
Tidak adil rasanya, menyadari semua prinsip nya runtuh begitu saja sejak pertemuannya kembali dengan Cillian. Prinsipnya untuk menjauhi pernikahan.
Ia sempat meyakinkan dirinya sendiri, bahwa pernikahan mungkin bukan hal yang tepat untuk dirinya. Jadi ia sudah ancang-ancang, andai sisa hidupnya dihabiskannya seorang diri, tanpa ada makhluk bernama suami disisi.
Tapi jujur saja, walau selama ini mulut dan pikirannya menolak mati-matian konsep pernikahan, di lubuk hatinya yang paling dalam, sepertinya ada rasa ingin yang terpendam, yang tak berani ia ungkapkan pada sesiapapun yang bertanya -apa benar ia tidak menginginkan pernikahan?.
Tapi setelah bertemu dengan Cillian lagi, rasa itu seperti meminta untuk diperhatikan, untuk dipikirkan ulang.
Sekarang apa yang harus ia lakukan? Berpikir ulang? Tapi harus dari mana?
Shabina berusaha tenang. Menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya pelan. Ia raih gelas kaca berisi air putih di atas meja, lalu meneguknya sampai habis setengah. Ia harus berpikir jernih, ya, jernih. Ah sial, kenapa pikirannya malah kosong dan malah tidak memulai berpikir sama sekali.
Ia menggaruk kasar belakang kepalanya yang tidak gatal, membuat cepolannya sedikit berantakan. Shabina memutuskan malam ini ia tidak akan tidur -tepatnya ia tidak bisa tidur sebelum sampai pada satu keputusan.
Duduk di kamarnya dan mencoba untuk berpikir jernih hanya buang-buang waktu saja. Sudah dua jam dan dia tidak sampai pada suatu putusan apapun. Sia-sia.
Diliriknya jam dinding, sudah tengah malam. Otaknya sudah lelah, walau dua jam tadi sebagian besar dihabiskannya dengan bengong dan pikiran kosong. Entahlah, tiap ia mencoba memikirkannya dari awal, entah kenapa benak dan otaknya mendadak tidak bisa diajak bekerja sama, ujung-ujungnya ia termenung.
Ia memutuskan bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan keluar kamar. Tengah malam, nenek dan Shelby pasti sudah tidur. Ia berjalan ke ruang tengah, merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk di sana. Bunyi jam dinding memenuhi otaknya, bagai di hipnotis, ia menari di dalam pikirannya sambil mengikuti irama jam dinding tadi. Lalu tiba-tiba saja muncul wajah Cillian dalam pikirannya yang sedang menari-nari. Wajah Cillian yang tersenyum simpul.
Anne benar, tidak semua lelaki seperti ayahnya. Dan ia benar-benar berharap Cillian tidak seperti ayahnya.
Bohong. Bohong kalau Shabina mengatakan ia tidak tertarik dengan Cillian. Laki-laki itu memang tidak bisa dibilang tampan luar biasa, tapi ia termasuk yang mempesona di mata Shabina.
Secara fisik, Cillian sudah otomatis masuk kedalam tipe lelaki yang disukai Shabina. Tingginya yang diatas rata-rata, tubuhnya yang bisa dibilang atletis -dengan proporsi massa otot yang pas- tidak berlebihan sampai seperti binaragawan atau lelaki yang doyan angkat beban, alias gym freak. Wajahnya bisa dibilang terpahat cukup sempurna, dengan rahang-rahang tegas yang membuatnya makin terlihat maskulin. Hidungnya mancung, alisnya rapi dan tebal.
Tapi Shabina bukan perempuan yang bisa terpikat hanya dengan fisik rupawan saja, sifat dan karakter juga menjadi penting bagi Shabina. Dan selama yang ia perhatikan, Cillian tidak pernah melakukan sesuatu hal yang tidak ia sukai. Sikapnya sejauh ini bisa dibilang gentleman, dan yang terpenting, Cillian memiliki ciri-ciri seorang imam idaman yang pernah disampaikan oleh mamanya pada Shabina. Cillian menjaga salatnya. Ia hanya berharap, semoga apa yang dilihat oleh matanya memang kebenaran tentang Cillian, bukan kepura-puraan.
Hhh. Sepertinya otaknya membuat kemajuan. Oke, sekarang Shabina mengakui, ia memang tertarik dengan Cillian. Lalu selanjutnya apa ?
∞
Ini sudah empat hari sejak ia bertemu Cillian. Tidak ada kabar apapun dari lelaki itu, bahkan satu chat pun tak ada yang masuk. Bukan, Shabina bukannya menunggu dihubungi oleh Cillian, hanya saja … seperti ada yang janggal dengan lelaki itu. Ini tidak seperti biasanya, biasanya Cillian akan mengechat Shabina, sekedar menanyakan kabar perempuan itu, tidak lebih, memang tidak tiap hari, tapi dalam dua hari, setidaknya mereka ada berkomunikasi. Walaupun tidak bisa benar-benar disebut komunukasi, karena Cillian hanya bertanya kabarnya, dan Shabina menjawabnya “baik”, kadang berlanjut ke percakapan lainnya -seperti sedang sibuk apa ia sekarang, tapi seringnya tidak.
Apa ia harus perduli? Tapi kalau iya, kenapa juga? Mereka bukan siapa-siapa, tidak ada hubungan resmi, hanya dua orang yang punya kesepakatan bersama. Ah, iya … kesepakatan. Jadi?
Shabina meraih ponselnya, sebelum mengetikkan nama Cillian disana, ia meyakinkan dirinya. Walau ia bukan siapa-siapa bagi Cillian, hanya seseorang yang berbagi kesepakatan bersama -mungkin ia akan memanfaatkan kesepakatan itu. Baiklah, anggap saja ini demi mengumpulkan info-info penting untuk penyelesaian PR-nya nanti. PR memikirkan pernikahan. Yup, masih belum selesai.
“Assalamu’alaikum, Yan?”
“Wa’alaikumsalam … ya, ada apa Na?”
“Oh, kamu dimana? Lagi nyetir ya?” ucap Shabina setelah mendengarkan suara lampu sen dihidupkan.
“Iya … sori, bentar lagi aku telfon lagi ya” ucap Cillian
“Oke, gapapa … hati-hati di jalan”
Shabina menutup telfonnya. Dari suaranya sepertinya Cillian baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Apa selama ini ia sibuk bekerja? Ah, Shabina baru ingat, minggu ini Cillian mengatakan akan mulai pindahan ke Bandung, sepertinya besok atau hari minggu, karena hari ini dia pasti masih harus bekerja. Apa ia mengurus pindahannya sendirian? Atau orangtuanya ikut membantu?. Mungkin kalau nanti Cillian hanya sendirian, ia akan menawari bantuan, pikir Shabina.
Shabina belum tahu dimana tempat tinggal Cillian selama di Bandung, Cillian mengatakan tidak jauh dari kantornya. Tapi Shabina juga belum bertanya di mana alamat kantor Cillian. Lalu ia teringat sesuatu. Mungkin ia akan menanyakan pada Claire.
Ia mencari nama Claire di daftar kontaknya.
“Halo, Assalamu’alaikum … “ ucap Shabina sambil tersenyum pada gadis di seberang telfon –walaupun sudah tentu Claire tidak bisa melihatnya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah … Kak Naaaaa!” sahut Claire riang.
“Sehat, Claire …?”
“Alhamdulillah, sehat … Kak Na gimana?”
“Alhamdulillah, kakak juga sehat … eh, kamu lagi di mana ini? Lagi di jalan?” tanya Shabina, merasa sepertinya Claire sedang di dalam mobil, dari suara latarnya terdengar seperti itu.
“Hehe … iya, lagi di jalan …” jawab Claire, yang terdengar agak kikuk bagi Shabina.
“Nggak lagi nyetir kan? kalau iya, nanti kakak telfon lagi …”
“Nggak! nggak kok Kak! Ini … temen yang nyetir … Claire sih duduk aja …” sahut Claire.
“Oh gitu … “
“Kenapa Kak Na?” tanya Claire.
“Nggak, kakak mau nanya aja … mas Cillian kemarin bilang minggu ini mau pindahan kan? kapan pindahannya?”
“Emmm … kenapa Kak Na nggak tanya langsung aja sama mas Ian?”
“Tadi kakak udah telfon, tapi dia lagi nyetir …”
“Oh iya …” gumam Claire.
Shabina mengernyitkan dahinya mendengar gumaman Claire, anak itu seperti baru menyadari sesuatu.
“Apa?” tanya Shabina
“Hmm? Apanya kak?”
“Ah-oh … nggak, bukan apa-apa kak … itu, Mas Cillian ada bilang ke aku katanya mau pindahan besok”
“Oh ya? Jam berapa?”
“Mmmm … kemarin sih katanya berangkat dari Jakarta pagi, kak …”
“Oh gitu … rumahnya selama di Bandung di mana Claire? Kemarin katanya dekat kantor … tapi kakak lupa nanya kantornya daerah mana …”
Shabina mendengar alamat yang disebutkan Claire, lalu “hah?! serius Claire …?” tanya Shabina memastikan, sedikit kaget mendengar nama apartemen yang disebutkan Claire.
“Iya Kak Na … memangnya kenapa?”
“Nggak … nggak papa … yaudah, kakak tutup dulu ya Claire … hati-hati di jalan. Assalamu’alaikum … “
Shabina menutup telfonnya. Apa tadi kata Claire? Apartemen Granada? Itu bukannya apartemen yang berjarak sekitar tiga puluh menit dari rumah Shabina? Kalau iya, itu apartemen yang lumayan mewah menurut Shabina, dan orang dengan penghasilan biasa jarang bisa tinggal di sana. Dan dari penampilannya, Cillian terlihat cukup sederhana -tidak terlihat seperti orang yang bisa tinggal di apartemen mewah. Lalu Shabina tersadar, ia tidak benar-benar kenal Cillian, ia tidak benar-benar tahu bagaimana pekerjaan Cillian. Selama ini Shabina pikir kerja Cillian ya kantoran biasa, tapi sepertinya tidak.
∞
“Apa kata kakak kamu?” tanya Cillian yang sedang menyetir pada adiknya yang duduk di kursi penumpang belakang.
“Tadi itu calon kakak ipar kamu Claire?” tanya Ray yang duduk di samping kursi kemudi sambil menoleh ke belakang.
Claire mengangkat bahunya, “semoga” ucap Claire yang ditujukan pada Ray.
“Kak Na tanya kapan pindahan … tanya nanti Mas di Bandung tinggal dimana …”
Cillian mendengarkan sambil menggangguk, dan tidak melepaskan pandangannya dari jalan di depan.
“Oh … jadi ini yang bikin lo galau beberapa hari ini …” celetuk Ray.
“Gue nggak galau” jawab Cillian santai. Ia memang belum menceritakan apa-apa kepada Ray, tidak sampai semuanya pasti antara ia dan Shabina.
“Whatever …” ucap Ray malas.
“Tadi aku baru denger sesuatu dari kak Na … yang nggak pernah aku dengar sebelumnya …” ucap Claire pelan.
“Apa?” tanya Cillian.
“Kak Na panggil mas ‘Mas Cillian’ … “
Cillian terdiam, tapi sejurus kemudian senyum tersungging sempurna di wajahnya.
“Emangnya lo biasa dipanggil apa?” Tanya Ray sambil menoleh ke arah Cillian.
“Ga pake mas” jawab Claire.
“Jadi?”
“Cillian doang” jawab Claire lagi, dari kursi belakang.
“Oh …” balas Ray sambil mengangguk paham. “Emang berapa sih um-“ Ray menghentikan kalimatnya, “ya Tuhan … bisa nggak senyum lo gak usah menjijikkan gitu?”
Cillian masih tersenyum bahagia. Claire geleng-geleng kepala di belakang.
“Dia tiga tahun dibawah gue … kalau itu yang mau lo tanya tadi” ucap Cillian
Ray menghela nafasnya, mengikuti Claire, menggelengkan kepalanya pelan.
“Eh, tadi nggak ketahuan kan?” tanya Cillian, baru teringat sesuatu.
“Hampir … kayaknya kak Na itu pendengarannya tajam banget deh, di awal dia langsung tahu coba kalau aku lagi di mobil …”
“Yang penting dia nggak tahu kan kita jalan ke Bandung?” tanya Cillian lagi
“Kayaknya sih nggak … emangnya kenapa sih mas? pake disembunyiin segala …”
“Ya nggak papa … cuma mau surprise aja …” jawab Cillian santai. “Mau tahu dia rindu apa nggak” gumam Cillian, yang dibalas tatapan jijik oleh penumpang samping dan belakangnya.
🌵🌵🌵🌵🌵
Terimakasih yang sudah setia membaca lika liku hubungan Shabina dan Cillian sampai chapter 15. You ... the readers, means a lot to me 😙
aku tunggu komen serta masukan yang membangun untuk tulisanku ...
Jangan lupa tinggalin jejak kalian yaa...
Kalau kalian suka, please hit ❤ button (I appreciate it sooo much💃)
Simpan sebagai favorite supaya kalian terus update ceritanya Shabina dan Cillian 🤗
pssst, kira2 kalau aku bikin chapter khusus pengenalan karakter kalian bakal suka ngga? aku tunggu feedbacknya ya 🙆♀️💃💃💃
Looove,
Reeva