
Menurut catatan lembaga antaraiksa, fenomena alam gerhana bulan Blue Moon akan segera terjadi pada tanggal 13 Februari. Blue Moon atau bulan biru adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bulan purnama kedua dalam satu bulan. Peristiwa tersebut hanya akan terjadi satu kali dalam dua tahun. Puncak fenomena tersebut akan terjadi pada pukul 01.13 dini hari pada jarak 369.005 kilometer dari pusat bumi. Blue Moon akan dapat disaksikan dari arah Barat Daya.(tr-red.)
“Blue Moon, lihat sama-sama? Aku penasaran.” Aku mentap Aria yang duduk dihadapanku, menunjukkan padanya berita yang ada diponselku. Dia hanya menggelengkan kepalanya menolak menanggapi. Hari minggu,
kami berjanji untuk berkumpul menonton film terbaru yang sedang premiere. Gedung bioskop yang biasanya tidak terlalu ramai hari ini sangat penuh. Sudah satu jam, tapi Elisa dan Mey masih belum tiba. Aria sudah membeli tiketnya jauh sebelum tanggal penayangan. Berburu tiket secara online. Pengumuman penayangan film sudah berkali-kali terdengar. Antrian panjang penonton yang ingin masuk juga terlihat semakin parah.
“Aku sudah menghubungi Elisa, tapi tidak diangkat.” Aku menatapnya yang saat itu sudah mulai kesal. Tangannya masih sibuk mengetik dan membalas pesan yang masuk ke ponselnya.
“Mereka sedang sibuk. Nih..” Dia menunjukkan ponselnya. Mey dan Elisa tidak bisa datang. Masing-masing
mengirimkan foto keponsel Aria. Sebuah acara keluarga. Mey dan Elisa merupakan saudara sepupu. Hal itulah yang membuat hubungan mereka terlihat lebih erat. Aku hanya mengangguk melihatnya. Memahami situasi kami sekarang.
“Seharusnya sejak awal mereka bilang gak bisa.” Aria kesal.
“Mungkin acaranya mendadak.” Aku berusaha menenangkannya.
“Kan sayang tiketnya. Udah gitu kita nunggu lagi disini. Gak mungkin mendadak. Mereka saja yang memang tidak mau melihat film yang aku pilih.” Tampak jelas kesal terukir diwajah Aria. Dia berjalan kembali kedalam bioskop, ikut mengantri seperti penonton yang lain.
Film yang akan kami tonton bercerita tentang sebuah kisah keluarga dan percintaan. Dibeberapa bagian juga terdapat adegan action dan komedinya. Aku suka cerita seperti ini. Memberi rasa penasaran ketika adegan pertarungan terjadi. Terutama ketika pemeran utama mengalahkan musuhnya. Sebuah cerita klise namun tetap selalu disukai dihati penggemarnya.
“Nathan masih menghubungi?” Aria menatapku yang berdiri dibelakangnya. Kami masih mengantri menunggu giliran.
“Enggak.” Aku menggelengkan kepalaku.
“Ummm.. Kirain.” Aria mengangguk.
“Kenapa dengan dia?.”
Aria mengangkat kedua bahunya. “Penasaran. Selain kamu dan Brian tidak ada teman kita yang pernah dia hubungi. Semua sudah aku tanya.”
“Beneran?”
“Yeah.” Aria kembali berbaris. Aku tidak banyak bertanya. Aku sendiri juga penasaran dengan alasan Nathan sebenarnya.
*****
Jam di dinding kamarku yang berputar terlihat tidak bergerak. Waktu seakan sama sekali tidak berganti. Mataku sudah terasa berat, mengantuk. Masih ada tiga puluh menit lagi sebelum gerhana bulan itu terlihat. Aku menunggunya, berharap bisa melihatnya dengan mataku sendiri. Aku tidak begitu mengetahui tentang astronomi, namun setiap ada fenomena alam yang akan terjadi aku akan berusah untuk melihatnya. Mungkin tidak terlihat oleh mata, namun masih tetap dapat dirasakan oleh hati.
Suara yang biasanya aku dengar hari ini menghilang. Sunyi dan senyap. Malam yang gelap tanpa bintang satu pun. Hanya bulan yang terlihat semakin membesar dan bulat; terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Kamarku terasa sunyi. Jendela yang aku buka tampak menunjukkan bulan malam. Angin yang berhembus kedalam kamarku menerbangkan tirai yang menutupi sebagian jendela. Dingin dan menusuk. Selimut yang sudah menutupi tubuhku tidak mampu menahan dinginnya.
Bulan purnama sudah terjadi. Terlihat besar, namun tidak membiru seperti yang aku bayangkan. Masih berwaran putih seperti biasa. Pemandangan biasa yang dapat dilihat langsung dengan mata. Tubuhku yang lelah tidak ingin menunggu lebih lama. Ingin segera tidur dan beristirahat.
Sebuah jeritan. Aku mendengar kembali suara itu. Suara yang aku kira tidak akan terdengar malam ini. Terasa dekat. Tidak jauh seperti sebelumnya dan sangat jelas. Aku berlari ke balkon, meninggalkan selimutku yang terjatuh dari tempat tidurku. Mencari sumber suara itu. Sebuah bayangan hitam telah menutupi bulan purnama. Tidak terlihat jelas. Kilatan petir tiba-tiba muncul dan mengenai bayangan itu. Seketika bayangan itu jatuh. Hujan tidak turun, namun petir terlihat terus menyabar disatu titik yang sama. Tempat bayangan hitam itu terjatuh.
*****
Sudah seminggu sejak terkahir kali Nathan masuk kelas. Brian sebagai penanggung jawab kelas juga tidak mengetahui alasannya. Bahkan Pak Rektor sendiri juga absen lebih dari seminggu. Tidak ada yang bisa dihubungi. Ponsel Nathan juga mati.
“Zea, ada kabar?” Brian menatapku berharap. Kelas sudah kosong. Jadwal hari ini secara mendadak ditunda.
Aku menatapnya kecewa. Dia langsung paham dan menganggukkan kepalanya. “Kalau ada, kabari aku ya. Dosen yang lain pada sibuk nanyain terus. Aku pusing.” Brian berpamitan dan meninggalkanku. Aku masih sibuk membereskan barang-barangku. Aria dan yang lain sudah pergi duluan, mencari tempat dikantin.
Angin berhembus kekulitku. Kursi yang biasa diduduki oleh Nathan terlihat kosong. Tirai yang terkena hembusan angin sesekali bergerak naik turun, mengikuti hembusannya.
“Nathan?” Aku menatapnya. Dia duduk disana. Dikursi yang sebelumnya kosong. Aku mengangkat tanganku dan menghapus mataku. Tidak yakin dengan apa yang sedang aku lihat saat itu.
“Nathan, beneran kamu?” Aku berjalan dari kursiku mendekatinya. Pandanganku jelas dan itu dia. Nathan tidak berbicara. Dia hanya menatapku.
“Kamu kenapa gak masuk kelas?”
“Ada urusan.” Nathan mengeluarkan suaranya.
“Ohhh.. yeah.” Aku memandangnya sekali lagi dan berbalik meninggalkannya. Bertanya lebih jauh justru terlihat aku mencampuri urusannya.
*****
“Luke.?” Mataku melebar melihat seseorang sudah berdiri didepan rumahku. Gerbangnya masih tertutup. Penjaga rumahku sedang pulang kampung, sehingga untuk sementara aku melakukannya sendiri.
Luke menatap kearahku. Berjalan mendekati mobilku. Aku hanya diam, tidak ingin keluar dan menyapanya.
“Zea buka.. please. Kita perlu bicara.” Tangannya mengetuk kaca mobilku, terlihat raut kesedihan diwajahnya. Berkali-kali dan tanpa henti.
“Kamu perlu apa?” Aku keluar dari mobilku menghampirinya.
“Zea. Maafin aku. Semua salah aku. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku menyesal.” Luke menarik dan menggenggam tanganku.
“Lepaskan.” Aku menghentakkan tanganku. Melepaskan genggaman tangannya. “Aku sudah tidak mau peduli. Kamu sendiri yang memilih dia dan meninggalkan aku.”
“Enggak Zea. Aku pilih kamu, dia tidak sebaik kamu. Aku menyesal.”
“Terlambat. Aku sudah tidak percaya kamu. Berkali-kali kamu berjanji akan berubah. Tapi apa? Kamu tetap tidak berubah. Aku sudah kecewa.”
“Zea!!” Suara Luke meninggi. Tangannya kembali menarik lenganku. Genggamannya terasa lebih kuat dari
sebelumnya. “Zea. Maafin aku. Kamu tau kan aku cinta kamu. Iya aku tau aku salah. Tapi tolong kasih aku kesempatan lagi.”
Aku menatapnya kesal. Mataku terasa terbakar, ingin marah dan menamparnya saat itu juga. Tanganku yang masih digenggamnya terasa berdenyut.
“Lepas Luke. Ini sakit.” Aku memohon.
“Aku akan lepaskan, tapi kamu harus maafin aku. Okee?” Luke tersenyum berharap.
Aku ingin berteriak meminta pertolongan. Tapi, suasana jalanan sore ini sangat sepi. Rumah yang masih jarang, menyebabkan orang yang berlalu-lalang dijalan ini juga sedikit. Tidak akan ada yang mendengar, justru Luke akan berbuat lebih buruk.
“Zea? Kamu mau kan?” Luke menatapku. Aku masih terdiam, tanganku mencoba melepaskan pegangannya yang terasa semakin menyakitkan dan berdenyut.
“Zea?” Seseorang memanggilku. Aku dan Luke menatapnya.
“Sedang apa?” Nathan melihat kearahku. Wajahnya terlihat bingung.
“Nathan? Kamu sedang apa disini?” Mataku melebar melihatnya. Luke yang masih menggenggam tanganku terlihat kesal menatapnya.
“Kamu siapa?” Tanya Luke.
“Nathan. Kamu?”
“Bukan urusan kamu. Pergi sana.” Luke mengangkat tangannya melambaikan untuk mengusir Nathan pergi. Nathan menatapku diam.
“Nathan. Stop.” Aku menghentikannya meninggalkanku. “Please, tolongin aku.” Aku menatapnya memohon. Dia terlihat akan pergi namun terhenti.
Nathan menatapku, dia berjalan mendekat. Satu tangannya menggenggam tanganku yang dipegang oleh Luke. Dia menatap kearah Luke, menggenggam tangannya dan menariknya agar melepaskan tanganku. Luke terdorong mundur.
“Kau…!!!” Teriak Luke. “Siapa kau berani mencampuri urusanku dan Zea?”
“Dia meminta tolong.” Suara Nathan tenang.
Luke menatapku dan Nathan bergantian. Dia mendekatiku lagi, namun Nathan kali ini menghalanginya. Emosi terlihat jelas diwajahnya.
“Minggir..!!” Luke mendorong tubuh Nathan. Tidak bergerak, Nathan masih berdiri dihadapannya melindungiku.
“Luke, berhenti.” Aku berteriak. “Kita sudah tidak ada hubungan apapun. Jangan ganggu aku. Atau aku akan hubungi polisi sekarang.” Aku menatapnya menantang.
Luke diam. Dia menatapku dan Nathan marah.
“Zea, aku tidak akan berhenti sebelum kamu memaafkan aku.” Luke menatapku yang hanya diam. Mobil putih yang dia gunakan bergerak maju dengan kencang, meninggalkanku dan Nathan.