Blue Moon

Blue Moon
Bab 13 Obstacle



Aku terus merasakan sebuah keanehan didalam diriku. Seakan sesuatu telah menghilang. Namun ketika aku mencoba mengingatnya, tidak ada apapun yang aku temukan.


Dimana? Aku sudah sampai.


Aku seharusnya akan bertemu Aria, namun sudah satu jam aku tiba dan dia tidak ada dimanapun. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, dan berakhir tanpa ada satupun balasan.


Mall yang sebelumnya masih terlihat sepi, kini sudah penuh sesak dengan orang-orang yang berlalu lalang. Aku terus membayangkan bagaimana dia yang memaksaku dan mengajak bertemu disini. Namun dia pula yang akhirnya menghilang tanpa kabar.


Maaf Zea, Aku lupa sudah membuat janji dengan Brian.


Sebuah suara terdengar dari ponselku. Pesan dari Aria yang membatalkan janjinya. Aku sudah yakin jika dia menghilang tanpa kabar, atau terlalu lama datang saat akan bertemu pasti akan berakhir seperti ini. Tapi aku sendiri juga tidak tau, sudah sering di kecewakan namun aku tetap tidak bisa menolaknya dan terus percaya.


Yasudah. Tidak apa-apa.


Kamu yakin? Kamu sudah sampai disana bukan?


Hemmm. Aku marahpun percuma kan. Selamat bersenang-senang.


Kamu memang yang terbaik.


Aku melihat pesan balasan tersebut tanpa perduli. Perasaan kecewa sudah menyebar keseluruh tubuhku. Moodku sudah tidak baik dan tidak ingin telalu jauh berbicara dengannya.


Karna janji dengan Brian? Bagaimana denganku. Janji yang dia paksakan untuk aku tepati, justru dia sendiri yang membatalkannya sepihak. Aku sudah disini. Percuma saja kalau begitu aku datang hari ini. Lebih baik aku tidur siang dirumah.


 


Orang-orang yang berlalu lalang dihadapanku juga sudah semakin bertambah banyak. Sebuah pemandangan dimana banyak keluarga berkumpul dan berbelanja bersama. Hari weekend yang hanya akan terjadi satu kali dalam tujuh hari.


"Aku pergi nonton sendiri saja."


Seluruh lantai dibangunan Mall ini penuh sesak dan ramai. Tidak ada satu tempatpun yang tidak dipenuhi sesak.


Cafe, Restoran, Toko Pakaian, Toko Sepatu, bahkan tempat Bermain Anak tidak luput dari sesaknya orang-orang yang berkumpul.


"Hahhh..."


Sebuah helaan nafas yang aku keluarkan. Memandang sebuah barisan panjang tidak beraturan digedung bioskop.


Tidak ada film premier. Tidak ada acara meet and greet. Tapi jumlah orang yang berkumpul sangat banyak.


Diantara barisan panjang itu, aku melihat sosok yang tidak asing. Wajah orang yang sangat aku kenal.


"May dan... Luke?"


Mataku benar-benar tidak percaya dengan pandangan yang ada dihadapanku. May dan Luke bertemu dibelakangku.


"Sedang apa mereka?" Mataku menatap lekat kearah dua orang yang sangat aku kenal itu.


Raut wajah keduanya terlihat sangat senang, dan menikmati pembicaraan mereka. Sesekali aku melihat May tertawa lebar diikuti dengan tawa dari Luke.


Sebuah kecurigaan terbesit dalam fikiranku. Apa dia yang memberitahukan Luke tentang keberadaanku waktu itu? Emosi dan kekesalan mendadak menghampiriku.


Mataku terus menatap mereka berdua. Sebuah kilasan-kilasan tentang pertengkaranku dengan Luke datang bergantian.


Luka yang harus diterima oleh Nathan karna membelaku waktu itu. Fikiranku terus bertentangan. Antara harus mempercayai May, atau percaya dengan pandangan yang ada dihadapanku saat itu.


"Tapi kenapa.."


Aku berkali-kali meyakinkan hatiku. Namun rasa penasaran akan hubungan May dan Luke terus datang padaku.


"Bagaimana bisa May sampai berbuat seperti itu padaku. Apalagi itu Luke..."


"Benar. Aku harus bertanya langsung pada May."


Antrian yang panjang itu tidak menghalangiku untuk terus berjalan maju. May dan Luke terlihat sudah selesai melakukan pembelian tiket.


"May..!!" Teriakku kencang.


Pandangan mata orang-orang yang sedang mengantri tersebut, seketika tertuju kearahku.


"Masa bodoh." Suaraku bergetar. Aku kembali menegakkan kepalaku. Menantang pandangan mereka.


May dan Luke sudah tidak ada disana. Mereka berdua telah menghilang. Aku terus menebarkan pandanganku mencoba mencari mereka.


Ketika aku melihatnya, sosok mereka sudah berjalan menjauhi antrian. Melangkah pergi meninggalkan kerumunan orang yang masih berbaris.


Aku mengikuti arah mereka pergi. Mengejar mereka diantara orang-orang tersebut. Menelusuri keramaian yang penuh sesak, tubuhku sesekali menubruk orang-orang yang sedang mengantri. Saling bersentuhan dan memperlambat gerakanku.


"Tidak ada." Suaraku lirih. Lelah sudah mulai menjalar ditubuhku.


Hingga akhir aku tidak berhasil menemukan mereka. Orang-orang yang sedang mengantri tersebut hanya memandangiku dan sesekali berbisik tentangku.


"Dimana kalian?" Suaraku meninggi.


Aku sudah tidak peduli dengan mereka yang membicarakanku saat itu. Rasa penasaranku tentang hubungan May dan Luke justru lebih membuatku penasaran.


*****


Ada apa?


Aria menelfonku. Aku tau, dia pasti ingin meminta maaf karna sudah menggagalkan janji kami hari ini.


Moodku benar-benar tidak bagus sekarang.


[Maaf. Aku lupa kalau kita berdua sudah ada janji sebelumnya.]


Tidak apa-apa. Aku tidak mempermasalahkannya sekarang.


[Kamu yakin Zea?]


Hemmm. Sudahlah. Lupakan saja. Kan kejadian seperti itu sudah sering terjadi.


Aku yakin. Aria yang mendengar ucapanku tersebut pasti akan merasa bersalah.


Aria yang aku tau selalu merasa bersalah jika aku sudah mulai menyindir tentang sikapnya.


[Tuhkan. Bener. Kamu sekarang lagi marah sama aku kan Zea?]


Tidak. Aku hanya terlalu banyak fikiran dan kurang beristirahat.


Aku ingin menceritakan apa yang aku lihat tadi siang, antara May dan Luke. Tapi hatiku menolak mengatakannya. Aku takut hubungan persahabatan kami bisa saja rusak, karna kesalah pahamanku tentang May.


Sudahkan? Aku ingin beristirarahat sekarang.


Mataku melirik kearah jam di dinding kamarku. Sudah pukul Sebelas malam.


[Emmm. Zea..? Aku ingin bertanya sesuatu.]


Suara Aria terdengar bergetar diujung telepon. Seakan ragu atau takut akan sesuatu hal.


Ada apa? Tidak bisa kalau dilanjut besok saja?. Aku sudah sangat mengantuk sekarang.


Berkali-kali aku sudah menguap. Mataku seakan sudah tidak ingin terbuka. Ranjang yang sudah aku tiduri seakan menarik tubuhku untuk segera terlelap.


[Tidak.] Suara Aria terdengar lebih kuat dan tegas. Sedikit memberikan kejutan pada gendang telingaku.


Yasudah. Ada apa?


[Aku tadi... ] Suara Aria tiba-tiba menghilang. Sambungan telepon antara aku dan dia tiba-tiba terputus.


Apa sebaiknya aku hubungi lagi? Tapi aku sudah mengantuk?


Aria terasa sedikit aneh hari ini. Aku mencoba menghubunginya kembali, namun dia tidak menjawab panggilanku. Sekali lagi, dan panggilanku sudah beralih kepesan suara.


Aku mencoba sekali lagi dan masih tidak tersambung. Tidak lama setelahnya, sebuah pesan masuk keponselku. Pesan dari Aria.


Besok. Kita perlu berbicara. Penting!!