Blue Moon

Blue Moon
Bab 26 Listen



"Kamu yakin sudah baik-baik saja Zea? Jangan paksakan tubuhmu." Nathan menatapku dengan khawatir.


Setelah kejadian dimana aku mendadak merasakan sakit dan berteriak waktu itu, Nathan tidak pernah berhenti mengkhawatirkan keadaanku.


Aku tidak yakin sudah berapa lama aku berada ditempat ini bersamanya. Tapi yang pasti aku merasakan waktu berlalu sangat cepat disini.


Semuanya terasa berlalu begitu saja disini. Perasaan nyaman dan aman, yang membuat hatiku berharap untuk bisa terus berada disini.


"Tidak apa apa. Kamu tidak perlu khawatir." Ucapku.


Setelah merasa bahwa tubuhku sudah mulai membaik. Nathan mengatakan padaku akan menjelaskan semuanya secara perlahan. Mengingat kondisiku yang tidak stabil dan bisa saja meperburuk keadaan.


Aku masih tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun saat ini, Nathan dan Brian sudah berada bersamaku. Berkumpul di ruangan yang aku gunakan sebagai tempat peristirahatan beberapa waktu belakangan ini.


"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kalian berdua jelaskan padaku?" Ucapku memecah keheningan.


Kami bertiga sudah duduk mengelilingi sebuah meja. Nathan dan Brian duduk saling berhadapan. Sedangkan aku duduk tepat disamping Nathan.


"Tunggu sebentar. Kita harus menunggu satu orang lagi." Jawab Brian.


"Siapa?"


"Alvin. Pria kasar yang memarahi kamu waktu itu. Jika tidak ada Brian. Mungkin aku sudah memukulnya." Ucap Nathan kesal.


"Kamu yang salah Nathan. Salahmu kenapa tidak menjelaskan semuanya pada Alvin. Kamu selalu melakukan semua hal sendiri. Bukan salah dia jika akhirnya dia juga salah paham denganmu." Sambung Brian.


"Memangnya siapa Alvin? Bukannya ini hanya tentang aku dan Nathan saja?" Tanyaku.


Nathan dan Brian terdiam. Saling berpandangan satu sama lain mendengar pertanyaanku.


"Hahhh..." Ucap Brian terkejut.


"Jadi, selama ini kamu tidak tahu siapa Alvin? Kalau ini dimana kamu tahu?" Tanya Brian padaku.


"Tidaklah. Bagaimana aku bisa tahu, jika kalian berdua sama sekali tidak menjelaskannya padaku." Jawabku sedikit kesal.


Brian menatap kearah Nathan kesal. Nathan yang mengetahui tatapan kesal Brian, hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


"Aku kira kamu sudah tahu Zea. Makanya aku setuju dengan pertemuan ini. Jadi selama dia menjaga kamu, apa yang dia katakan?" Brian kembali menatapku.


"Tidak ada. Nathan tidak mengatakan apapun. Dia hanya menanyakan tentang keadaanku. Tidak ada menjelaskan apapun..."


"... Aku sendiri juga melupakan tujuanku sebenarnya datang kesini." Ucapku.


"Nathan, kenapa kamu tidak menjelaskan pada Zea semuanya?" Brian berteriak kesal.


"Selama Zea tidak bertanya, untuk apa aku mengatakannya. Aku kan tidak ingin dia khawatir dan sakit lagi. Aku rasa dia juga sudah tahu bagaimana perasaanku padanya." Jawab Nathan tersenyum kearahku.


"Sudahlah Zea, lebih baik kamu tidak memperdulikan Nathan lagi. Jika dia tidak menjelaskannya sekarang, kamu tidak akan pernah punya kesempatan lagi Zea." Ucap Brian dengan kesal.


Aku hanya mengangguk mendengar perkataan Brian. Memikirkan kebenaran dari perkataannya.


Kenapa selama ini aku diam dan tidak menanyakan apapun pada Nathan?


Dan Nathan juga seolah tidak peduli tentang hubungannya dengan May?


Arghh.. Aku sudah terlalu nyaman disini dan dengan sikap manis dari Nathan.


"Sebentar. Sebentar!" Ucap Nathan.


"Jadi maksud kalian berdua ini apa? Bukannya Zea kemari karna dia ingin bertemu denganku?" Nathan bertanya padaku sambil mengerutkan keningnya.


Aku menatap Brian, memberikan isyarat padanya agar memberikan sedikit waktu untukku dan Nathan berdua.


"Kamu harus menjelasakan semuanya pada Zea sekarang. Aku akan mencari Alvin, dan memberikan waktu pada kalian berdua." Ucap Brian berdiri dan pergi. Meninggalkan aku dan Nathan berdua.


Terima kasih Brian.


Nathan hanya mengangguk mendengar perkataan Brian. Setelahnya dia hanya diam dan tidak memulai percakapan apapun.


"Zea, aku tidak ada hubungan apapun dengan May." Nathan menatapku lekat. Tanpa aku sadari, tangannya sudah menggenggam erat tanganku.


Aku hanya diam. Mendengarkan perkataan Nathan tersebut.


"Maafkan aku sudah menghilang begitu saja. Aku punya alasannya. Tapi aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan May." Lanjutnya.


Aku menghela napasku. Mencoba menenangkan jantungku yang mulai berdetak tidak beraturan.


"Jadi kamu tahu? Kenapa kamu pura-pura tidak tahu, dan tidak menjelaskan apapun padaku sejak aku tiba disini?" Ucapku kesal.


Aku menghentakkan genggaman tangan Nathan, melepaskan tanganku darinya. Rasa kesal, dan sedih sudah bercampur aduk didalam hatiku.


"Bukan seperti itu Zea. Aku bukan tidak ingin menjelaskannya. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu memaksakan diri untuk berfikir..."


"...Kamu tahukan bagaiman khawatirnya aku padamu. Dan saat ini pun, tubuhku juga masih dalam keadaan yang belum stabil. Aku takut akan melukaimu nantinya." Ucapnya lembut.


"Jika waktu itu aku bisa menjelaskannya, aku akan mengatakan semuanya padamu. Tapi kamu sama sekali tidak ingin mendengarnya bukan?" Nathan mengucapkannya dengan lirih.


Aku tahu saat itu memang aku yang tidak ingin mendengar penjelasan darinya. Tapi itukan juga bukan salahku. Salah dia, kenapa tidak langsung menjelaskannya dan justru beralasan tidak jelas.


"Yasudah, jelaskanlah sekarang. Kamu kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja. Kamu tidak tahukan, karna kamu May bertengkar denganku dan Aria. Jika memang kamu menyukai May, jelaskan padaku. Aku akan mundur." Ucapku padanya.


Nathan yang mendengar perkataanku tampak terkejut, setelahnya dia hanya diam dan tidak berkata apapun.


"Benarkan? Kenapa kamu diam? Sepertinya memang kamu tidak menyukaiku sama sekali kan, sudahlah Nathan. Aku akan berhenti menyukai kamu mulai sekarang." Ucapku kesal.


Setelah mengatakannya aku langsung berdiri dari dudukku, meninggalkan Nathan yang masih duduk terdiam.


"Kenapa ini? Pintunya kenapa tidak bisa dibuka?"


Nathan yang mendengar teriakanku sama sekali tidak bersuara. Dia hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Nathan!" Ucapku berteriak.


Mendengar teriakkanku, Nathan mengangkat kepalanya dan menatap kearahku.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Pintu ini terkunci. Bagaimana cara membukanya?" Ucapku.


Nathan tetap diam dan hanya menatapku. Aku sudah tidak lagi terkejut dengan perubahan warna matanya. Merah menyala sudah menghiasi kedua bola matanya.


"Kamu harus duduk dulu Zea." Ucapnya pelan. Menatap kearahku yang masih berdiri didepan pintu.


Tanganku masih menarik gagang pintu ruangan itu, tidak perduli dengan perkataan Nathan padaku.


"Duduk Zea, dan dengarkan penjelasanku." Suara Nathan kali ini sudah menggema. Memenuhi isi ruangan. Suara berat yang jika siapapun mendengarnya akan merasakan kengerian.


Tubuhku gemetar mendengarnya. Rasa takut mejalar ke kakiku.


Apa yang terjadi? Kenapa Nathan mendadak berubah seperti itu?


Aku berteriak dalam hati. Berharap seseorang akan datang dan menyelamatkanku dari ruangan ini.


Kedua kakiku terasa lemas dan sudah tidak mampu menopang berat tubuhku lagi.


*Brukk!*


Suara tubuhku yang sudah jatuh, dan terduduk diatas lantai. Aku tidak berani mendekati Nathan. Tanganku yang lemas dan gemetar juga tidak ingin melepas genggaman tanganku pada gagang pintu ruangan.


"Zea!!" Teriak Nathan.


Suaranya bergetar dan menggema. Seketika ruangan itu menjadi gelap gulita. Mata Nathan yang memerah kini terlihat jauh lebih terang dan jelas.


"Zea, kenapa kamu tidak mendengarkan aku!!" Teriaknya keras.


Sebuah cahaya keemasan tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Nathan.