Blue Moon

Blue Moon
Bab 17 Secret



Setelah perkataan Aria yang begitu mengejutkan. Aku menolaknya untuk melanjutkan ceritanya.


Aku tidak yakin, apakah aku sanggup mendengar cerita itu. Aku tahu, antara aku dan Nathan tidak ada hubungan apapun. Tapi, tetap saja. Aku merasakan cemburu dan sakit hati.


"Tidak apa-apa. Terimakasih sudah berkunjung dan menjenguk aku hari ini."


Setelah ceritanya aku hentikan, Aria merasa bersalah dan canggung padaku. Dia memutuskan untuk segera pulang dan pergi kekampus.


"Yasudah. Maaf Zea kalau aku membuatmu salah paham. Aku sama sekali tidak ada niat. Aku bertemu mereka hanya kebetulan. Jadi aku juga tidak mengerti apa-apa tentang ini."


"Iya. Aku baik-baik saja kok Rii. Jangan bahas ini dengan May. Biar aku sendiri yang memastikannya besok. Aku tidak mau persahabatan kita jadi rusak."


"Tenang saja Zea, aku mengerti kok." Ucap Aria mengangguk.


*****


Bagaimana ini? Kepalaku pusing memikirkannya. Jika aku menghubungi Nathan dan menanyakan tentang May. Apa dia akan salah paham?


Aku tidak habis fikir. Padahal tadi pagi aku bilang pada Aria bahwa aku baik-baik saja. Tapi lihatlah aku sekarang. Terus kepikiran dan tidak berhenti curiga.


"Mbak Zea?"


Suara Bu Alice dari balik pintu kamarku menghentikan lamunanku. Terdengar tangannya berkali-kali mengetuk pintu itu.


"Ya Bu. Masuk saja. Saya tidak bisa membuka pintunya."


Bu Alice yang masuk tampak terkejut. Jangankan dia. Aku sendiri juga tidak sadar tentang apa yang aku lakukan.


"Mbak? Kenapa berantakan seperti ini?"


Kamarku sangat berantakan. Pakaian yang ada didalam lemari semuanya telah berhamburan, berserakan di atas lantai.


"Hahahaha Iya Bu. Saya juga bingung kenapa jadi seperti ini. Saya hanya berniat berganti pakaian, tapi saya tidak tau harus memilih dan mengenakan baju yang mana."


"Memangnya Mbak mau kemana? Sampai berganti pakaian segala jam segini?"


"Ke kampus Bu. Saya pusing dirumah saja, lebih baik saya kekampus dan ketemu dengan yang lain."


Aku tidak tau lagi. Tapi nama May terus berputar dikepalaku. Rasa curigaku tentangnya tidak memudar sedikitpun. Sepertinya aku harus bertemu dengannya hari ini juga. Hatiku sudah tidak tenang. Terutama karna ini tentang Nathan.


"Tapi Mbak, sekarang sudah siang. Kampus juga mungkin sudah bubar. Bukannya Mbak harus cukup istirahat. Kenapa tidak besok saja."


Bu Alice khawatir dengan keputusanku. Meski begitu aku tidak peduli. Aku harus menyelesaikan semuanya hari ini.


"Tidak apa-apa Bu. Saya sudah baik-baik saja sekarang. Ada urusan yang memang tidak bisa saya tunda. Pasti mereka masih dikampus dan belum pulang"


Bu Alice mengangguk, matanya terlihat ragu. Namun dia membiarkan aku memutuskan dan tidak banyak berkomentar.


"Jadi Bu, ada apa? Ibu tidak menemui saya hanya karna ini kan?"


Bu Alice menatapku bingung. Dia mengerutkan keningnnya dan mengangkat kedua alisnya. Memikirkan sesuatu yang harusnya dia sampaikan.


"Ohh iya Mbak. Saya lupa. Astaga."


Bu Alice tertawa dan menepuk keningnya dengan salah satu tangannya.


"Ada tamu Mbak. Tapi tidak saya izinkan masuk. Saya hanya mengizinkan dia menunggu diluar pagar. Saya masih sedikit trauma dengan kejadian kemarin."


Tamu? Siapa lagi yang datang kerumahku hari ini. Tidak mungkin Aria atau May. Mereka berdua sudah dikenal dirumah ini. Luke? Apa dia datang lagi. Kalau dia pasti Bu Alice tidak akan bersikap seperti ini.


"Siapa Bu? Sepertinya saya tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini. Apa jangan-jangan Luke lagi ya?"


Bu Alice menggelengkan kepalanya.


"Bukan Mbak. Saya juga tidak kenal dengan orangnya. Dia bilang namanya Brian Mbak."


"Brian?"


Aku menatap Bu Alice bingung. Kenapa Brian datang kesini? Ada urusan apa dia sampai datang kerumahku.


"Yakin namanya Brian Bu? Dia tidak bilang ada keperluan apa bertemu dengan saya."


"Iya Mbak. Tadi sudah saya bilang juga kalau Mbak Zea sedang sakit dan perlu istirahat. Tapi beliau berkeras ingin bertemu Mbak."


"Terus Bu?"


"Beliau juga bilang, sudah mencoba menghubungi Mbak dari telepon. Tapi tidak Mbak angkat."


Perasaan sejak tadi ponselku tidak ada berdering, bagaimana mungkin aku tidak mendengar panggilannya jika dia memang ada menelfon.


"Baik Mbak. Saya permisi dulu."


Tadi pagi Aria yang datang. Sekarang Brian yang datang. Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua. Kenapa tidak datang bersamaan saja.


"Ponsel?"


Dimana ponselku. Sepertinya tadi aku letakkan diatas meja. Kenapa sudah tidak ada. Apa jatuh ya?


Hah!! Sudahlah. Nanti saja aku cari. Mungkin tertimpa oleh pakaian-pakaian yang berserakan ini. Pantas saja aku tidak mendengar suara apapun sejak tadi. Mungkin karna itu Brian datang.


******


"Maaf ya lama." Ucapku pada Brian yang sedang meminum segelas teh yang disajikan untuknya.


Brian sudah duduk diruang tamuku. Mungkin Bu Alice yang memberikan dia minuman tersebut.


"Tidak pa apa. Aku sudah terbiasa menunggu. Bahkan Aria jauh lebih lama." Ucapnya tertawa.


"Jangan samakan aku dengan dia. Kalau dia pasti sangat lama. Aku terbiasa tertidur sambil menunggunya bersiap." Aku ikut membalas.


Aku dan Brian tertawa bersama. Mengingat kejadian jika harus menunggu dan membuat janji dengan Aria.


"Kamu sudah baik-baik saja sekarang? Maaf mengganggu waktu istirahatmu."


"Tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Kamu tidak perlu khawatir."


Brian tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar jawabanku. Kelegaan terlihat dari senyumannya.


"Jadi, ada apa. Aku tidak tahu kamu akan datang. Sudah bilang Aria?"


Brian terdiam sebentar. Memikirkan jawaban atas pertanyaanku.


"Sudah. Tapi katanya tadi pagi dia sudah kemari, jadi tidak ingin mengganggumu beristirahat. Aku terpaksa datang karna ada yang ingin aku tanyakan."


"Ohh. Ada apa?"


Aku duduk disalah satu sofa yang tidak jauh dari Brian. Ruang tamu yang luas tampak sepi sebentar, sebelum akhirnya Brian kembali berbicara.


"Ini tentang Nathan. Kapan terakhir kali kamu bertemu dengan dia?"


"Bertemu Nathan?"


"Ya."


Brian menjawab dengan sangat singkat dan serius. Wajahnya sangat tegang, menunggu sebuah jawaban dariku.


"Aku tidak ingat pastinya. Beberapa hari yang lalu mungkin. Tapi, bukannya kemarin kamu dan Aria baru saja bertemu dia?"


Brian dan Aria baru saja bertemu Nathan, jadi kenapa dia menanyakan hal itu lagi padaku. Seharusnya dia yang lebih tau.


"Ya, aku tahu. Maksudku, mungkin kemarin kamu baru bertemu dengannya?"


Brian tampak ragu dengan pertanyaannya padaku


"Tidak ada. Jika aku bertemu, pasti aku langsung mengingatnya. Ada apa memang?"


Brian terdiam. Wajahnya terlihat bingung dan memikirkan sesuatu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada apa-apa Zea. Aku hanya sedikit khawatir tentangnya."


"Kalau khawatir, kamu kan bisa


menghubungi dia langsung. Kenapa harus bertanya padaku?"


Jika memang hal biasa tidak seharusnya Brian sampai datang kerumahku dan menanyakan hal itu. Pasti ada sesuatu sampai Brian harus bertemu denganku.


"Karna aku tidak bisa menghubunginya Zea, dan aku takut hal buruk terjadi padanya."


"Hal buruk apa?"


Brian hanya diam. Tidak menjawab pertanyaannku.


"Brian, kamu sudah disini. Kenapa tidak cerita saja? Aku jadi penasaran sekarang."


Brian menangkap rasa kesal dari perkataanku. Dia tampak ragu untuk memulai ceritanya. Setelah menghela nafasnya, dia mulai berbicara perlahan.


"Sebenarnya Zea..."