
Shabina menyelesaikan tilawah Qur’an nya setelah mendengarkan kumandang adzan Isya. Mamanya mengatakan untuk tidak pernah meninggalkan membaca Al-Qur’an setiap hari, usahakan walaupun hanya satu lembar.
Selesai melipat mukena dan sajadahnya, Shabina berniat menyusun agendanya untuk besok, dan tiba-tiba ia teringat Cillian. Apa laki-laki itu masih kurang sehat? mungkin ia akan coba sekedar menanyakan kabar laki-laki itu melalui chat, pikirnya dalam hati.
Shabina : “Assalamu’alaikum”
Tidak lama kemudian chatnya berubah centang dua biru, lalu muncul balasan dari laki-laki itu
Cillian : “Wa’alaikumussalam Na”
Shabina : “Gimana kondisi kamu? Udah agak baikan?”
Cillian : “Alhamdulillah … udah agak enakan. Kenapa Na?”
Shabina : “Nggak, cuma mau nanya kabar kamu ... masih kurang enak badan atau gimana”
Cillian : “Oh … khawatir gak jadi ketemuan minggu nanti ya ???”
Shabina mengernyitkan dahinya, mendengus sedikit kesal. Kadang-kadang sableng juga nih orang, kege-eran banget.
Shabina tidak membalas chat Cillian lagi. Alhamdulillah kalau dia sudah merasa lebih baik, pikirnya, kemudian ia membuka organizer berwarna coklat berbahan kulit miliknya, bersiap menyusun agendanya untuk besok. Kemudian ia mendengar Ponselnya berbunyi. Dilihatnya di layar muncul nama Cillian.
Ia membiarkannya beberapa saat sebelum mengangkatnya, dan menekan tombol speaker, kemudian mengambil pulpennya dan menulis tanggal besok di lembaran organizernya.
“Halo?” ucap Shabina.
“Halo Na …”
Shabina mengernyitkan dahinya. Suara Cillian masih cukup serak, pikirnya.
“Kenapa Yan?”
“Nggak, kamu nggak bales lagi ... yaudah aku telfon”
“Oh …”
Hening sesaat. Lalu Cillian kembali bersuara.
“Lagi sibuk ya?”
“Nggak juga sih, lagi nyusun agenda untuk besok aja …”
“Oh ya? Kamu selalu nyusun agenda semalam sebelum?”
“Biasanya iya … kalau capek banget malamnya, ya aku susun besok pagi-pagi banget selesai shubuh”
“Kalau cewek gitu ya … harus tersusun rapi”
“Hmm, kalau aku karena udah terbiasa dari SMA dulu nulis semua yang mau aku kerjain … ya, kebawa sampai sekarang. Lagipun dengan gitu kerjaanku bisa lebih sistematis, dan aku tahu mau kerjain yang mana duluan. Aku tuh termasuk yang pelupa, kalau nggak langsung nulis apa yang mau aku kerjain buat besok selagi ingat … besok udah pasti bakalan nggak ingat juga …” jelas Shabina. Lalu berpikir, sepertinya ia terlalu banyak bicara.
Terdegar suara tawa renyah Cillian dari seberang telfon.
“Kenapa?” tanya Shabina
“Ah, nggak ... aku baru tahu aja kamu bisa juga ngomong panjang lebar gini …”
Shabina merasakan pipinya memanas karena malu. Kan, ia memang terlalu banyak bicara.
“Maksudnya aku cerewet?”
“Hmm, mungkin ... bisa dibilang gitu?” jawab Cillian sambil terkekeh.
Shabina mendengus pelan, “kan kamu tadi yang bahas duluan …”
“Iya … keren ya cewek bisa terorganisir begitu …”
“Emangnya kamu nggak nyatat agenda kamu?”
“Jarang … aku lebih suka ngandalin ingatan sih, kalau udah lebih dari dua agenda, kadang baru aku catat di ponsel”
“Yeah… fortunately” jawab Cillian, sambil tertawa pelan.
Hening lagi.
“Maaf, kamu jadi keganggu Na … silahkan dilanjut, Assala-“
“Bentar-bentar, Yan?” potong Shabina. “Kamu udah minum apa aja?” tanya Shabina lagi.
“Kenapa?”
“Suara kamu kayaknya masih agak serak ya?”
Hening sesaat.
“Oh ini … iya, seraknya masih …” ucap laki-laki itu “Aku Cuma minum air hangat aja yang banyak dari kemarin …”
“Iya, minum air putih hangat yang banyak, Insya Allah membantu … biasanya aku- “ Shabina menghentikan kata-katanya sejenak, “hmm, yaudah … istirahat yang banyak. Assalamu’alaikum”
“Thanks, Wa’alaikumussalam warahmatullah …”
Setelah mendengar balasan salam Cillian, Shabina memutus sambungan telfon mereka.
Dari suaranya, sepertinya serak Cillian makin parah daripada waktu mereka ngobrol kemarin. Shabina tahu betul rasanya, benar-benar tidak nyaman. Dulu awal-awal dia merintis usahanya ini Shabina beberapa kali drop karena kelelahan, dan yang tidak pernah absen adalah sakit di tenggorokannya yang kemudian disusul flu kalau ia sedang tidak beruntung. Dan tiap kali tenggorokan Shabina mulai sakit atau gatal, mamanya selalu menyiapkan ramuan hangat yang jika ia meminumnya sejurus kemudian rasanya sangat nyaman di tenggorokan.
Shabina meraih kembali ponselnya, lalu tangannya mulai mengetikkan sesuatu.
∞
Lelaki itu meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Baru kali ini ia mendengar Shabina berbicara sepanjang itu, maksudnya, perempuan itu berusaha menjelaskan kepada Cillian tentang dirinya. Sewaktu di Switzerland dulu mana pernah, jangan harap Shabina akan menjawab lebih, perempuan itu hanya akan menjawab singkat, padat dan jelas kalau ditanya tentang sesuatu.
Cillian menarik dan menghela nafasnya pelan. Shabina berubah, maksudnya, dalam artian yang baik, yah, setidaknya perubahan baik untuk Cillian. Karena perempuan itu sepertinya memberi Cillian kesempatan. Ia tahu Shabina mungkin tipe yang tidak mau diajak pacaran. Jadi, kalau Shabina memberinya kesempatan -setidaknya itu yang terpikir olehnya saat ini, berarti perempuan itu juga sedang memikirkan peluang berumah tangga.
Cillian juga tidak berencana mengajak Shabina pacaran. Ia sadar umurnya saat ini sudah cukup matang –bukan umur untuk pacaran lagi, umur yang cukup baginya untuk memulai keluarga, pun ia merasa dirinya sudah siap. Dan mungkin ini saatnya untuk memulai kembali. Setelah mengikhlaskan semua yang terjadi padanya dua tahun yang lalu.
Ia baru saja akan keluar kamar ketika ponselnya berbunyi. Ada chat masuk dari Shabina. Cillian mengernyitkan dahinya, chat Shabina cukup panjang, dan chat ini terlihat seperti … resep?. Ya, resep.
Kalau tenggorokanku lagi nggak enak dan serak, biasanya aku minum ini:
Sereh 1 batang (di geprek)
Jahe 2 ruas (di geprek)
Kayu manis 1 batang
Cengkeh secukupnya
Madu secukupnya
Perasan lemon atau jeruk nipis
Semuanya dimasukkan ke dalam gelas, lalu tambahi air panas. Diminum kalau udah hangat… jangan sampai keburu dingin!. Semoga seraknya hilang. Get well soon.
Cillian tersenyum melihat chat dari Shabina. Oh, jadi ini yang ingin perempuan itu katakan tadi di telfon, Cillian sadar tadi Shabina ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Ternyata dia cukup kepikiran dengan suara serak Cillian. Pikiran itu membuat bibir Cillian kembali mengulum senyum.
Jari Cillian mulai bergerak mengetik sesuatu, membalas pesan Shabina tadi.
“Thank you, aku akan bikin malam ini juga … Yes ma’am! akan aku minum sebelum dingin”
Setelah mengirimkan balasan itu, Cillian masih tetap tersenyum, bahkan sepertinya dari sejak membaca chat tadi ia tidak berhenti mengulum tersenyum, karena sekarang rahangnya mulai terasa sakit.
Ia melangkah gontai keluar kamar menuju dapur sambil membawa ponselnya. Membuka kulkas mencari bahan-bahan yang dituliskan Shabina tadi.
Di tempat lain, seorang perempuan juga tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum setelah membaca balasan dari Cillian.
****
Terimakasih sudah mampir dan membaca sampai Ch 08 🤗💃💃💃