
Apa aku yang salah?
Setelah aku mengakhiri panggilan teleponku dengan Nathan. Aku kembali memikirkan keputusan yang telah aku buat.
Jika tadi aku mendengarkan penjelasannya. Mungkin aku tidak akan sesedih ini. Air mataku terus mengalir, suara tangisku telah memenuhi seluruh kamarku, menggema tidak beraturan.
Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?
Tidak lama setelahnya, ponselku berdering. Sebuah nama tertulis diatas layarnya.
Nathan.
Sebuah panggilan darinya. Aku terus menatap kearah layar ponselku. Tanganku bergerak untuk mengambil ponselku, namun hatiku menolak untuk menjawab panggilan dari Nathan.
Sekali.., dan aku tidak menjawab panggilan itu.
Dua kali..., ponselku kembali berdering. Nathan kembali menghubungiku.
Hingga lima kali ponselku berdering, aku tetap tidak menjawab panggilan darinya.
[Zea, jawab telponku. Kamu harus mendengar penjelasanku dulu.]
Sebuah pesan dari Nathan masuk ke ponselku. Setelah berkali-kali menghubungiku, dan tidak aku jawab sama sekali. Akhirnya Nathan mengirimiku sebuah pesan.
Tidak lama setelahnya ponselku kembali berdering. Nathan kembali menghubungiku. Aku tetap tidak ingin menjawabnya. Kali ini aku menolak panggilannya dengan sengaja.
[Zea, jawab!! Kamu harus mendengar penjelasanku.]
Nathan kembali mengirimiku pesan.
Jika memang ingin dijelaskan, seharusnya dia mengirimiku pesan yang isinya penjelasan. Bukan malah memaksaku untuk menjawab telpon darinya. Ini justru membuatku semakin tidak percaya.
Sudahlah aku tidak akan berharap lagi padanya.
Air mata masih menggenang disudut mataku. Aku tidak ingin Nathan mengubah keputusanku, dan membuatku goyah. Setelah panggilan darinya berakhir, aku memilih mematikan ponselku.
*****
Seminggu telah berlalu, kejadian waktu itu masih membekas dalam pikiranku. Aku kira jika aku bertemu dengan Nathan, aku akan canggung dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Namun ternyata, setelah hari itu Nathan tidak pernah masuk ke kelas.
Aku juga tidak menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Nathan pada Aria. Bukan karna aku tidak ingin, tapi mungkin untuk sementara ini adalah yang terbaik. Agar hubunganku, Mey, dan Aria tidak akan ada masalah.
"Zea..!"
Seseorang sudah berdiri didepan kursiku. Menghalangi pandanganku pada papan tulis yang ada dikelas.
"Hmmm.."
Aku menaikkan kepalaku, melihat wajah orang yang sudah menghalangi pandanganku.
"Kamu tau kabar Nathan?" Suara wanita itu.
May sudah berdiri dihadapanku. Memandangku dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Aria yang sedang duduk disebelahku, juga menatap kearah May. Namun pandangannya menyiratkan sebuah kekesalan.
"Kenapa? Disaat kamu mau tahu tentang Nathan saja, kamu baru menemui Zea. Selama ini kamu kemana?"
Aria menjawab pertanyaan May dengan ketus. Menghalangiku yang akan menjawab pertanyaannya.
"Aku kan bertanya pada Zea. Bukan kamu! Aku rasa kamu tidak perlu mencampuri urusanku dengan Zea seperti itu. Zea saja tidak peduli jika aku bertanya tentang Nathan. Kenapa kamu yang ikut campur segala?"
May mengucapkannya dengan keras. Kesal bercampur emosi terdengar dari suaranya.
"Sudah, jangan bertengkar. Lihat mereka semua menatap kearah kita."
Aku berusaha menengahi perbincangan, yang seperti pertengkaran antara Aria dan May.
"Hey May!" Aria memukul meja dan bangkit dari duduknya.
"Zea bukan tidak peduli ya! Dia cuma menghargai kamu. Sebagai teman seharusnya kamu mengerti, Nathan itu sukanya dengan siapa. Bukan menusuk teman dari belakang seperti ini."
Aria berteriak dengan kesal. Seluruh siswa yang ada didalam kelas sudah menghujani kami bertiga dengan pandangan tajam dan rasa penasaran.
"Menusuk? Tidak salah? Aku tidak menusuk ya. Zea sendiri yang mengatakan bahwa dia dan Nathan tidak ada hubungan. Jadi apa salahnya kalau aku mendekatinya..."
May membalas dan meninggikan suaranya.
May mengucapkannya dengan senyuman sinis. Aku ingin membela diri. Namun mungkin, perkataan May ada benarnya. Hanya aku, dan Nathan sama sekali tidak menyukaiku.
"May!!" Aria berteriak.
"Dasar kamu, tidak tahu terima kasih. Kalau bukan karna Zea, kamu mungkin masih bersama si gila Steve itu. Setidaknya kamu itu fikirkan juga perasaan orang. Dasar gak tau..."
"Cukup!!" Aku berteriak.
Suaraku menghentikan kalimat Aria.
"Zea?!" Aria menatapku dengan kesal. Tidak terima kata-katanya dihentikan.
"Aria, May. Cukup." Aku menatap mereka berdua bergantian.
Seluruh siswa dikelas sudah berkumpul dan mengerubung kami bertiga. Memperhatiakan pertengkaranku, Aria dan May.
"Kalian tidak malu? Mereka semua sudah disini. Untuk apa kita bertengkar mengenai seseorang yang saat ini juga tidak ada dan peduli pada kita." Ucapku kesal.
Kenapa kami harus bertengkar, sedangkan Nathan sendiri saat ini juga tidak ada kabar dan menghilang.
Aria yang tadinya kesal mulai luluh mendengarkan perkataanku.
"May, kamu juga. Benar aku dan Nathan tidak ada hubungan apapun. Tapi bukan berarti kamu bisa bertingkah seenaknya seperti ini. Selain itu, jika kamu memang dekat dengan Nathan, untuk apa kamu bertanya tentang dia padaku? Seharusnya kamu yang lebih tau itu."
Aku menatap May dengan kesal. Kenapa dia bisa berubah drastis seperti ini. Hanya karna seorang pria. Dia sangat berbeda dari May yang dulu aku kenal.
"Kamu memang tidak ada hubungan. Tapi aku tau, kamu sering menghubungi Nathan. Apa salahnya jika aku bertanya padamu. Selain itu kita berdua kan juga masih berteman. Tidak ada ruginya kan jika kamu membantuku." Ucap May.
"Teman??" Aria kembali berbicara dengan emosi.
"Bagaimana kamu bisa mengatakannya dengan begitu santai? Aku tidak percaya ini. Zea, tolong. Aku bisa gila menghadapinya." Teriak Aria dengan kesal.
"May, tolong hentikan." Ucapku.
Sejak awal aku tidak ingin ada pertengkaran antara aku dan May. Bahkan akhirnya Aria ikut tersulut emosi dengan May.
"Aku tidak tahu kabar Nathan. Sebelumnya mungkin aku dekat dengannya. Tapi tidak sekarang. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Bahkan aku juga sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi padanya. Jangan ganggu aku lagi, terutama jika itu menyangkut Nathan."
Aku menatap May dengan kesal. May yang berdiri dihadapnku hanya diam, tidak lagi membalas perkataanku.
Aria yang berada disampingku tampak terkejut mendengar perkataanku barusan. Aku tidak peduli dengan apa yang dia fikirkan sekarang.
"Zea?" Aria menatapku dengan khawatir. Salah satu tangannya menarik lenganku.
Aku menatap Aria yang masih bingung dan tidak percaya dengan perkataanku. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
"Kamu sudah selesai bukan?" Ucapku lagi. Menatap kearah May yang masih diam.
Siswa lain yang telah berkumpul menatap kami bertiga, juga sudah sibuk berbisik.
"Gara-gara seorang pria, persahabatan mereka rusak." Suara seorang wanita
"Siapa yang merebut pacar siapa?" Sambung suara yang lain.
"Tidak tahu malu. Pacar sahabat sendiri direbut." Kali ini sura seorang pria yang terdengar.
"Aku rasa, Zea yang sudah merebut Nathan dari May. Karna aku pernah melihat May pergi bersama Nathan. Tapi tidak pernah dengan Zea." Seorang wanita berbicara.
"Tidak, aku yakin itu May. Karna Nathan pernah membantu Zea, dan bertengkar dikampus. Kalian tidak ingat?" Wanita yang lain ikut berbicara.
Mendengar perkataannya, siswa yang lain ikut mengangguk dan setuju dengan perkataan wanita itu.
"Tapi, itu semua tidak ada artinya bukan? Jika persahabatan mereka berakhir hanya karna seorang pria." Ucap seseorang dengan lantang.
Pria itu berjalan menlewati kerumunan itu. Melangkah dengan sangat percaya diri.
"Lihatlah, kalian semua sudah tau siapa Zea sekarang bukan. Hanya karna seorang lelaki yang baru dikenalnya, dia rela merusak hubungan pertemanannya..."
"... Apalagi dia sendiri yang mengatakan tidak ada hubungan dengan Nathan. Tapi tampaknya, dia sendiri juga tidak rela jika sahabatnya bahagia dengan Nathan. Jika memang tidak ada hubungan, kenapa dia tidak berkata jujur sejak awal, dan malah membuat keributan seperti ini?"
Pria itu kembali berbicara dengan lantang. Berdiri ditengah-tengah kerumunan. Tersenyum sinis kearahku. Sebuah kemenangan baginya, karna setelah mendengar perkataannya. Siswa yang lain ikut setuju dan menyalahkanku.
"Kau!!!" Aria berteriak kesal.