Bloom

Bloom
Chapter 12



Shabina sedang memasak di dapur sedangkan Shelby dan Claire merapikan dan menyususun piring di meja makan. Untuk malam ini ia memasak cukup simpel, karena di rumah juga cukup ramai, ada lima orang, jadi ia tidak mau memasak terlalu ribet dengan porsi yang banyak. Ia memasak sayur asem, sambal belacan, tempe goreng tepung, ayam goreng bumbu, dan ikan asin.


Ya, mungkin kelihatannya tidak sesimpel itu, karena cukup banyak menu di sana. Tapi sebenarnya Shabina hanya memasak sayur dan menggoreng tempe juga ayam. Untuk sayur asem ia bisa memasaknya sambil menutup mata, sangking seringnya ia memasak menu itu. Untuk ikan asin memang sudah ada dan sambal belacan tinggal dikeluarkan dari kulkas.


Awalnya Claire menempel dengan Shabina di dapur, memperhatikan bagaimana Shabina memasak. Tapi kemudian ia ditarik paksa Shelby untuk ikut membantu menyusun piring makan.


Shabina sedang menuangkan sayur asem ketika samar terdengar suara orang memberi salam di pintu depan.


“El, itu Cillian udah balik ... tolong bukain pintu depan” ucap Shabina sambil menuangkan kuah sayur asem tadi ke dalam piring.


“Gak mau kakak aja yang buka? Mas Cillian pasti seneng” goda Shelby.


Shabina memelototi adiknya untuk sepersekian detik. “Tanganku penuh” ucap Shabina sambil menunjuk yang dikerjakannya dengan dagu.


“Aku juga nih, Claire tolong bukain dong …” ucap Shelby yang sedang menyusun ayam dan tempe ke piring.


“Kamu aja El, itu biar Claire yang susun … pintu depan agak susah dibukanya …” ucap Shabina lagi.


“Na! itu Cillian di depan, tolong bukakan pintunya” terdengar suara nenek dari ruang tengah.


“Tuh kak buruan, kasian mas Cillian kelamaan nunggu … udah kelar juga nuang kuahnya tuh” ucap Shelby sambil tersenyum licik.


Shabina mendengus kesal, lalu berlari kecil menuju pintu depan.


Cillian baru kembali dari Salat Isya dari masjid di dekat rumah, sebenarnya dia sudah keluar dari waktu maghrib tadi -katanya mau nunggu di masjid sampai Isya.


Awalnya Shabina menaruh curiga pada lelaki itu, ia tak menyangka Cillian tipe yang salat berjama’ah di masjid -karena Cillian tidak terlihat seperti itu, maksud Shabina, Cillian biasa saja, tidak kelihatan alim-alimnya. Shabina curiga Cillian hanya mau membuat imej lelaki Shaleh saja, jadi dia memutuskan bertanya pada Claire. Ternyata ia salah. Claire mengatakan masnya itu memang sehari-harinya salat di masjid, masnya terbiasa karena memang papa mereka terbiasa membawa anak lelakinya salat ke masjid dari kecil.


Oke, setelah mengetahui fakta itu, sekarang Cillian terlihat makin mempesona di mata Shabina.


“Iya! Bentar-bentar!” ucap Shabina ketika melihat Cillian sudah berdiri tak sabar di depan pintu masuk sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Pintu depan rumah mereka dilengkapi dengan pintu berteralis dan berjaring, jadi Shabina bisa melihat jelas Cillian.


“Assalamu ‘alaikum …” ucap Cillian.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah …” jawab Shabina sambil memutar kunci.


“Rasanya kok kayak-“


“Shut up” potong Shabina.


“Okay … galak amat” balas Cillian sambil terkekeh.


Shabina tahu tadi Cillian mau bilang apa, rasanya kayak dibukain pintu sama istri, right? Well, mungkin kata-katanya tidak persis sama, tapi Shabina yakin maksudnya persis sama!. Dan kenapa pula pintu ini nggak mau kebuka?.


“Gak bisa?” tanya Cillian setelah melihat Shabina bolak-balik memutar kunci.


“Ngulah lagi nih, memang agak susah … tapi biasanya gak kayak gini ...”


“Kamu gak sengaja supaya aku gak bisa masuk kan Na?”


“Ya nggak lah! ... Yaa Tuhaan ini pintu …” geram Shabina.


Cillian hanya tersenyum melihat perempuan di depannya frustasi karena masalah pintu.


Shabina mulai tidak sabar dan memutuskan untuk memanggil bantuan Shelby, kadang-kadang pintu ini cuma mau nurut dengan Shelby.


“Eeeel! pintunya gak mau kebukaaa!” teriak Shabina.


“Coba pelan-pelan Na, tarik dulu pintunya ke dalam coba, baru putar kuncinya” ucap Cillian lagi.


Shabina menurut.


“Aaaah! akhirnya …” ucap Shabina sambil menarik membuka pintu.


“Loh? Udah?” tanya Shelby yang baru sampai dari dapur.


Shabina melengos panjang, “udah … tadi nyangkut kayaknya, jadi harus ditarik ke dalem dulu …”


“Kakak kamu tadi grogi banget mutar kuncinya makanya gagal, terus mas suruh pelan-pelan … eh bisa” ucap Cillian santai sambil menutup kembali pintu tadi.


Shelby terkekeh lalu putar badan kembali ke dapur. Shabina hanya menggeleng pelan, mulai terbiasa dengan mulut jahil Cillian.


“Wangi banget …” ucap Cillian sambil mengekor Shabina masuk ke dalam rumah.


“Iya baru selesai masak …”


“Iya”


“Lucky me …” ucap Cillian yang berjalan ke ruang tengah bergabung bersama nenek dengan senyum bahagia tersungging di bibirnya.


Shabina menoleh ke arah Cillian, mengernyitkan dahinya. Sekarang gelagatnya sudah benar-benar seperti simulasi kehidupan pernikahan, pikir Shabina, dan Cillian tampak sangat menikmati itu semua.


Hhh, Shabina melengos pasrah. Cillian tampaknya sudah benar-benar yakin dengan semua ini, sekarang tinggal Shabina. Tinggal Shabina yang memutuskan mau bagaimana.


Shabina kembali ke dapur. Merapikan dapur, lalu menyuruh Shelby dan Claire menyusun lauk-pauk yang dimasaknya ke meja. Ia sedang menyendok nasi dari ricecooker ke piring nasi yang lebih besar ketika Cillian menghampirinya.


“Biar aku” ucap Cillian


Ia melirik Cillian sekilas, lelaki itu tampak bersungguh-sungguh –menawarkan diri menyendok nasi. Shabina memberikan centong dan bakul nasi ke Cillian, membiarkan Cillian melanjutkan pekerjaannya. Lalu berdiri menunggu di samping Cillian, tentu saja dengan jarak kurang lebih satu meter.


“Tinggal ini aja kan?” tanya Cillian.


Shabina mengangguk


“Yaudah tunggu di meja aja, biar aku yang bawa”


“Bareng aja …”


Cillian tersenyum mendengar jawaban perempuan itu, ia sadar tidak ada makna berarti dari ucapan perempuan itu, tapi tetap saja itu membuatnya sedikit senang.


Shabina menyadari Cillian sedang tersenyum sambil tetap melanjutkan menyendok nasi dari ricecooker, lalu menghela nafas “Aku cuma gak mau nenek ngomel kalau tahu kamu -tamu yang nginep bawa-bawa bakul nasi sendiri”


Cillian mengangguk-angguk sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.


“Cukup?” tanya Cillian sambil menunjuk bakul nasi dengan daguya.


“Cukup, yuk”


Shelby, Claire dan nenek sudah duduk di meja makan. Melihat Cillian dan Shabina mengobrol di dapur dari meja makan.


“Gimana Nek?” tanya Shelby sambil mengarahkan kepalanya ke arah dapur.


Nenek tersenyum, “Nenek terserah gimana kakakmu saja … kan dia yang menjalani ...”


“Iyaaa Nenek … tapi menurut Nenek mas Cillian cocok gak buat kak Na?” tanya Shelby dengan suara pelan.


Claire hanya memperhatikan, ikut cemas apa masnya bakalan memenangkan hati nenek, mungkin tidak terlalu penting -karena yang terpenting adalah memenangkan hati kak Na, tapi tetap saja … kalau nenek juga senang dengan masnya itu, jalannya tidak akan terlalu berliku, teman!. Jujur saja ia ingin sekali Shabina jadi kakak iparnya.


Nenek tersenyum lalu mengangguk pelan. Membuat dua perempuan di depannya juga menyunggingkan senyum lega dengan mata berbinar.


Sudah lama sekali sejak meja makan mereka tak berhenti dipenuhi tawa, dari awal makan malam sampai selesai, ada saja celetukan-celetukan salah satu dari mereka yang membuat tertawa sisanya. Sudah lama Shabina tidak melihat neneknya tidak berhenti tersenyum, sesekali tertawa pelan, bahkan sampai tertawa geli. Makan malam mereka memang cukup sederhana, jauh dari kesan mewah, tapi Shabina merasakan kehangatan di sana.


Shabina tidak pernah menyangka akan ada laki-laki -bukan keluarga- yang bergabung di meja makan mereka. Lebih tidak menyangka laki-laki itu adalah Cillian, lelaki yang mereka temui di Switzerland dua tahun lalu. Dan menyadari bahwa malam ini semua itu terjadi begitu saja, membuat Shabina bertanya dalam hati, apa memang Cillian adalah masa depannya, takdir yang Allah gariskan untuknya?. Tapi dia takut, takut mencoba dan akhirnya merasa sakit hati.


“Gimana masakannya Shabina … ?” tanya nenek pada Cillian yang sedang meraih tempe gorengnya yang ke-enam.


“Enak nek … nagih, saya bisa makan sayur asem tambah tempe begini tiap hari …”


“Lebay banget Yan … ntar dua hari juga bosen …”celetuk Shabina


“Aku orangnya gak cepet bosenan Na … “ balas Cillian santai dengan nada jahil khasnya, lalu memasukkan tempe ke dalam mulutnya.


Shelby terkekeh sambil mengacungkan jempol ke arah Cillian.


“Mas Ian memang gitu Kak … kalau udah suka satu makanan, ntar bisa seminggu itu aja yang dimakan. Dulu pernah mama bikin pecel sayur, saking sukanya, selama seminggu minta makan malamnya itu terus” ucap Claire.


“Serius?” tanya Shabina sambil menoleh ke arah Cillian, yang dibalas anggukan oleh laki-laki itu.


“Lidah kamu Indonesia banget ya? Sukanya sayur asem dan pecel?” ucap Shabina


“Bagus dong! Beruntung banget Mas, Kak Na itu jago masak masakan Indonesia lho ... ya kan Nek?” celetuk Shelby. Nenek mengangguk mengiyakan perkataan Shelby.


“Iya Na? Hmm … memang aku gak salah pilih …” ucap Cillian masih dengan nada jahilnya sambil tersenyum kecil ke arah Shabina.


Yang lain terkekeh, kecuali Shabina. Ia hanya menghela nafas sambil menggeleng pelan, mencoba untuk tidak tersenyum mendengar perkataan laki-laki di depannya. Shabina benar-benar mulai terbiasa dengan mulut jahil Cillian. Dan yang ia syukuri dari itu adalah pipinya yang tidak sereaktif dulu lagi.


Malam itu, selesai makan malam, mereka santai duduk menonton TV di ruang tengah sambil menikmati teh hangat buatan Shabina, sambil sesekali mengobrol ringan. Cillian tidak sekalipun menyinggung masalah pernikahan di depan nenek, walaupun Shabina yakin neneknya pasti sedikit banyak sudah tahu dan mencium keseriusan Cillian dari gelagatnya.


Tidak lama setelah nenek masuk ke kamarnya untuk tidur, mereka berempat pun memutuskan untuk beristirahat.


***