
Shabina tidak sabar untuk memulai perjalanan ini, pasti suguhan pegunungan, lembah, sungai yang indah sudah menunggunya.
Pengaturan kursi kereta panorama itu empat-empat. Empat kanan dan empat kiri, yang masing-masing sisinya didesain saling berhadapan. Jendela kereta itu didesain lebar -memenuhi setengah badan kereta, dengan kaca sejelas kristal, membuat penumpangnya dapat menyaksikan suguhan alam Swiss dengan sangat jelas -yang pasti akan membuat mereka berdecak kagum tiap detik dengan keindahannya.
Shabina duduk di samping Shelby, berhadapan dengan mamanya yang duduk di samping nenek. Awalnya Shabina sangat ingin duduk di samping kaca, tapi ia mengalah. Jika nanti memang dia masih menginginkannya, ia akan minta tukar posisi sebentar dengan Shelby, pikirnya. Toh dari posisinya duduk juga ia pasti masih bisa menyaksikan pemandangan indah itu. Sebab kaca jendela kereta ini yang sangat lebar dan luas.
Shabina sedang mengamati keluar jendela yang berada di sebelah kanannya ketika seorang lelaki dan perempuan baru saja melewati Shabina dari sisi kirinya, lalu ia mendengar mereka berbicara.
“Mas, pokoknya aku mau duduk dekat jendela!” suara gadis itu sedikit merengek.
“Iya, iya … kan Mas udah bilang iya Claire …” jawab lelaki itu sambil menghela nafas.
Oh, sepertinya lelaki itu juga mengalah pada adiknya seperti dirinya pikir Shabina, tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela -memandang orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di stasiun kereta.
Hmmm, atau mungkin itu istrinya, bukan adik pikir Shabina. Mereka baru saja duduk di kursi penumpang di seberang kiri Shabina, Ia tahu dari sudut matanya.
Eh, tunggu dulu. Tadi itu bukannya bahasa Indonesia? Shabina telat sadar. Ia baru teringat ini di Switzerland. Agak sedikit takjub bisa berjumpa dengan sesama orang Indonesia di sini.
Ia melirik ke arah kursi penumpang di seberang kirinya -yang posisinya menghadap ke arah Shabina. Matanya menangkap sosok lelaki yang duduk disana. Sadar dirinya sedang dipandang, lelaki itu balik menatap ke arah Shabina.
Uh-oh, bukankah itu lelaki yang mengantri di depannya saat di restoran tadi?
Awalnya Shabina tidak mengenali lelaki itu, karena sekarang ia sudah melepas topi dan jaketnya yang ia kenakan saat di retoran tadi, menyisakan kaus hitam turtleneck dan rambut hitamnya yang agak panjang -tapi belum bisa dibilang gondrong. Tapi setelah memerhatikan wajah lelaki itu agak lama, ia yakin itu lelaki yang ia lihat di restoran tadi, wajahnya tegas, dihiasi dengan brewok tebal di sepanjang rahang dan dagunya -membuatnya semakin terlihat maskulin.
Wajah itu tipe Shabina, tidak mungkin ia melupakannya semudah itu. Jadi dia orang Indonesia? batin Shabina dalam hati.
“Wah, orang Indonesia ya? kami juga dari Indonesia …” ucap mama Shabina ramah seakan bisa membaca pikiran Shabina.
“Wah! kebetulan sekali …” ucap wanita seumuran mamanya yang duduk di barisan sejajar Shabina, di depan lelaki tadi.
Shabina tersadar lalu mengalihkan pandangannya. Ya Tuhan, jangan bilang selama beberapa detik tadi mereka saling bertukar pandang. Sekarang Shabina benar-benar malu. Semoga wajahnya tidak memerah.
Tidak lama, mama Shabina sudah terlibat percakapan hangat dengan mereka, terutama dengan wanita yang seumuran mamanya tadi. Yah, biasa lah, kalau ibu-ibu sudah bicara, serasa teman lama yang baru berjumpa kembali.
Terimakasih atas perbincangan hangat ibu-ibu itu, Shabina jadi tahu, ternyata empat penumpang di kursi sebelah mereka adalah orang Indonesia yang sedang berlibur di Switzerland, mereka adalah keluarga dengan sepasang orang tua dan sepasang anak lekaki dan perempuan. Ternyata yang tadi itu benar adiknya, bukan istri, pikir Shabina.
Wanita yang mengobrol seru dengan mamanya tadi ternyata ibu lelaki itu. Beliau memperkenalkan diri, Camilla Hadisudrajat sebut wanita itu, menyebutkan namanya.
“Jadi Ibu sekeluarga tinggal di Bandung?” tanya tante Camilla.
Mama Shabina mengangguk mengiyakan, “Ibu dimana?” tanya mama Shabina balik.
“Kami tinggal di Jakarta, tapi saya asli Palembang dan papanya anak-anak asli Malang …” ucap tante Camilla.
Mama Shabina orang Aceh. Sesama orang Sumatera, mereka memiliki keterikatan sendiri, membuat obrolan ala ibu-ibu mereka mengalir hangat. Sesekali nenek dan pak Hadisudrajat menimbrung, lalu kembali menatap pemandangan indah di luar. Sedangkan ke-empat anak muda lainnya sibuk dengan pikirannya masing-masing, memilih tidak terlibat percakapan ibu-ibu itu.
Tante Camilla menanyakan rencana perjalanan kami selanjutnya, yang secara ajaib sama persis dengan rencana perjalanan mereka selanjutnya, tepatnya selama tiga hari kedepan. Mereka sama-sama berencana menuju Berne, mengunjungi desa Lauterbrunnen dan Grindelwald. Penginapan mereka juga berdekatan, mereka sama-sama menyewa chalet yang ada di desa Lauterbrunnen.
Tante Camilla mengajukan ide supaya mereka bisa menghabiskan waktu bersama selama di Berne, lebih ramai lebih bagus katanya. The more the merrier, ucapnya antusias.
Shabina tak langsung menjawab, ia balik bertanya enggan, “nggak papa Tante …?” menyiratkan mungkin keluarganya tidak akan suka ide itu.
Seakan paham maksud Shabina, Tante Camilla balik bertanya pada anak lelakinya,
“Nggak papa dong … kan, Yan?” ucap wanita itu sambil tersenyum pada anak lelakinya.
Lelaki yang dari tadi hanya menyimak obrolan kedua ibu-ibu itu, sambil sesekali tersenyum ramah, lalu kembali menatap keluar jendelanya, tersenyum lalu menjawab “Ya nggak papa ma, Yan ikut aja …” ucapnya ramah, sambil sekilas menatap Shabina.
Uh-oh, tatapan sekilasnya tadi membuat jantung Shabina berhenti untuk sepersekian detik.
Yang benar saja kau Shabina! rutuknya dalam hati setelah menyadari jantungnya bertindak sesuka hati tanpa izinnya, hanya karena tatapan sekilas laki-laki itu.
Yan, apa namanya Rian? Tanya Shabina dalam hati.
Lagi-lagi, seakan bisa membaca pikirannya, mama Shabina kembali bersuara, menanyakan nama lelaki itu.
“Nama saya Killian tante, tapi ditulis dengan huruf ‘C’ …” ucap lelaki itu ramah, sambil menoleh pada mama Shabina.
Informasi tambahan itu, pikir Shabina. Ia tersenyum tipis menyadari maksud dari informasi tambahan lelaki itu. Berarti namanya ditulis dengan huruf ‘C’? Cillian? tapi disebut menggunakan huruf ‘K’? Killyan?. Pantas saja, huruf ‘C’ seringnya dibaca ‘S’, yang berarti kalau orang salah menyebutkannya, itu akan terdengar sebagai Sillyan. Shabina terkekeh dalam hatinya, samar-samar menyembunyikan senyum gelinya.
Mereka saling memperkenalkan nama anggota keluarga. Lalu akhirnya sepakat untuk menghabiskan waktu bersama selama tiga hari di Berne.
Tante Camilla menyuruh Cillian untuk menyimpan nomer Shabina, supaya memudahkan komunikasi. Ntah karena mereka sama-sama anak tertua, atau karena ia yang merencanakan perjalanan ini, atau karena alasan lain, Shabina menurut saja, malas memikirkan alasan dibalik permintaan itu.
Selama delapan jam perjalan mereka dari Zermatt menuju St. Moritz, Shabina lebih banyak mengagumi pemandangan indah di luar jendela. Barisan pegunungan yang terpahat sempurna, sungai dan lembah yang seolah keluar dari lukisan, permadani hijau yang sesekali muncul sejauh mata memandang -yang kadang dihiasi dengan rumah-rumah khas Swiss dan sapi-sapi perah mereka yang terkenal, juga puluhan terowongan dan jembatan menakjubkan yang mereka lewati, membuat Shabina tak berhenti berdecak kagum pada ciptaan Tuhan yang ini, Switzerland.
Sesekali ia mendengar obrolan hangat mamanya dan tante Camilla, tidak banyak menimbrung, hanya menanggapi dengan senyum ramah. Begitu juga Cillian.
Yang membuat Shabina agak risih selama delapan jam perjalan itu adalah posisinya yang bersebrangan dengan Cillian, membuat posisi mereka bisa dibilang saling berhadapan, tapi menyerong. Kenyataan itu membuat Shabina beberapa kali tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Cillian, seolah ia kepergok sedang menatap lelaki itu. Tapi, beberapa kali ia juga merasa Cillian duluan yang menatap dirinya, membuat irama jantungnya abnormal.
Tidak, tidak ada alasan khusus yang membuatnya bereaksi seperti itu -ia meyakinkan dirinya sendiri, memang wajah Cillian termasuk tipenya, tapi bukan berarti ia menaruh perhatian apalagi mengakui suka pada lelaki itu.
Hanya saja, ia tidak terbiasa dengan makhluk bernama lelaki.
🌵🌵🌵🌵🌵
Berikut Author lampirkan beberapa gambaran salah satu Swiss Panoramic Train : Glacier Express 🙆♀️
Konfigurasi tempat duduk dalam Glacier Express