Blue Moon

Blue Moon
MENAHAN DIRI



"Jika begitu cari lebih banyak!" ujar Paman Lin.


Selama ini mereka mencari gadis-gadis muda yang mengalami kehamilan. Namun, ditinggalkan pergi oleh pacarnya dan dibuang oleh keluarganya. Atau wanita yang sedang hamil, karena perselingkuhan dengan pria yang sudah menikah.


Paling besar adalah dari mucikari, yang membawa anak asuhnya yang hamil dari salah satu pelanggan mereka. Maka mucikari itu akan menitipkan di klinik itu jika sudah mendekati bebarapa bulan masa mendekati kelahiran.


Maka dimulailah pencarian yang lebih banyak lagi. Pada saat ini Alex pun menyusupkan istrinya untuk masuk ke klinik rahasia itu.


Setelah dinyatakan sehat, maka istri Alex pun di bawa pergi. Dia memakai kacamata yang bisa merekam keadaan di sana.


Dengan bantuan Felix, mengamati terasa lebih mudah, "Ya Tuhan, bukankah itu nampak seperti gadis-gadis dibawah umur," ujar Flavia.


"Jika Tuang Long, melihat ini. Sudah pasti tempat itu akan di ledakan," ujar Felix.


"Rekam baik-baik dan jelas, itu bukti kita," ujar Flavia.


Flavia memberika tugas kepada Felix agar merekam semua detail yang di tangkap oleh kacamata pengintai itu.


Di sana para wanita hamil itu setidaknya di rawat dengan baik, diberi makanan bergizi dan lain-lain.


Alex juga selalu mendapatkan kabar jika istrinya dalam keadaan baik. Flavia juga akhirnya mendapatkan bukti jika terjadi perjanjian jual beli bayi itu.


Pembagian dari hasil penjualan itu adalah 60:40, lalu ada biaya 20% dari harga penjualan, ini adalah biaya yang harus dibayarkan selama masa perawatan kehamilan. Itu artinya Klinik mendapatkan 80% sementara si ibu hanya 20%.


"Mereka itu manusia apa bukan?" ujar Flavia dengan marah.


"Hei! Tenanglah," ujar Felix.


"Aku akan mandi untuk menyejukan diri," ujar Flavia yang ingin meredam kemarahannya.


Pada saat ini tiba-tiba bel rumah Flavia berbunyi, Felix membuka pintu. Eryk berdiri di depan pintu dengan wajah terkejut.


'Siapa dia' pikir Eryk.


"Apa dia ada di rumah?" tanya Eryk dengan suara magnetisnya.


"Flavia maksudmu?" tanya Felix.


"Iya" jawab Eryk.


"Sedang mandi," jawab santai Felix.


Tanpa ditawari masuk Eryk pun menerabas masuk sendiri ke dalam, "Hei! Kau siapa?" tanya Felix.


"A-aku ..." jawab Eryk terdiam sesaat.


"Aku bosnya," jawab Eryk lagi dengan menghilangkan kecanggungan.


"Felix!" Panggil Flavia dari dalam kamar mandi.


Felix pun berdiri di depan kamar mandi dan berkata, "Ada apa?"


"Sabun habis, bisakah kau mengambilkannya!" pinta Flavia.


"Di mana?" tanya Felix.


"Di lemari, ada di dapur," jawab Flavia.


Dengan cepat Eryk langsung bergerak ke dapur dan mengambil sabun yang di minta Flavia.


"Eh ... kau," ujar Felix bingung.


Eryk langsung saja berdiri di depan pintu, dan mengetuk pintu itu. Flavia mengeluarkan satu tangannya. Eryk memberikan sabun itu. Namun, enggan melepaskan tangan Flavia.


"Hei! Kau ini kenapa. Lepaskan tanganku," ujar Flavia.


"Ini aku," jawab Eryk.


'Oh ya Tuhan ...' ucap Flavia dalam hati.


"T-tuan bisakah kau lepaskan tangan aku!" pinta Flavia lagi.


Felix langsung menepis tangan Eryk, "Apa-apaan kau ini!"


Flavia langsung saja menarik tangannya dan menutup pintu kamar mandi. 'Mau apa dia di sini'


Felix menarik Eryk menjauhi kamar mandi, dengan spontan Eryk malah meninju Felix karena sembarangan menyentuhnya.


"Beraninya menyentuhku," hardik Eryk.


Flavia enggan menemui Eryk di luar. Dia mengirim pesan kepada Eryk mengatakan jika dia sedang tidak enak badan, dan tidak bisa menemuinya.


'Bukankah tadi dia baik-baik saja ketika mandi' pikirnya.


Eryk membaca isi pesan Flavia lagi, tiba-tiba saja hatinya marah karena merasa di tolak. Eryk berdiri lalu bergegas pergi.


Tadi ketika pergi ke perusahaan, tiba-tiba saja dia merindu bayi yang sedang dikandung Flavia. Dan, malah mengarahkan laju mobilnya ke rumah Flavia. Tapi, tak disangka dia malah mendapatkan penolakan.


Mendengar suara mobil pergi, maka Flavia pun keluar, "Itu benar-benar bosmu?" tanya Felix.


"Iya," jawab Felix.


"Tapi aku rasa dia adalah ayah dari bayi yang kau kandung," ujar Felix.


"Dari mana kau tahu?" tanya Flavia.


"Karena kau bersembunyi darinya," jawab Felix.


"Issh cerewet sekali ... kerjakan dengan baik apa yang aku pinta!" ujar Flavia.


"Siap bos," jawab Felix.


Felix pun bergegas pergi untuk menemui Henry Lin dan memberikan rekaman itu. Sementara itu, Eryk yang merasa di tolak berkali-kali oleh Flavia, dia mencoba menahan diri agar tidak mengejar Flavia. Dan fokus mencari wanita pertama dalam hidupnya Flavia Gu.


Bulan berlalu dengan cepat, perut Flavia semakin membesar. Sementara istri Alex sudah akan melahirkan. Ini artinya transaksi akan terjadi, Henry Lin mengirimkan salah satu agen terbaiknya untuk menyamar menjadi pembeli. Namun, siapa sangka ada kebocoran informasi.


Siasat mereka ketahuan, flavia merasa bertanggung jawab, karena dia yang memiliki ide ini. Dengan impulsifnya dia pergi sendiri ke klinik itu untuk menyelamatkan istri Alex. Asisten He yang mendengar ini langsung saja pergi dengan membawa pengawal terbaiknya.


Melihat ada ibu hamil datang, maka petugas klinik langsung menyambutnya. "Apa ada yang bisa kami bantu?"


"Aku dengar aku bisa melahirkan di sini tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun," jawab Flavia.


"Dari siapa?" tanya petugas itu lagi.


"Salah satu wanita penghibur yang aku kenal?" Jawab Flavia.


"Aku lihat kau akan segera melahirkan?" Ujar petugas itu.


"Iya," jawab Flavia.


"Jika begitu coba isi formulir ini dulu ya," ujar petugas itu lagi.


Setelah mengisi, Flavia di bawa masuk ke ruangan rahasia. Di sana dia melihat istri Alex. Lalu perlahan mendekatinya.


"Aku mengenal suamimu Alex," bisik Flavia.


"Kau tinggal ikuti aku saja ok!" ujar Flavia.


Di luar ruang rahasia, nampak asisten He benar-benar seperti singa yang mengamuk, ketika melihat Video CCTV yang felix berikan.


'Berani-beraninya mereka berniat membawa nona muda kami' pikir marahnya.


"Ada apa ini," ujar salah satu petugas.


Namun, anggota klan naga hitam mengabaikan pertanyaan itu dan dengan beringas menghancurkan semua yang ada di sana.


Petugas itu menekan bel yang ada di bawah meja, seketika saja bunyi bel pertanda bahaya twrdengar di ruang rahasia.


Dengan cepat pengawal di sana, membawa para wanita hamil itu untuk pergi. Flavia tetap memegangi istri Alex.


"Tenanglah," ujarnya.


Flavia percaya penuh kepada Klan naga Hitam, akan datang tepat waktu untuk menyelamatkanya.


"Kalian berdua ayo kesini cepat!" teriak pengawal itu.


Namun, mereka tidak bergerak, pengawal itu berjalan ke arah mereka. Flavia menarik istri Alex lalu mengajaknya berlari.


Tapi mereka malah menuju ke arah buntu, "bagaimana ini?" ujar istri Alex.


Falvia menyiapkan jarum akupunturnya di tangan. Begitu pria itu mendekat dia langsung menancapkan jarum itu di titik yang langsung bisa membuat pingsan.


'Bugh' satu pengawal telah berhasil Flavia jatuhkan.


"Dasar wanita sialan, apa kalian ingin mati hah!" ujar pengawal yang lainnya.