.
Penyeselan terlihat dari wajahnya, namun Nathan tidak ingin mengakuinya dan menolak perkataan Brian.
"Sudahlah. Sekarang yang lebih penting adalah Zea...," Brian berjalan dan mendekati tempat tidurku.
Aku sudah duduk diatas tempat tidur. Menyandarkan tubuhku yang aku rasa masih sangat lemas dan sulit untuk digerakkan secara berlebihan.
"Kamu baik-baik saja Zea?" Tanya Brian padaku.
"Sudah, tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang."
"Nathan akan menjelaskannya padamu." Brian menatapku dan kemudian pada Nathan yang masih berdiri terpaku.
"Aku rasa tidak perlu dijelaskan jika itu sangat sulit. Aku sudah melihat..."
Kenapa kepala ku mendadak sakit seperti ini?
"Sakit!" Aku berteriak. Tubuhku sudah meringkuk dan tanganku menggenggam erat kepalaku.
Aku tidak bisa melihat raut wajah seperti apa yang dibuat oleh Nathan dan Brian. Hanya teriakan keras dari Brian yang terus aku dengar.
"Zea, kamu tidak apa-apa?" Brian berteriak.
"Zea?"
"Zea, sadar." Aku mendengar Nathan juga ikut berteriak.
"Zea..!"
"Zea, tenang. Kamu harus tenang." Nathan kemudian menggoyangkan tubuhku dengan keras.
"Lihat aku Zea, kamu tidak perlu takut." Ucapnya bertiak.
Aku memandang wajah Nathan membisu.
Natah mendekatkan bibirnya kearah telingaku. "Aku ada disini." Ucapnya berbisik.
"Kamu harus tenang." Sambungnya. Perlahan tubuhnya mendekatiku dan memelukku dengan erat.
"Sakit." Ucapku lirih.
"Iya, aku tahu. Maafkan aku. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Kamu harus tenang. Ada aku disini. Jangan fikirkan apapun." Ucap Nathan menenangkanku.
Rasa menyakitkan dikepalaku perlahan mulai mereda. Aku seperti kembali bisa bernafas.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, kenapa dia bisa kembali seperti ini." Nathan melihat kearah Brian dengan kesal.
"Aku?" Ucap Brian bingung.
"Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya menanyakan keadaannya, dan mengatakan kamu akan menjelaskan semuanya. Itu saja. Tidak tahu kalau Zea tiba-tiba jadi kesakitan seperti itu." Sambungnya.
"Sudahlah, lebih baik aku pergi saja jika kamu tidak mau percaya perkataanku."
"Maafkan aku." Ucap Nathan menghentikan Brian yang akan pergi.
Aku masih ada dalam pelukan Nathan. Suhu tubuhnya yang hangat terasa ikut menyebar dan mengalir dalam tubuhku.
Dari balik pelukannya aku bisa melihat, bahwa Nathan menyesali perkataannya pada Brian.
"Kamu tahukan, saat ini keadaanku juga masih belum stabil. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Hanya kamu yang bisa aku percayai." Sambung Nathan.
Brian menghela nafasnya. Menatap Nathan dengan sedikit melunak. Merasa bahwa perlakuannya juga mungkin telah salah.
"Sudahlah, lepaskan pelukanmu pada Zea. Biarkan dia kembali beristirahat. Mungkin tubuhnya masih belum mampu menerima penjelasanmu." Brian menatap kearahku yang masih diam.
"Maafkan aku Zea. Jika aku tidak menyuruhmu untuk datang menemui Nathan sendirian seperti ini, kamu mungkin tidak akan terluka. Ini salahku." Ucap Brian.
Nathan tidak melepaskan pelukannya padaku. Dia hanya diam, sesekali wajahnya memandang kearahku yang juga diam tak berkutik.
"Biarkan aja seperti ini sementara. Aku tidak yakin apa yang akan terjadi nanti jika terlepas." Ucap Nathan.
Aku tidak tahu Nathan mengatakan kalimat itu untukku, atau pada Brian.
Brian hanya mengangguk mendengar perkataan Nathan.
"Ini, milik siapa?" Ucapnya menunjuk kearah makanan yang ada diatas meja.
Nathan menatap tumpukan makanan itu terkejut. Seakan telah melupakan sesuatu.
"Zea? Kamu belum makan apa pun bukan? Aku lupa. Makanlah dahulu. Setelah itu kamu baru beristirahat kembali."
Nathan menatap kearahku khawatir. Pelukannya yang erat perlahan mengendur dan terlepas dari tubuhku.
"Kamu ingin makan disini atau disana?" Nathan menunjuk kearah tempat tidur dan meja bergantian dengan gerakan kepalanya.
"Disini saja. Aku merasa aku tidak bisa bergerak." Ucapku pelan.
Nathan mengangguk dan berdiri dari duduknya. Berjalan menuju kearah meja itu.
"Kamu tidak bertanya padaku?" Ucap Brian yang sudah duduk disebuah kursi yang ada di depan meja itu. Tangannya sudah menggengam sebuah garpu yang menusuk sepotong daging.
"Untuk apa? Kamu juga sudah memakannya." Ucap Nathan kesal.
"Hemmm.." Brian mengangguk dan mengunyah makanannya.
"Jwangan hupa khmu hwrus menjelakhannya pwda Awvin. (Jangan lupa kamu harus menjelaskannya pada Alvin.)" Ucap Brian yang masih mengunyah makanannya.
"Iya aku tahu. Telan saja dulu itu, baru berbicara." Nathan menatap Brian kesal.