Bloom

Bloom
Chapter 30 What Come First ? Cinta atau Sayang ?



Malam itu hujan deras mengguyur Bandung. Udara Bandung yang sudah dingin menjadi berkali-kali lipat dinginnya.


Shabina menarik selimutnya sampai menutupi leher. Nyaman.


Suara deras hujan yang jatuh menghantam atap rumahnya menciptakan irama tersendiri, semacam hipnotis, pikir Shabina.


Sudah pukul dua dini hari, lampu kamarnya sudah ia matikan, Shabina hanya mengandalkan cahaya lampu jalan di luar untuk menerangi kamarnya.


Ia tidak bisa tidur, padahal ia sudah naik ke atas kasur sejak pukul 23.00 tadi.


Ntah sudah berapa kali ia membolak-balikkan badannya, berganti dari posisi menghadap kanan, terlentang, lalu menghadap kiri, begitu terus sampai ia mulai merasa frustasi dengan dirinya sendiri.


Ia mulai tergoda untuk meraih ponselnya dan berniat menjelajah jagat media sosial, tapi sedetik kemudian mengurungkan niatnya itu.


Tidak, tidak. Besok ia harus ke kantor lebih pagi dari biasanya, kalau ia membuka ponselnya sekarang, sudah bisa dijamin dia tidak akan bisa tidur sampai besok pagi.


Ia menggerutu dalam hati, kemudian tiba-tiba kepalanya membayangkan sesuatu.


Kepalanya memunculkan wajah Cillian tanpa seizin Shabina. Yang sejurus kemudian coba ia tepis dengan memejamkan matanya kuat-kuat.


Ia kira usahanya itu akan berhasil, nyatanya tidak. Bermacam ekspresi wajah Cillian silih berganti terbayang di kepalanya.


Ya Tuhan. Kau benar-benar gila Shabina, rutuknya dalam hati. Ia beristighfar, merasa malu karena membayangkan wajah lelaki yang belum halal untuknya.


Bahaya, ini bahaya … benar-benar bahaya, ucapnya dalam hati. Ia harus segera menyelesaikannya.


Ia tahu, dan ia sadar betul, ia mulai terbiasa dengan sosok lelaki itu. ia tidak tahu ntah sejak kapan ia merasa begitu.


Dan lagi, kali ini ia tidak akan menyangkal, dan tidak akan membohongi dirinya sendiri, kalau ia memang peduli dengan laki-laki itu.


Tapi apa itu artinya ia mulai sayang dengan Cillian? atau lebih parah lagi, cinta?


Sebenarnya Shabina juga tak paham apa beda antara keduanya, sayang dan cinta. Atau bagaimana urutannya, yang mana harusnya duluan muncul? Mana urutan yang benar?


Kemudian ia merasa konyol, pikirannya yang terlalu teoritis hanya membuat ini semua menjadi rumit. Dari dulu, ia berharap, kalaupun nanti ada laki-laki yang akan menjadi suaminya, ia bermaksud membangun cinta bersama setelah menikah, karena prinsip yang ia pegang memang tidak mau pacaran.


Tapi, sekarang? Ini terlihat kacau. Ia kewalahan dengan perasaannya sendiri.


Shabina menghela nafas panjang, mencoba untuk tidur dengan kembali memejamkan matanya pelan -untuk kesekian kalinya.


Benaknya mengulang-ulang surat Al-fatihah. Lalu entah ulangan yang keberapa, ia mulai menghilang, melayang menuju ke alam mimpi.



Cillian duduk di ruang tengah apartemennya, menyender pada sofa krem berbahan suede.


Sesekali ia menyesap secangkir teh hangat yang ia pegang.


Ia menghela nafasnya panjang, untuk yang kesekian kalinya. Sekarang apa rencanamu Yan? tanyanya pada diri sendiri -untuk yang keseian kalinya juga.


Ah, itu lagi. Sekarang bukan saatnya mengingat pengalaman pahit itu kembali. Sekarang saatnya ia memikirkan tentang dirinya dan Shabina, menyusun masa depan mereka berdua, katanya mengingatkan diri sendiri.


Hah. Pikirannya tadi seolah semua ini sudah pasti, seolah Shabina akan menyetujuinya dan menikah dengan Cillian. Tapi… pikirannya itu bukan tidak beralasan.


Cillian mendongakkan kepalanya menatap langit-langit apartemen. Ntah kenapa ia merasa yakin Shabina tetap akan menerimanya, walau memerlukan waktu lama untuk perempuan itu memberikan jawaban, tapi Cillian tetap merasa yakin Shabina akan menerimanya.


Hanya saja, Cillian merasa ada sesuatu beban yang menghalangi gadis itu. Mungkin tepatnya bukan merasa lagi, tapi Cillian sudah tahu, tahu ada hal yang menghalangi perempuan itu.


Cillian bingung sekaligus takjub pada dirinya, apa yang dulu membuatnya berpikir ini akan jadi sederhana? Ini akan semudah hubungan-hubungan orang pada umumnya? Ia mengutarakan niatnya, Shabina memberinya jawaban ya, lalu lamaran, kemudian tidak berselang lama langsung akad, dengan atau tanpa resepsi pernikahan. Ia berharap jalannya akan semulus itu. Nyatanya, ini tidak semulus dan seserhana yang ia bayangkan.


Perempuan yang ia pilih tidak sesederhana itu.


Ia tidak pernah mengira niatannya untuk memperistri Shabina akan serumit ini. Ya, pasti tidak akan mudah, tapi ia juga tidak mengira akan jadi seperti ini. Seolah ia membebankan perempuan itu dengan ide pernikahan, ia tidak suka itu.


Harusnya ia tidak heran lagi dengan situasi ini, tidak kaget dengan sikap dan pikiran Shabina yang rumit mengenai pernikahan. Karena ia sudah tahu, sudah diberitahukan dulu, oleh mama Shabina.


Ia kembali mengingat cerita mama Shabina saat di Switzerland dulu. Awalnya ia bingung dan kaget karena beliau menceritakan sesuatu yang menurut Cillian terlalu privasi, padahal bisa dibilang mereka orang asing, kebetulan saja mereka sama-sama orang Indonesia yang berjumpa di Switzerland dan menghabiskan waktu libur bersama selama tiga hari.


Tapi setelah mendengarkan wanita itu bercerita tentang Shabina -tentang putrinya yang trauma dan takut menikah karena keluarga mereka yang tidak harmonis, Cillian sadar, mama Shabina berharap padanya, tulus ingin Cillian menjaga Shabina.


Cillian juga tidak tahu apa yang membuat wanita itu percaya pada Cillian, sampai menyiratkan untuk menikahi putrinya. Ya, menyiratkan. Mama Shabina tidak pernah memintanya secara langsung.


Saat itu Cillian tidak memberikan jawaban juga janji apapun, ia hanya mengatakan akan terus menjaga kontak ketika sampai di Indonesia. Tapi realitanya, sesampai di Indonesia ia sibuk mengobati dirinya sendiri, walau sesekali ia memang teringat Shabina.


Karena perempuan itu nyatanya telah menarik perhatian Cillian ketika di Switzerland.


Maka itu, ketika Shabina berkata ingin bicara serius tentang sesuatu, ia tidak terlalu kaget. Ia bisa menebak apa yang ingin diceritakan perempuan itu, dan ia yakin tebakannya benar. Tentang keluarganya.


Jadi apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia lakukan untuk meringankan beban pikiran perempuan itu? Apa yang harus ia lakukan untuk meyakinkan Shabina.


Meyakinkan. Membuat perempuan itu yakin.


Cillian terkesiap dengan perkataannya sendiri. Ya, itu dia. Ia menegakkan punggungnya di senderan sofa.


Membuat Shabina yakin seyakin-yakinnya dengan ide pernikahan ini. Dengan cara apa ?


Cillian memutar otaknya untuk berpikir. Ia harus menyusun rencana, strategi yang matang. Bila perlu ia juga akan meminta bantuan orang lain untuk menyusun rencananya. Siapa?


Nama Shelby dan Anne muncul dalam kepalanya.


Bibirnya menyunggingkan senyum, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar tidur.


Akhirnya malam ini acara berpikir seriusnya membuahkan hasil. Setidaknya hasil berupa ide dulu, tinggal ia eksekusi dalam waktu dekat.


Sekarang waktunya istirahat.