Bloom

Bloom
Chapter 24 Simulasi Mengasuh Anak



Tidak lama mereka sampai di depan masjid. Cillian memarkirkan mobilnya rapi, lalu bertanya pada Shabina, “kita gantian aja salatnya ya? aku dulu, selesai itu kamu.”


Cillian berkata seperti itu karena mereka membawa Aryan.


Shabina menggeleng pelan, “Aku nggak papa …” ucap Shabina pelan.


“Maksud-“ Cillian tidak melanjutkan pertanyaannya.


Hampir saja ia terlihat bodoh, seperti bocah ingusan yang belum puber, kalau saja ia tidak menangkap maksud ucapan Shabina tadi. Syukurlah ia paham. Tapi sepertinya lagi-lagi ia membuat Shabina malu.


“Oh oke, dikunci pintunya dari dalam ya Na …” ucap Cillian sebelum membuka pintu kemudinya.


“Iya …” jawab Shabina.


Setelah Cillian keluar mobil dan mengunci pintu mobil seperti yang diminta Cillian tadi,


Shabina meraih tas kerja yang diletakkannya di dekat kakinya, ia merogoh ke dalam tas mencari ponselnya, sambil benaknya mengulang-ulang kata “malu”.


Ya tuhan, hari ini lengkap sudah rasa malunya, tidak hanya sekali, tapi dua kali ia malu pada Cillian. Sebenarnya mereka sudah sama-sama dewasa, itu bukan hal yang aneh juga, tapi tetap saja, seorang laki-laki mengetahui dirinya sedang datang bulan bukan hal yang membuatnya nyaman.


Ia menemukan ponselnya, dan mengeluarkannya dari tas. Ada empat panggilan tak terjawab dan dua pesan Whatsapp. Ah, ia lupa mengganti mode deringnya, ponselnya masih dalam mode silent, pantas saja ia tidak mendengar panggilan masuk.


Ia mengecek panggilan masuk, dua panggilan tak terjawab dari Cillian, dan dua dari Shelby.


Sepertinya ia harus menelfon Shelby karena pulang telat, adiknya itu pasti khawatir.


Kemudian Shabina mengecek Whatsapp-nya, ada chat masuk dari Anne dan Shelby. Anne meminta tolong untuk membawa Aryan pulang karena masih lanjut meeting. Shabina mengetik balasannya, mengatakan mereka sudah di jalan pulang. Lalu ia mengecek chat masuk dari adiknya.


“Kak, kok telfonnya nggak diangkat? Udah mau maghrib, ada meeting ya? tadi Mas Cillian nelfon, katanya Kak Na nggak angkat telfon.”


Shabina mulai mengetik balasannya menggunakan tangan kanan, sedang tangan kirinya menepuk-nepuk paha Aryan di pangkuannya.


“Maaf, tadi ponselnya silent mode, dan kakak ketiduran di kantor … ini di jalan pulang, sama Mas Cillian dan Aryan”


Tidak lama langsung masuk chat balasan dari adiknya itu.


“Haaah. Kok bisa bareng Mas Cillian dan Aryaaan?”


“Panjang ceritanya” ketik Shabina datar.


Selesai mengirim balasannya, Shabina mengembalikan ponselnya ke tempat semula.


Ia mengedarkan pandangannya keluar kaca mobil, beberapa jama’ah mulai keluar dari pintu masjid.


Aryan mulai rewel, sepertinya lapar. Wajar, ia terakhir minum susu sepertinya tiga jam yang lalu. Shabina menoleh ke kursi belakang, sepertinya ia harus turun untuk mengambil tas perlengkapan bayi Aryan.


Lalu tiba-tiba terdengar ketukan pada kaca mobil, membuat Shabina terperanjat.


Ternyata Cillian sudah selesai Shalat dan berdiri di depan pintu kemudi mobil. Shabina meraih tombol pengunci di pintu mobil dan menekannya.


“Kaget ya?” tanya Cillian tersenyum, setelah duduk di kursi kemudi.


“Keliatan ya?” tanya Shabina balik sambil tertawa pelan.


“Iya, kacanya memang agak gelap, tapi karena lampu-lampu masjidnya terang jadi keliatan ke dalam”


Aryan tiba-tiba semakin rewel, ia menggeliat tak sabar di pangkuan Shabina.


“Yan, pegang Aryan dulu … kayaknya lapar, biar aku bikin susunya”


Cillian mengangguk, lalu mengambil Aryan dari pangkuan Shabina.


Shabina keluar dari mobil, naik ke kursi penumpang belakang, berniat membuat susu Aryan.


“Aku bikin susunya di sini gak papa kan?” tanya Shabina sebelum mengeluarkan botol susu dari tas.


“Ya gak papa lah Na …”


Aryan semakin rewel, wajahnya memerah karena menangis.


“Sebentar ya sayang ya … tante bikinin susu yang baru dulu …” ucap Shabina sambil tetap melakukan perkerjaannya, membuat susu Aryan.


Cillian tersenyum menyadari situasinya saat ini, mereka seperti sedang simulasi mengasuh anak.


“Eh, Na … itu susu formula?”


“Iya …”


“Oh …” balas Cillian datar, mendengar jawaban Shabina sepertinya lebih baik ia tidak meneruskan membahasnya. Ia yakin pasti ada alasannya, mengingat Aryan baru sepuluh bulan, harusnya, ya sebaiknya ASI eksklusif, paling tidak dua tahun. Setidaknya ia tahu itu. Tapi ia tidak ingin men-judge, karena pasti ada alasan yang bagus di balik itu.


“Na, lompat aja … ribet banget turun-turun” ucap Cillian sedikit tersenyum, ia berniat sedikit menggoda -ingin melihat reaksi Shabina.


Shabina diam sesaat, tampak mempertimbangkan ucapan Cillian, tapi tangan kirinya sudah bersiap ingin membuka pintu mobil.


Shabina melirik Cillian sekilas, lalu sadar lelaki itu menyunggingkan senyum tipis nan jahil, khas dirinya. Ia mendengus kesal,


“nggak mau ah!” cetusnya sambil membuka pintu mobil.


Cillian hanya terkekeh melihat reaksi Shabina.


“Ayo sayang, minum susu dulu yuk …” ucap Shabina pada Aryan, sekarang ia sudah duduk di tempatnya semula.


Cillian memberikan Aryan pada Shabina, memasang sabuk pengaman lalu melajukan mobilnya.


“Na, sabuk pengamannya …” ucap Cillian pada Shabina setelah menoleh sekilas ke arah perempuan itu.


“Ah, iya … “ Shabina memasang sabung pengamannya sambil tetap memegang botol susu Aryan. “Pelan-pelan ya Yan, takut kesedak dianya …” ucap Shabina lagi.


“Iya … “ ucap Cillian pelan.


“Na … aku berasa kayak sedang simulasi keluarga deh … simulasi ngasuh anak” sambungnya lagi sambil tetap fokus memandang jalan di depannya.


Shabina menoleh ke kanan, melirik lelaki itu sekilas, lalu kembali menatap Aryan.


“Mulai deh …” ucap Shabina datar.


Cillian terkekeh medengar suara datar Shabina. Reaksi perempuan itu persis dugaannya. Kalau awal-awal dulu wajah Shabina bakal memerah karena malu, tapi sekarang ia sepertinya mulai terbiasa dengan candaan Cillian.


Di mobil mereka berdiskusi tentang menu pesanan Cillian untuk besok, dan Shabina menawarkan sandwich, karena simpel dan bahan-bahannya pasti sudah ada di pantry karena butuhnya mepet. Awalnya Cillian ragu, karena sandwich ini untuk makan siang, tapi setelah Shabina menjelaskan bahan-bahannya, sepertinya itu bukan sandwich biasa, dan benar, itu pilihan yang cukup bagus untuk dimakan di kantor.


“Kalau kamu mau aku bisa siapkan coffee break juga …” ucap Shabina.


“Oh ya? kalian bisa menyediakan itu?”


“Bisa dong, asal ada space-nya …”


“Wah, ide bagus … boleh juga Na”


“Iya? tambah coffee break berarti?”


“Yap, tapi kamu gak repot kan?”


“Nggak lah … aku kan punya karyawan …” ucap Shabina sambil melepas botol susu yang sudah kosong dari mulut mungil Aryan, sekarang bayi itu sudah terlelap dalam pangkuan Shabina.


Cillian mengangguk-angguk paham sambil tersenyum.


“Kamu singgah makan aja dulu, Yan? Tadi cuma makan kurma …” tanya Shabina, setelah mereka memasuki jalan menuju rumah Shabina.


Cillian tampak berpikir, tidak enak sebenarnya menumpang makan tanpa direncanakan seperti ini, apalagi malam-malam begini. Tapi ia memang lapar, dan ke apartemennya butuh waktu sekitar tiga puluh menit. Sepertinya ia akan menerima tawaran Shabina.


“Boleh …” ucap Cillian sambil mengangguk.


“Nggak repotin kalian kan?” tanyanya lagi.


“Nggak lah, aku yang repotin kamu Yan … udah nganterin aku pulang” ucap Shabina sambil meraih ponsel di dalam tasnya, lalu mencari kontak Shelby, menekan tombol panggil, dan menempelkan ponselnya di telinga kanan.


“Halo? El? kakak udah mau nyampe … Iya, sama Mas Cillian dan Aryan. Eh, di rumah masih ada lauk kan? Mas Cillian mau mampir, dia puasa hari ini, jadi kakak tawarin makan di rumah dulu …”


Cillian menyunggingkan senyum tipis mendengar panggilan ‘mas’ Shabina untuknya, walau ia sadar -itu hanya karena perempuan itu sedang berbicara dengan Shelby. Tapi itu cukup membuatnya senang.


“Oke, sip … yaudah dulu ya …” ucap Shabina lalu menutup telfonnya.


“Wah, Alhamdulillah … rezeki kamu Yan, nenek tadi masak rendang Aceh ternyata …” kata Shabina lagi sambil tertawa pelan.


“Oh ya? kali ini aku beruntung bisa cicip masakan nenek dong …”


Shabina mengangguk sambil tersenyum.


Shabina menyadari perubahan dalam dirinya, ia mulai terbiasa dengan sosok Cillian, itu faktanya. Bahkan percakapan dengan laki-laki itupun sudah mengalir begitu saja, tanpa ada canggung yang dirasa Shabina. Sangat berbeda dari awal pertemuan mereka kembali.


Apa ini sinyal positif? Apa artinya pintu pernikahan mulai terbuka untuknya? Apa berarti traumanya sudah berkurang? Bahkan hilang?


Tapi sebelum lebih jauh, ada yang perlu Shabina jelaskan pada Cillian. Tentangnya, tentang keluarganya.


Ia tidak ingin melangkah terlalu jauh, lalu merasa sakit, karena Cillian tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Sebelum itu semua terjadi, sebaiknya ia ceritakan apa yang perlu diketahui lelaki itu.