
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa dikalahkan oleh si Deandra gila itu?" Alvin berteriak pada Nathan yang sedang terbaring ditempat tidur.
"Sudahlah, kamu tidak peduli pada keadaan pasien apa? Begitu aku tersadar langsung pertanyaan itu yang keluar dari mulutmu." Ucap Nathan kesal.
Setelah pertarungan pada malam itu, Nathan tertidur selama lebih dari tiga hari. Luka yang dia terima tidak begitu parah, namun kekuatannya benar-benar melemah.
"Dimana Brian?" Nathan kembali berbicara.
"Brian pergi kekampus. Membuatkan izin untukmu katanya." Jawab Alvin cepat.
"Kamu..." Alvin menghentikan kalimatnya. Menatap kearah Nathan yang masih berbaring diatas tempat tidur.
"Apa?" Nathan membalas.
"Sudahlah lupakan istirahat saja dulu. Aku masih belum yakin, tapi aku harap kalau terjadi sesuatu kamu segera memberi tahukan aku." Ucap Alvin dan meninggalkan ruangan tersebut; agar Nathan dapat kembali beristirahat.
*****
"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Brian pada Nathan. Memecah keheningan di ruang makan malam itu.
"Aku sedang makan." Nathan menjawab dan memasukkan sepotong daging kedalam mulutnya.
"Jangan beralasan."
Brian mengambil minumannya. Menghentikan makannya yang masih belum selesai.
"Ada apa antara kamu dan May? Aria mengoceh terus seharian tentang kamu. Sudah berapa lama kamu tidak masuk." Brian mengomel.
Nafsu makannya sudah hilang, setelah mengingat apa yang dilakukan Aria padanya seharian.
"May?" Suara Nathan terkejut.
"Apa hubungannya dengan dia?" Nathan kembali bertanya. Dia juga akhirnya ikut menghentikan makannya.
"Bukannya Zea belakangan inu menghubungi kamu ya? Kenapa tidak kamu balas sama sekali?"
"Bukannya tidak dibalas. Tapi aku bingung harus mengatakan apa." Jawab Nathan.
Alvin yang melihat Brian dan Nathan saling mengomel sama sekali tidak peduli. Dia hanya mendengarkan mereka berdua bertengkar dan terus melanjutkan makannya.
"Bingung kenapa? Katakan saja apa yang kamu mau. Jangan sering-sering menyakiti hati wanita." Ucap Brian.
"Hahahaha." Suara Alvin terdengar.
"Ada apa dengan kamu? Aku tidak menyangka kata-katamu bisa seperti orang tua begitu." Alvin membalas perkataan Brian.
Tawanya tidak berhenti. Menggema diseluruh ruangan. Membuat Brian yang mendengarnya menjadi lebih kesal dari sebelumnya.
"Hentikan Alvin." Nathan membela.
"Ini memang salahku. Aku tidak ada hubungan apapun deng May. Aku menyukai Zea. Tapi rasa bersalah terus menghantuiku. Aku takut dia akan kecewa denganku." Suara Nathan melemah.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" Brian kembali bertanya penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Setelah aku memberi tahukan Zea yang sebenarnya, baru aku akan cerita." Nathan menjawab.
"Yasudah terserah. Kamu yang penting jangan lupa jika Zea menghubungi. Harus kamu jawab." Omel Brian.
Setelahnya ruang makan kembali sepi. Tidak ada seorangpun yang bersuara. Masing-masing dari mereka terbenam dengan pikirab sendiri.
"Nathan..!!" Brian berteriak.
"Hmmm??"
"Itu, ponsel kamu bunyi terus." Ucap Brian menunjuk kearah ponsel Nathan yang berada diatas meja.
"Itu Zea kan?" Lanjut Brian.
Nathan hanya terdiam, menatap layar ponselnya yang sudah tertulis sebuah nama.
"Jawab dan jangan buat masalah ini jadi lebih rumit"
Nathan hanya diam. Tidak menyentuh ponselnya yang terus berdering.
Kesal dengan tingkah Nathan yang seperti itu, Brian berdiri dari duduknya dan mendekati kursi Nathan.
"Jawab." Ucap Brian dan menekan layar ponsel Nathan.
Nathan yang kesal karnanya, hanya melirik Brian dengan tajam.
"Aku tidak peduli." Ucap Brian berbisik ketelinga Nathan.
"Zea?" Nathan menjawab panggilan itu.
"Siapa?" Alvin memandang kearah Brian yang berjalan menjauhi Nathan.
"Pacarnya." Ucap Brian mengejek.
Alvin hanya mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh tentang itu.
"Masuk." Jawab Alvin.
"Ada apa? Kenapa kamu mengetuk pintunya seperti itu, mengganggu makan malam kami saja." Sambung Alvin kesal.
"Ahh, maaf tuan. Itu, Keluarga Morpheus ada didepan gerbang. Disana juga ada tuan Deandra." Jawab pria itu ketakutan. Penampilannya yang rapi, dengan stelan jas berwarna hitam. Menunjukkan bahwa pria itu adalah seorang pengawal.
"Morpheus dan Denadra? Untuk apa mereka datang kesini sekarang." Ucap Alvin Marah.
Nathan yang mendengar perkataan pengawal itu hanya diam dan tidak bersuara. Memikirkan apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Morpheus ikut datang?" Tanya Brian pada sang pengawal.
"Tidak. Kami hanya melihat mereka menggunakan simbol keluarga Morpheus. Namun tuan Deandra datang." Jawab pengawal itu.
"Bagaimana?" Brian menatap Alvin dan Nathan bergantin.
Nathan yang mendengar berita ikut terkejut. Dia hanya diam, namun tiba-tiba panggilannya dengan Zea terputus.
Dia kembali berusaha melakuakan panggilan lagi. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Sial. Merusak konsentrasi saja." Bentak Nathan dengan kesal.
"Ada apa?" Tanya Brian yang terkejut dengan suara Nathan.
"Sudah, biarkan saja dia." Sambung Alvin.
"Ayo kita temui mereka kedepan. Apa sebenarnya tujuan mereka masuk kewilayah kita secara langsung seperti ini." Lanjut Alvin dan meninggalkan ruangan."
*****
Didepan kediaman Keluarga Nathan, sudah ada Deandra dan Keluarganya. Serta keluarga Morpheus.
"Buka gebangnya!" Teriak Deandra marah.
"Kalian para kecoak. Tidak tahu ya siapa aku! Aku Deandra. Pemimpin Keluarga Deandra. Diamana Nathan?" Teriaknya dari balik pagar.
"Buka! Dasar Kecoak tidak tahu diri. Jika aku masuk nanti, kalian semua akan aku bunuh satu persatu." Lanjutnya.
Para pengawal keluarga Nathan tetap berdiam tidak bergerak. Berbaris menghalangi Deandra dari balik pintu pagar.
"Kami tidak akan membuka pagar tanpa seijin tuan Nathan." Teriak seorang pengawal membalas.
"Heeehhhhhh.." Denadra mengejek.
"Aku rasa kalian benar-benar ingin mati!" Lanjutnya.
Sebuah api keluar dari telapak tangan Deandra. Dia mengarahkannya kearah para pemgawal.
"Rasakan!" Teriaknya.
Api itu berkobar dan menyala membakar pintu pagar. Seorang pengawal juga ikut terkena percikan dari api yang Deandra keluarkan.
"Tolong! Tolong!" Pengawal itu berteriak.
Tiba-tiba sebuah air jatuh dari langit dan membasahi pagar dan sang pengawal. Memadamkan kobaran api yang sebelumnya terlihat sulit untuk dipadamkan.
"Kalian, bantu dia masuk kedalam. Segera obati lukanya." Teriak Alvin.
Para pengawal segera berekerumun dan mengangkat pria itu pergi.
"Akhirnya kamu keluar juga pengecut." Teriak Denadra.
"Apa yang ingin kamu lakukan disini? Kamu sudah menyusup masuk kewilayah kami. Dan bahkan ini..." Alvin menunjuk kepintu pagar yang telah hangus terbakar.
"Kalian semua harus bertanggung jawab dan mengganti rugi." Ucap Alvin kesal
"Dimana Nathan? Aku tidak butuh ocehanmu. Lihat ini, sudah aku pastikan hari ini kalian semua akan musnah." Ucap Denadra dengan bangga.
"Hidup Kasta Keluarga." Teriak orang-orang yang sedang berada dibelakang Deandra.
"Apa maksudnya ini!" Nathan muncul dan berteriak. Seketika udara berubah menjadi dingin dan mencekam.
"Aku peringatkan, jika kalian masih sayang nyawa. Sebaiknya kalian mundur. Hari ini aku benar-benar sangat kesal. Jika kalian mati disini. Ini bukan salahku." Lanjut Nathan.
"Dasar tukang gertak. Kamu kira aku takut ya? Lihat ini. Kamu tidak akan bisa menjatuhkan Keluarga Deandra dan Morpheus bersamaan." Ucap Denadra menunjuk kearah orang-orang yang ada dibelakangnya.
Deandra terus tertawa tanpa henti. Membanggakan dirinya dan pasukan pengawal yang sudah dibawanya untuk menyerang kediaman Keluarga Nathan.
"Morpheus, kamu dengar itukan?"
Nathan menunjukkan sebuah ponsel yang ada ditangannya. Sejak awal dia sudah menghubungi Morpheus dan membiarkannya mendengarkan percakapan mereka.
"Bukan salahku jika banyak anggota keluargamu yang mati. Jika kau ingin mereka selamat, segeralah datang kemari. Ini kediamanku, jadi aku bebas melakukan apapun tanpa campur tangan Kasta Keluarga." Ucap Nathan dan langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
"Kamu gila ya!" Alvin berteriak pada Nathan.
"Sudahlah aku tidak peduli." Jawab Nathan.