Bloom

Bloom
Chapter 20 Mas Alan?



Cillian baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ini hari pertamanya di kantor Bandung, tapi Cillian sudah bisa beradaptasi dengan cukup baik. Ya memang sebagian besar karyawan di kantor ini tidak asing bagi Cillian, beberapa dari mereka lumayan sering terlibat proyek bersama dengan Cillian ketika ia di kantor utama dulu. Mungkin karena itu ia tidak terlalu canggung.


Cillian bermaksud menraktir teman-teman di kantor barunya, sebagai syukuran kecil-kecilan untuk pindahan ke kantor barunya.


Awalnya ia ingin mengajak mereka makan di luar besok, tapi kemudian Ray menawarkan ide, yang menurut Cillian cukup brilliant, kenapa ide itu tidak terpikir olehnya?.


“Kenapa nggak pesan ke Shabina aja? Dia punya bisnis makanan kan?”


Itu kalimat usulan Ray tadi siang. Awalnya Cillian hanya diam menatap temannya itu, tak menyangka kadang usulannya berguna. Lalu ia mengangguk dan mengacungkan jempol ke arah Ray, tanda menyetujui idenya tadi.


Rencananya ia akan menelfon Shabina nanti malam, tapi rasanya ia akan menelfon perempuan itu sekarang. Karena pesanannya untuk besok, lebih cepat ia menghubungi Shabina lebih baik kan?


Ia meraih ponselnya, lalu mencari kontak bernama Jane, setelah menemukannya langsung ia tekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.


Tidak diangkat.


Cillian mencoba menelfon untuk kedua kalinya. Tetap tidak diangkat. Panggilannya masuk, artinya ponsel Shabina aktif, tapi ia tidak mengangkatnya. Apa perempuan itu masih kerja? Tapi sudah pukul empat sore.


Cillian memutuskan untuk menelfon Shelby, mungkin saja ia tahu keberadaan kakaknya.


“Halo, Assalamu’alaikum?” ucap Cillian.


“Wa’alaikumussalam Warahmatullah, Mas Cillian? Ada apa Mas?”


“Kamu di mana El?”


“Di rumah nih Mas, kenapa?”


“Shabina sudah pulang?”


“Belum, kak Na belum pulang”


“Tadi Mas telfon Shabina dua kali nggak diangkat, Mas mau buat pesanan untuk orang kantor besok … “


“Buat besok? Baru mau pesan sekarang?”


“Iya El, rencananya yang simpel aja. Makanya mas mau diskusi ke kakak kamu, tapi nggak diangkat”


“Hmm, kayaknya masih di kantor deh mas. Mau aku kasi nomor kak Anne aja?”


“Oh, boleh … thanks ya El”


Setelah mendapat nomor Anne, Cillian langsung menelfon ke nomor itu.


“Halo?” ucap suara dari seberang telfon.


“Hi, Anne … ini Cillian, masih ingat?” tanya Cillian.


“Oh ya ya, ya ampun … ingat dong. Ada apa Yan?”


“Nggak, aku lagi ada meeting di luar kantor, Shabina pasti masih di kantor ... soalnya-“ Anne tidak melanjutkan perkataannya.


“Anne?” panggil Cillian, memastikan sambungan telfon mereka tidak terputus.


“Kalau boleh tahu ada apa Yan? kayaknya urgent …” tanya Anne pelan.


“Ah, hmm … ini aku mau pesan makan siang untuk orang kantor besok … karena mepet banget, jadi aku pikir aku mau diskusi menunya sama Shabina sore ini, tapi udah aku telfon sampai dua kali dia nggak angkat. Jadi aku coba hubungi Shelby, dan dia suruh aku untuk coba hubungi kamu” balas Cillian menjelaskan.


“Oh, aku kira ada apa …” terdengar suara Anne lega, lalu ia melanjutkan, “Hmm, Shabina pasti masih di kantor Yan, karena aku tadi pinjam mobilnya buat meeting, jadi nggak mungkin dia pulang duluan. Emm, kayaknya meeting-ku bakal lanjut sampai malam, soalnya klien kami yang ini detail banget … kalau aku minta tolong kamu jemput Shabina boleh Yan?”


“Maksudnya aku yang jemput Shabina ke kantornya?” tanya Cillian memastikan.


“Iya, terus antar dia balik ke rumah … bisa?”


“Hmm, aku bisa saja An, tapi sepertinya Shabina nggak akan suka ide ini, dia pasti menolak kalau kami hanya berdua di mobil”


“Oh ya, masalah itu … tenang, kalian nggak bakalan berdua kok. Kasian juga Shabina kalau harus nunggu aku sampai malam”


Cillian mengernyitkan dahinya, agak bingung dengan kalimat awal Anne tadi, jadi dia nggak hanya akan menjemput Shabina saja? Ah, sudahlah. Mungkin sebaiknya ia percaya saja dengan Anne. Ia butuh berdiskusi dengan Shabina untuk pesanan besok, dan berdiskusi langsung lebih baik, pikirnya.


“Kamu yakin dia masih di kantor An?” tanya Cillian memastikan.


“Iya, tadi mas Alan bilang Shabina masih di kantor”


Cillian mengernyitkan dahinya untuk yang kedua kalinya, walaupun tentu saja Anne tidak bisa melihatnya, “Mas Alan?” tanya Cillian.


“Iya, mas Alan- Oh, iya, iya mbak sebentar lagi aku kesana!” terdengar suara Anne menyahut panggilan seseorang di seberang telfon. “Yan, aku sudah dipanggil nih, berarti kamu bisa ya tolong jemput Shabina?”


“Oke, no problem” jawab Cillian akhirnya.


Cillian menutup telfonnya. Mas Alan? Jadi Shabina punya teman laki-laki juga? Ia tidak pernah tahu. Memangnya kenapa ia harus tahu? Ah, tidak penting siapapun itu, mungkin saja dia hanya karyawan Shabina. Sekarang ia harus bergegas menuju kantor Shabina, karena hari sudah sore.


Ya Tuhan Cillian, memangnya kamu tahu di mana kantor Shabina? Ia mendengus dalam hati, semua gara-gara si ‘Mas Alan’ itu, bahkan namanya pun terdengar seperti kata sialan, sampai-sampai ia lupa menanyakan alamat kantor Shabina. Sebenarnya ia pernah bertanya di mana kantor Shabina, tapi hanya sekedar bertanya daerahnya saja, tepatnya ia tidak pernah tahu.


Ia kembali membuka ponselnya, mengetikkan sesuatu dengan cepat dan mengirimkannya pada Anne.


🌵🌵🌵🌵🌵


Terimakasih sudah membaca sampai Ch 20 ❤💃


feedback dan saran yang membangun dari pembaca sangat berarti untukku 🙇‍♀️


jangan lupa like, vote dan rate tulisanku kalau kalian suka 🙆‍♀️


Love,


Reeva