Bloom

Bloom
Chapter 21 Kejahilan Anne



“Nah, kalau temanya homey dan rustic, mungkin untuk menunya kita bakal buat sesimpel mungkin, rekomendasi kami ada sandwich, salad bar dan juice bar, lalu untuk beberapa tamu undangan dengan kondisi khusus, kami bisa-“ Anne menghentikan kalimatnya, lalu melirik ponselnya yang tadi bergetar, ada pesan masuk, tapi bukan dari nomor yang tersimpan di kontaknya, ini nomor baru.


Sejak memiliki Aryan, Anne tidak pernah menganggap enteng atau menganggap lalu sms ataupun telfon dari nomor tak dikenal, ia tidak tahu mungkin saja panggilan atau sms itu penting. Kalau memang hanya candaan, ia tidak akan ambil pusing. Tapi kalau sempat itu panggilan atau sms urgent, dan dia telat merespon, ia akan menyesal. Itu yang Anne dan suaminya sepakati bersama.


“Maaf, sebentar” ucap Anne seraya mengangguk pada peserta meeting yang duduk melingkari meja bundar yang tidak terlalu besar.


“Emma, kamu lanjut dulu … bisa kan? mbak mau urus ini sebentar. Ini, jelaskan aja beberapa rekomendasi menu kita untuk tamu dengan kondisi khusus” ucap Anne pada Emma yang duduk di sebelahnya, sambil menunjuk print out rekomendasi menu mereka.


“Bisa mbak, siap” jawab Emma mengangguk.


Anne keluar ruangan, lalu duduk di kursi panjang yang disediakan di depan ruang meeting. Ia membuka sms tadi.


+628216528XXXX


Anne, aku lupa tanya alamat kantornya. Maaf kalau ganggu meeting kamu.


Oh, sepertinya ini Cillian, pikir Anne. Ia lupa menyimpan nomor lelaki itu tadi karena buru-buru kembali ke ruang meeting.


Anne menyimpan nomor Cillian lalu membuka aplikasi whatsapp-nya, ternyata nomor yang Cillian gunakan juga tersambung dengan whatsapp. Ia baru akan membagikan lokasi kantor mereka, lalu masuk pesan lainnya dari Cillian.


+628216528XXXX


Sorry ganggu lagi Anne, Mas Alan tadi siapa? Karyawan kalian?


Anne spontan terkekeh setelah membaca pesan kedua Cillian itu. Ia terdengar seperti sedang cemburu, pikir Anne. Ia masih terkekeh, sambil menekan tombol kirim untuk membagikan lokasi kantor tadi.


Hmmm, aku harus jawab bagaimana ya? langsung beritahu saja mas Alan itu suamiku?


Ia terkekeh lagi, lalu tangannya mengetikkan sesuatu dengan cepat, lalu mengirimnya pada Cillian.


Pintu ruangan terbuka, lalu muncul kepala Emma, “Mbak, masih lama?”


“Oh iya, iya bentar … lima menit lagi aku masuk, udah gimana di dalem?”


“Ada beberapa pertanyaan terkait bahan makanan dan biaya, tadi aku hold ... supaya mbak aja yang jelasin, biar penjelasannya detail”


“Kamu kan udah paham juga Em, jelaskan aja nggak papa … bentar lagi kamu udah harus bisa disuruh meeting sama klien sendiri lho! Lima menit lagi mbak masuk, mau telfon mas Alan bentar ... lanjut dulu aja”


“Oke” ucap Emma sambil mengangguk.


Anne kembali menatap ponselnya, menekan tombol satu lalu tombol panggil.


“Halo, Assalamu’alaikum Mas?”


“Ah, iya ... aku masih lanjut meeting sampai malam … Iya, ini klien lama, dan mereka benar-benar detail. Aryan dibawa pulang sama Shabina dulu kerumahnya ya, ntar Mas jeput kami di rumah Shabina ya Mas … Oh, itu … iya mobil Shabina aku bawa … Na ada yang jemput kok. Iya, nanti aku kabari lagi … Mas pulang malam juga? Oke, gak papa … yaudah, aku balik meeting dulu ya Mas, hati-hati. Assalamu’alaikum.”


Setelah memutus sambungan telfon dengan suaminya, Anne mengetikkan sesuatu lalu mengirimkannya pada Shabina. Ia minta tolong Shabina untuk membawa Aryan pulang duluan, karena meeting-nya lanjut sampai malam.


Anne menutup ponselnya lalu bangkit dan kembali ke ruangan meeting, wajahnya menyunggingkan senyum tipis. Sepertinya bakal ada pertunjukan menarik.


🌵🌵🌵🌵🌵


Terimakasih sudah membaca sampai ch 21 🙆‍♀️❤💃💃💃