
“Loh, kalau ada pesanan memang selalu bosnya yang anterin ya?” tanya Cillian saat melihat Shabina membawa beberapa tas kertas berisi sandwich.
Perempuan itu baru saja sampai di gedung kantor Cillian, dan Cillian menjemput perempuan itu di lobby gedung, karena kantornya berada di lantai dua belas.
“Nggak selalu, cuma orang-orang istimewa aja” celetuk Anne yang berdiri disamping Shabina, juga dengan tangan menenteng tas kertas berisi sandwich.
“Beruntung dong aku kalau gitu …” ucap Cillian sambil melirik ke arah Shabina. Yang dilirik hanya tersenyum tipis.
“Nanti untuk coffee break nya diantar sama karyawanku, sekitar lima belas menit lagi …” ucap Shabina, memilih tidak memperdulikan ucapan Cillian tadi.
Cillian mengangguk paham, mengambil sebagian bawaan dari tangan Anne dan Shabina, lalu memimpin kedua perempuan itu di depan, berjalan menuju lift.
Sesampai di kantor Cillian, mereka langsung menata sandwich tadi di meja yang sudah di sediakan. Beberapa teman Cillian ikut membantu.
Ternyata Anne dan Shabina tidak hanya membawa sandwich, tapi ada juga roasted potato wedges serta beberapa macam saus dan keju.
Seingat Cillian kemarin Shabina hanya merekomendasikan sandwich, dan ia setuju, setelah itu hanya ada tambahan coffee break, apa kentang itu masuk ke coffee break? Tapi kata Shabina karyawan yang membawa coffee break baru akan datang sebentar lagi.
“Na, kayaknya kemarin kamu gak ada bilang tambahan kentang, apa itu masuk ke coffee break?” tanya Cillian.
Shabina tak langsung menjawab, tangannya masih menyusun bungkusan-bungkusan sandwich.
Shabina menoleh ke arah Cillian, “Iya, aku pikir kalau hanya sandwich untuk makan siang mungkin akan kurang, walau porsi sandwich nya cukup besar … jadi aku tambah dengan roasted potato wedges … tapi ini service dari ku kok, jangan khawatir … free of charge” ucap Shabina sambil tersenyum.
Dua perempuan di seberang meja yang ikut membantu menata sandwich saling melempar senyum penuh makna, lalu salah satu dari mereka berceletuk “Wah, beruntung banget Mas … free of charge”
Cillian hanya tersenyum tanpa menoleh ke rekan kantornya, ia tahu mereka sedang menggoda Cillian.
Saat Shabina masuk ke kantor mereka tadi, beberapa teman kantornya heboh, entah karena sandwich-nya, atau karena mereka antusias melihat Shabina setelah mendengar gosip yang disebarkan Ray tentang bakal calon istri Cillian yang akan datang membawa makan siang untuk mereka, ya, itu bukan sepenuhnya gosip juga sih, aku Cillian dalam hati.
Shabina menoleh ke arah kedua perempuan itu lalu tersenyum ramah.
Anne yang dari tadi diam menyimak sambil tersenyum penuh makna, akhirnya membuka suara. “Untuk set coffee break nanti ada salad buah dan cookies Yan, yang ini khusus untuk makan siang kok …” ucap Anne.
Cillian mengangguk paham. “Thanks Na, Anne”
Shabina mengangguk mengiyakan.
Tidak lama berselang, karyawan Shabina yang membawa set coffee break sampai, lalu mereka dengan cekatan menyusun semuanya.
Setelah memastikan semuanya selesai, Shabina pamit pada Cillian, berkata karyawannya akan tinggal untuk membantu sampai waktu makan siang selesai.
“Gak ikut makan siang di sini dulu Na? yang aku pesan lebih kok …” ucap Cillian.
Shabina menoleh ke arah Anne meminta tanggapan, Anne hanya mengangkat bahu, menyerahkan keputusan pada Shabina.
“Hmm, kayaknya nggak usah Yan … jam dua nanti kami ada workshop di kantor, masih harus beres-beres …” ucap Shabina setelah menimbang-nimbang.
“Workshop?” tanya Cillian.
“Iya, Shabina mau ngisi workshop, buat mahasiswa jurusan gizi, Yan” jawab Anne sebelum sempat Shabina membuka mulut.
“Kamu yang bawa workshop-nya?” tanya Cillian pada Shabina.
Shabina mengangguk, “Tapi gantian sama Anne, ada dua sesi”
Cillian terdiam sesaat, seperti memikirkan sesuatu. Ia menatap wajah perempuan di depannya.
Ia menyadari, akhir-akhir ini ketika bertemu Shabina, sepertinya wajah perempuan itu terlihat lelah, tapi Cillian tidak pernah bertanya maupun berusaha menasehati. Tapi kali ini berbeda. Ia tidak ingin Shabina memaksakan diri karena merasa tidak enak dengan Cillian.
“Kamu jangan maksakan diri Na, hari ini kamu mau ngisi workshop, tapi kamu sempat-sempatnya ngantar pesananku ke kantor, kamu kan punya karyawan yang bisa dimintai tolong untuk sekedar mengantar …” ucap Cillian pelan. “Aku nggak mau kamu memaksakan diri karena nggak enakan sama aku … kamu bisa sakit kalau terlalu capek begini Na” sambung Cillian lagi.
Shabina hanya diam mendengar kata-kata Cillian. Apa katanya tadi?
Perasaannya campur aduk, kecewa, kesal, sedih, senang.
Ia senang karena Cillian memikirkannya, peduli dengan kesehatannya. Tapi perkataan lelaki itu juga membuat dadanya sesak, ia merasa usahanya dikhianati, usahanya untuk membantu Cillian sendiri, tanpa meminta bantuan karyawannya.
Ia juga merasa malu, karena seolah dirinya yang mencari perhatian Cillian dengan mengantar langsung pesanannya, setidaknya itulah yang terbersit di hati Shabina setelah mendengar kata-kata Cillian tadi.
Ya Tuhan, sekarang ia benar-benar malu mengakuinya, dadanya benar-benar sesak. Ego-nya sakit karena dirinya sendiri. Ia benci merasa seperti ini.
Cillian menyadari raut wajah Shabina berubah.
Oh God, apa perempuan di depannya ini akan menangis? Apa karena ucapannya tadi? Apa ada yang salah dari kata-katanya? Tapi ia berkata seperti itu karena peduli!
Cillian menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal, tidak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar tak mengerti perempuan.
Anne yang sejak tadi hanya mendengar, sepertinya paham yang dirasakan Shabina, dan berpikir harus memperbaiki suasana. Ia menggandeng lengan sahabatnya itu, “Ah, yaudah ... kita balik dulu ya, Yan” ucap Anne sambil menarik lengan Shabina.
“Maaf …” ucap Shabina tiba-tiba sambil menatap Cillian, matanya mulai berkaca-kaca karena dadanya terlalu sesak.
Shabina benar-benar sudah gila, tidak lucu kalau ia menangis di sini hanya karena kata-kata Cillian tadi. Hah! ya! karena kata-kata tadi. Menyadari dirinya dengan mudah meneteskan air mata hanya karena kata-kata tadi semakin membuatnya membenci diri sendiri, tapi belum, air matanya belum keluar, hanya saja mereka sedang berlomba-lomba, berdesakan untuk keluar.
Cillian menatap perempuan di depannya dengan wajah bingung, bersalah, dan sedikit bodoh.
God! Dia benar-benar akan menangis. Apa yang harus kulakukan? Batin Cillian dalam hati. Kalau iya Shabina menjadi seperti ini karena perkataannya tadi, ia amat sangat menyesalinya kebodohannya, walaupun ia juga belum tahu pasti apa yang salah dari kata-katanya tadi.
Cillian hampir saja membuka mulut, ingin meminta maaf, tapi Shabina duluan membalikkan badannya. Melangkah menuju pintu keluar, menjauhi Cillian.
Anne yang masih berdiri di tempatnya, ditinggal jalan oleh Shabina, menoleh iba ke arah Cillian yang berdiri dengan wajah bengong, “gak usah dipikirin Yan … Na mungkin lagi capek aja, jadi sensitive …” ucap Anne menenangkan.
“Apa kata-kataku tadi salah?” tanya Cillian bingung.
“Nggak, aku ngerti kamu peduli … memang dasar Shabinanya lagi sensitif, mungkin … mungkin ya, dia merasa kamu nggak menghargai usahanya yang sudah nganterin pesanan kamu secara pribadi” kata Anne lagi.
Sekarang tampang Cillian benar-benar terlihat bodoh, “Aku sama sekali nggak bermaksud seperti itu”
“I know, yaudah pokoknya gak usah dipikirin. Ntar juga normal lagi. Aku duluan ya” ucap Anne sambil melangkah pergi.
Cillian masih berdiri mematung dengan tampang bodohnya, kejadian tadi begitu cepat, suasana yang awalnya baik-baik saja –malah sangat baik, seketika berubah. Ia bagai baru saja diporak-porandakan angin ****** beliung, membuat otaknya tida bisa memproses apapun. Ini salahnya. Andai ia bisa menarik perkataannya tadi.
Di dalam mobilnya Shabina mulai terisak pelan. Kenapa ia bisa sesedih ini? hormonnya pasti sedang kacau balau. Ia membenci dirinya yang mudah menangis sejak bertemu dengan Cillian lagi.
Dilihatnya Anne sedang berjalan menuju mobil, Shabina menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya. Ia menyeka air matanya dengan tisu.
Tangisannya hari ini benar-benar tidak penting, pikir Shabina. Ia tidak ingin membahasnya. Setelah Anne masuk mobil, ia akan mulai membahas workshop nanti.
Ya. begitu lebih baik.
🌵🌵🌵🌵🌵
Diatas adalah menu2 yang ada di acara syukuran kepindahan Cillian ke kantor Bandung 😆
Thanks to pinterest for these amazing and satisfying pict 🙇♀️💃
🌵🌵🌵🌵🌵
Terimakasih yang sudah membaca sampai Ch 26 💃
Jangan lupa tinggalkan feedback, love, rate dan vote 🙆♀️
Love,
Reeva