Blue Moon

Blue Moon
Bab 22 Surender



Kerumunan siswa yang mengelilingi kami semakin ramai. Tanpa jeda. Kritikan dan bisikan terdengar disana-sini. Saling menyetujui dan membuat perlawanan.


"Hentikan!!"


Aku berteriak kencang. Suaraku menghentikan percakapan mereka. Hening seketika terjadi. Tidak ada yang berbicara. Hanya memandang kearahku dengan rasa penasaran, dan was-was.


"Kenapa? Apa yang kalian semua inginkan sebenarnya? Kami bukan tontonan. Jika kalian tidak ingin membantu, lebih baik kalian semua pergi. Tidak ada yang lucu disini." Ucapku penuh emosi.


Amarahku sudah memuncak. Bukan hal seperti ini yang aku inginkan. Untuk apa juga mereka semua berkumpul sekarang, jika hanya mengkritik dan menjadikan pertengkaran kami sebagai bahan cerita.


Mendengar perkataanku, sebagian siswa yang merasa bersalah mulai mundur dan membubarkan diri. Hanya beberapa orang yang masih bertahan.


"Kamu!!" Teriakku.


Aku menunjuk tanganku kearah pria itu dengan emosi. Dia adalah Luke. Tidak tahu bagaimana, tapi dia disini sekarang.


"Apa maksud kamu menjelek-jelekkan aku seperti itu? Kenapa kamu disini dan justru malah memperburuk keadaan. Keluar!!"


Aku menunjuk kearah pintu kelas. Mengusirnya, untuk segera pergi dan keluar dari kelasku.


"Atas dasar apa kamu berani mengusirnya? Kamu tidak tau siapa dia." May membalas perkataanku.


"Kenapa? Apa kamu juga suka dengan dia?" Aria membentak.


May yang mendengar perkataan Aria hanya tertawa dan tersenyum sinis. Tidak membalas, namun langsung mengangkat tangannya dan menjatuhkannya pada pipi Aria.


*Plakk*


Suara tamparan yang sangat keras terdengar. Seketika pipi Aria berubah memerah dan terdapa jejak jari May.


"Kamu tahu, manusia itu bisa berubah. Entah karna harta, ataupun cinta. Ini pelajaran untukmu. Ketika manusia menginginkan sesuatu, tidak ada yang tidak mungkin baginya. Apapun itu, jika terus menghalangi maka perlu disingkirkan." Ucap May menunjukkan sebuah kemenangannya.


Aria yang menerima pukulan May, terlihat terkejut. Tangannya menyentuh pipinya yang memerah. Air mata mulai berkumpul disudut matanya.


"Kau!!" Aria mengangkat tangannya.


*Plakk*


Kali ini tamparan mendarat dipipi May. Aria yang kesal membalasnya dengan jauh lebih keras.


"Terserah jika kamu mau berubah. Tapi itu bukan masalahku. Pergi saja sana. Kejar cinta yang mustahil akan kamu dapatkan. Bagaimanapun ceritanya, perusak akan bersatu dengan perusak. Tidak akan pernah berubah." Ucap Aria keras.


"Sudahlah Zea. Lupakan saja May. Dia tidak pantas memiliki teman seperti kamu. Dia akan melupakan perbuatan baik orang lain dalam sekejap. Bahkan untuk sahabatnya sendiri saja dia mampu berbuat buruk seperti ini."


Aria menatapku. Menenangkanku dan membiarkan aku membuat keputusan.


"May...," Ucapku menatap kearah May yang ada didepanku.


May tidak berkata apapun. Aku tahu, setelah pukulan Aria yang keras. May berusaha untuk kembali membalasnya. Namun, aku berhasil menahan pukulannya sebelum kembali mendarat ke pipi Aria.


"Sudah cukup. Aku sudah lelah dan tidak ingin ada pertengkaran lagi di antara kita. Cukup sampai disini. Terserah kamu akan seperti apa kedepannya. Tapi aku harap kamu tidak mengganggu dan mengusik hidupku. Silahkan jaga Nathan dengan baik, jika kamu takut dia akan bersamaku."


Aku menatap kearah May yang masih diam. Tangannya gemetar menahan amarah padaku.


"Dan kamu Luke? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa ada dikelasku sekarang. Jangan mencampuri urusan yang bukan milikmu. Kau justru jadi pengacau dan penyulut emosi diantara kami bertiga. Hentikan sekarang."


Aku tidak tahu bagaimana. Tapi Luke tiba-tiba saja muncul diantara pertengkaran kami. Membuat spekulasi buruk dan kecurigaan yang berlebihan pada siswa yang lain.


"Aku sekarang..."


Tiba-tiba seseorang masuk kedalam kelas. Menghentikan Luke melanjutkan kalimatnya.


"Aria?"


Brian muncul dari belakang pria itu. Wajahnya tampak terkejut. Aku tahu, dia pasti khawatir melihat pipi Aria yang memerah.


"Kamu? Siswa baru bukan?" Bapak Dosen menunjuk kearah Luke.


Mendengar perkataannya membuatku dan Aria sama-sama terkejut. Aku melirik ke arah Brian. Memastikan perkataannya.


"Tidak tahu!" Gumam Brian. Memberikan isyarat dengan tangannya, bahwa dia juga tidak mengetahui kejadian hari ini.


"Ya. Saya siswa baru Pak" Jawab Luke.


"Ya sudah, yang lain kembali duduk. Ini siswa baru. Biarkan dia memperkenalkan diri sebentar." Ucap Pak Dosen.


Siswa yang lain memandang kearah Luke mendengarkannya berbicara. Luke tidak setampan Nathan, namun wajahnya juga mampu memikat beberapa wanita yang ada didalam kelas.


"Mungkin ada sebagian dari kalian yang sudah mengenal saya. Jika memang benar, untuk kesalahan saya dimasa lalu tolong maafkan saya. Hari ini, saya akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Perkenalkan, saya Luke. Mari berteman dengan baik." Ucap Luke.


Mendengar perkataannya siswa yang lain ikut bersiul. Sebagian ada yang bertepuk tangan. Seperti telah menyaksikan sebuah pertunjukkan hebat.


"Nahh. Tenang-tenang." Pak Dosen berusaha menenangkan isi kelas yang mulai riuh.


"Kalian sudah tau kan. Beliau ini adalah seseorang yang dulu pernah berbuat onar dikampus kita. Untuk meredam emosi, dan mengurangi berita buruk yang sudah tersebar. Maka pihak kampus, memberikan izin spesial pada beliau agar bisa belajar dikampus kita." Ucap Pak Dosen.


Luke yang masih berdiri didepan kelas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Jadi, demi menjaga nama baik kampus. Saya harap kalian semua akan bekerja sama dengan baik. Tidak ada lagi pertengkaran. Saling membantu. Kamu sekarang bisa duduk dibelakang sana Luke."


Pak Dosen menunjuk sebuah kursi kosong. Kursi tersebut berada dipaling belakang.


"Pak?" Suara May.


"Bukankah itu kursi milik Nathan? Jika Luke duduk disana, bagaimana dengan Nathan?"


May menatap kearah Pak Dosen dan Luke bergantian. Pak Dosen yang mendengar perkataan May terdiam sebentar. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ohh iya, Maaf." Suaranya merasa bersalah.


"Saya lupa mengatakan pada kalian." Ujar Pak Dosen.


"Untuk sementara Nathan tidak akan masuk kekelas. Jadi Luke bisa menggunakan kursinya selama Nathan tidak datang. Nanti jika Nathan sudah masuk, kita akan menambah kursi yang baru." Pak Dosen menutup kalimatnya.


Nathan tidak masuk?


Aku ingin sekali bertanya tentang alasannya. Tapi, jika aku bertanya pada Pak Dosen sekarang, May pasti akan lebih curiga dan emosi. Lebih baik aku diam sekarang. Mungkin Brian tahu soal ini.


"Kenapa Pak? Kenapa Nathan tidak masuk?" Suara seorang wanita mengangkat salah satu tangannya, dan bertanya.


May yang mendengar pertanyaan tersebut langsung menatap kearahnya dengan sinis.


"Ohhh. Saya kurang tau kalau itu. Ini instruksi langsung dari Pak Rektor. Satu atau dua bulan, Nathan mengambil cuti. Seperti itu katanya." Jawab Pak Dosen.


Siswa yang lain mengangguk dan mengerti.


"Kamu, silahkan duduk. Jangan berdiri saja disini. Saya akan memulai kelas."


Pak Dosen menatap kearah Luke dan menginstruksikannya untuk segera duduk.


Kenapa Nathan tidak masuk? Apa maksudnya?