Blue Moon

Blue Moon
Bab 28 Pertarungan (Flash Back)



"Nathan, kamu harus melihat ini." Teriak Alvin masuk kedalam ruangan.


Didalam ruangan itu sudah ada Nathan yang duduk, dengan tumpukan buku dan kertas-kertas diatas meja.


Alvin bergegas masuk dan berdiri tepat dihadapan Nathan yang sedang menulis.


"Ini." Alvin menunjuk sebuah kotak kaca. Didalamnya terdapat sebuah bulu burung berwarna hitam dengan warna merah disetiap ujungnya.


"Kamu tahu ini milik siapa kan?" Teriaknya lagi pada Nathan.


"Aku sudah tau. Aku juga sudah membereskan mereka semua." Ucap Nathan.


Nathan tidak memperhatikan Alvin yang masih kesal. Dia hanya terus membaca dan menulis diatas kertas yang ada dihadapannya.


"Bagaiman dengan ini." Alvin melemparkan sebuah foto keatas meja.


Melihat foto itu, Nathan langsung menghentikan kegiatannya. Matanya sedikit melebar dan kedua matanya berubah memerah.


"Bagaimana bisa?" Tanyanya terkejut. Menatap kearah Alvin yang juga terlihat kesal dan marah.


Nathan mengambil salah satu foto yang ada dihadapannya, memperhatikan gambar itu dengan lebih teliti.


"Sudah aku katakan. Sejak bulan purnama waktu itu, hal aneh telah terjadi pada dinding pelindungku. Aku yakin, pasti ada seseorang yang sudah menyabotase sihirku." Ucap Alvin kesal.


"Hmmm..."


Nathan terlihat memikirkan sesuatu. Dia mengarahkan pandangannya pada sebuah jendela yang ada diruangan. Tampak pohon-pohon besar berada dibalik kaca itu.


"Sesuatu saat itu terjadi. Apa aku sudah melakukan kesalahan?" Gumamnya.


"Ada apa?" Alvin menghentikan lamunan Nathan.


"Sepertinya aku tahu penyebabnya. Tapi itu sudah lama. Dan aku sudah menutup mulut saksi." Nathan menjawab.


"Saksi?" Alvin menatap Nathan dengan bingung.


"Ada seseorang yang juga mengetahui kejadin itu? Siapa?" Ucap Alvin terkejut. Setelah sadar apa maksud perkataan Nathan sebumnya.


Nathan hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu membunuhnya? Sudah aku katakan, jangan memperburuk keadaan. Kita harus hidup dengan damai. Bagaimana kalau ternyata itu salah satu anggota dari Kelurga lain?" Alvin mengomel. Tidak menyangkan apa yang baru saja dia ketahui.


"Tidak. Tidak." Ucap Nathan mengelak.


"Kamu kira aku orang yang seperti apa. Serampangan dan asal membunuh orang. Nyawa seseorang itu juga berharga." Balas Nathan kesal.


"Kamu kan memang seperti itu, jika sudah menyangkut wilayah dan keluarga."


"Jadi, kemana saksi itu?" Sambung Alvin lagi.


"Sudah tidak ada." Jawabnya singkat.


Nathan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tidak peduli dengan omelan dan gerutu kesal Alvin.


"Jadi, bagaimana dengan Keluarga Deandra?"


Mendengar pertanyaan Alvin, Nathan menghentikan tulisannya sebentar. Nathan tampak terkejut mendengar nama itu disebutkan, namun berpura-pura tidak perduli dia kembali melanjutkan tulisannya.


"Biarkan saja. Aku sudah bertemu mereka. Namun tampaknya tidak akan ada perdamaian. Kamu sebaiknya bersiap juga."


Mendengar perkataan Nathan tersebut Alvin langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan. Nathan yang masih didalam ruangan terlihat tidak tenang dan menghela nafasnya. Mengalihkan pandangannya, dan menatap langit dari balik jendela ruangan itu.


******


Sebuah pertarungan tengah terjadi di sebuah sudut kota. Nathan dan Alvin sedang bertarung dengan Keluarga Deandra. Darah sudah berceceran diatas tanah.


*Brukk*


Seseorang berhasil menjatuhkan Alvin ketanah. Pisau yang ada digenggamannya terlempar menjauh.


"Mati kau!" Teriak pria itu mengangkat pisaunya. Melayangkannya kearah tubuh Alvin.


Sebuah angin kencang tiba-tiba mengangkat dan melemparkan pria itu keudara. Suara tubuhnya yang terjatuh ketanah terdengar sangat keras.


"Apa yang kamu lakukan?" Nathan berteriak.


"Konsentrasi. Kita sedang dalam pertarungan sekarang. Cepat berdiri!!" Sambungnya.


Alvin yang mendengar teriakan Nathan hanya diam mematung. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Terkejut dengan apa yang dia alami sebelumnya.


"Alvin, awas!!" Teriak Nathan.


Melihat Nathan yang sudah berdiri dihadapannya dengan darah yang mengalir, membuat Alvin ikut tersadar.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melindungiku dan terluka seperti ini?" Teriak Alvin terkejut melihat tubuh Nathan yang mulai memucat.


"Aku tidak bisa mengeluarkan sihirku lagi. Bagaimana denganmu?"


"Aku baik-baik saja." Balas Alvin.


"Kalian, dengarkan!" Alvin berteriak pada pria yang sedang bertarung dibelakangnya.


"Seorang manusia melihat pertarungan kita, kejar dan segera bunuh dia." Alvin kembali berteriak.


Beberapa pria yang mendengar teriakannya menghentikan pertarungan mereka. Bersiap untuk segera berlari mengejar orang tersebut.


"Jangan!" Nathan balas berteriak.


"Biarkan. Jangan kalian kejar. Biarkan saja dia pergi. Kita selesaikan pertarungan kita malam ini." Lanjut Nathan.


Mendengar teriakan Nathan, pria-pria itu kembali bertarung. Suara teriakan dan bunyi senjata yang saling berlawanan terdengar kembali.


"Apa yang kamu lakukan? Manusia itu melihat pertarungan kita. Jika manusia-manusia yang lain tahu, kita akan kena masalah." Balas Alvin membentak.


"Aku sudah tahu dia ada disana sejak awal. Kamu sebaiknya kembali fokus. Jangan jadikan manusia itu alasan kegagalan kita hari ini." Ucap Nathan kesal dan meninggalkan Brian yang masih terdiam.


Seseorang kembali datang mencoba untuk melukai Alvin dari belakang.


*Brukk*


Suara pria itu jatuh ketanah. Tidak sempat melakukan serangannya pada Alvin. Tubuhnya sudah terluka terkena sayatan pedang yang digunakan Alvin.


"Ini sebabnya aku tidak menyukai pedang. Terlalu cepat untuk mati. Dimana pisauku?" Gumamnya.


Alvin menatap sekeliling dan mencari pisau miliknya. Pisau yang sempat terlepas dari genggaman tangannya,  karna seseorang menjatuhkan tubuhnya.


"Ketemu!" Teriaknya girang.


"Ahh...!"


"Nathan bagimana dengan manusia itu." Alvin kembali mengejar Nathan yang sedang bertarung dengan seseorang.


"Sudahlah Deandra. Akui kekalahanmu.!" Nathan berteriak dan memukul wajah Deandra. Darah mengalir dari salah satu sudut bibirnya.


"Aku tidak akan kalah!" Dia membalas pukulan Nathan dengan lebih keras.


Deandra menarik lengan Nathan yang terluka, dan menekannya dengan kuat. Salah satu tangannya juga mencekik leher Nathan.


"Arggghh..." Suara Nathan tersengal.


"Kamu...tidak...akan...bisa...membunuhku!!" Ucap Nathan terbata.


"Kamu akan mati sekarang!" Teriak Deandra.


"Eghhkk..Eghhkk.." Suara Nathan tersengal. Nafasnya tidak beraturan. Salah satu tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Deandra dilehernya.


"Mati kau!!" Alvin berteriak dan melemparkan pisau yang ada ditangannya kearah Deandra.


"Haaahh..Hahh..Hahhh.." Napas Nathan tersengal. Deandra melepaskan cengkramannya pada Nathan dan menjatuhkan tubuh Nathan ketanah..


"Brengsek!!" Teriak Deandra menatap Alvin. Dia menarik pisau itu dari tangannya. Dan berusaha melemparkannya kembali pada Alvin.


"Hentikan pertarungan ini sekarang!" Seorang wanita mendadak muncul dari udara kosong.


"Morpheus!" Teriak Nathan dan Alvin bersamaan.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Deandra berteriak.


"Aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kamu menyerang mereka?" Morpheus balas berteriak.


"Mereka yang menyerangku duluan. Ini tidak ada hubungannya dengan Keluarga kita." Denadra membela. Tidak terima pertarungannya dihentikan.


"Kamu memasuki wilayah Keluarga Nathan. Para petinggi Keluarga sudah mengetahui itu Deandra. Jika kamu tidak kembali, kamu akan dikeluarkan dari Kasta Keluarga kita." Morpheus membalas.


Deandra hanya terdiam. Tidak membalas perkataan dari Morpheus. Setelah yakin Deandra sudah tenang, Morpheus melihat ke sekelililing tempat pertarunagan itu.


Dengan jentikan jarinya, semua darah yang berceceran ditanah telah menghilang. Tempat itu juga kembali seperti semula.


"Aku tidak bisa menghidupkan yang telah mati. Tapi kami dari Kasta Kelaurga dan aku mewakili keluarga Deandra meminta maaf pada Keluarga Nathan atas apa yang telah terjadi." Seketika Morpeheus kembali menghilang ditelan udara.


"Apanya yang minta Maaf. Seharusnya pelakunya sendiri yang minta maaf." Alvin menggerutu.