Blue Moon

Blue Moon
Bab 20 Liar



Perkataan Aria terus mengusik dalam fikiranku. Aku takut melakukan apa yang dia katakan, tapi aku juga tidak ingin jika hubunganku dan Nathan harus berakhir seperti Luke. Aku hanya tidak siap, jika harus menerima kenyataan yang sebenarnya.


Baiklah. Aku akan mencoba menghubungi Nathan. Jika dia tidak menjawab panggilanku, berarti sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengannya.


Dering pertama.


Dering kedua...


... Dering ter..


Hallo Zea?


Arggghh!!! Kenapa harus diangkat sih. Padahal itu adalah dering yang terakhir. Sedikit lagi, dan aku tidak akan jadi menanyakan hal itu.


Zea ??


Ahhh.Ya. Nathan apa kabar?


Kenapa aku malah tanya kabar. Bodoh. Pertanyaan macam apa itu. Jelas-jelas aku baru bertemu dengannya kemarin.


Kabar?... Aku baik Zea. Ada apa?


Benar kan? Dia pasti bingung dengan pertanyaanku barusan.


Ahh., Iya tidak ada apa apa. Aku hanya ingin tahu kabar kamu. Itu saja.


Hahahaha.. Kenapa Zea, kamu tidak mungkin menelponku kalau hanya ingin bertanya tentang kabar. Katakan saja. Ada apa?


Hahaha, Iya benar. Maaf jika mengganggu. Kamu sibuk sekarang?


Malu-maluin!! Salah kamu juga Nathan. Kenapa kamu angkat telponku. Aku kan masih belum ada persiapan. Aku bingung sendiri harus berkata apa.


Tidak Zea. Aku tidak terlalu sibuk sekarang. Kamu dimana sekarang Zea? Sepertinya aku tidak melihatmu dikampus, tadi. Kamu masih sakit?


Hah? Oh I-iya. A-aku rasa aku masih sedikit sakit tadi, jadi aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat.


Dasar. Kenapa juga aku harus menjawab dengan gagap seperti itu. Nathan kan bisa curiga, dan berfikir bahwa aku hanya membuat-buat alasan.


Jadi sekarang kamu bagaimana? Apa tidak sebaiknya kamu kerumah sakit dan memastikannya Zea. Atau, kamu mau aku kesana dan menemanimu ?


Dari suaranya aku tahu Nathan sedang khawatir padaku. Tapi, bukan ini yang aku harapkan. Ada hal lain yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi kenapa sulit sekali memulainya.


Tidak usah. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Kamu tidak perlu khawatir. Emmm, Nathan..


Ya ?


Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Tapi aku bingung, haruskah aku bertanya sekarang lewat telpon. Atau kalau kamu ada waktu, kita bisa bertemu?


Sekarang?


Tidak harus. Aku hanya ingin bertanya sesuatu yang sedikit sensitif dan penting menurutku.


Kamu sedikit aneh sekarang Zea! Sebentar ya Zea...


Kenapa tiba-tiba suaranya menghilang. Selain itu aku dikatain aneh lagi, apa salahnya jika aku ingin bertanya dan memastikan terlebih dahulu. Dasar Nathan.


Mana dia? Sudah sepuluh menit, tapi kenapa belum kembali. Apa aku putus saja panggilan ini ya?


Hallo Nathan? Hallo?


Tidak, tidak bisa. Aku tidak boleh memutus panggilan ini sebaiknya aku tunggu saja sampai dia selesai. Jika aku tutup, semua usahaku akan sia-sia. Seberapa lama sih Nathan akan membiarkan aku menunggu. Sabar Zea.


Hallo Zea? Maaf ya aku ada urusan sebentar tadi. Sampai dimana tadi pembicaraan kita?


Zea?? Hallo??


Iya. Aku bisa mendengar suara kamu Nathan!!


Suaraku terdengar kesal. Pasti Nathan juga merasakannya.


Kenapa kamu tadi tiba-tiba diam Zea? Aku kira sinyalnya sedang buruk.


Sinyal buruk apa? Kamu sendiri yang menghilang. Bilang sebentar taunya sampai setengah jam juga. Kalau tau lama, mending kamu bilang saja sibuk. Buat aku nunggu segala.


*Sudah tidak Zea. Jadi, kamu ingin berbicara tentang ap**a tadi* ?


Haruskah aku bertanya sekarang? Jika aku bertanya melalui telepon, mungkin saja Nathan bisa jadi salah paham sekarang. Tapi jika tidak sekarang, aku tidak yakin akan bertanya padanya lagi.


Zea? Kenapa kamu diam?


Tidak apa-apa. Aku hanya berfikir sebentar. Jadi Nathan, aku...


Benar. Apapun yang terjadi aku harus melakukan ini. Jika hal memburuk, Bu Alice juga sedang keluar. Jadi tidak akan ada yang tahu kalau aku menangis sendirian di kamar.


...Aku ingin tahu, hubungan kamu dan May sebenarnya apa? Kamu sepertinya membohongiku bukan?


Aku menjauhkan ponselku dari telingaku. Bagaimana ini? Apa jawaban Nathan. Haruskah aku menutupnya sekarang? Tidak-tidak. Aku harus menunggu jawaban Nathan dulu.


Aku merasakan detak jantungku sudah berdetak tidak beraturan. Ponsel yang semula aku jauhkan dari telingaku, kini aku kembalikan. Aku ingin mendengar apa jawaban yang dimiliki oleh Nathan.


...


Kenapa tidak ada suaranya?


Hallo Nathan? Kamu masih disana?


...


Nathan?


Kemana dia? Kenapa tidak menjawabnya? Apa mungkin Nathan memang memiliki hubungan dengan May, sehingga dia tidak ingin menjelaskannya padaku? Seharusnya aku sudah tau jawabannya sejak awal.


Yasudah Nathan. Jika kamu tidak ingin menjawabnya, aku juga sudah tidak peduli. Maaf mengganggu.


Suaraku terdengar melemah. Aku sudah pasrah dan tidak ingin berharap.


Zea? Tunggu !!


Teriakan Nathan dari balik telepon membuatku menghentikan tanganku untuk memutus panggilan dengannya.


Maaf, bukan seperti itu. Aku hanya sedikit berfikir tentang pertanyaan kamu, dan jawaban apa yang sebaiknya aku berikan...


...Aku tidak tau bagaimana mungkin kamu tidak percaya padaku. Sejak awal kan sudah aku katakan, aku tidak ada hubungan apapun dengan May.


Apa May mengatakan sesuatu padamu? Dia bilang apa?


May? Kenapa Nathan bisa curiga pada May sekarang. Bukankah seharusnya dia yang menjelaskan padaku tentang hubungan mereka. Kenapa harus membawa-bawa May?


Tidak. Dia tidak berkata apapun padaku. Aku bahkan tidak sempat bertemu dengannya dikampus tadi. Bagaimana May bisa menceritakannya padaku...


...Berarti, antara kamu dan May memang ada hubungan? Kenapa kamu tidak menjelaskannya saja padaku. Aku pasti akan mengerti dan berhenti berharap padamu.


Nathan hanya diam dan tidak membalas perkataanku. Aku yakin pasti dia akan melakukan itu. Sulit menemukan sebuah alasan, jika kebohonganmu telah terbongkar.


Aku tidak apa-apa kok. Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir padaku, dan lanjutkan saja hubunganmu dengan May.


Sejak awal, kita juga tidak memiliki hubungan apapun. Jadi aku rasa itu hal yang wajar jika kamu dan dia berpacaran sekarang.


Air mata sudah mengalir dipipiku. Mungkin Nathan bisa mendengar suaraku yang mulai parau dan isakan tangisku. Aku harus tegar dan berusaha menahannya. Aku tidak akan lemah hanya karna ini.


Zea, maksud perkataan kamu tadi apa? Siapa yang tidak memiliki hubungan? dan siapa yang berhubungan dengan May?


....


Zea, jawab aku!! Kamu tidak bisa diam seperti itu.


Apa yang harus aku katakan. Aku tidak sanggup lagi berbicara pada Nathan. Kenapa dia berbuat seperti ini padaku.


Sudahlah Nathan! Aku tidak akan membahasnya lagi denganmu. Mungkin, jika kamu berbicara padaku sejak awal. Aku akan menerimanya. Aku pasti akan menyerah dan membiarkan kamu dengan May.


Zea, itu bukan seperti yang kamu bayangkan. Dengar dulu penjelasanku. Aku dan May itu tidak ada...


Aku memutus panggilan itu, aku tidak ingin mendengar perkataan Nathan yang nantinya akan membuatku luluh dan percaya padanya.


Jika memang harus berakhir seperti ini. Mungkin ini yang terbaik.