Bloom

Bloom
Chapter 18 Di Luar Skenario Cillian



Sudah pukul empat sore, mereka baru saja pulang dari belanja beberapa perlengkapan bersih-bersih dan keperluan Cillian juga Ray yang lain.


Shabina dan Claire sedang di dapur, membereskan beberapa bahan makanan yang baru di beli, sedang Shelby, Cillian dan Ray membersihkan ruang tengah yang agak berantakan karena kardus-kardus tadi.


Dari ruang tengah terdengar bunyi dering ponsel, tenyata dari ponsel Cillian. Ia menerima telfon itu lalu memberi salam, mengobrol sebentar, lalu tiba-tiba Cillian berjalan menuju dapur, kemudian menyodorkan ponselnya ke Shabina.


“Apa?” tanya Shabina sambil mengernyitkan dahinya, tangannya yang tadi sedang mencuci buah-buahan di wastafel terhenti.


“Mama. Mau ngomong sama kamu katanya” kata Cillian santai.


“Ha?!” ucap Shabina bingung dengan suara kecil.


“Ngomong aja Kak Na … mama gak bakal gigit calon mantunya kok, hihi” celetuk Claire.


“Yan, ini aku lagi-“ ucap Shabina sambil menunjukkan tangannya. Ucapannya terhenti karena Cillian sudah duluan menempelkan ponselnya ke telinga kiri Shabina.


Shabina terkesiap kaget, tidak nyaman dengan sikap Cillian, ia ingin menghindar, tapi lalu ia mendengar suara mama Cillian dari seberang telfon.


“Shabina?” panggil wanita di seberang telfon.


“Ah, Assalamu’alaikum tante … apa kabar?” ucap Shabina


“Wa’alaikumussalam warahmatullah … Alhamdulillah baik. Kamu gimana?” tanya wanita itu lagi ramah.


“Alhamdulillah baik juga tante …”


“Tante dengar kalian lagi di apartemen Cillian? Sudah selesai beres-beresnya?”


“Udah tante … ini baru pulang belanja tadi, jadi beres-beres sedikit …”


“Wah, enak sekali itu Cillian ... banyak cewek-cewek yang bantuin.” ucap wanita itu sambil tertawa pelan dari seberang telfon.


“Iya tante, kami bantu-bantu dikit di dapur …” jawab Shabina sambil tersenyum.


“Shabina” panggil wanita itu ramah.


“Ya tante?”


“Tante sudah dengar tentang mama kamu dari Cillian, tante dan om turut sedih … kamu yang kuat ya, tante tahu kamu dekat banget sama mama kan …”


Hening sesaat.


“Iya Tante, terima kasih … Insya Allah tante… ” jawab Shabina sambil tersenyum


“Kalau kamu butuh teman mengobrol … kamu boleh telfon tante ya, tante juga sepi banget di rumah nih, Cillian udah di Bandung, Claire juga bentar lagi nyusul kuliah di sana … tinggal om dan tante deh di rumah … kalau om kerja tante jadi sendirian aja di rumah …”


Shabina tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. Ah, ia jadi teringat mamanya “Iya tante, tante juga kalau kesepian boleh kok telfon Na … ”


Cillian yang dari tadi memegangi telfon hanya memandangi perempuan di depannya berbicara, lalu ia menyadari mata perempuan itu berkaca-kaca. Menyadari dirinya dipandangi, Shabina mendongak melihat Cillian sambil mengangkat kedua alisnya, tapi Cillian hanya menggeleng dan tersenyum sebagai jawaban.


“Wah, kalau gitu kapan-kapan tante telfon kamu ya ... Oh Na, Cillian juga sudah cerita tentang rencananya, niatannya … Tante harap semuanya berjalan ke arah yang baik ya sayang … tante hanya doakan yang terbaik untuk kalian berdua, kalau memang jodoh, Insya Allah ada saja jalannya … Shabina tahu kan?”


Shabina tak langsung menjawab, agak tak menyangka kalimat itu keluar dari mama Cillian.


“Iya Tante … kalau Allah izinkan …. Na tahu, tante … tapi Na masih perlu waktu untuk berpikir …” ucap Shabina pelan.


“Iya, tante paham … gak papa, ambil waktu yang cukup, dan apapun nanti keputusannya tante ikhlas, Ian juga pasti ikhlas … udah dulu ya sayang, Om kayaknya baru nyampe rumah … nanti tante telfon lagi ya … Assalamu’alaikum”


“Iya tante … Wa’alaikumussalam warahmatullah”


“Udah?” tanya Cillian.


Shabina mengangguk.


Cillian melihat layar ponselnya, panggilannya sudah ditutup.


“Mama ngomong apa?” tanya Cillian


Cillian tidak membalas apa-apa.


“Kamu udah ngomong tentang niatan kamu ke om dan tante?” lanjut Shabina lagi.


“Udah…”


Hening sesaat.


“Kenapa Na? Mama ngomong yang aneh-aneh?” tanya Cillian lagi.


“Nggak, nggak … tante Cuma bilang-, ah nggak papa …” Shabina memilih tidak melanjutkan kalimatnya.


“Terus kenapa kamu kayak mau nangis gitu?” tanya Cillian pelan.


Shabina mendongak ke arah Cillian. Claire yang dari tadi diam menoleh ke arah Shabina, memastikan apa yang masnya katakan barusan, lalu melangkah ke arah ruang tengah, memberikan ruang untuk mereka berbicara berdua.


Shabina menggeleng, “Nggak, cuma tadi tante bilang … aku boleh nelfon beliau kalau pengen ngobrol …” jawab Shabina sambil tersenyum kecil.


Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba matanya terasa kabur, ternyata air matanya mulai menggenang.


Menyadari hal itu Cillian terdiam sesaat, lalu berkata dengan hati-hati “Are you okay Na …?”


Shabina mengangguk, lalu menunduk, air matanya mengalir pelan sebelum sempat ia tahan. Ia menyeka pipinya pelan dengan punggung tangannya. Menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya pelan.


Ia tertawa pelan, “Aku cuma … tiba-tiba ingat mamaku …” dadanya terasa sedikit sesak setelah mengatakan itu.


Shabina sadar, kalau ia tidak mengontrol diri, bisa-bisa ia menangis tersedu-sedu sambil berdiri di depan Cillian, dan itu sama sekali tidak lucu. Ia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada siapapun, tidak sekarang, tidak di depan Cillian !


Laki-laki di depannya hanya diam, menatap Shabina dengan tatapan sedikit bersalah seolah ia yang membuat Shabina menangis.


Shabina menghela nafasnya lagi untuk yang kedua kalinya. Lalu mengangkat kepalanya, “I’m okay now”


Cillian hanya terdiam, lalu mengangguk pelan.



Malam itu Cillian di kamarnya, tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi sore- memikirkan perempuan yang berusaha mati-matian menahan tangisnya di depan Cillian, setidaknya itu yang terlihat oleh Cillian.


Saat ini dia sendiri di apartemennya. Ia baru saja kembali dari Jakarta, mengantar pulang Claire. Sudah pukul satu pagi, badannya sebenarnya lelah, tapi pikirannya tidak ingin diajak tidur.


Shabina perempuan yang kuat, Cillian tahu itu, dan Cillian mengakuinya. Jadi ketika ia melihat Shabina seperti saat tadi sore, menahan dirinya untuk tidak menangis, entah kenapa itu membuat hati Cillian sangat sakit. Ingin sekali rasanya ia menenangkan perempuan itu, naluri melindungi dalam dirinya bergejolak.


Ia benar-benar sudah jatuh hati pada Shabina, melebihi bayangannya. Ini tidak ada di skenarionya, ia memang berniat menikah dengan Shabina, tapi awal-awal dulu ia hanya tertarik pada perempuan itu, hanya itu, dan berencana menyulam cinta bersama ketika sudah menikah. Ini benar-benar di luar skenarionya. Jika ini semua tidak berjalan ke arah yang baik, entahlah, ia tidak yakin akan bisa seikhlas dulu -saat ia belum jatuh hati pada perempuan itu.


Melihat keseharian Shabina, Cillian hanya tak menyangka Shabina akan bersikap seperti itu jika menyangkut almarhumah mamanya. Benar-benar terlihat sedih. Jadi, selama ini dia menyimpan kesedihan itu semua? Melihat bagaimana ia bereaksi tadi, mati-matian menahan diri untuk tidak menangis.


Cillian terkesiap dengan pikirannya sendiri. Shabina pandai menyembunyikan perasaannya. Pandai berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.


🌵🌵🌵🌵🌵



karena aku nggak pinter gambar, jadi nyari layout apartemennya Cillian di pinterest 😂. Thank God, aku menemukan yang mirip... setidaknya kira2 beginilah vibe dari unit Cillian ya, walau unit Cillian yg sebenarnya lebih luas dari gambar ini. Tapi layoutnya kira2 seperti ini 😆



daaan... Taraaa... inilah penampakan dapur Cillian 💃 di meja bar itu Cillian duduk menikmati meat pie buatan Shabina 🙈😋 (again, from pinterest)


🌴🌴🌴🌴🌴


If you enjoyed this writing, pls hit ❤ button, comment (I love to read all your comment -khususnya komen saran yg membangun 🙇‍♀️), vote dan rate 💃


Love,


Reeva