Blue Moon

Blue Moon
Bab 4



Bengkak. Kedua mataku memerah. Mataku berat, seperti ada sebuah lem yang menempel; terasa sangat sulit untuk dibuka. Cermin yang ada dihdapanku saat ini jelas menghina keadaanku, betapa tidak setianya hatiku dengan tubuhku. Tetap menangisi dan menyesali segala hal yang telah terjadi. Aku sudah bangun sejak tadi. Seluruh tubuhku terasa sangat berat, sebuah malam yang benar-benar terasa sangat panjang. Terus membangunkanku dengan mimpi-mimpi buruk. Ponselku sudah tidak berdering, namun tanganku tidak berani bergerak dan menyentuhnya. Aku masih mebiarkannya disana. Terdiam dan sama sekali tidak bergerak.


            Pintu kamarku berbunyi. Seseorang mengetuknya dari luar. “Zea..” Suara terdengar dibaliknya. Suara seseorang yang aku kenali.


            Pintu kamar yang tidak aku kunci segera terbuka. Aria masuk, menatapku yang masih duduk didepan cermin. Wajahnya terkejut. Matanya melebar. Tidak berbicara namun dia langsung berlari mendekat dan memelukku. Seakan dia sudah mengetahui alasan keadaanku. Aku tidak akan pernah menangis separah ini jika bukan tentang Luke. Air mataku kembali mengalir. Tidak ingin berbicara, namun berharap ditenangkan. Aku merasakan tangan Aria bergerak menepuk pundakku pelan. Membiarkanku untuk tetap menangis dipelukkannya.


            “Kenapa?” Suaranya pelan. Memecah keheningan sebelumnya. Tangisku sudah mereda.


            “Luke.” Aku membisikkan nama itu ditelinganya. Suaraku terasa serak. Pelukannya terasa menguat. “Tadi malam, dia menghubungiku.”


            Aria melepaskan pelukkannya padaku. Menggeserkan tubuhku kehadapannya. Matanya menatapku dengan cemas.


            “Jadi apa katanya? Kamumembalasnya?”


            “Tidak.”


            “Bagus.” Dia mengangguk dan tersenyum kepadaku. “Sudah lupakan dia. Aku kemari untuk mengerjakan tugas kita, tapi aku rasa waktunya kurang tepat.”


            Hari ini aku dan yang lain sudah berjanji akan berkumpul. Tidak ada jadwal kuliah, namun tugas minggu lalu masih menumpuk. “Aku tidak mood.” Menolak untuk bertemu yang lain. Wajahku yang membengkak akan menjadi pertanyaan untuk mereka.


            “Iya, aku tau. Aku akan mengabari yang lain.” Dia mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Mengetik sebuah pesan disana.


            “Jadi? Apa kata Luke?”


            “Tidak ada. Dia hanya memintakuuntuk memaafkannya.”


            “Hemmm..” Dia hanya menganggukkan kepalanya. “Jangan pernah kamu perdulikan dia lagi Zea. Aku memang tidak pernah mengalaminya, tapi hatiku juga ikut terluka. Kau tau kan bagaimana seringnya dia meminta maaf dan membuat kesalahan yang sama. Tidak hanya sekali. Berkali-kali dan pada akhirnya dia menyalahkanmu karna kamu terlalu baik. Gak Zea. Semua itu hanya alasan dia. Kau itu hanya dimanfaatkan olehnya.” Dia berdiri dan meninggalkanku yang masih terduduk.


            Aku hanya diam. Tidak membalas ucapan Aria. Aku tahu itu semua benar. Namun, hatiku tetap menolak mempercayainya. Saat dimana logika dan hati tidak sejalan. Hatiku masih mempercayai dia dan berharap untuk kembali bersamanya.


            “Zea..” Aria mengguncang tubuhku. Matanya melebar. Salah satu tangannya menggenggam ponsel milikku. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa membuka sandinya, tapi sebuah pesan terlihat disana.


            “Ini. Lihat.” Tangannya menunjukkan sebuah pesan pada ku. Dia tertawa. “Nathan? Serius?” Suara tawanya kembali terdengar. Sesekali wajahnya menatap kearahku. Aku menarik ponselku dari tangannya. Membaca pesannya memastikan. Tidak percaya dia menghubungiku.


            “Maksudnya apa Zea?” Nafasnya terdengar tidak beraturan setelah tertawa berkali-kali


            “Entahlah.”


            “Aku lihat lagi Zea.” Aria mengulurkan tangannya dan mengambil ponselku. Matanya memandang pesan itu. Dia membacanya, dan kali ini dengan suara yang keras.


            Tulisan kamu jelek. Nathan. Aria kembali tertawa.


            Nathan. Pesan darinya benar-benar mengubah moodku hari ini. Pesan masuk yang seharusnya aku baca tadi malam. Mungkin aku tidak akan sampai seperti ini jika melihatnya malam tadi. Bibirku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana orang sepertinya bisa mengirimkan pesan seperti itu.


*****


            “Coral Bleaching, saat dimana terumbu karang akan berwarna putih hal tersebut dikarenakan hilangnya alga Zooxanthellae yang memberi warna-warni pada karang.” Nathan menjelaskannya padaku yang sudah duduk disampingnya. Aku hanya mengangguk menatap wajahnya.


            Ruang praktikum. Ruangan yang selalu berbau ammonia dan alkohol. Lemari- lemari kaca yang tersusun. Lengkap dengan gelas ukur, tabung reaksi dan peralatan kimia lainnya. Sebuah torso kerangka manusia berdiri disalah satu sudut ruangan. Salah satu meja juga sudah terisi oleh torso anatomi manusia. Membuatku sendiri kadang tidak ingin menatap benda-benda itu terlalu lama. Meja dan kursi berada tepat ditengah. Dengan sebuah mikroskop di masing-masing mejanya.


            “Zoo…xan… the… lla…e. Double LL.” Nathan menjelaskan. Suaranya terdengar jelas. Namun terukir jelas diwajahnya sebuah kekesalan.


            “Hemmm.. ummm.. yeah.” Ucapku tergagap. Aku benar-benar tidak berkonsentrasi. Aku tidak sebodoh itu. Sesekali aku berusah mencuri pandang untuk melihat tulisannya. Penasaran seberapa cantik tulisannya hingga mengatakan tulisanku jelek.


            “Apa?” Dia menarik kertas miliknya. Menatapku dan kemudian menutupi tulisannya. Seakan mengetahui apa yang sedang aku fikirkan saat itu. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan membiarkannya. Kembali menulis jawaban dari kuis hari ini.


            “Lima menit lagi. Jika sudah selesai, silahkan diantarkan ke saya. Jika bel sudah berbunyi dan kalian belum menyerahkan, tidak akan saya terima.” Pria itu bersuara. Sebagai seorang asisten dosen dia bersikap terlalu keras. Seharusnya Prof. Daniel yang mengisi kelas hari ini; dikarenakan istri beliau sedang sakit, dia memilih seorang murid dari angkatan atas sebagai penggantinya. Seorang asisten yang baru terpilih karna nilainya yang memuaskan pada ujian semester kemarin.


            “Zea.. sudah?” Aria memanggilku. Aku mengangguk. Nathan yang duduk disampingku masih diam dan menulis. Aku menatapnya ingin bertanya, namun aku urungkan dan membiarkannya. Kuis kali ini dinilai secara individu dan pasangan. Untuk yang pasangan aku sudah menyelesaikannya lebih dahulu dengan Nathan, jadi aku merasa meninggalkannya tidak akan jadi masalah.


*****


            Kantin. Sebuah tempat yang paling cepat sekali dipenuh oleh siswa, bukan hanya untuk makan; namun sekedar mengobrol dan menghabiskan waktu. Jam makan siang yang seharusnya dimulai tiga puluh menit lagi tidak berpengaruh pada jumlah siswa yang berkumpul dikantin. Meja persegi dan kursi yang menyatu tersusun rapi hampir penuh, tidak ada yang tersisa.


            “Pesan apa?” Elisa masih berdiri. Setelah berkeliling cukup lama kami akhirnya menemukan sebuah meja yang kosong.


            “Mie ayam.” Aku menyahut. Tidak sanggup berdiri lagi aku langsung duduk disalah satu kursinya.


            “Nasi goreng.” Mey duduk dan menatap Elisa. Dia memilih duduk berhadapan denganku. Membiarkan kursi disebelahku tetap kosong.


            “Aria?” Elisa menatap kearahku. Aria berpisah denganku setelah kelas selesai. Dia pergi dengan Brian mengantarkan tugas yang tadi sudah kemi selesaikan. Akan menyusul katanya.


            “Nanti saja.” Jawabku. Mey mengangguk, ikut setuju dengan saranku.


            Elisa pergi meninggalkan kami. Mey sibuk sendiri memainkan ponsel ditangannya. Tidak perduli denganku sama sekali. Berkali-kali terdengar suara dari ponselnya. Sesekali terlihat senyuman tergores dibibirnya. Wajahnya tersipu malu dan memerah.


            “Mey..” suaraku terdengar kuat. Dia terkejut. Berkali-kali aku memanggilnya. Namun masih tidak ada jawaban. Akhirnya aku menaikkan suaraku.


            “Siapa?” Aku menatapnya curiga.


            Dia menatapku terdiam. Tangannya berhenti memainkan ponselnya. Dia mengarahkan pandangannya kekiri dan kekanan. Seolah mencari sesuatu. Wajahanya mendekat kearahku.


            “Steve.” Suaranya pelan. Dia tersenyum.


            Aku yang mendengarnya langsung terkejut tak percaya. “Gila.” Teriakku.


            “Mey.., kami udah bilang berkali-kali kan. Dia itu gak baik. Please Mey, percaya.” Aku memandangnya masih tidak percaya. Berkali-kali namun dia masih tidak jera.


            “Aku tahu. Tapi dia udah minta maaf. Dia juga janji untuk berubah. Percaya sama aku Zea.” Suara Mey memelas. Aku tahu, Mey tidak akan menceritakannya jika saat ini ada Aria atau Elisa. Mereka pasti akan langsung memarahinya. Menasehati layaknya orang tua pada anak semata wayangnya.


            “Tapi Mey…”


            “Please Zea, aku mau kasih dia satu kesempatan lagi. Ini yang terakhir. Ngertiin aku kali ini Zea.” Matanya berkaca-kaca. Aku tidak ingin berdebat dan menolaknya. Hatiku bimbang, tapi pada akhirnya aku menganggukkan kepalaku. Menyetujui keinginannya.


            Mey tersenyum kearahku. “Thank you Zea. Please jangan kasih tau yang lain ya.”


            Kali ini aku hanya bisa menyetujui keinginan Mey. Aku tahu bagaimana perasaannya. Menolak untuk terluka namun tidak ingin berpisah. Cinta memang seperti itu tidak terlihat, namun bekasnya akan selalu terasa. Resiko sebuah cinta jika terlalu mencintai maka harus siap untuk lebih disakiti.