Blue Moon

Blue Moon
BAN KEMPES



Eryk membawa bekal itu ke ruangannya, lalu meletakannya di meja. Tidak merasa lapar, dia kembali mengambil berkas-berkas pekerjaannya.


Mencoba berkonsentrasi tapi,  tetap saja tidak bisa. Eryk melirik ke kotak bekal makan yang ada di atas mejanya itu. Lalu dia mulai membuka tutupnya. Bekal itu tertata dengan rapi, dan dengan bentuk yang lucu imut.


Eryk pun membayangkan rupa si bocah tengil, lalu dia tertawa dan mulai memakan bekal itu, gerakan sumpitnya terhenti, ‘rasa ini seperti…’ pikirnya.


Eryk memasukan satu suap lagi dan lagi, dan hanya dalam waktu sekejap saja, dia sudah menghabiskan makanan itu.  Setelahnya  dia menyelesaikan pekerjaannya lagi.


Hari ini Eryk sangat merasa rindu dengan Nyonya Lin, begitu sampai dia langsung saja masuk ke kamar Mamanya itu, “Ma. Kenapa masih belum tidur?” tanya Eryk.


Nyonya Lin meletakan buku yang baru saja selesai dibaca, lalu berdiri memeluk putranya itu. Keadaannya semakin membaik, hanya saja belum bisa bicara.


Eryk memeluk Nyonya Lin, lalu bersandar di bahu Mamanya itu, “Ma, apa mau menemani makan malam di luar?” tanyanya.


“Kita hampir tidak pernah makan malam bersama di luar,” ujarnya lagi.


Nyonya Lin, mengangguk sembari mengusap lembut wajah putranya itu, “Jika begitu kita akan pergi besok,” ujar senang Eryk.


Di mansion Mo, Flavia membangunkan si naga kecil, “Ayo sayang, saatnya mandi,” ujar Flavia sambil mengecupi wajah tampan putranya itu.


“Kakek buyut akan pulang hari ini, jadi kita harus bersiap,” ujar flavia lagi.


“Apa papa He juga akan ikut?” tanya Cedric.


“Tentu saja,” jawab Flavia.


Cedric pun segera melompat dari ranjang kecilnya itu, lalu segera pergi mandi sendiri. Flavia merapihkan ranjang  Eryk, lalu memilihkan baju untuk putranya itu. Cedric keluar dengan memakai handuk kecil melilit di pinggangnya.


“Tampan sekali,” ujar Flavia sembari menggendong Cedric seraya berputar-putar.


“Nah, sudah rapih, ayo saatnya kita menjemput Kakek buyut,” ajak Flavia.


Di bandara, Cedric langsung saja berlari memeluk Tuan Mo, “Kenapa begitu lama?” ujar manjanya.


“Masih ada yang Kakek harus selesaikan di sana,” jawab Tuan Mo.


Flavia menoleh kepada asisten He, “Bagaiman pendaftaran sekolah Cedric?”


“Besok Tuan Muda sudah bisa pergi ke sekolah,” jawab asisten He.


Keesokan harinya, flavia sudah rapa berpakaian. Selain mengantar Cedric ke sekolah. Hari ini Flavia juga sudah mulai bekerja sebagai dokter kandungan di Klinik bersalin yang baru saja dia buka.  Sesampainya di sekolah, Cedric mencium pipi Flavia, lalu gantian dia mencium kening putranya itu.


Wali kelas Cedric menyambut si naga hitam kecil milik flavia itu, “Mohon bantuannya,” ujar flavia.


Dengan sambil tersenyum, wali kelas Cedric menundukan kepalanya. Setelah melihat Cedric masuk ke kelas barulah Flavia melajukan mobilnya lagi menuju ke klinik bersalinnya.  Surat izin praktek   yang dia miliki sudah aktif kembali.


Di klinik ini, Flavia dibantu oleh beberapa perawat dan juga beberapa pegawai. Meski hanya sebuah klinik bersalin, tapi fasilitas yang ada di sini sangatlah lengkap. Flavia mulai bersibuk mengatur segalanya, sampai ketika sore dia hampir melupakan jika ada janji makan malam dengan Tuan Mo dan juga Cedric.  Baru saja ingin meninggalkan klinik bersalin, tiba-tiba saja ada seorang gadis muda menerabas masuk, gadis itu terlihat sedang memegangi perutnya, menahan sakit dan terlihat ada darah segar di betisnya.


“Dokter!” panggilnya dengan napas tersengal.


“Tolong aku,” ujarnya lalu pingsan.


Flavia segera meletakan tasnya dan segera memakai jas panjang putihnya lagi, dia pun memeriksa keadaan si gadis itu. Sementara itu, Cedric dan tuan Mo telah sampai di restoran keluarga.


Asisten He telang menunggu di sana, Cedric memandangi seraya bertanya “Mama?”


“Masih di klinik, tapi nanti pasti akan segera menyusul kita,” jawab asisten He.


Cedric pun mengangguk mengerti, lalu menggandeng tangan asisten He dan masuk ke restoran. Malam ini Eryk membawa Nyonya Lin ke restoran yang sama dengan Cedric. 


Cedric melihat Eryk baru saja memasuki restoran. Melihat Tuan Mo dan asisten He sedang bersibuk di sambungan telponnya. Cedric langsung saja turun dari kursinya, lalu berdiri di depan Eryk sambil tersenyum sampai memperlihatkan gigi putih rapihnya.


‘Bocah tengil ini … memakai kacamata hitam dalam ruangan. Hah! yang benar saja’ ucap Eryk dalam hati dengan rasa heran dan terkejut.


“Dengan siapa  ke sini?” tanya Eryk sambil bersimpuh.


Nyonya Lin menarik Eryk agar berdiri, lalu dia bersimpuh di depan Cedric. Kedua alisnya mengernyit seakan mengenali Cedric. Baru saja dia ingin membuka kacamata Cedric. Namun, asisten He langsung menarik tuan muda kecilnya itu.


Eryk yang melihat itu adalah asisten He, langsung saja menarik lengan asisten He, “Mana dia?’ tanya Eryk.


“Apa dia itu …? tanya Eryk sambil menunjuk ke arah Cedric.


“Kakek buyut menunggu, temui dulu Ok. Papa nanti akan segera ke sana,” ujar asisten He.


Telinga Eryk seperti tertusuk-tusuk mendengar asisten He menyebut kata Papa, dan melihat bocah tengil itu menurut patuh pada perkataan asisten He, ‘Itu adalah anak Flavia’ pikirnya.


“Di mana dia?” tanya Eryk lagi.


“Direktur Lin,  ini tidak ada kaitannya dengan tuan. Jadi aku harap tidak perlu mencarinya lagi,” jawab asisten He.


Eryk menarik tangan asisten He. Namun, Nyonya Lin melerainya. Hati Eryk semakin tidak karuan memikirkan kemungkinan jika si gadis buruk rupanya ada di sini, di satu restoran yang sama. Ketika makan malam Eryk benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Bahkan meski sudah selasai makan, Eryk mengirimkan Nyonya Lin pulang terlebih dulu, sedangkan dia menunggu, berharap flavia memperlihatkan diri di restoran.


Namun, sampai Cedric pulang. Flavia tidak muncul-muncul juga. Eryk segera mengambil mobilnya lalu melajukan mobilnya dan mencoba mengikuti mobil yang membawa Cedric.  Ketika sedang mengikuti tiba-tiba dari depan, belakang, kanan dan kiri ada yang mengapit mobil Eryk.


Dengan terpaska Eryk pun menghentikan mobilnya. Beberapa orang keluar dan dengan cepat menusukan pisau di ban mobil itu.


Di dalam mobil Eryk nampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, dia pun ke luar dari mobil. Lalu memandangi ban mobilnya yang kempes, “Siapa mereka,” ujarnya heran.


Asisten He pun tersenyum, melihat anak buahnya bekerja dengan baik. Sementara si naga kecil tertidur di pangkuan kakek buyut. Flavia tidak bisa datang, karena harus memberikan pertolongan pertama pada gadis muda yang mengalami pendarahan tadi.  Sementara itu, Eryk meninggalkan mobilnya begitu saja, dan pergi pulang dengan menaiki taksi.


‘Mereka ada di sini’ pikir Eryk sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi taksi.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


DUKUNG NOVEL ini dengan :


- Vote


-Like


-Komen


- Tap favorit yang tanda hati ya


- Poin, hadiah.


🤗🤗🤗 LEMPAR VOTE DAN POIN YANG BANYAK YAH GAES


DUKUNG JUGA FLAVIA DAN ERYK, YANG SEDANG IKUT LOMBA NOVEL GENRE WANITA MANDIRI