Bloom

Bloom
Chapter 09



Terdengar suara ketukan pintu dua kali, kemudian disusul suara, “Kak Na, sudah selesai?”


“Dikit lagi, masuk aja!” sahut Shabina dari dalam kamar. Tidak lama pintu kamarnya terbuka pelan.


Shelby memandang kakaknya yang sedang memakai kerudung di depan cermin. Sadar Shelby sedang memandangnya, Shabina menoleh, lalu balik melihat cermin, memperbaiki kerudungnya.


“Kenapa?” tanya Shabina


“Yakin pakai itu?” adiknya balas bertanya


Shabina mengernyitkan dahinya, tak paham maksud Shelby.


“Come on Kak, pakaian kamu biasa banget buat kencan pertama”


“Ini bukan kencan” tukas Shabina


“Oke, terserah … tapi first impression itu penting!”


“Ini bukan pertama kali dia melihat aku, kamu tahu?” ucap Shabina. “Lagian nggak ada yang salah dengan pakaianku”. Ia melihat pakaiannya dari cermin, pilihan bajunya cukup decent kok. Blouse katun berwarna krem dengan celana kulot bahan berwarna coklat polos, dipadukan kerudung berwarna krem, tapi lebih pekat dari warna blouse-nya.


Shelby hanya menghela nafas, tidak membalas perkataan kakaknya lagi.


Shabina memulas lipstik berwarna mauve pink di bibirnya sebagai sentuhan terakhir, lalu mengambil sling bag hitam yang terletak di atas meja rias, bergabung duduk dengan adiknya di atas kasur. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas.


“Udah dimana mereka?” tanya Shelby


“Tiga puluh menit lalu katanya baru selesai ketemu klien, otw kesini … mungkin bentar lagi deh, tempat ketemuan sama kliennya nggak terlalu jauh dari rumah kita”


Jadwal pertemuan mereka lebih cepat satu hari, dari yang sebelumnya hari minggu. Klien Cillian mendadak merubah jadwal, jadi Cillian memberitahukan kalau dia ke Bandung hari Sabtu. Shabina juga Shelby tidak keberatan dengan perubahan jadwal itu, karena hari Sabtu juga kebetulan jadwal mereka kosong. Mereka berencana bertemu siang supaya sekaligus bisa makan siang bersama.


Awalnya Shabina dan Shelby mau bawa mobil sendiri, berencana langsung bertemu di tempat janjian mereka. Tapi kemudian Cillian menawarkan untuk menjemput setelah tahu rumah mereka tidak jauh dari tempat Cillian bertemu kliennya, yang diiyakan oleh Shabina karena rasanya malas menyetir di jalanan saat weekend, macet.


Terdengar suara klakson, kemudian suara dering panggilan masuk dari Cillian. Shabina bangkit dari duduknya sambil mengangkat telfon dari Cillian. “Halo ?”


“Mas Cillian? Udah nyampe?” tanya Shelby pelan.


Shabina mengangguk, lalu menunjuk kearah luar. Adiknya langsung ikut berdiri.


“Halo Na, Aku udah di depan, rumah nomor 10 kan? tadi aku ada klakson …” jawab laki-laki di seberang telfon.


“Iya, aku denger. Bentar kami keluar, pamit nenek dulu”


“Eh, aku turun dulu aja kali ya” sahut Cillian


“Nggak usah Yan, nanti aja kalau mau mampir waktu pulang … ntar lama, takut macet di jalan. Nanti aku bilang nenek”


“Oke …”


Setelah menutup ponselnya, Shabina menuju ruang tengah untuk berpamitan ke neneknya diikuti Shelby. Neneknya sedang menonton saluran kesukaannya di TV, memasak.


Shabina sudah menceritakan pertemuannya dengan Cillian kepada neneknya. Sepertinya neneknya juga cukup senang mendengar kabar itu, ia masih mengingat anak muda penuh sopan santun yang ia jumpai di Switzerland dulu.


“Nek, Na sama El pergi dulu. Cillian udah jemput di depan” Ucap Shabina sambil meraih tangan neneknya lalu mencium punggung tangannya.


Neneknya mencium pipi kiri dan kanan cucunya itu, sebelum berkata “Hati-hati … gak masuk dulu?”


“Tadi Na bilang nanti aja Nek, waktu pulang … takut macet ...”


“Yaudah, hati-hati dijalan … nggak usah ngebut”


“Iyaaa nek” Shelby menyahut kemudian menciumi punggung tangan nenek.


“Kami pergi dulu nek, kalau ada apa-apa telfon Na ya. Bentar lagi katanya Emily nyampe … Assalamu’alaikum” Ucap Shabina lalu menuju pintu depan, diikuti Shelby.


Tadi pagi Shabina memang menelfon adik sepupunya Emily, meminta tolong Emily untuk menemani nenek di rumah. Yang dimintai tolong girang bukan main, Shabina tau Emily memang senang menghabiskan waktu dengan nenek. Hanya menemani nenek nonton sambil memeluk nenek saja sudah membuatnya bahagia. Sifat manjanya mengalahkan balita, padahal sudah kuliah tingkat dua.


Shabina membuka pintu belakang mobil fortuner Cillian, lalu mendapati seorang perempuan duduk di bangku belakang. Shabina kaget, lalu tersenyum melihat perempuan itu.


“Hai … Claire kan?” tanya Shabina sambil tersenyum sumringah.


“Hehe ... iya kak Na, Alhamdulillah kakak masih ingat …” ucap perempuan itu riang.


Perempuan yang dipanggil Claire itu langsung meraih tangan Shabina, berniat mencium punggung tangan perempuan itu, yang sedetik kemudian ditarik lagi oleh Shabina.


“Eh jangan … kok pakai cium tangan segala, aku jadi ngerasa tua banget … haha “ ucap Shabina sambil ganti memeluk Claire.


“Ah iya, hahaha ... “ sahut Claire, lalu melepas pelukan mereka. “Kak Na, duduk di depan aja …” sambung Claire lagi, samar-samar ia terlihat seperti sedang tersenyum penuh makna.


Shelby yang sedari tadi dibelakangnya menyahut, “Ayo kak, buruan … panas nih”


Dasar, adik-adiknya ini, pasti akal-akalan mereka ini. Shabina menghela nafas, kemudian menurut. Shabina bergerak memutari bagian depan mobil, menuju pintu penumpang di depan, lalu membukanya.


“Hi …” ucap Shabina kearah Cillian yang sedang menatap ke arahnya.


“Hello” balas Cillian tersenyum.


Shabina merasakan déjà vu.



Sudah dua puluh menit mereka di dalam mobil. Tujuan mereka adalah pusat perbelanjaan yang jaraknya kurang lebih sejam dari rumah Shabina, rencananya mereka mau makan di café & resto yang ada di sana. Setelah itu? Ia masih belum tahu, mungkin sekedar jalan-jalan mengelilingi mall, mereka tidak membuat rencana detail setelah makan siang. Yah, Shabina mengikut saja, toh Cillian yang mengajak, pikirnya.


Shelby dan Claire asyik mengobrol berdua di belakang. Shabina sibuk menatap ke arah depan, Cillian menyetir dalam diam, sesekali menimbrung percakapan penumpang di belakang. Sebenarnya, mereka bukannya sama sekali tidak mengobrol. Sepuluh menit yang lalu mereka masih mengobrol, sampai keduanya merasa kehilangan bahan obrolan lalu memilih diam dan mendengarkan adik-adik mereka yang mengobrol dengan sedikit heboh.


Shelby tidak diragukan lagi, memang banyak omong, Shabina kadang heran dengan adiknya itu, ada saja topik yang muncul di kepalanya untuk diobrolkan. Sedangkan Claire? Seingatnya dulu Claire cukup pendiam, tapi mungkin bawaan karena ngomong dengan Shelby, Claire jadi penuh gairah saat bercerita.


“Pernah makan disana Na?” ucap Cillian tiba-tiba, memecah lamunan Shabina.


“Hm? dimana?”


“Di café & resto itu, yang mau kita datangi …” ucap Cillian sambil menoleh ke arah Shabina sesaat, sebelum kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke depan.


Yatuhan, tentu saja maksudnya café & resto itu.


“Belum, tapi udah lama aku pengen coba … katanya menu disana dominan makanan Indonesia, dan recommended”


Shabina melihat Cillian mengangguk-angguk dari sudut matanya.


Hening lagi. Diantara mereka tentu saja. Dua penumpang belakang masih tidak ada tanda-tanda akan berhenti mengobrol.


Entah pikiran dari mana, tiba-tiba saja Shabina mengeluarkan suara, bertanya tentang pekerjaan Cillian. Ia cukup takjub dengan dirinya sendiri, well, sebelum-sebelumnya ia tidak pernah tertarik menanyakan masalah pekerjaan orang lain yang belum terlalu dekat dengannya, apalagi laki-laki.


“Kamu gimana di kantor?”


Sial, pertanyaannya tadi terdengar seperti seorang istri yang bertanya pada suami masalah pekerjaannya di kantor. Shabina panik dalam hati, kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa diproses? Setidaknya pemilihan katanya tidak harus seperti itu! Mungkin lebih seperti … ah, pokoknya tidak seperti yang keluar dari mulutnya tadi, protesnya pada diri sendiri dalam hati.


Yang di kursi belakang tiba-tiba berhenti mengobrol. Cillian menoleh ke arah Shabina sesaat sebelum kembali memperhatikan jalan di depannya. Shabina yakin betul Shelby dan Claire pasti sedang melempar pandangan penuh makna kepadanya, ia malas menoleh ke belakang untuk memastikan kebenaran tebakannya. Dan Cillian masih belum menjawab pertanyaannya tadi. Apa pertanyaannya tadi sebegitu anehnya?


Shabina memberanikan dirinya menoleh ke arah Cillian. Laki-laki itu sedang tersenyum menatap jalan di depannya, mungkin lebih tepat disebut sedang menahan senyum. Ya tuhan … Shabina benar-benar malu sekarang. Pasti Cillian berpikir seperti yang ia pikirkan tadi, istri yang sedang menanyakan perkembangan kerja suaminya.


Shabina merasakan pipinya memanas karena malu. Menyesali usahanya mencoba membuka obrolan. Ia menoleh kembali ke depan, berusaha untuk tidak melanjutkan pertanyaannya tadi.


Shelby dan Claire mulai mengobrol kembali. Entah hanya perasaan Shabina saja, tapi suara obrolan mereka tidak terdengar sekuat tadi. Ah, Shabina malas menoleh ke belakang.


Lalu terdengar Cillian kembali bersuara setelah cukup lama jeda dari pertanyaan Shabina tadi. Ternyata dia berniat menjawab.


“Hmmm, kalau kamu tanya gimana … aku baik-baik aja di kantor” jawab Cillian, dari suaranya Shabina yakin ia masih menahan senyumnya. “Yaah, sekarang lagi ada beberapa proyek yang sedang aku pegang, termasuk proyek dengan klien yang aku temui tadi …” sambungnya lagi.


“Huu, pamer banget kamu Mas” celetuk Claire.


“Ya, kan tadi kakak kamu nanya gimana mas di kantor …” jawab Cillian santai, kemudian sejurus kemudian tertawa.


“Oops, kode Anda keras sekali pak!” balas Claire sambil ikut tertawa pelan.


“Jangan gitu dong mas, liat tuh muka kak Na … kasian banget” ucap Shelby dengan nada iba, tapi sejurus kemudian bergabung bersama Claire, ikut tertawa geli.


Cillian menoleh ke arah Shabina, senyumnya masih tersungging di wajah tampannya. Begitu Cillian menoleh ke arahnya, Shabina reflek menoleh ke samping kirinya, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah menahan malu, tentu saja ia tahu itu tidak berhasil. Ia merasa benar-benar konyol sekarang, dan frustasi dengan pipinya yang mudah sekali memerah dan terasa panas.


Cillian berdeham lalu berkata “Sori, sori Na … canda doang … hehe” katanya tak tega melihat Shabina menahan malu seperti itu, sebenarnya tingkah Shabina membuatnya gemas dan ia berencana menggoda perempuan itu lebih lanjut untuk melihat reaksinya, tapi ia urungkan niat mulianya itu, setelah melihat pipi Shabina yang sudah seperti kepiting rebus.


“Eh, ralat, aku gak canda …” sambungnya lagi sambil tersenyum puas, yah, ini bukan niat menggoda, dia cuma mengatakan fakta –yang tertunda?.


Yang di belakang makin terkekeh setelah mendengar kata-kata terakhir Cillian, sedangkan Shabina masih menoleh ke samping kirinya sambil memegangi pipi kanannya yang terasa makin panas. Ia hanya ingin cepat-cepat turun dari mobil ini, menghirup udara segar dan mengembalikan warna pipinya ke warna semula!.


Ia sadar tingkah lakunya yang kadang seperti anak puber saat berhadapan dengan makhluk bernama laki-laki harus segera diubah, kalau tidak mau terlihat konyol dan membenci dirinya sendiri karena bersikap seperti itu. Ia tak suka terlihat lemah, dan tersipu malu adalah kelemahan dalam kamus Shabina. Ia menarik nafasnya pelan, lalu menoleh ke depan. Akhirnya mereka masuk area mall setelah hampir satu jam perjalanan, yang terasa seperti setahun oleh Shabina. Thank God.


***