Bloom

Bloom
Chapter 19 Membuka Hati



Seumur-umur hidupnya Shabina tidak pernah menangis di depan orang lain, kecuali saat kepergian mamanya -itupun setengah mati ia coba tahan untuk tidak ia tunjukkan pada orang, bahkan pada adiknya sendiri. Sekali, hanya sekali ia pernah kebablasan menangis di depan orang, dan ia sangat bersyukur orang itu Anne, ketika Anne memaksanya untuk bercerita meluahkan perasaannya setelah kepergian mamanya.


Ia hanya benci terlihat lemah di depan orang lain, walau ia tahu dan ia sadar betul, bahwa ia tidak sekuat yang ia bayangkan.


Menangis di depan Cillian tidak ada dalam skenarionya, ah, walau itu tidak bisa dikatakan menangis, mungkin lebih cocok tidak sengaja meneteskan air mata. Walau begitu, ia bersyukur Cillian tidak bertanya apa-apa.


Shabina menghela nafasnya dan merebahkan diri ke kursi kerjanya. Sudah terlalu banyak yang ia tunjukkan pada Cillian, gejolak emosinya yang sering kali lepas begitu saja di depan Cillian- Shabina tidak menginginkan itu, tidak sebelum mereka menikah. Ah ya, menikah. Sekarang suara hatinya tadi terdengar seperti ia memang menginginkan pernikahan dengan Cillian.


Mungkin sudah saatnya ia benar-benar membuka hati, untuk menerima kenyataan bahwa ia memang menginginkan pernikahan, bersama Cillian.


Rasa takut dan trauma akan kehidupan pernikahan yang tidak bahagia agaknya sudah sedikit berkurang, dan ia berani bermimpi untuk memiliki keluarga yang bahagia dengan Cillian, walau memang masih ada rasa takut -tapi ia memilih untuk mencoba.


Setelah melihat dan mengobservasi sikap lelaki itu selama ini, Shabina sadar Cillian sama sekali berbeda dari ayahnya -setidaknya ia berpikir Cillian tidak akan mungkin menyakitinya, ia mengakui itu, maka ia mencoba untuk berani mengambil keputusan.


Ya, mungkin ini saatnya memberikan jawaban, walau ia merasa hatinya belum benar-benar yakin, sepertinya memberikan jawaban sekarang adalah hal yang tepat. Mungkin dengan begitu kegamangan dalam dirinya bisa berkurang.


Shabina memejamkan matanya.


Tapi, sebelum memberi jawaban, sepertinya ada yang harus ia jelaskan dulu kepada laki-laki itu. Tentang banyak hal.


Shabina baru saja kembali melanjutkan pekerjaannya tadi, ia sedang melakukan research untuk beberapa resep baru, beberapa print out resep penuh coretan disebar di atas meja kerjanya.


Lalu terdengar pintu ruangannya diketuk.


“Ya?” sahut Shabina dari dalam ruangan.


Pintu ruangannya didorong pelan ke dalam, lalu muncul laki-laki jangkung yang sedang menggendong bayi laki-laki sepuluh bulan di tangan kanannya.


“Halo Na” sapa lelaki itu ramah sambil tersenyum ke arah Shabina.


“Loh Mas Alan? Masuk Mas …” Ucap Shabina sambil bangkit dari kursinya lalu menuju sofa, mempersilahkan lelaki itu duduk.


“Mas mau ketemu Anne ya? tadi dia keluar, ketemu klien … kayaknya udah sekitar tiga puluh menitan …”


“Iya Na, iya gak papa … tadi Anne sudah ngabarin juga. Ini, aku baru jeput Aryan dari tempat mertua, terus tiba-tiba disuruh balik kantor ...” ucap Alan tersenyum pasrah.


“Udah sore gini masih dipanggil ke kantor mas?”


“Iya, di kantor lagi ngejar deadline … kayaknya ada masalah, sampe disuruh balik kantor, haha … eh, kamu apa kabar Na? sehat?”


“Alhamdulillah sehat Mas … ya gini, masih biasa-biasa aja, haha…” jawab Shabina.


“Kerjaan aman, kan?”


“Gimana? sudah ada yang datang belum?”


“Maksudnya Mas? Ah-oh … itu …” Shabina diam sejenak, lalu melanjutkan perkataannya


“Anne belum cerita ya sama Mas?”


Shabina memang sudah menganggap Alan seperti abangnya sendiri, karena usia Alan yang terpaut sampai enam tahun dengannya dan Anne -membuat Alan bisa diandalkan seperti sosok abang bagi Shabina. Juga fakta bahwa Lelaki itu adalah suami Anne, membuat mereka seperti keluarga.


Alan mengernyitkan dahinya “Belum, dia gak cerita apa-apa … loh? jadi udah ada yang datang? Wah … aku ketinggalan banyak kayaknya”


“Haha … nggak, belum banyak ketinggalannya kok Mas … Hmm, mungkin Anne belum cerita karena akunya juga belum jelas, hehe …”


Alan baru akan bertanya lagi sebelum dering ponselnya terdengar, ada panggilan masuk.


“Bentar Na” ucap Alan sambil meletakkan ponselnya ke telinga kanannya.


Shabina mengangguk, lalu bangkit dan mengambil Aryan dari pangkuan Alan, membiarkan lelaki itu berbicara di telfon.


Alan menutup telfonnya, “Na, aku tinggal Aryan gak papa kan? aku udah dipanggil lagi, Anne kayaknya bentar lagi balik”


“Oh, iya gak papa Mas ... aman”


“Sip … kamu masih hutang cerita loh ya, oh aku nagih ke istriku aja ya … izin kan?” tanya Alan sambil bangkit dari duduknya.


“Haha … iya-iya, silahkan … diizinkan“


“Oke, Aryan … papa pergi dulu ya sayang, tinggal bentar sama tante Na ya …” ucap Alan sambil mencium pipi Aryan. “Aku pergi ya Na, nanti kalau ada apa-apa telfon Anne ya”


“Sip”


Setelah Alan keluar, Shabina pindah duduk ke kursi kerjanya, sambil tetap menggendong Aryan. Tumben bayi itu tidak banyak mengoceh, biasanya ia tidak berhenti mengoceh dalam bahasa bayi.


“Aryan? Kamu ngantuk ya sayang?” ucap Shabina setelah melihat kepala Aryan yang terkulai ke depan sesekali.


Shabina membetulkan posisi Aryan di pangkuannya, menyenderkan kepala bayi itu ke dadanya, sambil menopangnya dengan tangan kiri.


Ia menatap lekat wajah bayi itu, sekarang matanya sudah menutup sempurna sambil mulutnya sedikit terbuka. Shabina mengangkat tangannya dan menutup pelan bibir bayi itu dengan jarinya, lalu tersenyum.


Ia memutuskan untuk kembali ke sofa, setelah terlebih dulu membereskan kertas-kertas berisi resep di meja kerjanya. Ia duduk pelan sambil menggendong Aryan, supaya bayi itu tidak terbangun, sesekali ia menggeliat di dalam gendongan Shabina, lalu Shabina menepuk-nepuk pahanya pelan mengembalikannya ke alam mimpi.


Shabina menyenderkan kepalanya ke sofa, dengan tetap menjaga Aryan dalam gendongannya. Aryan sudah bernar-benar pulas, sekarang mata Shabina terasa berat. Sepertinya ia akan ikut tidur.