Bloom

Bloom
Chapter 05



Malam itu Cillian menatap layar ponselnya dengan wajah datar, lama ia terduduk di tepi petidurannya sambil terus menatapi layar ponselnya itu. Kontak dengan nama Jane. Ya, kontak itu ia edit tadi siang saat di pesta pernikahan temannya.


Cillian sebenarnya sudah punya kontak itu di ponselnya sejak setahun yang lalu, tapi ia pura-pura mengetik ulang nomornya tadi siang, walaupun itu nomor yang sama. Dan ia memang sengaja meminta nomor wanita itu lagi walaupun faktanya ia tahu dan masih menyimpannya di ponselnya.


Ia tidak merubah nama kontak itu. Ia menyukai nama itu. Jane. Shabina Jane Rosemary. Ia memilih nama tengah Shabina untuk disimpan di kontaknya.


Jarinya mulai mengetik beberapa kata, tidak lama jarinya berhenti, lalu dilihatnya fitur jam yang ditampilkan di sudut kanan atas layar ponselnya. Pukul 21.30. Ah, belum terlalu malam kan ini? sepertinya tidak apa kalau aku menelfonnya sekarang kan? pikirnya. Jarinya sudah akan menekan tombol telfon, namun sejurus kemudian mengurungkan niatnya.


Tapi apa yang harus aku katakan? pikirnya dalam hati. Ia dan Shabina jujur saja kalau boleh dibilang hanya sebatas kenalan. Ya, kenalan. Rekan kerja bukan, mau dibilang temannya juga sepertinya kurang tepat, karena mereka hanya bertemu di Switzerland dua tahun yang lalu dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka selama tiga hari disana.


Dan kenapa pula ia harus bilang pada Shabina tadi siang ia akan menelfonnya? Cillian tak habis pikir, kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya tadi siang, tanpa diproses otaknya terlebih dahulu. Dan sekarang ia susah sendiri. Susah, tapi mungkin sedikit lega, karena sebenarnya ia memang ingin mendengar suara Shabina lagi.


Bohong kalau ia tidak merasa tertarik pada Shabina ketika di Switzerland dulu, atau mungkin, sampai sekarang ia masih merasakannya. Tapi ia dulu tidak yakin dengan yang ia rasakan, karena memang saat itu suasana hatinya masih tidak baik. Ah ia tidak ingin mengingat hal itu lagi, tidak lucu kalau ia mengingat hal itu sekarang, setelah semua yang ia lakukan untuk melupakannya.


Kepalanya kembali memikirkan Shabina. Kalau dilihat sekilas, Shabina sebenarnya termasuk perempuan yang biasa-biasa saja, tapi itu berubah ketika kau menghabiskan waktu seharian dengannya. Ya, Wajah Shabina tidak bisa dibilang cantik, mungkin lebih tepatnya manis, wajah yang tidak akan bosan kalau kau memandanginya seharian. Bukan wajah cantik bak seorang femme fatale. Penampilan Shabina juga sangat sederhana jika mengingat perempuan itu memiliki bisnis yang omsetnya tidak bisa dibilang kecil. Selain itu, yang paling penting adalah sifat santun dan pembawaan Shabina, ya, mungkin itu yang membuat Cillian tertarik, walaupun saat di Switzerland dulu, ia tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh Shabina, bahkan kalau dipikir-pikir lagi dulu Shabina cenderung menjauhinya. Kalau bukan Cillian duluan yang membuka obrolan, bisa dipastikan tidak akan ada yang namanya perbincangan antara mereka. Tapi sikap perempuan itu kepada keluarganya, juga kepada keluarga Cillian, membuat Cillian diam-diam menaruh kagum pada perempuan itu, terlepas Shabina seperti menganggapnya tidak ada.


Cillian tiba-tiba menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Frustasi. Lalu memutuskan untuk merebahkan dirinya ke kasur.


Telfon.Tidak.Telfon.Tidak.Telfon.Tidak.


Itu saja yang diulang-ulangnya dalam benaknya selama satu menit.


Merasa seperti anak yang baru puber dan tak becus -padahal tiga bulan lagi umurnya sudah masuk kepala tiga, malu pada diri sendiri, akhirnya ia menekan tombol telfon dengan pasrah juga harap.



Tidak, ia tidak sedang menunggu panggilan Cillian, ulangnya dalam hati untuk kesekian kalinya. Shabina sedang berbaring di tempat tidurnya sambil menonton serial TV luar, padahal biasanya ia sudah terbang ke alam mimpi kalau sudah jam segini.


Jujur matanya sebenarnya mulai mengantuk, tapi entah kenapa ia merasa belum mau tidur. Padahal hari ini dia sudah bolak balik Bandung-Jakarta.


Tidak, ini bukan soal Cillian, yakinnya kembali dalam hatinya.


Hhh, ia menghela nafas panjang. Ok, jujur saja, ia kepikiran dengan perkataan Cillian tadi.


Shabina menoleh ke samping kirinya. Adiknya Shelby yang hari ini entah kenapa memilih untuk tidur di kamarnya sudah mendengkur pelan di sebelahnya, gayanya yang sudah seperti bintang laut -terlentang sambil kedua tangan dan kakinya terbuka keatas- membuat Shabina menahan tawa, tak tega mengingat muka lelahnya tadi sore.


Adiknya itu bilang hari ini dia mengajar les selama enam jam. Shelby memang kerja kantoran, di kantor percetakan yang tergolong baru. Tapi ia tetap melanjutkan mengajar les di salah satu tempat bimbel dekat rumah mereka -yang sudah ia lakukan sejak masih kuliah dulu. Katanya mereka kekurangan tenaga pengajar, pun Shelby ingin memiliki pemasukan tambahan. Tapi itu benar-benar menguras habis tenaganya dan akhirnya Shelby selalu pulang kerja dalam keadaan mengenaskan.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat ia raih ponselnya di atas nakas di samping kasurnya, selain khawatir membangunkan adiknya karena suara dering ponselnya cukup nyaring, entah kenapa tangannya juga seperti reflek. Ia lihat sekilas nama yang tertera di layar ponselnya, Cillian. Sedetik, dua detik, ia ragu mau mengangkat apa tidak. Adiknya mulai gelisah di sampingnya, terganggu dengan nada dering ponsel Shabina. Ditekannya tombol hijau untuk menerima panggilan.


“Assalamu’alaikum …” ucap laki-laki diseberang telfon.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah …”


“Maaf … aku ganggu Na? kamu udah tidur?” tanya laki-laki itu lagi.


“Gak papa, aku belum tidur … ada apa yan?” tanya Shabina, mencoba biasa saja. Jujur, dia tidak terbiasa ditelfon laki-laki malam-malam begini.


“Kenapa belum tidur? Kamu gak capek? Kamu tadi bolak balik Bandung-Jakarta lho …”


“Hmmm, capek sih ... hehe, udah ngantuk sebenarnya … tapi tanggung ini nontonnya dikit lagi” jawab Shabina, ia tidak seratus persen berbohong ... toh ia memang berencana tidur setelah menyelesaikan tontonannya.


Jeda sebentar. Shabina masih menunggu suara laki-laki di seberang telfon, hampir ia membuka mulutnya bertanya untuk kedua kalinya ada apa laki-laki itu menelfonnya kalau saja ia tidak mendengar suara di seberang telfon. Suara Cillian berdeham pelan.


“Kamu … nggak lagi nungguin telfonku kan?”


tanya laki-laki itu hati-hati.


Shabina terkesiap, gelagapan dalam hati tanpa mengeluarkan suara, lalu jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya “hah? ya nggak lah, pede banget kamu Yan” oke, ia bersumpah suaranya benar-benar terdengar ketus.


Tapi entah kenapa Cillian malah terkekeh di seberang sana. Sementara muka Shabina mulai memerah dan terasa sedikit panas. Ia memegang pipinya, hangat.


“Siapa tahu apanya … udah deh, hobi banget jahilin orang” kata Shabina sambil mendengus.


“Iya … iya …” jawab Cillian sambil tidak berhenti tertawa. “Hmm, aku mau nanya aja tadi … mastiin kalian udah sampai Bandung belum, aman di jalan tadi?” sambungnya.


Shabina tertawa pelan, sebelum menjawab “telat banget kamu nanya ... ini udah jam sepuluh malam kali Yan ....”


“Ah ... ahaha … iya juga ya … jam berapa tadi kalian sampai Bandung?”


“Alhamdulillah kami tadi sampai sekitar jam empat atau lima sore gitu … Alhamdulillah, di jalan juga aman-aman aja”


“Alhamdulillah … “ sahut Cillian di seberang sana.


Jeda lagi.


Shabina mulai memainkan ujung sarung bantal tidurnya, menunggu suara dari lawan bicaranya. Ia sadar dari tadi hanya menjawab pertanyaan dari Cillian saja, apa ia harus memberikan pertanyaan juga ? apa perlu? memangnya apa yang ingin ia tanyakan? Tak ada, tak ada yang terpikir olehnya.


Shabina mulai frustasi, iya tak pandai dengan hal-hal begini, maksudnya, membangun komunikasi. She is suck for this kind of thing.


“Hmmm … aku minggu depan Insya Allah ke Bandung, rencananya mau sekalian nyamperin kamu juga …”


Akhirnya dia bersuara juga, batin Shabina. Eh, tunggu. Apa katanya tadi? Shabina tidak terlalu mendengarkan.


“Eh, apa Yan? Sori … aku gak denger” tanya Shabina.


“Aku Insya Allah minggu depan ke Bandung” ulang Cillian, kemudian jeda sebentar sebelum ia melanjutkan kalimatnya tadi, “kamu kosong weekend ini? kita ketemuan yuk, gimana?”


“Oh ya ... ? kamu ada kerja di bandung?” tanya Shabina lagi, tak langsung menjawab ajakan Cillian tadi.


“Iya, mau jumpa klien disana … gimana? Kamu kosong nggak?”


Shabina berpikir sejenak, menerka kira-kira kemana arah hubungan ini. Ah, hubungan apa pula pikirnya lagi. Paling Cillian hanya sekedar ingin menyapa, atau sekedar mengobrol tentang keluarga mereka yang menghabiskan waktu bersama ketika di Switzerland. Apa salahnya, pikirnya lagi. Kebetulan weekend minggu depan juga dia tidak ada jadwal apapun. Hm, mungkin dia akan menerima ajakan Cillian.


Tapi ia ragu, apa nanti mereka akan ketemuan berdua saja? Shabina tidak suka ide itu. Ah, mungkin kalau jadi, nanti dia akan ajak adiknya juga.


Baru saja Shabina ingin mengiyakan, Cillian mendahuluinya -seolah mengerti kekhawatiran Shabina.


“Oh, nanti adikku juga ikut bareng aku Na. Claire … kamu ingat, kan? maksudku … kalau kamu mengkhawatirkan soal itu ... “ ucap Cillian.


“Iya? Oke … mungkin aku juga bakal ajak adikku Shelby. Aku bisa, Insya Allah … weekend ini aku kosong”


“Benar? Oke … nanti aku kabari kamu lagi Na. Ah, udah jam segini ternyata …”


“Haha iya … udah hampir sejam ternyata” ucap Shabina sedikit bergumam.


“Kalau gitu udah dulu Na … kamu juga pasti capek banget kan. Maaf ngeganggu nontonnya ... good night Na”


“Good night ...” jawab Shabina, tak sadar pipinya memerah dan bibirnya tertarik keatas mengulum senyum. Shabina baru akan memberikan salam penutup, tapi Cillian memotong.


“Ah, Na ... sebentar”


“Ya ...?”


“Makasi udah jawab telfonku … makasi juga, masih mengingat wajahku … walaupun kamu lama banget ngenalinnya ... hehe” sahut Cillian. “Assalamu’alaikum..” sambungnya lagi memberikan salam penutup.


Pipi Shabina yang sudah merah makin memerah. Kalau Cillian melihatnya sekarang … ah, ia tidak berani membayangkannya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah …” jawab Shabina, kemudian menutup telfon mengakhiri pembicaraan mereka.


***