Blue Moon

Blue Moon
Bab 11 Ask Me!



            Aku sedang makan malam dengan Nathan sekarang. Setelah jadwal perkuliahan kami selesai, aku yang sedang berargumen dengan Aria didatangi olehnya. Nathan mengajakku untuk pergi bersamanya. Sudah cukup lama kami sampai, menunggu pesanan kami datang. Namun, aku masih tidak bisa fokus, memikirkan apa yang ada dalam fikiran Nathan saat ini.


            “Zee.” Suara Nathan terdengar.


            “Kamu kenapa? dari tadi diam saja?” Nathan menatapku.


            “Ahh.. tidak apa-apa.” jawabku.


            “Kenapa? Sejak dari mobil hingga sampai disini, kamu lebih banyak diam.” Ucap Nathan.


            Aku  menatapnya. Diam. Aku ingin mengatakan sesuatu, namun suaraku terasa sulit untuk keluar dan berbicara padanya.


            “Kenapa?” Nathan kembali bertanya.


            “Permisi.” Suara seorang pelayan tiba-tiba terdengar. Menghentikan pembicaraan kami. Mengantar makanan yang sudah kami pesan sebelumnya.


            “Meja 21, pesanannya Honey Ginger Salmon satu, Tomato Basil Shrimp satu, Garlic Butter Shrimp Pastanya satu, Blue Ocean Soda satu sama Fruity Lemon Squashnya satu kan Miss? Sir?” Pelayan itu menatapku dan Nathan bergantian.


            “Iya. Terima kasih.” Ucapku. Nathan hanya menganggukkan kepalanya menyetujui. Matanya masih terus menatapku, menunggu jawabanku.


            “Sama-sama. Selamat menikmati.” Ucapnya tersenyum, dan meninggalkan meja kami. Mengembalikan ketegangan tentang pertanyaan Nathan yang belum aku jawab.


            “Zee!” Nathan menatapku. Menunggu sebuah jawaban.


            Aku mengangguk, mengerti apa maksud pertanyaannya.


            “Nanti, setelah kita selesai makan saja.” Ucapku.


Nathan menatapku tidak puas. “Baiklah.” Nathan menjawab.


            Aku dan Nathan memakan makanan kami dalam diam. Hidangan yang seharusnya terasa nikmat, berubah menjadi hambar. Suasana tegang dan sunyi sangat terasa. Tidak sesuai harapan dan ekspektasi yang aku harapkan sebelumnya.


            “Zee.” Suara Nathan memecah keheningan.


            “Kenapa? Makanannya tidak sesuai selera kamu?” Nathan menatapku yang makan dengan sangat perlahan.


            “Tidak.” Jawabku singkat.


            “Jadi?” ucapnya lagi. Memaksaku untuk mengatakan sesuatu.


            “Tidak ada, makanannya enak kok.”


            “Aku heran dengan kamu Zee. Tadi sebelum kemari kamu baik-baik saja. Sekarang kenapa kamu tiba-tiba berubah?” Nathan menatapku. Suaranya terdengar kesal. Namun sebuah senyum tetap dia paksa berada diwajahnya. Mencoba untuk mengerti aku, mungkin.


            “Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya sedikit terganggu dengan kejadian dikampus tadi. Tapi aku bingung harus memulainya dari mana.” Ucapku pelan.


            “Yang mana?” tanya Nathan bingung padaku.


            “Tadi waktu kita selesai kelas. Setelah berpisah dengan Aria.” jawabku.


            Nathan diam, wajahnya terlihat mencoba memikirkan sesuatu. Dia menghentikan makannya, tampak sudah tidak berselera. Kedua tangannya dia letakkan menyilang diatas dadanya. Mengerutkan dahinya mencoba mengulang apa yang aku maksudkan.


Flash Back


            Kelas selesai lebih awal hari ini. Aria mengajakku bermain bersama sebelum pulang, namun aku menolak dengan alasan masih ada tugas yang belum aku selesaikan.


            “Ayolah Zee. Sudah lama kan kita tidak pergi bersama.” Aria memaksa.


            “Aku tidak bisa.” Ucapku. “Tugasku belum selesai.”


            “Aku juga belum.” Aria menjawab. “Tapi, hari ini kan beda. Ada Brian. Dia yang traktir kita Zee. Mey dan Elisa juga ikut. Ya kan Mey? Elis?” Aria menatap Mey, Elisa dan Brian bergantian.


            “Kenapa jadi aku yang traktir kalian semua?” tolak Brian. “Aku kan hanya mengajak kamu saja.” Brian menatap Aria kesal.


            “Tapi, kalau berdua kan kurang seru!” Aria menggerutu.


            “Sudah. Sudah.” Elisa berbicara. “Aku dan Mey tidak bisa ikut. Kami masih ada urusan yang lain.” Ucap Elisa.


            Mey mengangguk menatap Elisa. “Iya. Aku juga tidak bisa.” Ucap Mey pada Aria.


            Aria sudah tampak kesal. Brian terlihat menenangkan kekasihnya tersebut. Aku sendiri sebenarnya ingin pergi, tapi aku sama sekali tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka.


            “Zee.” Suara Nathan terdengar diantara keributan kami.


            Aria dan yang lainnya menatap Nathan yang sudah berdiri disamping kursiku.


            “Nathan? Kenapa?” ucapku bingung.


            “Bagaimana dengan janji kita?” Nathan menatapku dengan mata coklat miliknya.


            “Janji?” aku menatapnya masih bingung dengan maksud perkataannya.


            “Zee !!” Aria berteriak kesal. “Kamu bilang mengerjakan tugas. Tapi apa maksudnya ini?” Aria menatapku.


            “Aku juga tidak tahu.” Ucapku menatap Aria.


            “Jelaskan.” Aku menatap Nathan meminta pertanggung jawaban.


            Nathan hanya tersenyum, tidak menjawab. Salah satu tangannya terangkat dan menunjuk kearah ponselku yang ada diatas meja.


            “Apa?” Aku menatapnya bingung. Aku mengambil dan melihat ponselku, sudah terdapat sebuah pesan disana. Pesan dari Nathan yang belum aku baca.


            “Jadi? Bagaimana?” tanya Nathan kembali.


            Aku menatap Aria, wajahnya terlihat kesal. Mey dan yang lain hanya diam, menunggu reaksiku.


            “Hemmm.” Aku mengangguk menyetujui ajakannya.


            “Zee!!” Aria berteriak kesal.


Nathan tersenyum mendengar jawabanku. Nathan langsung menarik tanganku untuk segera pergi. Aria yang sudah kesal, terlihat semakin emosi karna kepergianku dengan Nathan  yang meninggalkannya begitu saja. Aku yang mengetahui tingkah Aria hanya tertawa.


            “Nathan.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Menghentikan langkahku dan Nathan yang akan keparkiran.


            Aku melihat kearah suara itu berasal. Mey dan Elisa sudah berdiri dibelakangku.


            “Mey?” ucapku. “Ada apa?”


            “Tidak ada.” jawabnya.


            “Jadi?” tanyaku.


            “Aku tidak ada urusan dengan kamu Zee, maksdunya. Aku mau berbicara sesuatu dengan Nathan.” Mey melihat kearah Nathan yang sedang berdiri disebelahku.


            “Ohh.” Aku menatap Nathan.


            Nathan sama sekali tidak menjawab. Dia hanya diam memandang kearah Mey dan aku. Aku menatap Elisa, dan dia hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu apa maksud Mey.


            “Kamu bisa berbicara sebentar kan?” ucap Mey pada Nathan.


            Nathan menatap Mey diam. Tidak menjawab pertanyaannya.


            “Zee?” Nathan menatapku.


            “Kenapa?” tanyaku menatapnya dengan bingung.


            Nathan tidak berbicara, namun matanya sedikit bergerak kearah Mey berdiri. Memberikanku sebuah isyarat dan meminta persetujuan.


            “Terserah kamu.” Ucapku pelan padanya.


            Nathan mengangguk pelan. “Tunggu aku.” Ucapnya pelan, berbisik pada telingaku. Meninggalkan aku yang masih terdiam dengan perbuatannya didepan Mey dan Elisa.


Flash Back End


          Nathan masih diam, memikirkan maksud dari perkataanku sebelumnya. Dia mengangkat kedua tangannya keatas, memberitahuku bahwa dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataanku.


            “Hahahaha.” Tawaku memecah kesunyian diantara kami.


            “Ya sudah jika tidak tau, aku sudah melupakannya.” Ucapku tersenyum.


            “Begitu saja?” tanya Nathan.


            “Iya.” Aku mengangguk. “Jika kamu tidak mengingatnya mungkin itu memang bukan sesuatu yang penting.” Ucapku menatapnya.


            “Ayolah Zee, seharusnya kamu curiga atau apapun.” Nathan menatapku dengan kecewa mendengar jawabanku.


            “Aku penasaran. Tapi bukankah jika aku memaksa ingin tahu kamu juga jadi kurang nyaman. Lagian juga percuma. Kan kamu tidak ingat.” jawab ku.


            Nathan menghela nafasnya mendengar jawabanku. Tidak marah, namun wajahnya tampak kesal karna tidak menerima respon sesuai harapannya.


            “Aku tahu maksud kamu.” Ucapnya mengalah. “Aku hanya berpura-pura lupa. Aku ingin tahu reaksi kamu.” Ucapnya.


            “Jadi? Bagaimana? Puas dengan reaksiku.” Jawabku sambil tertawa menggodanya.


            “Puas.” Nathan menatapku tersenyum. “Karna kamu sebenarnya cemburu, tapi berpura-pura tidak peduli.”


            “Tidak. Aku tidak cemburu.” Ucapku menghindari pertanyannya.


            Nathan tertawa keras. Melihat tingkahku. “Iya, aku tahu kok.” jawab Nathan tersenyum. “Makanya kamu sampai tidak selera makan, padahal udangkan kesukaan kamu.” Nathan menatapku dan kembali tertawa.


            Aku diam mendengarnya, aku yakin reaksi wajahku yang memerah sudah menjadi jawaban pada Nathan. Rasa malu sudah menghampiriku.


            “Kamu menghina aku ya?” ucapku dengan nada kesal. "Kenapa kamu bisa begitu yakin aku suka udang?"


           Nathan tertawa mendengarnya.  “Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Kalua kamu tidak suka, kamu tidak akan memesan makanan yang semuanya mengandung udang. ” Nathan menjawab dan tersenyum menggoda.


            “Jadi kamu mau memberitahukan aku tidak?” tanyaku.


            “Apanya?” Nathan berbalik bertanya padaku.


            “Itulah, pembicaraan kamu dengan Mey.”


            “Ohh, itu.” Nathan mengangguk. “Aku bukannya tidak ingin bercerita, tapi isinya hanya sesuatu yang tidak penting. Jadi aku sudah melupakannya.” Jawab Nathan pada pertanyaanku.


            “Tidak penting ya? Mey berbicara dengan kamu saja itu sudah aneh. Kenapa bisa jadi tidak penting?” ucapku.


            “Tidak penting ya tidak penting. Aku jadi bingung bagaimana menjelaskannya.” Ucap Nathan menatapku.


            “Hemmm, yasudah kalau memang tidak penting.” Aku menggerutu. Kesal dengan jawaban Nathan.


            “Kalau tau akan jadi seperti ini, aku tadi tidak akan berbicara dengannya Zee.” Nathan menatapku kecewa. “Aku menghargai dia, karna itu teman kamu.” Ucapnya lagi.


            Aku menghela nafasku. Memikirkan hal apa yang menjadi penyebab pertentangan kami. Makan malam yang seharusnya menjadi sesuatu yang spesial, berubah menjadi medan perang hanya karna hal sepele. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang sama sekali tidak percaya pada Nathan dan Mey.


            “Maaf Zee.” Ucap Nathan tiba-tiba. Menatapku dengan wajah menyesal.


            “Kenapa kamu?” tanyaku. “Aku yang salah, bukan kamu.” Ucapku.


            “Tidak. Aku yang salah, seharusnya aku tidak berbicara dengan dia.” Jawab Nathan.


            “Sudahlah tidak apa-apa. Ini semua salahku. Makan malam kita jadi berantakan.” Ucapku menyesal.


            Nathan tertawa mendengar perkataanku. “Tidak apa-apa. Kita kan masih bisa makan lain waktu.”


            “Atau, kamu mau kita pesan makan lagi?” Nathan menggodaku dan tertawa. Aku menatapnya dan ikut tertawa. Tidak percaya dengan situasi makan malam pertama kami, yang berakhir hancur berantakan.