Bloom

Bloom
Chapter 27 Nasehat



Shabina membuka matanya pelan, kamarnya sudah terang benderang karena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Sepertinya ia tertidur.


Kepalanya masih terasa pusing, tapi sudah mendingan dari tadi shubuh.


Ia menoleh ke arah kanannya pelan, mendapati neneknya sedang tidur di sisi kanan kasurnya, menghadap ke arah Shabina.


Dadanya tiba-tiba terasa sesak, bulir-bulir air mata mulai menggenangi kelopak mata bawahnya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata supaya tidak tumpah.


Shabina membalikkan badan menghadap nenek, meraih tangan nenek yang sudah keriput didepan dadanya, menggenggamnya pelan. Bulir-bulir air matanya mulai berlomba keluar, membuat matanya kabur. Sesekali ia mengerjap sambil menahan suara, berusaha supaya tangisnya tidak pecah.


Neneknya pasti menemaninya tidur karena tahu Shabina sedang sakit. Neneknya tahu, kalau ia sakit, kelakuannya seperti anak kecil, ingin dikeloni terus.


Dasar cucu tidak tahu diri, pikir Shabina. Sudah umur segini masih saja merepotkan nenek, membuat nenek khawatir. Harusnya dirinya yang senantiasa menghibur nenek di hari-hari tua beliau. Tapi akhir-akhir ini dia tidak punya banyak waktu, ia sangat sibuk.


Lalu ia tersadar. Betapa jarang ia menghabiskan waktu bersama nenek akhir-akhir ini.


Menyadari itu membuat hatinya berdenyut sakit. Ia mulai terisak pelan, lalu menggeser badannya mendekat pada nenek, masuk dalam pelukan nenek.


“Na? masih sakit ya?” tanya nenek yang terbangun karena Shabina memeluknya.


Shabina mengangguk, sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke dalam pelukan nenek. Ya, hatinya sakit, melebihi kepalanya.


Nenek menggosok-gosok punggung Shabina, “sudah … jangan nangis, nanti tambah pusing …”


Shabina masih terisak, mempererat pelukannya pada nenek.


“Maafin Shabina ya Nek …” ucap Shabina lirih sambil terisak.


“Kenapa … Na nggak ada buat salah sama nenek …” kata nenek pelan.


Shabina menggelengkan kepalanya, lalu mulai terisak lebih keras, “Na, akhir-akhir ini sibuk banget … sampai jarang ngomong sama nenek …” ucapnya terputus-putus karena sambil terisak.


“Nenek tahu kamu sedang sibuk … nggak papa, nenek nggak kesepian … sepupu-sepupu kamu juga sering main kesini, jangan khawatir …” ucap nenek menenangkan, lalu mengecup pucuk kepala Shabina. “Tapi kamu juga jangan terlalu capek Na … begini jadinya, sampai kliyengan seperti ini … ini tanda tubuh kamu minta istirahat …” sambung nenek lagi.


Shabina mengangguk pelan, lalu menyeka air matanya dengan tangan kiri.


“Kamu kepikiran apa …? Kalau ada sesuatu … jangan disimpan sendiri Na, cerita sama nenek atau Shelby … jangan dipendam”


Shabina tahu perasaan neneknya tajam, beliau selalu tahu kalau cucu-cucunya sedang dalam masalah atau banyak pikiran. Shabina pernah bertanya pada nenek, kenapa beliau bisa selalu tahu, katanya dari raut wajah kami kelihatan, lalu nenek juga merasakan sesuatu dalam hatinya, bahwa ada yang tidak beres dengan cucu-cucunya. Sepertinya firasat orangtua.


Nenek diam, menunggu Shabina melanjutkan kalimatnya.


“Na bingung … juga takut” ucap Shabina lagi.


Shabina menengadahkan kepalanya, untuk menatap manik mata neneknya. “Na rasa ... sepertinya Na mulai suka dengan Cillian … tapi Na juga takut nek. Bagaimana kalau nanti Na seperti mama … Na nggak sanggup nek … Na tahu Cillian lelaki yang baik, tapi siapa yang tahu kalau sudah menikah Nek, bagaimana kalau nanti Na tidak dihargai sebagai istri … dan juga, Na nggak mau anak-anak Na nanti ngerasain seperti yang Na rasa … terlalu sakit Nek … Na mau mereka mendapat sosok ayah yang sebenarnya, yang menyayangi mereka … Na mau mereka merasa dicintai oleh ayahnya …“ ucap Shabina, matanya mulai berkaca-kaca lagi.


“Na rasanya nggak mau mengambil keputusan terlalu cepat … Na takut menyesal Nek. Tapi … tapi Cillian benar-benar membuat Na bingung, maksudnya … Na juga ingin Cillian jadi teman hidup Na …” Ia menghentikan kalimatnya, suaranya mulai terdengar parau, lalu ia mulai terisak pelan.


“Na nggak tahu, nggak ngerti … Cillian mulai terasa penting dalam hidup Na ...”


Neneknya mengusap pelan air mata Shabina yang mengalir di pipinya. Menatap wajah cucunya itu penuh sayang.


“Kalau begitu, coba kamu ngomong dengan Cillian … apa yang menjadi beban kamu, Nenek rasa Cillian juga perlu tahu tentang hal ini, cepat atau lambat. Nenek bersyukur kamu mulai membuka hati, dan mencoba menerima Cillian. Na, masalah masa depan tidak ada yang tahu … yang perlu kita lakukan adalah ikhtiar, sejauh yang nenek lihat Cillian lelaki yang baik, ibadahnya juga baik … Insya Allah, kalau agamanya baik, dia tidak akan berani menyakiti hati istrinya …” ucap nenek pelan.


“Kalau Na cerita … apa dia nggak akan benci sama Na, Nek?”


“Kenapa sampai berpikiran seperti itu …?”


Setelah tampak berpikir beberapa detik, “Kalau Na cerita semua tentang keluarga Na … apa yang Na rasakan … kalau Na cerita, bahwa Na dendam dan benci dengan darah daging Na sendiri … apa dia nggak akan benci sama Na, Nek?” tanya Shabina lagi dengan suara tercekat.


Neneknya hanya diam mendengarkan pertanyaan cucunya, lalu menggosok pelan punggung Shabina lagi.


“Kalau itu nenek tidak tahu … dan kamu juga tidak akan tahu kalau kamu tidak cerita ke Cillian … “ ucap Neneknya sambil menatap lekat manik mata Shabina.


Ya, Shabina tahu itu. Cepat atau lambat, Cillian berhak tahu situasi Shabina kalau mereka memang serius berpikir untuk hidup bersama.


Shabina bersyukur telah menceritakan apa yang mengganggu fikirannya pada nenek, walaupun ia belum terlalu yakin bisa melangkah tanpa merasa bimbang, tapi setidaknya beban fikirannya agak berkurang.


Sejak dulu nenek memang selalu bisa diandalkan. Walau usia beliau tahun depan sudah memasuki kepala tujuh, tapi nenek termasuk masih kuat, ingatan beliau juga masih luar biasa segar.


Shabina menghela nafasnya berat, lalu kembali membenamkan dirinya dalam pelukan nenek.


Sepertinya untuk saat ini pilihan yang terbaik memang menceritakan pada Cillian yang ia rasakan. Ia tidak ingin menggantung Cillian terlalu lama, kasihan lelaki itu. Dan juga, kasihan dirinya, ia ingin meringankan beban fikirannya satu per satu.


Oh God, dan kejadian dua hari yang lalu di kantor Cillian, hampir saja Shabina melupakannya. Mereka belum berkomunikasi sejak saat itu.


Mungkin hari ini ia akan coba menghubungi lelaki itu. Ia agak merasa bersalah karena sikapnya yang over sensitive tempo hari.