
Setelah berpisah dengan Nathan kemarin malam, dia berkata akan menjemputku dan pergi bersama kekampus.
Benar saja, sekarang dia sudah ada didepan rumahku. Mengendari sebuah mobil SUV berwarna putih. Berdiri disamping mobilnya menungguku.
“Zee.” Nathan melambaikan tangannya padaku. Melihatku yang sedang berjalan menuju gerbang.
“Kenap tidak masuk kedalam?” tanyaku padanya yang masih berdiri. Kulitnya yang putih terlihat berkilau terkena sinar matahari pagi.
“Tidak apa-apa.” Dia menatapku dan berjalan kearah pintu mobilnya. Membukakannya untukku.
“Kalau ada orang lihat, mereka kira kamu tamu yang tidak diundang tau. Tidak diizinkan masuk sang pemilik.” Jawabku menatapnya.
Nathan tertawa mendengarnya. “Tidak masalah kan, aku juga tidak kenal dengan mereka.” Ucapnya tersenyum. Dia mengangkat salah satu tangannya mengisayaratkan aku untuk segera masuk kedalam mobil.
Aku mengangguk dan berjalan mendekatinya. “Aku yang malu!” ucapku dan masuk kemobilnya.
Nathan hanya tersenyum dan menutupkan pintu mobilnya untukku. Dari dalam mobil aku bisa melihatnya yang berjalan dan menahan sebuah senyuman kesisi lain mobil.
Nathan yang sudah masuk dan duduk disampingku menatapku diam. Seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan, namun dia menahannya dan kembali tersenyum.
“Diciptakan untuk digunakan.” Ucap Nathan. Wajahnya sedikit mendekat padaku. Tangannya bergerak dan menarik sebuah karet elastis yang menempel pada kursiku. "Ini." Ucapnya menunjukkan dan memasangkan safety belt milikku.
“Ohh, Ahh.." Ucapku gagap. Terkejut dengan situasi tersebut. "Jadi? Kita langsung ke kampus?” Tanyaku mengalihkan pembicaran. Wajahku terasa panas dan memerah menahan malu.
Nathan tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Tidak, kita kesuatu tempat dulu.” Ucapnya dan menghidupkan mobilnya, bersiap untuk pergi.
*****
“Kenapa kita kesini?” aku menatap punggung Nathan yang berjalan didepanku. Tangannya memegang lenganku. Menuntun dan membantuku untuk berjalan.
“Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan.” Ucap Nathan terus berjalan. Tidak menoleh kearahku sama sekali.
Aku tidak tahu apa maksud perbuatan Nathan. Dia membawaku kembali dan masuk kedalam hutan yang sudah lama tidak aku datangi.
“Jadi..,” ucapku. “Ini tempat yang kamu maksud tadi?"
Nathan hanya diam tidak menanggapi dan terus berjalan, menarik lenganku agar tetap mengikutinya.
“Ini kamu kan Zee?” Nathan menatapku. Dia telah melepaskan pegangannya padaku. Berjalan menjauhiku dan berhenti dihadapan sesuatu.
“Maksud kamu?” Ucapku ikut bingung dengan perkataannya.
“Ini!” Nathan menunjuk sebuah tumpukan kain dihadapannya.
“Maksudnya?” tanyaku masih tidak mengerti dengan pembicaraannya.
“Aku menemukan kain-kain ini terikat dipohon. Ini kamu bukan? Kamu pernah ke hutan ini sendirian kan?” Nathan menatapku kecwa. Tidak ada senyuman yang terpancar seperti sebelumynya diwajah miliknya.
Aku menatap Nathan diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Aku tahu itu adalah perbuatanku, tapi itu sudah lama. Aku bahkan sudah lupa tentang hutan ini.
“Zee!” Nathan meninggikan suaranya.
Sebuah perasaan takut terasa menjalar ditubuhku, suaranya yang hangat telah berubah menjadi sangat dingin. Aku hanya menganggukkan kepalaku tidak berani bersuara.
“Kenapa? Aku kan sudah mengatakan padamu jangan kesini?” Nathan bertanya menatapku yang sudah merasa takut padanya. Sebuah perasaan menyeramkan terasa mengelilingi tubuh Nathan.
“Maaf.” Suaraku pelan. Tidak berani menatap wajahnya.
“Bukan itu yang ingin aku dengar Zee.” Nathan berjalan mendekatiku.
“Zee, lihat aku.” Ucap Nathan yang berdiri tepat dihadapanku.
Matanya yang selalu terlihat berwarna coklat terang berubah memerah. Sebuah sayap merah keemasan tampak keluar dari balik punggungnya, sama seperti dulu namun dengan hawa berbeda yang menyelimutinya.
“Katakan padaku, kenapa kamu kesini? Apa yang kamu cari sampai kamu berani datang kesini?” ucap Nathan menatapku.
“Tidak ada.” Jawabku pelan. “Aku hanya penasaran. Tidak ada yang lain.”
“Penasaran tentang apa? Apa yang kamu lihat sampai kamu penasaran dengan hutan ini. Tidak mungkin tanpa alasan.” Nathan bersikeras.
“Aku..,” suaraku terhenti. Menatap Nathan yang masih berdiri dihadapanku.
“Kenapa?” ucap Nathan yang melihatku menghentikan perkataanku.
“Aku, hanya penasaran tentang sesuatu. Tapi aku juga tidak tahu itu apa.” Jawabku bingung.
“Maksudnya?” Nathan menatapku.
“Kamu yakin?” Nathan terlihat tidak percaya. Dia mengkerutkan keningnya, dan menatapku bingung.
Aku mengangguk. Meyakinkannya bahwa aku benar-benar tidak berbohong.
“Jadi? Apa yang kamu lakukan disini?” Nathan kembali bertanya.
“Tidak ada, aku hanya penasaran dengan suara-suara itu. Aku ingin tahu asalnya, dan apa yang sebenarnya jatuh di area hutan ini. Bahkan petir terlihat menyambarnya meski hujan sama sekali tidak turun waktu itu.” Jawabku.
“Kapan? Bulan purnama juga?” tanya Nathan padaku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Aura mengerikan yang dipancarkan oleh Nathan sebelumnya perlahan terasa memudar. Mendengar jawaban-jawabnku akan pertanyaannya.
“Jadi? Kamu menemukan apa disini?” Nathan menatapku.
“Tidak ada apapun, hanya sebuah bulu berwarna hitam yang cukup besar. Tulisan-tulisan aneh ditanah dan rumput yang terlihat terbakar.” Ucapku.
“Kamu yakin hanya itu?” tanya Nathan memastikan.
“Ya.” Aku mengangguk. “dan aku melihat dua orang berada ditempat itu sebelumnya.” Jawabku.
“Tempat? Tempat apa?” tanya Nathan.
“Tempat dimana aku menemukan tulisan-tulisan itu.”
“Kamu melihat wajah kedua orang tua itu?” tanya Nathan lagi.
“Tidak.” Aku menggelengkan kepalaku. “Mereka menutupinya, aku sama sekali tidak melihat. Hanya, seperti mereka mencari sesuatu tapi tidak menemukannya.”
“Selain itu?” tanya Nathan. “Apa kamu tidak menemukan atau melihat sesuatu yang lain?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Tapi, ada apa dengan kamu? Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku kemari dan menanyakan semua ini?” tanyaku pada Natah yang sejak tadi terus bertanya padaku.
“Tidak ada apa-apa.” Nathan menjawab singkat.
“Kenapa? Aku sudah menjawab semua pertanyaan kamu. Bahkan kamu sampai mengeluarkan hawa yang membuatku sesak dan takut. Tapi kenapa hanya itu jawabanmu?” ucapku sedikit marah. Tidak terima dengan jawaban Nathan yang terlalu singkat.
Nathan terkejut mendengar ucapanku. Sebuah rasa bersalah terukir diwajahnya. Sayap dan matanya yang memerah, tiba-tiba menghilang dan berubah. Nathan kembali mengelurakan perasaan hangat dari dirinya.
“Bagaimana?” tanya Nathan.
Aku menganggukkan kepalaku, sebuah amarah masih tersisa didalam diriku padanya. “Tapi bagaiman dengan pertanyaanku? Kenapa kamu terkesan tidak ingin membicaraknnya?”
“Maaf Zee.” Ucap Nathan. “Aku hanya tidak ingin kamu terluka.” Nathan kembali berbicara.
"Kamu..!!" Suaraku meninggi.
Nathan mengangkat salah satu tangannya, sebuah cahaya terang tiba-tiba keluar dari atas telapak tangannya. Menyilaukan mataku yang memandangnya. Perasaan sesak terasa menusuk dadaku dan kepalaku berdenyut tanpa henti. Tubuhku ikut terasa dingin.
“Maafkan aku Zee dan lupakan semuanya.” Suara Nathan. Sebuah perkataan yang aku dengar sebelum aku tidak mampu mendengarkan apapun.”
*****
“Zee!… Zee!” Aria berteriak. “Kamu kenapa?” ucapnya menatapku yang duduk disebelahnya.
“Kenapa?” Aku kembali bertanya padanya. Kelas sudah sunyi, karna pengumuman Dosen yang sedang ada rapat mendadak.
“Kamu aneh Zee. Sejak tadi kamu diam terus.”Aria menjawab.
“Maksudnya?” Aku menatap Aria bingung.
“Iya, sejak kamu masuk ke kelas. Kamu hanya diam.” Ucap Aria.
Aku tertawa mendengar perkataannya. “Tidak ada, aku hanya memikirkan sesuatu tapi aku lupa tentang apa.” Ucapku kembali tertawa.
“Jadi, bagaimana dengan makan malam dengan Nathan kemarin?” tanya Aria menatapku.
“Sudahlah, Aku tidak ingin mengingatnya.” Ucapku tersenyum.
“Kenapa?” Aria bingung.
“Tidak ada, aku hanya sedang tidak ingin bercerita." ucapku. "Tapi... kita beneran kosong sekarang?” tanyaku.
Aria hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.
Sebuah perasaan aneh terasa terkumpul didalam fikiranku. Sesuatu terasa telah terjadi namun aku tidak mampu mengingat atau berfikir tentang apapun. Aku merasa kehilangan sesuatu, namun tidak yakin apa yang telah aku hilangkan.