Bloom

Bloom
Chapter 29 Kemana Dirinya Yang Dulu ?



Kekhawatiran dan kegugupan Shabina sejak semalam berujung sia-sia.


Cillian baru saja menelfonnya, mengatakan lelaki itu tidak bisa ke rumahnya siang ini karena masalah pekerjaan, ia sedang di jalan menuju Jakarta, last minute katanya, juga urgent, jadi ia tidak bisa menghindar. Lelaki itu meminta maaf pada Shabina, karena merasa tak enak, sebab Cillian tahu hari ini mereka akan membicarakan hal penting.


Walau kecewa, ada sedikit rasa lega dalam hatinya, karena tidak harus bercerita hal yang ia benci dengan Cillian, karena sejujurnya ia belum siap. Tapi lagi-lagi, artinya semua ini akan lebih lama selesai.


Oke, lupakan. Tidak ada gunanya juga duduk diam, pusing memikirkan hal ini, ucap Shabina dalam hati. Ia akan menunggu kabar dari Cillian selanjutnya, dan mungkin akan mengatur ulang jadwal mereka untuk berbicara.


Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar menuju dapur.


“Jam berapa mas Cillian datang Kak?” tanya Shelby dari ruang tengah.


“Nggak jadi … ada kerjaan last minute katanya …”


“Di hari minggu ?”


Shabina mengangkat bahunya, “urgent katanya, ini dia lagi jalan ke Jakarta”


Shelby tidak menanggapi lagi, karena kakaknya sudah berjalan ke dapur.


Shabina mengeluarkan puding vanila dari kulkas, yang sengaja ia buat tadi shubuh karena Cillian akan datang siang ini. Sekarang ia akan memakannya sendiri.


Ia memasak air panas untuk membuat kopi, ia merasa butuh kafein, karena badannya tidak bersemangat.


Karena rencananya batal, apa yang harus dilakukannya hari ini?


Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ia melirik layar ponselnya. Anne.


“Halo, Assalamu’alaikum Anne …?”


“Lo? Alo …? Na … lo, Na …” terdengar suara ocehan bayi dari seberang telfon.


“Halooo sayang … Tante Na kangen bangeeet sama Aryan …” ucap Shabina riang karena tahu bayi itu mencoba memanggilnya.


“Aryan mau main ke rumah Tante, tapi Tante hari ini kan ada kencan …” sekarang terdengar suara mamanya Aryan.


Shabina menghela nafasnya dan mencoba untuk tidak memutar bola matanya mendengar kata kencan dari mulut Anne,


“kencan apaan … batal” ucap Shabina datar.


Anne tahu rencana Cillian akan ke rumahnya hari ini. Ia memberitahukan sahabatnya itu kemarin.


“What?”


“Ada kerjaan … dadakan, dia lagi jalan ke Jakarta …” ucap Shabina datar.


“Yang bener aja … di hari minggu begini?”


“Mm-hm” gumam Shabina mengiyakan.


“Jadi hari ini nggak ada rencana apa-apa?” tanya Anne


“Nggak, belum tau … Ah-“


“Yaudah, kami main ke sana ya!” potong Anne sedikit antusias.


Baru saja Shabina berniat menyuruh Anne main ke rumahnya, ia keduluan Anne.


Shabina tersenyum, “Oke … aku tunggu …”


***


Shabina sedang menunggu Anne dan Shelby membayar belanjaan di bangku panjang yang diletakkan di tiap sudut mall. Tiba-tiba Aryan yang tadi terlelap di dalam stroller-nya menangis.


Shabina mengambil Aryan dan menggendongnya, “Oh sayang … kenapa … keganggu tidurnya ya … ssshh” ucapnya pelan sambil menepuk-nepuk pelan paha montok Aryan.


Mereka berempat sedang berada di salah satu mall di kota Bandung. Awalnya mereka hanya berencana main di rumah saja, tapi kemudian Shelby ribut mengeluh bosan. Karena nenek sedang di tempat omnya, jadilah mereka melarikan diri ke mall.


Tidak lama, muncul Anne dan Shelby dengan tangan penuh belanjaan.


“Ya Tuhan … apanya yang lihat-lihat doang …” ucap Shabina terpelongo melihat belanjaan yang mereka bawa.


Anne terkekeh, “Sekalian Na … belanja bulanan”


“Kamu juga belanja bulanan?” tanya Shabina pada adiknya penuh selidik.


“Ih, serem banget nanyanya … ini sebagian belanjaannya kak Anne … aku cuma ... jajan lipstik …” aku Shelby.


“Iya jajan lipstik … seharga dua karung beras sepuluh kilo” celetuk Anne lalu terkekeh.


“Ya Tuhan El …” timpal Shabina.


“Ih kak Anne !” protes Shelby dengan muka cemberut, yakin sebentar lagi ia akan diceramahi kakaknya. Shelby melirik kakaknya ngeri.


“Katanya mau banyakin nabung, ini malah jajan lipstik mahal …” ucap Shabina.


Shabina geleng-geleng kepala, memilih tidak menanggapi adiknya lagi.Anne hanya terkekeh melihat adegan di depannya.


“Mau makan di mana?” tanya Shabina sambil menggendong Aryan. Sekarang stroller bayi itu penuh dengan barang belanjaan mamanya.


“Pengen makan steak …” celetuk Shelby.


“Yaudah kita makan di sana aja, steak-nya enak” ucap Anne sambil menunjuk ke arah restoran khusus steak di pojok kanan mereka.


Mereka sedang menunggu pesanan datang, ketika panggilan dari Cillian masuk.


Sekarang sudah jam tiga sore, Cillian pasti sudah di Jakarta, pikir Shabina.


“Halo, Yan?”


Anne dan Shelby sontak menoleh ke arah Shabina.


“Udah di Jakarta?” tanya Shabina.


“Udah, dari siang tadi udah nyampe, ini baru selesai kerja … kamu di mana? di luar?”


“Iya, bareng Anne, Shelby dan Aryan …”


“Belanja?”


“Mereka berdua iya … aku ngikut doang, sambil jagain Aryan …”


“Sori, Na, rencana hari ini batal …”


“Nggak papa, kan ini di luar kendali kamu juga …”


Anne dan Shelby saling bertukar pandang, membuat Shabina mengangkat sebelah alisnya samar.


“Bentar lagi aku balik ke Bandung, mungkin maghrib nyampe … kalau malam ini kita bicara gimana?” tanya Cillian.


“Mau ke rumah malam ini?”


“Iya …”


“Kamu nggak capek?”


“Nggak, nanti yang nyetir Ray … jadi aku oke aja”


Shabina tidak langsung menjawab. Ia tidak mau Cillian memaksakan diri, apalagi besok hari kerja. Seharian ini ia pasti capek, apalagi bolak balik Jakarta-Bandung, lalu nanti malam mau bicara serius? Nggak, nggak … itu bukan ide yang bagus.


Lalu terdengar Cillian membuka suara lagi.


“Pembicaraan ini penting kan? kalau kita tunda lagi, semakin lama ini selesai … aku nggak mau nunggu keputusan kamu lebih lama lagi Na. Dan aku tau, ini juga beban buat kamu kan, jadi lebih baik segera kita selesaikan …”


Shabina tak menyangka Cillian akan berkata seperti itu, maksudnya, itu persis yang ia rasakan. Entah kenapa kenyataan itu membuatnya sedikit bahagia.


Tapi, membicarakannya malam ini juga, bukan pilihan yang tepat.


“Tapi nggak malam ini Yan, kamu pasti capek, jangan memaksakan diri … minggu depan, dalam minggu depan kita cari waktu lagi … Aku juga mau ini cepat selesai, tapi nggak malam ini”


Cillian terdengar menghela nafas di seberang sana, “Oke, aku ngerti … yaudah, nanti kabari aku lagi …” ucap Cillian sebelum akhirnya memberi salam dan memutus sambungan telfon mereka.


Shabina menatap layar ponselnya diam, lalu sadar dua pasang mata sedang menatapnya, menuntut cerita.


Shabina menghela nafas lalu menggeleng pelan, menyiratkan bahwa ia sedang tidak berselera bercerita maupun membahas telfon tadi.


“Semuanya oke Na …?” tanya Anne.


Shabina mengangguk tanpa bersuara, lalu memilih memotong steak-nya.


Anne dan Shelby pun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut, mereka paham betul karakter Shabina, kalau sudah seperti itu, artinya ‘jangan banyak tanya kalau nggak mau kena cakar’, arti lainnya ‘aku mau sendiri, stay away from me’.


Shabina mengunyah steak-nya pelan, sambil benaknya melakukan monolog yang tak berhujung.


Ia sadar kelemahannya, membuat rumit hal yang harusnya bisa sederhana. Seperti sekarang, padahal semuanya sudah jelas, tinggal ia lakukan saja- berbicara dengan


Cillian, melihat reaksinya, menimbang sematang-matangnya, lalu memberikan Cillian jawaban, walau sebenarnya Shabina sudah tahu jawaban yang akan dia berikan pada lelaki itu, hanya saja ia ingin membuat semua ini terasa ‘pasti’.


Nah, dia sudah tahu urutannya, tapi kenapa semua masih terasa rumit?


Kenapa rasanya ia masih harus mengurai satu per satu benang yang kusut?


Kenapa ia merasa otaknya masih berserabut?


Ia benci ini, benci merasa seperti ini.


Tanpa ia sadari, dadanya lagi-lagi terasa sesak, dan air mata mulai mengaburkan pandangannya. Sial, sejak bertemu Cillian ia benar-benar jadi mudah mengeluarkan air mata.


Ini sama sekali nggak lucu. Kemana dirinya yang dulu?