
Angin yang berhembus terasa dingin. Malam begitu tenang dan sunyi. Sinar bulan yang sebelumnya cukup terang mendadak hilang tertutup oleh awan. Air mataku tidak dapat berhenti mengalir. Aku memandang kearah lautan yang terbentang luas dihadapanku. Suara ombak yang menghantam batu karang sesekali terdengar. Tubuhku yang berdiri diatasnya juga ikut basah terkena percikan.
Haruskah berakhir seperti ini?
Kilasan wajah-wajah yang tersenyum, canda tawa, serta tangisan bergantian memenuhi ingatanku. Impian dan harapan yang sudah kubangun telah runtuh. Hancur.
Aku gemetar. Setiap langkah yang kuambil mengantarkanku pada kenangan manis tentangmu. Aku meragu. Senyuman dan tawamu terus menyesakkan dadaku. Perlahan kakiku menghantarkanku pada akhir tebing ini. Aku masih berharap kau membaca pesan terakhirku. Mataku yang berair menatap kedua kakiku yang sudah tidak beralas. Terselubung pasir dan berdenyut.
Kepanikan dan kesakitan beradu dalam fikiranku. Mengajakku berdamai dengan keadaan dihadapanku saat ini. Ingin kembali, namun enggan untuk melangkah. Sebuah pilihan dan penyesalan yang sudah terlambat.
Saat itulah aku melihatmu.
Kehangatan yang datang dari suaramu.
Seperti sinar bulan yang menerangi malamku.
Mataku menatap bayang-bayang hitam tubuhmu. Kau berdiri disana. Hanya suaramu yang terus terdengar dan menusuk lembut ketelingaku. Sebuah permintaan dan permohonan yang tidak pernah aku dengar. Perlahan kau berjalan keluar dari balik bayangan gelap itu. Langkahmu terlihat ragu, namun tetap maju kearahku.
“Jangan lakukan itu..”
Tubuhmu mendekat kearahku. Tanganmu menarik lenganku yang terkulai lemas tidak bertenaga. Aku hanya diam mengikuti arah tarikan tanganmu. Kau menatapku menerawang kedalam diriku. Matamu menunjukkan sebuah kekecewaan dan penyesalan terhadap sikapku. Genggaman tanganmu erat mengikatku. Bulan yang sebelumnya tertutup awan terlihat menyinari wajahmu. Matamu yang coklat terlihat menusuk kedalam tubuhku. Sebentar aku melihat warna itu berubah memerah. Warna asli matamu. Kulitmu yang putih terlihat bercahaya terkena sinar bulan.
“Apa yang kamu lakukan Zea?” Aku mendengar suarumu.
“Kamu datang?” Suaraku terasa serak. Pandanganku tertuju pada wajahmu yang cemas. Penyesalan tampak jelas dimatamu. Aku mengangkat sebelah tanganku, melepaskan tanganmu yang masih menggenggam sebelah lenganku.
“Sakit. Lepaskan.”
Matamu melebar. Terkejut. Kau melepaskan genggamanmu dan melangkah mundur menjauh.
“Kenapa Zea? Kenapa kamu melakukan itu?” Suaramu terdengar meninggi. Wajahmu menegang. Matamu menatap kearahku penuh amarah. Berusaha menyudutkanku dengan kesalahanku. Tidak ingin mendengarkan pembelaanku.
Air mataku mengalir. Sebuah Penyesalan. Langit malam memberikan kehangatan pada hatiku. Sebuah suara samar-samar terdengar. Memanggil dan menyebutkan sebuah nama. Bintang kembali terlihat dan menebarkan kilauannya dilangit malam yang gelap.
*****
Aku memarkirkan mobilku dengan kesal. Tempat yang menjadi lokasi andalanku sudah terisi orang lain. Memaksaku memutar dan parkir dilokasi yang lebih jauh. Menjengkelkan. Hari pertama dan sudah sebanyak ini. Kampus tua dengan cat berwarna putih merupakan tempatku menggali ilmu. Pohon-pohon besar menghiasi halaman dan taman kampus.
Semester baru dengan tugas dan masalah baru. Tidak ada yang menarik. Pengajarnya kebanyakan sudah tua dan sangat kaku. Pengajar muda hanya sebagian dan untuk mata kuliah umum. Bimbingan dan sidang masih dipegang oleh para tetua kampus. Semua harus serba terperinci dan tidak boleh tertinggal. Menyebabkan banyaknya mahasiswa senior yang berlalu lalang menunggu jadwal kelulusan.
“Zea.. sedang apa?”
Aria berdiri disamping mobilku. Tangannya yang mungil terus mengetuk kaca mobilku. Kaca yang sengaja tidak kuturunkan, namun tetap memaksa suaranya untuk masuk dan terdengar olehku. Kemeja kotak-kotak dengan jins ketat selalu menjadi pilihannya. Hanya sesekali aku melihatnya mengenakan dress atau rok.
Aku membuka pintu mobilku. Aria melangkah mundur. “Parkir disini juga?”
“Tak tersisa. Bareng yuk?” Dia menganggukkan kepalanya. Menaikkan tas punggungnya yang bergeser kesamping.
“Yang lain dimana?”
“Tempat biasa.”
Aku dan Aria berteman sejak awal semeseter. Aria yang menyapaku dan mengajakku berkenalan. Menurutnya aku dulu terlihat sangat pendiam berbeda dengan yang sekarang. Perubahan besar yang aku sendiri
mengakuinya. Aku tidak terlalu aktif didekat orang yang tidak aku kenal dengan baik. Aria adalah satu-satunya orang yang mengerti tentangku. Sifat ini aku peroleh karna kesendirianku. Pengalaman memaksaku harus menahan perasaanku dan berhati-hati dalam bertindak.
“Kenapa?”
“Katanya, Steve selingkuh. Mey melihatnya sendiri.”
“Sudah kuduga.” Aku menatap wajahnya yang terkejut mendengar jawabanku.
Aku tahu Mey akan terluka. Setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu menceritakan kisah cintanya. Tidak ada kebahagiaan dalam cerita itu. Selalu penuh dengan air mata dan kesedihan. Nasehatku tidak pernah sampai kehatinya. Lupa. Orang yang jatuh cinta tidak akan pernah sadar bahwa dia terluka. Hanya bertahan dan melupakan arti kebahagiannya sendiri.
Aku sudah yakin akan seperti ini akhirnya.
*****
Matahari bersinar penuh kemegahan, menjatuhkan bayangan hitam yang jelas. Angin bertiup lebih cepat dan membawa udara yang hangat. Kursi-kursi di taman penuh dengan wajah-wajah bahagia dan tawa. Pohon-pohon besar menawarkan keteduhan di balik sinar matahari.
“Sudah lama?” Aku duduk disalah satu kursi disamping Elisa. Wajahnya yang pucat terlihat lebih lesu dari biasanya. Senyumnya hanya sedikit mengembang menatapku.
“Kenapa lagi?” Pandanganku mengarah pada Mey yang duduk dihdapanku.
“Putus lagi katanya.” Suara Elisa.
Mey hanya terdiam. Sesekali tangannya menghapus air yang keluar dari kedua matanya. Tisu digenggamannya sudah terlalu basah. Matanya memerah. Tidak ada senyuman dan suara. “Sudahlah, lupakan saja dia. Tidak akan ada artinya menangis.” Kataku.
Aku sudah merasakannya. Mencintai hanya untuk terluka dan ditinggalkan. Sekeras apapun berusah, semua tidak akan ada artinya jika harus berjuang sendiri. Terluka. Cinta bukan hanya milik satu orang. Keduanya harus saling berbagi. Jika memaksakan, cinta hanya akan berubah menjadi racun.
“Tapi...” Matanya kembali berair. Kedua pipinya basah. Menatapku dengan kesedihan yang jelas terukir dari dalam hatinya.
Helaan nafasku mungkin terdengar olehnya. Kesal. “Kamu mau apa? Kembali dengan dia? Untuk terluka lagi?”
“Tidak."
“Jadi? Kamu tidak lelah? Kami semua mengerti perasaanmu. Tapi bukan dengan seperti ini. Dia itu tidak sebaik itu sampai harus kamu perjuangkan dan tangisi seperti ini. Kami juga terluka disini.” Pandanganku masih mengarah padanya yang menangis tanpa henti. Aku dan yang lain tau, bagaimana dia berjuang untuk cintanya. Menolak mendengarkan dan terus percaya pada hatinya.
“Sialan kau Steve.” Kekesalan Aria ikut memuncak. Sejak awal dia hanya diam memandangi Mey yang menangis tanpa henti. Tangannya sesekali menghapus pundaknya menenangkan. Saling menguatkan.
Aku dan yang lain memiliki kepribadian yang berbeda. Berusaha memahami dan menutupi kekurangan masing-masing. Kedewasaan hubungan kami terjalin karna saling melengkapi. Sebagai penengah aku selalu memberikan masukan dan saran. Semua itu dapat aku lakukan karna aku sendiri sudah mengalaminya. Percintaan yang menyakitkan.
Pipinya yang basah sudah mengering. Air mata yang tadi mengalir sudah tidak terlihat. Tersisa mata yang sedikit membengkak dan memerah. “Cukup. Aku sudah baik-baik saja sekarang.” Suaranya terdengar serak. Terlalu banyak menangis menyakiti suara dan tenggorokannya.
*****
Kelas sore. Waktu dimana seharusnya aku sudah dirumah menonton acara kesukaanku. Kelas yang seharusnya dimulai siang hari berubah hanya karna Dosen sedang ada urusan. Awal semester dan semua hal buruk terjadi dalam satu hari.
“Selamat Sore.” Seorang pria paruh baya memasuki kelas. Wajahnya berseri. Rambutnya sudah memutih hampir keseluruhan. Senyum tipis terpancar dari wajahnya yang menatap kedalam kelas. Jas hijau tua dengan kemeja hijau yang dia kenakan, terlihat serasi dengan celana keper dan sepatu pantofel yang dia pakai.
Tangannya terangkat, melambai kearah daun pintu coklat ruangan. Seorang laki-laki datang, mendekatinya yang berdiri didepan kelas. Tubuhnya tinggi. Kulitnya putih dengan warna mata coklat yang amat terang. Kemeja hitam yang dia kenakan tidak mampu menutupi aura yang dimilikinya.
“Perkenalkan. Ini siswa pindahan. Silahkan.”
Laki-laki itu mengangguk menatapnya. Matanya menebar pandangan keseluruh ruangan. Tatapan tajam yang dia pancarkan menusuk kedalam jiwa, menggali segala hal yang tersimpan didalamnya.
“Saya Nathan. Salam Kenal.”