Bloom

Bloom
Chapter 01



Shabina merutuki dirinya sendiri di depan kaca, sepasang mata sembab balik menatap dirinya. Tatapannya kosong, tapi kepalanya berserabut sambil tidak henti-henti merutuki dirinya sendiri.


Sial, rutuknya dalam hati sambil terus menatap kosong wajahnya sendiri didepan cermin. “Kenapa mataku harus sebengkak ini, di hari senin pula.” Shabina lebih dari yakin bahwa nenek dan adiknya tentu tidak akan membiarkan ini lewat begitu saja, di momen ia keluar dari kamar ini ia akan langsung dibombardir dengan pertanyaan tiada henti, tentunya dari Shelby adik perempuannya yang cerewet.


Itu tentu saja kalau mereka tahu mata Shabina bengkak, kalau tidak, ia akan selamat dan melenggang keluar rumah dengan santai.


“Kak naaaaa ! ayo sarapan” suara Shelby terdengar memanggilnya dari ruang makan.


Ya, hari ini jadwal Shelby memasak, dan dia akan terus berteriak memanggil kakaknya itu kalau semenit kemudian Shabina tidak membuka pintu kamarnya.


Shabina keluar kamar mengenakan kacamata yang sering dipakainya jika bekerja di depan laptop. Shabina berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengan Shelby, walau Shelby tentu saja sudah gatal ingin bertanya kenapa kakaknya tiba-tiba pakai kacamata pagi-pagi begini, biasanya shabina memakai kacamata saat bekerja di depan laptop atau mungkin saat harus lama melihat ponselnya. Tapi entah kenapa pagi ini ia memutuskan untuk tidak bertanya.


Shelby tidak tahu betapa berterimakasihnya Shabina melihat adiknya yang menahan diri untuk tidak bertanya, walau dalam hati tadi ia sudah was-was karena Shelby berdiri diam menatapnya selama dua menit sebelum kemudian melanjutkan pekerjaannya di dapur.


“Nenek mana El ?” tanya Shabina sambil memasukkan telur rebus ke dalam mulutnya.


“Di teras luar tuh, biasa …” jawab Shelby sambil tidak melepaskan pandangannya dari kotak bekal yang sedang ia siapkan. Ya, ini pukul enam lewat lima belas pagi, sudah jadi kebiasaan nenek duduk di teras menghirup udara segar kota Bandung sambil menyeruput teh tawarnya.


Shabina menyeruput kopi hitamnya yang tinggal seteguk lagi, kemudian mengambil tas bekal yang sudah disiapkan Shelby untuknya. “Thanks, El. Kakak ngantor dulu” ujar Shelby sambil mencubit gemas pipi adiknya.


Shabina pamit dengan nenek, mencium tangan nenek dan tidak lupa mengecup kedua pipi neneknya itu. “Na pergi dulu Nek, kalau ada apa-apa telfon ya” ucap Shabina sebelum ia membuka pintu mobilnya yang terparkir pas di depan teras.


Neneknya tersenyum, “iya, hati-hati nyetirnya itu.”


“Ya, Nek. Assalamu’alaikum.” Sahut Shabina dari dalam mobil.


Shabina memacu mobilnya santai di jalanan kota bandung, jam menunjukkan pukul tujuh pagi dan jalanan sudah lumayan padat.


Walaupun kantor mungilnya itu hanya berjarak dua puluh menit dari rumahnya, tapi Shabina selalu berusaha berangkat lebih awal dan sampai lebih awal dibandingkan karyawan-karyawannya.


Ia membuka kacamatanya dan melirik sekilas ke kaca spion di atas kepalanya, matanya masih kelihatan bengkak. Ia kembali fokus ke jalan, berusaha memikirkan hal lain, memikirkan pekerjaannya.


Shabina melirik jam tangan hitam pemberian ibunya, jam menunjukkan pukul 07.30. Kegiatan di kantor biasanya dimulai pukul 08.00.


Ia membuka pintu mobil dan dilihatnya Anne sedang membuka pintu kantor.


“Assalamu’alaikum !” ucap Shabina sambil menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Anne kaget seperti tersetrum listrik, sontak membuat Shabina terkikik.


“Astaghfirullah Na … kaget aku, suka ya … seneng kamu lihat aku kaget begitu” ujar Anne sambil mengelus-elus dadanya dan melihat Shabina sinis.


Anne memang tidak sadar mobil Shabina sudah terparkir rapi di depan gedung kantor ketika ia datang dengan tergopoh-gopoh sepuluh menit yang lalu.


Hari ini memang jadwal piket Anne, wajar ia was-was sepuluh menit yang lalu, khawatir bos sekaligus sahabatnya itu duluan datang daripada dirinya. Benar saja, Shabina duluan sampai, tapi ia memutuskan menunggu Anne membuka pintu dari dalam mobil.


“Sudah lah Na cekikikannya, kamu membuatku terlihat sangat konyol” ujar Anne pasrah sambil mendorong ke dalam membuka pintu kantor.


Shabina masih menutup mulutnya, tertawa tanpa suara, kemudian berusaha menghentikannya dengan menarik nafas panjang.


Anne menghidupkan lampu semua ruangan dengan cepat. Mulai dari ruang karyawan, dapur kotor, dapur bersih dan ruang preparasi. Sementara Shabina langsung menaiki tangga menuju ruangannya di lantai dua “Aku naik dulu Anne!” sahutnya dari tangga.


“Oke, ladyboss” jawab Anne, Shabina hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya, tak tahan untuk tidak menarik bibirnya keatas membentuk senyum simpul. Itu tanda Anne siap memulai harinya dengan penuh semangat.


Shabina tahu ia bisa percayakan Anne untuk membantunya menjalankan bisnis yang sudah ia bangun dari lima tahun lalu itu. Sahabatnya sejak kuliah itu sudah dianggapnya keluarga, bahkan sebelum Anne menikah tahun lalu ia cukup sering menginap di rumah Shabina, sekedar membicarakan hal-hal konyol diantara mereka.


Tidak lama ia mendengar suara mobil datang, ada orang membuka pintu di bawah, mereka berbicara cukup keras dengan nada gembira menyiratkan penuh energi untuk memulai hari, lalu terdengar boks-boks diturunkan dari bak mobil, “oh bahan-bahan hari ini sudah datang” batinnya.


Tanpa sadar, pikirannya kembali ke saat ia terbangun dini hari tadi sambil tersengal-sengal, berpeluh dengan mata panas dan pipi basah.



Shabina tersentak dari tidurnya, matanya membuka lebar. Matanya terasa panas. Jantungnya masih berdebar agak kencang, nafasnya agak memburu.


Sudah lama sekali ia tidak bermimpi yang membuatnya capek saat terbangun seperti ini, terakhir saat ia SMA dan itu sudah lama sekali. Setelah itu ia beberapa kali mimpi buruk tapi tidak pernah separah ini.


Nafasnya masih tersengal, keringatnya mengalir dari lehernya dan ia benar-benar lemas. Ia sadar selama tidur tadi rupanya ia menangis tersedu-sedu, buktinya matanya kini panas bukan main dan tentunya terasa berat.


Ia tidak akan suka apa yang akan dilihatnya pagi ini di cermin, matanya yang seperti baru ditonjok.


Ia mencoba mengingat mimpi itu lagi, agak samar, adegannya cepat berganti-ganti tapi yang pasti mimpinya itu mirip seperti mimpi yang ia rasakan saat SMA dulu.


Mimpi ketika ayahnya mencoba membunuh Shabina. Malam ini ia memimpikan hal yang sama, padahal sudah lama sekali ia tidak pernah memikirkan ayahnya itu.


Di dalam mimpinya Shabina berlari sekuat tenaganya di antara reruntuhan pilar-pilar besar, sesekali ia menoleh ke belakang sambil terus berlari, memastikan ayahnya jauh di belakangnya.


Dalam mimpi itu ayahnya membawa pisau sambil mengejarnya. Shabina lari seperti orang gila, adrenalinnya memuncak menangkap adanya bahaya. Ya, tidak salah lagi itu mimpi yang sama seperti yang dirasakannya bertahun-tahun yang lalu, bedanya dulu ia terbangun karena suara mamanya. Mamanya memanggilnya berkali-kali dengan nada cemas yang membawanya kembali ke realita, karena ternyata dulu ia mengigau sambil menangis seperti orang gila dan itu membuat mamanya cemas bukan main. Saat itu mamanya hanya bisa memeluk Shabina mencoba untuk menenangkan putri pertamanya itu, walaupun nafas Shabina masih tak beraturan dan peluh membanjiri sekujur tubuhnya.


Mamanya tidak bertanya apa-apa, dan Shabina pun tidak menceritakannya. Shabina merasa tidak apa-apa kalau dirinya yang terluka, tapi ia tidak akan sanggup melihat mamanya terluka karena dia.


Malam ini ia terbangun dengan tersengal-sengal, badannya lemas seperti benar-benar dikejar, tapi ia sendirian di tempat tidur, tidak ada mamanya yang memeluknya seperti bertahun-tahun yang lalu.


Shabina kembali terisak, terisak sejadi-jadinya dalam kamar tidurnya yang gelap dan hanya dihiasi cahaya lampu jalan yang menyelinap masuk dari jendela yang ditutupi gorden. Saat itu ia benar-benar merasa sendirian, dan ia benar-benar merindukan mamanya.


Selama ini mama adalah cinta dalam kehidupannya, ia tidak pernah khawatir apa yang akan terjadi kedepan selama mama ada di sisinya.


Pun ketika semua teman-temannya satu persatu menikah dan bahkan ada yang sudah memiliki anak, ia tidak khawatir, bahkan sedikitpun tidak ada perasaan ingin seperti mereka. Ia menikmati hidupnya selama ini apa adanya.


Sejak SMA ia tahu betul keinginannya, mau jadi wanita seperti apa dia nanti. Mama adalah role model-nya, maka ia tidak pernah ragu sedikitpun untuk memutuskan menjadi wanita mandiri, secara finansial maupun mental.


Kondisi keluarga membuatnya berpikir beribu-ribu kali tentang pernikahan, tidak pernah tergambar jelas di benak dan pikirannya pernikahan yang bahagia itu seperti apa. Menjalani rumah tangga yang indah itu seperti apa. Kondisi keluarganya pula yang membuatnya berpikir konyol tentang konsep pernikahan.


Ia sempat berpikir menikah itu seperti bunuh diri, memasuki kandang macan dengan sukarela.


Tapi Shabina adalah perempuan yang belajar agama, iya tahu menikah adalah ibadah. Tapi hati nuraninya memberontak, akal fikirannya menolak untuk menerima menikah adalah ibadah, karena realita selama 26 tahun kehidupannya ia tidak pernah dipertontonkan konsep menikah adalah ibadah.


Dalam 26 tahun hidupnya, yang ia tahu menikah benar-benar menyiksa mamanya lahir dan batin. Maka ia tidak pernah excited untuk membicarakan pernikahan, walau sejak umur 24 tahun ia tahu ia benar-benar menginginkan anak dan itu membuatnya gila karena tidak mungkin ia memiliki anak tanpa menikah, kan? Oke, mungkin di Luar Negeri hal itu bisa saja terjadi, tapi hey … Shabina adalah muslimah dan ia memegang teguh nilai-nilai islam.


Ia merasa baik-baik saja untuk tetap berpikir seperti itu, menjalani hidupnya dari hari-kehari dengan tenang karena mama ada di sisinya. Tapi semuanya tidak akan pernah sama lagi sejak empat bulan yang lalu. Sejak mamanya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.



Terimakasih sudah mampir dan membaca Chapter 01 Bloom 🤗


Ini karya pertamaku, mohon dukungannya teman-teman 💃💃💃