Blue Moon

Blue Moon
Episode 14 Sly Fox



Seseorang sedang mengetuk pintu kamarku. Dibalik suara ketukan itu sesekali terdengar namaku disebutkan. Aku merasa tidurku sudah sangat lelap, namun suara itu tetap masih terdengar olehku.


"Mbak Zea..?" Suara itu kembali terdengar. Kali ini justru lebih kuat dari sebelumnya.


Ketukan dipintu kamarku yang semula bersuara lembut dan beraturan, berubah menjadi lebih nyaring dan terasa memaksakan.


"Hmmm.."


Suara ketukan itu terus masuk kedalam telingaku. Mataku yang masih ingin terpejam, seketika terbuka dan melebar.


Aku melirik kerah jam yang berputar di dinding. Masih jam 9. Jadi ada apa?


"Sebentar." Aku berteriak setengah sadar. Suara serak dan rasa pahit dileherku seakan membuatku sulit bernafas.


Piyama putih berenda yang aku kenakan terlihat sudah penuh kerutan. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan kearah pintu. Langkahku terasa masih goyah. Kaki ku juga terasa seakan tidak mampu menopang berat tubuhku.


"Kenapa bu?"


Aku menatap wanita paruh baya yang sudah berdiri didepan pintu kamarku. Wajahnya terlihat sudah semakin penuh dengan kerutan. Sebuah senyuman terukir di sudut bibirnya, membuat kerutan disudut matanya terlihat lebih jelas.


"Itu.. sudah ditungguin didepan."


"Siapa?" tanyaku menatapnya yang tersenyum kearahku.


Wanita itu tidak menjawab, dia hanya memberikan isyarat agar aku melihatnya sendiri.


Siapa ya datang? Aku sama sekali tidak dapat memikirkan sebuah nama. Tidak ada janji dengan Aria atau yang lain.


Nathan?


Tapi dia tidak ada menghubungiku. Tidak mungkin dia datang tanpa mengabari. Dia bukan tipe orang yang seperti itu. Menurutku.


Aku berlari turun kebawah, menuruni anak tangga rumahku. Piyama putih yang aku kenakan sesekali bergoyang mengikuti gerakan tubuhku.


"Bu Alice!!" Teriakku.


Aku berdiri didepan sebuah ruangan. Tempat dimana biasanya teman-temanku yang berkunjung, akan menungguku.


Mendengar panggilanku wanita itu langsung menyusulku, mendatangi tempatku berdiri. Wajahnya terlihat menahan tawa melihat kearahku.


"Bohong ya?" ucapku kesal. Memandang kearah wanita itu.


"Tidak Mbak."


"Jadi dimana? Tidak ada siapapun disni."


Bu Alice yang melihat kekesalan diwajahku langsung tertawa.


"Bukan disini. Diluar." Ucapnya menunjuk kearah halaman rumahku.


"Hah?"


Aku berjalan mendekati jendela yang ada diruangan itu. Jendela-jendela diruang tamu milikku memiliku pemandangan langsung kearah taman.


Bu Alice yang melihat perbuatanku tidak berhenti menahan tawanya.


"Kenapa mengintip segala Mbak? Bukannya langsung keluar?"


"Ssttt..!!"


Aku mengisyaratkan Bu Alice untuk diam. Tidak ingin orang yang sedang ada diluar mengetahui keberadaanku.


Siapa sih yang datang?


"Hahh?! ... Lukee!!" Ucapku berteriak.


Aku langsung menutup mulutku. Suara teriakanku yang kuat, aku harap tidak sampai didengar olehnya.


Kenapa? Dia kenapa bisa ada disini sekarang?


"Bu Alice.. ?"


Aku berjalan mundur menjauhi jendela. Mendekati Bu Alice yang masih diam melihat tingkahku.


"Kenapa Mbak?"


Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku menatap Bu Alice dengan seangat kesal. Bagaimana mungkin dia bisa memasukkan Luke ke rumahku. Untung saja masih sebatas halaman. Bagaiaman kalau dia sudah didalam? Apa yang akan terjadi?


"Bu kenapa dia ada disini?" Ucapku menunjuk kearah Luke yang masih berdiri dihalaman.


"Bukannya dia pacar Mbak ya?"


"Sejak kapan saya bilang kalau saya punya pacar?"


"Hahh...!!"


Aku sedikit lega mendengar jawaban Bu Alice yang tidak mengizinkan Luke untuk masuk. Bagaimana mungkin aku sampai lupa kalau Luke mampu berbuat licik seperti ini. Dia sampai berbohong pada Bu Alice sebagai pacarku.


"Tidak bu. Saya tidak mungkin pacaran dengan orang seperti dia. Dia bukan orang yang pantas untuk dicintai."


Bu Alice masih terlihat bingung. Dia ingin berkata sesuatu, namun sesuatu terlihat menghalangi mulutnya untuk berbicara.


"Ada apa Bu? Katakan saja." Ucapku menatapnya yang bingung.


"Bukannya hari ini Mbak memang ada janji mau ketemu seseorang ya?"


"Siapa yang bilang?"


"Mbak sendiri tadi malam. Sebelum istirahat, Mbak yang bilang hari ini mau keluar. Makanya, saya kira maksud Mbak itu mau pergi dengan beliau." Jawab Bu Alice.


Bu Alice terlihat tampak khawatir dengan pertanyaanku tersebut. Aku sendiri juga tidak mengingat tentang apa yang aku katakan pada Bu Alice tadi malam.


"Mungkin saya lupa karna kelelahan tadi malam Bu. Tapi, Ibu bisa bantu saya usir dia kan?"


Luke yang sedang berdiri diluar terlihat sangat senang. Sesekali tangannya bermain dengan ponselnya. Aku yang hanya melihatnya sudah merasa semakin kesal dan emosi.


"Saya harus bilang apa Mbak? Tadi saja dia sudah kesal karna tidak saya izinkan masuk."


"Apapun Bu. Katakan saja apapun. Saya tidak ingin berbicara dengannya."


Bu Alice hanya mengangguk dan pergi. Tidak mungkin akan semudah itu jika ingin mengusir Luke.


Aku pergi kearah jendela. Melihat perbincangan antara Bu Alice dan Luke.


Suara mereka tidak begitu terdengar olehku. Hanya gerakan tubuh dari mereka yang mampu terbaca.


Luke terlihat tidak terima dengan perkataan Bu Alice. Wajahnya tampak kesal dan marah. Sesekali matanya memandang kearah rumahku. Namun Bu Alice Berusaha menghalanginya.


Luke yang melihat perbuatan Bu Alice tampak mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Tangannya terangkat dan dia berusaha mendorong tubuh Bu Alice.


"Luke..!!"


Aku berteriak. Aku berlari keluar dan mendekati Bu Alice. Piyama putih yang aku kenakan tampak bergoyang dan menghipnotis pandangannya sejenak. Aku tahu tidak seharusnya aku keluar dengan hanya mengenakan piyama putih berenda ini.


"Kau gila? Apa yang kau lakukan pada wanita tua."


Aku menatap kearahnya dengan kesal. Aku menarik Bu Alice menjauhinya. Aku sudah tidak peduli dengan tampilanku. Jika sesuatu terjadi pada Bu Alice, itu justru membuatku semakin merasa bersalah.


"Zea??"


Luke menatap kearahku terkejut. Sadar dengan keberadaanku yang sudah ada dihadapannya.


Tubuhku mulai gemetar melihatnya. Bu Alice yang tahu bahwa aku ketakutan, berusaha menggengam tanganku. Menarikku pergi menjauhi Luke.


"Zee.. tunggu!!"


Luke menarik tanganku. Menghentikan Bu Alice yang berusaha mebawaku pergi. Genggaman tangannya yang ada dipergelangan tanganku terasa sangat kuat.


"Lepas." Ucapku.


"Apa lagi yang kamu inginkan sekarang?"


Aku menarik tanganku yang ada di genggamannya. Luka memerah akibat genggaman tanganya mulai terlihat melingkari tanganku. Luke tidak melepasnya, justru menggenggamnya lebih kuat.


"Zee kita perlu bicara. Aku akan menjelaskan semuanya. Kali ini, aku akan berubah demi kamu."


Aku menatap Luke kesal. Rasa amarah dan ketakutan menyatu didalam diriku. Sangat kecewa karna aku pernah jatuh cinta dengan orang seperinya.


"Luke. Aku sudah tidak perduli lagi dengan semua itu. Kenapa saat aku memberimu kesempatan kau tidak melakukan apapun. Kenapa harus sekarang? Aku sudah muak."


Aku menatapnya emosi. Air mata terasa ikut mengalir ke pipiku. Aku tidak tahu, apa aku marah dengan perbuatannya atau karna aku masih memiliki perasaan untuknya. Sebuah perasaan aneh terasa terkumpul didalam dadaku.


"Cukup Luke. Jangan buat aku membencimu lebih dari ini. Kau sudah mengganggu ketenanganku. Dan lihat.."


Aku menunjuk kearah tanganku yang masih digenggam olehnya. Lingkaran memerah dari pegangannya semakin kentara. Bu Alice yang berada disebelahku juga mulai khawatir dan ketakutan.


"Kau lihat kan. Kau tidak akan bisa berubah. Kau akan terus melukaiku. Pergi!! Atau kau ingin aku menghubungi polisi karna kau sudah menerobos masuk kesini dan melukaiku?"


Luke terdiam sebentar memandang kearahku. Genggamannya perlahan mengendur dan terlepas.


"Zee... Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun bisa memilikimu."


Setelah mengucapkannya Luke berpaling dan pergi. Bu Alice yang melihatku khawatir, membantu menopang tubuhku. Membawaku kembali masuk kerumah.


Aku tau Bu Alice ingin berkata sesuatu, namun melihat keadaanku dia hanya memilih untuk diam.