
"Kamu yakin sudah baik-baik saja sekarang? Jika kamu masih kurang sehat, lebih baik kamu pulang saja."
Aria masih khawatir dengan keadaanku. Aku sudah bosan dirumah. Dua hari aku sudah izin dan tidak masuk kelas. Sehingga hari ini aku memaksa untuk datang.
"Tidak apa-apa. Aku juga sudah dua hari penuh dirumah dan beristirahat. Kita ada tugas?"
Aku menatap Aria yang duduk disampingku. Kelas masih sepi, siswa yang lain masih belum berdatangan dan memenuhi kelas.
"Tugas tidak ada..." Aria menghentikan kalimatnya. Dia menatapku lekat, kemudian berpaling kearah pintu yang dimasuki oleh seseorang.
"Ada apa? Kenapa kamu menghentikan kalimatmu."
Aria hanya diam. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyannku. Pandangannya tidak berpaling dari pintu ruangan tersebut.
"Aria!!" Bentakku.
Aku meninggikan suaraku. Memecahkan keheningan yang ada dikelas. Setelah itu, barulah Aria tersadar dan kembali memandang kearahku.
"Ada apa? Kenapa kamu jadi aneh seperti ini?" Ucapku kesal.
"Maaf Zea, aku kira May dan Elisa sudah datang."
"Ada apa dengan mereka berdua? Bukannya bagus jika mereka datang."
Aria tampak gelisah. Kebingungan terlihat jelas dari wajahnya. Aku tau, sesuatu pasti sedang terjadi padanya.
"Ada apa? Katakan saja."
"Kamu yakin?"
"Hmmm." Aku mengangguk menjawab pertanyaan dari Aria.
Aria yang masih bimbang, sekali lagi menatap kearah pintu dan seluruh isi kelas. Setelah berkali-kali meyakinkan drinya, barulah dia mencoba berbicara kembali padaku.
"Sepertinya..., May mengetahui rahasia Nathan. Aku mendengar pembicaraannya dengan Elisa kemarin. Saat kamu tidak datang."
"Rahasia?"
Rahasia apa yang diketahui May tentang Nathan. Aduh, sakit!! Cahaya dari mana ini? Kenapa sangat menyilaukan. Siapa? Siapa diasana?. Heyy!! Tunggu Aku!!
"Ea..!"
"Zea !!"
"Haah.. Haaahh.. Haahh..!! Aria?"
Aria sudah menatapku dengan cemas. Tangannya mengguncang salah satu bahuku.
"Zea sadar! Kamu tidak apa-apa? Ada apa denganmu. Kenapa kamu tiba-tiba berteriak seperti itu?."
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, seluruh siswa yang ada dikelas sudah berkumpul dan berdiri mengelilingiku. Kelas yang tadinya aku rasa masih sepi, kini terasa sangat sesak.
"Ahhh..!" Suaraku terdengar diantara kerumunan orang itu.
Aku menatap kearah Aria, dan menariknya mengikutiku untuk keluar dari kelas.
Brian yang baru tiba menatap kearahku dan Aria yang berjalan melewatinya.
"Zea? Ria? Kalian berdua mau pergi kemana? Kelas sudah mau dimulai!!"
Aku tidak menjawab panggilan Brian, aku memilih tidak memperdulikannya dan terus berjalan. Brian kembali berteriak, namun suaru itu perlahan menghilang, seiring aku dan Aria berjalan menjauhinya.
"Ada apa?"
Aria menatapku serius. Aku dan dia sudah duduk dibangku taman. Mungkin sekarang kelas sudah dimulai, sehingga taman ini terlihat lebih sepi.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa, jika aku mengajakmu semuanya akan baik-baik saja."
"Zea, kalau kamu merasa kurang sehat, lebih baik kamu pulang saja. Apa perlu aku antar?" Ucap Aria khawatir.
"Tidak. Tidak perlu. Lebih baik kamu melanjutkan ceritamu tentang rahasia Nathan yang diketahui oleh May. Rahasia apa ?"
Aku tahu, bahwa kejadian tadi bukanlah hal yang biasa. Pasti ada sesuatu dibalik hal itu. Namun sekarang aku tidak mau memikirkannya. Rahasia Nathan yang diketahui oleh May, itu jauh lebih penting
"Soal itu?" Aria menatap kearahku. Sebuah senyuman pahit terlihat dibibirnya.
"Kamu yakin hanya itu? Aku sudah penasaran tentang hal apa yang disembunyikan oleh May. Kenapa juga itu harus May, perlahan dia semakin berubah dari May yang aku kenal." Ucapku pada Aria.
Aria hanya diam dan tidak langsung berkomentar pada perkataanku.
"Zea ..?" Aria kembali berbicara.
"Aku merasa, kalau-kalau.." Aria menatap kearahku ragu.
"Kenapa?"
"Mungkin saja sih, aku juga tidak yakin. Apa mungkin May menyukai Nathan ya? Atau mungkin sebenarnya mereka berdua sedang berpacaran?...."
".... Aku juga masih kepikiran tentang pertemuan mereka berdua waktu itu. Jika mereka tidak ada hubungan, tidak mungkin kan Nathan mau pergi dengan May? Terlepas dari May yang mengetahui rahasia Nathan."
Kali ini Aria sangat serius mengatakan hal tersebut. Dia terlihat yakin dengan kesimpulannya, namun takut jika perkataannya akan menyakitiku.
"Itu tidak mungkin." Ucapku melebarkan sebuah senyuman kearah Aria.
"Nathan sendiri yang mengatakan padaku, bahwa dia dan May tidak ada hubungan apapun."
Aria yang mendengar perkataanku terdiam sebentar. Dia menatapku dengan tidak percaya.
"Kapan? Jika memang benar mereka tidak ada hubungan, untuk apa mereka bertemu hanya berdua? May juga biasanya akan selalu dengan Elisa. Ini aneh Zea." Aria menegaskan.
"Aku percaya pada Nathan. Dia tidak akan mungkin berbohong padaku."
"Zea!! Kenapa kamu seperti ini lagi?" Suara Aria meninggi.
"Atas dasar apa kamu bisa percaya padanya? Kalian tidak ada hubungan apapun sekarang. Jika Nathan ingin berpacaran dengan May, itu bukan salahnya. Karna kamu bukan siapa-siapa dia. Itu haknya untuk dekat dengan siapapun..."
Kenapa Aria berbicara seperti itu tentang May dan Nathan? Aku tidak mau Aria sampai salah paham seperti ini dengan May. Mungkin saja Aria salah. May dan Natahn? Tidak mungkin.
"...Zea, aku tidak ingin melukaimu. Tapi aku harus melakukan ini. Kamu tidak inginkan, apa yang terjadi antara kamu dan Luke, terulang kembali dengan Nathan. Kita harus selesaikan ini."
"Caranya?" Aku menatap Aria yang sudah mulai tenang.
"Kamu hanya punya dua pilihan. Beratanya pada May, atau bertanya langsung pada Nathan."
"Tidak ada yang lain?" Tanyaku pada Aria.
Aria sudah kembali serius. Memikirkan tentang hal-hal apa yang mungkin harus aku lakukan selanjutnya.
"Tidak ada, dan kamu harus tahu setiap pilihan yang kamu buat memiliki resiko yang berbeda. Tergantung kamu ingin berakhir seperti apa."
"Maksud kamu apa? Aku jadi tidak mengerti."
"Jika kamu bertanya pada May, dan dia tidak terima, persahabatan kita rusak. Atau, jika May terima dan menjawab jujur ternyata dia menyukai Nathan, itu keputusan kamu apakah kamu bisa terima atau tidak." Jelas Aria.
Aku hanya diam dan tidak menjawab perkataan Aria. Dikepalaku masih berputar bagaimana hasil yang akan aku hadapi nantinya jika aku akan bertanya pada May.
Aku tidak akan mungkin merusak persahabatanku dengan May, hanya karna aku dan dia menyukai orang yang sama.
Tapi, kenapa May harus memilih Nathan? Aku kira jika May dan Steve putus, semua akan baik-baik saja untuk kami. Semua jadi kacau, semenjak Nathan datang kekampus ini.
"Aku tidak mungkin merusak persahabatanku. Mungkin aku akan mengalah jika memang May menyukai Nathan." Ucap Aria menatap kearahku yang masih diam.
"Hahh?? Bagaimana kamu bisa mengetahui fikiranku?"
Aria menatapku dengan kesal. Dia sudah tahu apa yang akan aku lakukan jika hal tersebut benar-benar terjadi.
"Tidak!!" Aria menatapku.
"Kita tidak akan melakukan hal itu. Tidak ada dua cara. Hanya ada satu, dan itu bertanya pada Nathan secara langsung. Minta kejelasan padanya tentang hubungan kalian." Ucap Aria.
"Untuk apa? Jika ternyata Nathan tidak ingin menjalin hubungan denganku bagaimana?"
Aku tahu, seharusnya aku bertanya tentang ini pada Nathan sejak dulu. Tapi aku tidak ingin merusak hubungan yang sudah kami miliki saat ini. Aku takut, jika aku bertanya dan hasilnya tidak sesuai harapanku. Aku tidak bisa menerima resiko seperti itu.
"Berarti itu saatnya kamu untuk menyerah Zea. Jangan lakukan ini lagi. Kamu akan terus berakhir terluka jika kamu tidak segera menyelesaikan semua ini..."
"...Percaya padaku, dan jika kamu juga percaya pada Nathan. Kamu harus memperjelas semuanya. Ini juga demi kalian."