
Cillian baru saja masuk lift menuju basement tempat mobilnya diparkir.
“Sori Yan! gue ditahan sama si Indra nih, dia minta saran buat project timnya yang di Lembang” begitu bunyi isi chat masuk dari Ray.
Cillian menghela nafas, sepertinya akan lama sampai dia bisa merebahkan diri di kasur empuknya. Kenapa juga mobil si Ray harus masuk bengkel hari ini, gerutu Cillian dalam hati.
Badannya terlalu penat, hari ia meeting lima jam non-stop. Membaca chat Ray menguji kesabarannya. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di apartemen, mandi, dan beristirahat.
Baru saja ia akan mengetikkan sesuatu untuk membalas chat Ray, lalu masuk chat lain. Masih dari Ray.
From : Rayyan
Sepuluh menit lagi gue turun. Awas lo kalau pulang duluan tanpa gue
Cillian mendengus kesal, untung hanya dia seorang di lift itu. Dasar teman tak tahu diri, sudah nebeng, mengancam pula, gerutunya dalam hati.
Lalu masuk notifikasi chat lagi.
Cillian melirik notifikasi yang muncul di bagian atas layar ponselnya, memeriksa siapa pengirimnya, awas saja kalau Ray lagi, Oh- ternyata bukan.
Seketika wajah Cillian yang semula ketat berubah rileks, keningnya yang berkedut karena menahan kesal perlahan meregang, samar-samar bibirnya mengukir seulas senyum tipis.
Notifikasi itu berasal dari Shabina.
From : Jane
Apa kabar? Maaf, tempo hari aku sensitif banget …
Setelah berpikir beberapa detik, Cillian mulai menggerakkan jarinya, mengetikkan sesuatu.
To : Jane
Alhamdulillah, aku sehat. Kamu gimana? iya nggak papa … maaf juga kalau kata-kataku mungkin keterlaluan, tapi aku nggak sedikitpun bermaksud jelek, aku cuma khawatir karena beberapa hari terakhir kamu kelihatan capek banget ….
Tidak lama, masuk balasan dari Shabina.
From : Jane
Hmm, sebenarnya hari ini aku nggak masuk kantor … tadi pagi kliyengan parah, jadi istirahat di rumah … kejadian deh apa yang kamu bilang, haha
Cillian terdiam sesaat setelah membaca chat Shabina itu. Lalu ia memutuskan untuk menelfon perempuan itu, tepat ketika pintu lift membuka.
Ia melangkah keluar menuju mobilnya diparkir.
Sial, sinyalnya hilang.
Ia menggoyang-goyangkan ponselnya agak tinggi di udara, berharap sinyalnya kembali. Ia terus melakukannya sampai masuk ke dalam mobil.
Ajaibnya di dalam mobil tiba-tiba sinyalnya kembali, buru-buru ia menelfon kontak bernama Jane itu.
Agak lama, baru panggilannya diangkat.
“Halo, Assalamu’alaikum?” sahut suara di seberang telfon.
“Hai, Wa’alaikumsalam … kamu sakit?” tanya Cillian tanpa basa-basi.
Terdengar suara Shabina terkekeh pelan, “udah agak mendingan …”
“Syukurlah” timpal Cillian lega. Ia tahu rasanya kliyengan, benar-benar tidak nyaman. Ia pernah sekali merasakannya, saat itu ia hanya bisa berbaring di kasur seharian, makanya ia sempat agak khawatir setelah membaca chat Shabina.
Hening sesaat.
“Halo?” panggil Shabina.
“Ehm, sandwich dan coffee break kemarin banyak yang muji dan bilang enak … thanks Na” ucap Cillian tiba-tiba karena tidak bisa memikirkan topik lain, lalu sejurus kemudian merasa ***** dengan ucapannya karena-
“Kamu udah bilang kemarin …” sahut Shabina.
Ya, benar. Ia sudah mengatakan itu pada Shabina kemarin, melalui chat, yang dibalas Shabina singkat dan datar, membuat Cillian berpikir perempuan itu masih kesal dengan ucapannya, membuatnya mengurungkan niat menelfon perempuan itu dua hari terakhir.
Tapi sepertinya hari ini Shabina sudah kembali seperti semula. Thank God.
“Ini kamu di mana?” tanya Shabina.
“Di mobil, nunggu Ray … mau balik apartemen” jawab Cillian. “Kenapa?”
“Yan”
“Hm?”
Cillian menunggu Shabina melanjutkan kalimatnya, dari suara perempuan itu sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.
“Tentang keputusan yang kita bicarakan waktu itu …” Shabina berhenti, menggantung kalimatnya.
Cillian agak kaget mendengar kalimat Shabina tadi, tidak menyangka Shabina akan membuka topik itu sekarang. Hatinya agak was-was. Tanpa ia sadari, ia membetulkan posisi duduknya.
Cillian tidak berkata apa-apa, bermaksud mempersilahkan Shabina untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Sebelum aku mutusin, ada yang mau aku omongin sama kamu …” Shabina berhenti lagi, kemudian melanjutkan, dengan agak enggan, “ehm, tentang beberapa hal …” dari suaranya ia tampak tidak begitu yakin.
“Apa ini ada hubungannya dengan mata kamu yang sembab waktu itu?”
Cillian terkesiap dengan pertanyaannya sendiri. Sial, rutuk Cillian dalam hati. Cillian tidak tahu dari mana ide itu muncul, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, dan ia berharap bisa menarik kata-katanya tadi.
Tidak ada suara balasan dari seberang telfon.
Cillian benar-benar menyesali perkataannya tadi.
Setelah beberapa detik berlalu, terdengar suara Shabina pelan, “maksud kamu ..?”
Cillian tahu, Shabina pasti tahu dan mengerti apa maksudnya.
“Waktu aku nginap tempo hari … waktu mau subuhan ke masjid, aku lihat mata kamu sembab, sekilas … apa aku salah lihat?” tanya Cillian hati-hati.
“Perasaan kamu aja … sembab karena bangun tidur mungkin …” jawab Shabina santai.
Cillian tahu Shabina sedang mengelak. Sepertinya ia membuat perempuan itu tidak nyaman. Rasanya ia sudah kelewat batas.
Shabina kembali membuka suara, “Kapan kamu ada waktu untuk bicara? … di rumahku aja”.
Ada yang berbeda dengan suara Shabina kali ini. Cillian bingung mendeskripsikan dan membaca maksud suara itu, tapi yang pasti suara perempuan itu terdengar sedikit ketus dan terkesan defensif.
Apa ia salah lagi? Ah, ia benar-benar tidak mengerti perempuan. Tuhan, tolong beri aku kekuatan, ucapnya dalam hati.
“Hmm, minggu ini? Aku kosong minggu ini …”
“Boleh, minggu kalau gitu”
Cillian menutup telfonnya setelah menjawab salam Shabina.
Ia menghela nafas. Kenapa tiba-tiba semua terasa begitu panjang dan menjauh?
Ia menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Usaha memperistri Shabina tidak semudah yang ia bayangkan.
Tapi ia sudah terlanjur. Terlanjur menaruh hati pada perempuan itu.
∞
Shabina menatap kosong layar ponselnya. Kepalanya mengulang-ngulang tulisan yang ada di sana. Cillian.
Ia yakin Cillian pasti menyadari dirinya mengelak tadi. Cillian terlalu pintar untuk dibohongi, melalui telfon sekalipun.
Shabina hanya tidak siap kalau harus menceritakan semuanya pada Cillian, tidak untuk saat ini. Rasanya aneh saja kalau Shabina membuka semua tentang dirinya sebelum mereka menikah, Shabina tidak menginginkan itu. Maka ia memutuskan hanya memberitahukan lelaki itu hal yang menurutnya penting untuk Cillian ketahui sebelum mereka menikah.
Sekarang semua itu terdengar seperti mereka benar-benar akan menikah.
Shabina merebahkan dirinya ke kasur, gantian menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
Sekarang ia pusing sendiri bagaimana harus memulai obrolan saat hari minggu nanti, bingung harus memulai dari mana. Ia hanya berharap setelah itu Cillian bisa menerima dirinya apa adanya.