Bloom

Bloom
Chapter 04



Shabina sadar betul menyetir dari Bandung ke Jakarta bukan main-main, untuk dirinya yang jarang menyetir jauh sendiri, sudah tentu menyetir sendiri ke Jakarta butuh konsentrasi ekstra. Maka tidak pikir banyak, pakaiannya menghadiri pesta penikahan Emma pun dipilihnya yang paling nyaman, dari segi model maupun bahannya.


Shabina memang tidak punya begitu banyak pilihan outfit kondangan, seringnya ia akan mix & match baju-baju kantornya supaya terlihat wearable untuk menghadiri pesta pernikahan. Bahkan pakaiannya yang berbahan brokat hanya dua blouse yang model potongannya sangat simpel, ia memang bukan termasuk yang heboh atau all out kalau ke pesta pernikahan, apalagi sampai mengalahi pengantin perempuan. Cukup atasan dan bawahan simpel namun elegan.


Kali ini ia memilih tunik selutut berwarna merah maroon berbahan chiffon dengan belahan kiri kanan sampai pinggul dan detail ban yang dijahit mutiara di pinggang, dipadukan dengan palazzo pants berwarna broken white dan pashmina berwarna senada.


Ya, pilihannya cukup nyaman dibawa menyetir selama kurang lebih 3 jam.


Pakaian sudah oke, sekarang ke wajah. Ia tidak terlalu menghabiskan tenaga untuk riasan wajah, cukup pakai lipstik merah MAC shade ruby woo andalannya, dan sisanya dibuat sesimpel mungkin.


*C*lutch hitam sudah diisinya dengan tisu, dompet, parfum, dan beberapa perlengkapan untuk touch-up. Untuk alas kaki pilihannya jatuh kepada kitten heels berwarna hitam yang sangat nyaman di kakinya. And she is perfect.


Shabina melirik jam tangan hitamnya untuk yang ketiga kalinya. Sudah dua puluh menit yang lalu Anne bilang otw, tapi sampai sekarang batang hidungnya belum kelihatan. Harusnya sepuluh menit dari rumahnya kesini sudah sampai kalau naik mobil.


Pukul 08.30, padahal mereka berencana berangkat pukul 08.00.


Awalnya ia berniat menjemput Anne ke rumahnya, tapi mas Alan, suaminya Anne bilang biar diantar, sekalian berangkat katanya.


Hampir saja ia melirik jam tangannya untuk yang keempat kali kalau saja kakinya tidak reflek berdiri ketika mendengar suara klakson- yang dari suaranya ia yakin itu mobil keluarga Anne. Ah akhirnya.



Setelah hampir tiga jam di dalam mobil, akhirnya mereka sampai di lokasi acara. Sebelum turun Shabina meregangkan otot-ototnya, sudah lama sekali sejak ia menyetir jauh, dan sekarang seluruh ototnya terasa kaku. Anne yang duduk di kursi penumpang di sampingnya sibuk touch-up sebelum akhirnya menoleh kebelakang mengecek keadaan bayi laki-lakinya, Aryan masih pulas tertidur di baby car seat. Anne menoleh ke Shabina. Sekarang mereka harus bersiap untuk mendengarkan tangis bayi sepuluh bulan yang dipaksa bangun dari tidur lelap oleh ibunya.


Akad nikah sudah selesai tadi pagi, dilaksanakan di masjid yang terletak di lantai atas gedung resepsi. Sekarang mereka sedang menunggu pengantin pria dan wanita keluar, yang akan disambut seluruh undangan menuju pelaminan yang bernuansa emas.


Karena membawa bayi, Shabina dan Anne memilih untuk langsung mencari tempat duduk begitu masuk aula pernikahan. Suasana di dalam belum begitu ramai, untunglah, pikir Shabina. Memang rencana mereka datang saat belum terlalu ramai, bisa kacau kalau sudah ramai, ditambah Aryan yang menangis karena panik terlalu banyak orang.


Belum lima menit mereka duduk, Anne sudah tidak sabar ingin menyusuri semua food stall yang ada. Mereka memang sengaja duduk agak kebelakang, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memanjakan perut mereka dengan makanan pesta pernikahan.


Anne menyerahkan Aryan ke pangkuan Shabina. “Aku keliling dulu” ucap Anne dengan senyum nakalnya.


“Iya ... iya, jangan kalap kamu… entar ga sanggup nyetir balik bandung” balas Shabina.


“Tenang Bu Bos” ucap Anne sambil mengacungkan jempolnya.


Shabina tidak heran, Ibu menyusui memang makannya banyak, butuh energi lebih kata Anne. Ah, kalau Anne, mau menyusui atau tidak pun memang dasarnya kuat makan, apalagi jajanan-jajanan seperti ini. Surga bagi Anne. Shabina sudah maklum kalau nanti Anne kembali dengan kedua tangannya penuh makanan walaupun tadi ia sudah mengingatkan untuk tidak kalap.


Mereka duduk di bagian tengah aula agak ke belakang, di mana lima kursi disusun dengan meja bulat di tengah. Di meja mereka hanya ada Shabina dan Aryan, Anne masih berkeliling mengambil makanan.


Aryan sudah familiar dengan Shabina, jadi dia betah-betah saja dipangku oleh Shabina.


Aryan memainkan ujung pashmina Shabina sambil bergumam bahasa bayi. Shabina memandangnya lekat, Aryan bukan anaknya, tapi ia menyayangi Aryan seperti anaknya sendiri. Aryan tersenyum memamerkan gusi mungilnya, membuat Shabina reflek tersenyum dengan mata berbinar, Ah, begini rasanya punya anak, batinnya yang entah untuk keberapa kalinya. Shabina sangat menikmati waktunya saat bersama Aryan, karena dia belum memiliki anaknya sendiri, dan ia tau ia sangat menginginkannya.


Aryan tidak berhenti tersenyum, sekarang tingkah polahnya membuat Shabina makin gemas dan tangannya reflek menggelitik lembut bagian perut Aryan, yang membuat bayi itu makin kegirangan, tertawa sambil menggeliat. Shabina tertawa kecil kemudian mencium kening makhluk kecil itu.


Anne really took her time, pikirnya tiba-tiba.


Shabina mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut tempat food stall berada, dan di sana ia menemukan temannya, sedang mengantri untuk martabak manis. Shabina geleng-geleng kepala, lalu kembali menoleh ke depan.


Disana ia melihat seseorang, sedang menatapnya balik dengan raut wajah … ah, ia tidak pandai mendeskripsikannya. Yang pasti laki-laki itu menatapnya balik, cukup lama, sebelum Shabina tersadar dan mengalihkan pandangannya.


Apa-apaan itu, pikirnya. Memang sih wajahnya termasuk tipe Shabina, walau menurut Shabina kulitnya terlalu putih untuk ukuran laki-laki Indonesia. Dan iya, bisa dibilang dia tampan, tapi sementang punya muka cakep terus seenaknya aja curi-curi pandang ke aku? Batin Shabina, oke, bukan curi-curi lagi, tapi terang-terangan menatap Shabina !.


Sekarang wajah Shabina terasa panas karena malu. Aryan menatapnya bingung, mungkin kalau bisa bicara, Aryan bakal bilang begini “Tante… mukanya kayak gurita rebus”.


Oh, enough, Shabina you are not a teenager, don’t blush … just over this.


Shabina mencoba kembali ke realita, diperbaikinya posisi Aryan yang sudah kurang nyaman. Ia memutuskan mendudukkan Aryan dipangkuannya, membuat bayi itu menghadap kedepan. Berharap Aryan bisa melihat seperti apa yang dia lihat, berharap Aryan adalah mata-matanya yang siap untuk diberi misi mematai laki-laki tadi. Konyol. Iya. Karena ia terlalu malu untuk melihat kearah laki-laki tadi.


Tapi dia penasaran, entah kenapa, tatapannya tadi benar-benar membuat Shabina penasaran, apa maksudnya? Apa dia mengenal Shabina?.


Biasanya Shabina tidak akan menggubris kalau ada laki-laki yang melirik atau tersenyum padanya, tapi sekarang ia terusik.


Ah masa bodoh, pikirnya. Dari pada batinnya tersiksa, frustasi karena penasaran, ia memilih untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Ia membawa pandangannya ke tempat pria tadi. Syukurlah batin Shabina, ia sedang mengobrol dengan orang disampingnya, tidak sadar Shabina melihatnya. Pria itu duduk mengarah ke Shabina, bisa dibilang mereka saling berhadapan, dengan jarak kurang lebih lima meter, dan ya, Shabina bisa melihat wajahnya dengan jelas. Pria itu masih berbicara dengan orang disamping kanannya, sesekali ia tersenyum lalu sedetik kemudian tertawa pelan sambil memegangi rahang, lalu dagunya. Shabina seperti familiar dengan gestur itu, tapi dia tidak benar-benar ingat.


Ia terkesiap. Laki-laki itu benar-benar terasa familiar. Senyumnya, tawanya, gestur tubuhnya dan perawakannya. Tapi Shabina tidak bisa mengenali siapa laki-laki itu. Ia benar-benar frustasi dengan sifat buruknya yang susah mengingat dan mengenali orang. Benaknya berserabut mencari-cari siapa laki-laki itu, tanpa ia sadari matanya masih menatap ke arah laki-laki tadi.


Uh-oh. Sekarang mata mereka kembali bertemu.


“Sori lama Na … Wah, Aryan anteng banget sama tante Na yaa … sering-sering begini ya Nak” suara Anne mengalihkan pandangan Shabina ke arah sahabatnya itu. Shabina bersyukur dalam hati, kali ini ia diselamatkan sahabatnya, hampir saja ia ketahuan terang-terangan memandangi laki-laki itu. Atau ia sudah ketahuan?.


“Ah, hm? Oh udah?” jawab Shabina kagok.


Anne mengernyitkan dahinya, merasa ada yang aneh dengan gelagat Shabina. Tapi sejurus kemudian kembali fokus dengan makanan hasil buruannya.


Shabina ikut teralihkan dengan makanan yang dibawa Anne, dan ia melupakan sejenak laki-laki misterius tadi. Ia mengambil piring kebab yang dibawa Anne, kelihatannya enak. Matanya menyusuri bentuk luar kebab dengan antusias. Isinya tidak pelit, karena bentuknya yang padat, dan kulit kebabnya dimasak dengan pas menurut Shabina.


Shabina memotong kebabnya menjadi dua, walau jadi sedikit berantakan tapi ia tetap mencoba menyendok setengah kebab itu ke dalam mulutnya yang kecil dengan pelan. Hmm, benar tebakannya, kebab ini memang enak.


Melihat reaksi Shabina, Anne jadi ingin mencicipi kebab itu. Shabina menyuapkan setengah kebab lagi ke mulut Anne yang sejurus kemudian membuat mata Anne berbinar seperti anak kecil yang baru dapat permen.


“Ya kaan?” tanya Shabina kepada Anne dengan nada antusias, yang dibalas Anne dengan anggukan dua kali secepat kilat.


Ya, mereka sudah cukup lama kenal untuk tahu maksud perkataan maupun pertanyaan masing-masing, walau pertanyaannya hanya terdiri dari dua kata.


“Bisa kita adopsi nih resepnya Na” kata Anne menunjuk piring kebab yang sudah kosong.


Ya, Shabina juga tadi berpikir begitu. Mereka memang satu frekuensi. “Ya? I think so too … kamu udah kebayang apa-apa aja bumbunya dari satu suapan tadi?” tanya Shabina.


“Hmm … bumbu untuk marinated daging yang biasanya kita pakai, ya bumbu dasar yang biasa … tapi ada aroma khas yang kecium sama aku, tapi aku belum tau itu apa … ” jawab Anne. “Terus kamu udah lihat isiannya bener-bener gak tadi?” sambung Anne lagi.


“Iya, aku juga kecium sih ... ada aroma herb gitu kan? Tapi aku juga belum tahu pasti apa ... dan aku lupa ngecek isiannya haha” jawab Shabina.


Nggak biasanya dia begini, saat mau makan makanan yang baru dicicipinya dia pasti akan selalu meneliti sajian itu dengan detail luar dalam, yah barangkali saja bisa jadi inspirasi untuk makanan yang mereka sajikan untuk pelanggan, kan?.


“Yaudah, aku ambil lagi dulu deh kebabnya ya ...” ucap Shabina sambil berdiri dari duduknya. Membawa Aryan berdiri bersamanya.


“Aryan kamu bawa juga? gak berat?” tanya Anne sebelum memasukkan martabak manis ke dalam mulutnya.


“Gapapa deh, biar aku bawa dia keliling … suntuk nih dari tadi duduk mulu kayaknya” jawab Shabina sambil membenarkan posisi Aryan di pinggangnya.


Shabina mengedarkan pandangan ke food stall yang ada, mencari di mana ia bisa mendapatkan kebab, dan mungkin mengambil beberapa makanan lain yang belum diambil Anne.


“Ah, itu dia kebabnya … Aryan mau kebab juga nak? ... kasiannya kamu, cepet gede dong biar kita makan-makan enak, ya sayang ya… ” ucap Shabina pada Aryan sambil jalan menuju stall kebab.


Shabina mengantri, di depannya ada empat orang yang sudah mengantri. Kalau ada yang bilang mau tau makanannya enak atau tidak lihat saja dari banyaknya orang yang mengantri atau tidak, it couldn’t be more true, pikir Shabina.


Kebabnya dipanggang di tempat, jadi mungkin antriannya agak sedikit lama, but its okay, kebab tadi memang benar-benar enak, dan mengantri untuk mendapatkan makanan enak jadi kesenangan sendiri, kecuali pinggangnya yang mulai pegal karena menggendong Aryan yang cukup montok untuk bayi seusianya.


Shabina melihat-lihat food stall yang lainnya, ada sekitar dua atau tiga stall yang antriannya panjang, dilihatnya tulisan diatas stall, ada martabak manis, martabak mesir dan dimsum yang ramai diantri orang.


Sepertinya dimsum belum diambil Anne, oke setelah ini ia akan mengantri di tempat dimsum. Semoga pinggangnya masih sanggup, ucapnya dalam hati sambil melihat wajah polos Aryan dengan senyum. Dua antrian lagi sebelum Shabina. Semoga ia sanggup.


“Assalamu’alaikum” ucap seseorang dibelakangnya, Shabina menoleh, diikuti Aryan yang sedang memainkan ujung pashmina Shabina dengan tangan mungilnya.


Laki-laki tadi, batinnya dalam hati. Sekarang jarak mereka hanya setengah meter, dan Shabina tidak mau bertingkah seperti anak perempuan puber, apalagi dalam kondisi sedang menggendong Aryan begini.


Uh-oh, apa dia akan berpikir ini anakku? Tapi kalau aku sudah ibu-ibu ngapain juga dia coba menyapaku? Benak Shabina seolah membuat percakapan sendiri dengan brutal tanpa seizin Shabina.


Oke, dia harus mengendalikan tampang dan suaranya, ya, harus. Kalau tidak mau terlihat konyol di depan laki-laki yang baru mengucapkan salam kepadanya semenit yang lalu. Ah, salam. Shabina belum menjawabnya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah …” jawab Shabina santai. Mencoba sesantai mungkin lebih tepatnya.


Ia tidak tahu apa yang salah, suaranya akan terdengar sangat aneh kalau berbicara langsung apalagi dari jarak dekat dengan laki-laki. Kadang suaranya terdengar bergetar tanpa ia sadari, seringkali karena sangking canggungnya, suaranya jadi terdengar sangat ketus. Shabina memang tidak terbiasa dengan laki-laki, dari masa kuliah sampai sekarang. Ia tidak tahu caranya bersikap normal di depan makhluk yang dipanggil lelaki. Bukannya ia benci dengan makhluk satu ini, hanya saja ia tidak terbiasa. Dan ia tidak pernah berusaha untuk mencoba terbiasa. Dari dulu, di dalam lubuk hatinya selalu ada kecurigaan dan was-was jika berkaitan dengan laki-laki.


Laki-laki itu masih melihat Shabina, tanpa berkata apa-apa, membuat Shabina memilih mengalihkan pandangannya, risih karena dipandangi.


Shabina akan membuka mulutnya ingin berucap “maaf, ada apa ya Mas?” kalau saja laki-laki itu tidak duluan membuka suara.


“Kamu gak ingat Na?” tanya laki-laki itu sambil menunjuk dirinya sendiri.


What? Dia tahu namaku? Apa memang kami pernah ketemu? Tapi dimana? Tidak mungkin aku lupa dengan orang yang wajahnya termasuk tipeku, kalau iya, sifat lupaku benar-benar kelewatan, batin Shabina dalam hati.


Sekarang wajah bingung Shabina pasti terlihat konyol dimata laki-laki ini, semoga saja sebentar lagi ia tidak menertawakanku, pikir Shabina. Jari Aryan yang tiba-tiba memegang pipinya seakan menyadarkan Shabina, dan ia harus menjawab lelaki itu. Dia tidak ingat.


“Hmm, maaf … saya benar-benar nggak ingat. Kita pernah jumpa?” ucap Shabina merasa bersalah.


Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum, “Switzerland?” balas laki-laki itu bertanya.


Shabina masih berpikir. Sepertinya akan lama sampai ia akhirnya ingat, seakan sadar akan hal itu, laki-laki itu kembali membuka suaranya “Switzerland akhir tahun 2018?” sambung laki-laki itu lagi, berharap dengan sangat perempuan di depannya bisa ingat.


Shabina memutar otaknya, berharap otaknya bisa diajak bekerja sama dan segera mengingat laki-laki di depannya ini.


Switzerland. Ya, tahun 2018 silam ia memang liburan ke Switzerland bersama Ibu, nenek dan adik perempuannya. Lalu?


Kepingan-kepingan liburan di Switzerland memenuhi kepalanya. Oh, mereka juga berjumpa keluarga Indonesia yang tinggal di Jakarta dan sedang berlibur seperti mereka. Anggota keluarga mereka, hmm, ada ayah, ibu, kakak lelaki dan adik perempuan. Ia mengingat wajah mereka satu persatu. Apa jangan-jangan …?


Kemudian dia mendongak melihat lelaki didepannya, tapi otaknya mengingat orang lain. Lelaki didepannya berbeda dengan lelaki yang ada diingatannya saat di Switzerland, tidak mungkin itu dia kan ?


Shabina melihat lekat mata dan alis lelaki di depannya itu, yang sepertinya mulai tidak sabar karena Shabina masih belum memberikan jawabannya.


Alis hitamnya yang tegas. Mata coklat yang menatap hangat, dinaungi bulu mata pendeknya yang cukup lentik. Mata itu … Ya tuhan …


Bagai diberi ilham, mata Shabina membesar, mulutnya seperti otomatis terbuka, yang sejurus kemudian ditutupnya dengan tangan kirinya -sedang tangan kanannya menggendong Aryan.


Yaampun, batinnya keras dalam hati. Ia hampir saja tidak mengenali orang didepannya ini, oke, sedetik sebelumnya ia memang sama sekali tidak mengenali lelaki ini. Tapi sekarang ia tahu. Kemudian berpikir, betapa janggut, kumis, jambang dan rambut-rambut di wajah -atau apapun sebutan mereka, membuat rupa seorang laki-laki berubah.


Shabina menurunkan tangan dari mulutnya, yang kini juga bergabung dengan tangan satunya untuk menopang Aryan. Lalu membuka suaranya “Cillian …? Kamu Cillian?”


Sekarang bibir lelaki di depannya membentuk senyum simpul sekaligus lega, lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan Shabina tadi.


“Kamu berapa yan?” tanyanya.


“Satu deh … ” jawab Cillian, yang kemudian tanpa sadar tersenyum simpul. Shabina masih mengingatnya, ingat bagaimana ia dipanggil. Ingat bagaimana namanya dilafalkan. Dan entah kenapa itu membuat Cillian sedikit senang.


“Tolong kebabnya dua ya Mas” ucap Shabina, lalu kembali balik badan menoleh ke arah Cillian.


“So, kayaknya kita harus ngobrol deh … ” sambung Shabina dengan muka geli dan masih nggak percaya orang yang didepannya ini, in fact, orang yang sejam lalu dikiranya curi-curi pandang dengannya adalah orang yang dia jumpai dua tahun lalu di Switzerland. Sekarang ia menertawai dirinya sendiri di dalam hati.


“Harus” jawab Cillian sambil menganggukkan kepalanya, lalu menoleh kearah Aryan yang ada di gendongan Shabina


“Biar aku yang gendong, kelihatannya dia cukup bersahabat dengan orang baru kan?” sambung Cillian sambil mengulurkan tangannya kearah Aryan, yang tidak di sangka-sangka disambut dengan gembira oleh Aryan.


Shabina takjub melihat tingkah bayi itu, Aryan memang termasuk welcome dengan orang baru, dan mau-mau saja digendong dengan orang yang baru dia temui. Tapi dengan orang yang baru dilihatnya sepuluh menit yang lalu? Oh boy, Aryan … kamu terpesona sama om Cillian atau karena kasian sama pinggang tante yang sudah encok nak? ucap Shabina dalam hatinya.


Cillian sebenarnya menyadari kalau Shabina mulai terlihat kepayahan menggendong Aryan, ia maklum, bayi laki-laki itu memang terlihat cukup berat.


“Kamu mau langsung ke meja? Atau ada yang mau diambil lagi?” tanya Cillian sambil menggendong Aryan dengan kedua tangannya, sekarang kerah baju Cillian yang jadi mainan Aryan.


Kebab mereka sedang disiapkan, mungkin sekitar lima menitan. Shabina melihat ke arah stall dimsum, diikuti oleh Cillian.


“Setelah ini sebenarnya aku mau ambil dimsum” jawab Shabina sambil menunjuk kearah stall dimsum.


“Oke, biar aku yang ambil. Kamu tunggu disini, biar gak lama. Mumpung disana lagi gak ada yang ngantri” kata Cillian, yang sejujurnya terdengar sangat familiar untuk Shabina. Tidak banyak yang memperlakukan Shabina seperti ini, mungkin hanya satu orang, ya, Cillian saat dulu di Switzerland. Maksudnya, menawarkan bantuan untuk hal-hal yang remeh seperti ini. mungkin bagi sebagian orang ini hal sederhana, tapi tidak bagi Shabina. Itu membuatnya sedikit senang.


“Kamu mau satu-satu dari semua jenis kan?” sambung Cillian lagi memastikan. Ya, dia masih ingat kebiasaan Shabina mengambil makanan saat di Switzerland dulu, dan dia tahu betul kebiasaan itu sangat membantu pekerjaan dan bisnis Shabina.


“Haha ... yap, tolong ya ... thanks Yan” jawab Shabina, terkesan dengan ingatan Cillian yang masih mengingat kebiasannya.


Shabina dan Cillian kembali ke meja di mana Anne duduk. Kedua tangan Shabina penuh, masing-masing memegang piring berisikan kebab, sementara Cillian mengendong Aryan dengan tangan kanannya dan tangan satunya membawa piring berisikan dimsum. Mereka sampai di tepi meja, meletakkan piring berisi makanan, dan menarik kursi untuk duduk.


Anne menoleh kearah keduanya, pertama ke sang lelaki, awalnya ia bingung, lalu kemudian dilihatnya Aryan anteng dalam gendongan laki-laki itu, sekejap kemudian menoleh kearah sahabatnya, yang dilihat hanya tersenyum geli.


“Oh wow Na … pergi berdua, kembali bertiga, huh? nice” ujar Anne.


“Hahaha … Ya tuhan Anne, ini temanku … dulu kami ketemu di Switzerland saat liburan keluarga, aku yakin kamu pasti pernah dengar ceritanya” ujar Shabina.


Wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum, ia tak tahu kenapa. Apa karena bertemu Cillian? Atau merasa geli dengan kekonyolannya sendiri sejam yang lalu.


“Oh ... ya aku ingat” jawab Anne sambil menganggukkan kepalanya.


“Halo … Cillian” ucap Cillian sambil tetap menggendong Aryan di pangkuannya, lalu disambung Shabina, “tulisannya C-I-L-L-I-A-N, tapi bacanya “killyan” not “sillyan”, right?” yang dibalas oleh Cillian dengan anggukan, lalu tertawa pelan.


Anne mengangguk sambil tersenyum lebar penuh makna, lalu memperkenalkan dirinya “Hai … aku Anne, sahabat sekaligus rekan bisnis Shabina”


“Oh, jadi kalian kerja bareng? masih lanjut bisnis yang dulu Na?” ucap Cillian sambil menoleh kearah Shabina lalu menyendok kebab ke mulutnya yang sebelumnya sudah dipotongnya menjadi setengah bagian. Mata Aryan yang masih di pangkuan Cillian mengikuti arah kemana tangan lelaki itu bergerak. Lalu mengoceh dengan bahasa bayi.


“Yap, dari awal bisnis kami udah kerja bareng … dan ya, masih bisnis yang dulu … hehe” jawab Shabina.


“Kami sudah bareng dari kuliah, so yeah … I know her inside out … haha” ujar Anne kemudian menyendok kebab ke mulutnya, kali ini ia tidak lupa mengecek isi dalamnya terlebih dahulu dan mencoba mengunyahnya dengan hati-hati untuk mengetahui aroma herb apa yang ada di dalamnya.


Sambil mengunyah Anne melirik kearah Shabina dengan mata jahilnya, lalu menoleh ke Cillian dan seakan-akan berkata dengan matanya, “Ya, aku sangat mengenal Shabina, kalau mau tahu sesuatu, tanya aku”.


Shabina hanya geleng-geleng kepala. Hari ini entah sudah berapa kali ia menggelengkan kepalanya karena ulah sahabatnya itu.


Aryan mulai merengek minta digendong mamanya. Sepertinya sudah waktunya Aryan makan, frustasi melihat Cillian mengunyah kebab tanpa mencoba berbagi.


“Na, kayaknya udah lapar deh dia, aku kasi makan bentar ya ke mobil” ujar Anne sambil bangkit dari duduknya.


“Oh, oke … ini kunci mobilnya, kalau ada apa-apa telfon aku” balas Shabina, ia tahu Aryan merengek minta susu, dan Anne tidak mungkin menyusui disini.


“Pamit bentar ya, silakan ngobrol … nostalgia juga boleh ... hehe” kata Anne sambil mengambil Aryan dari pangkuan Cillian. Cillian hanya senyum, sementara Shabina mengernyitkan dahinya, tapi tak sadar bibirnya tersenyum.


“Aku beneran kaget loh yan ketemu kamu di sini” ucap Shabina membuka suara. Mengingat kekonyolannya karena tidak mengenal Cillian membuatnya geleng-geleng kepala.


“Pengantin prianya temen satu kantorku, so ... yeah” ucap Cillian. “Jadi ... tadi itu kamu bener-bener gak ngenalin wajahku Na?” sambung Cillian lagi sambil tertawa geli.


“Kamu tahu, wajahmu bener-bener berubah Yan!” balas Shabina.


Cillian mengernyitkan dahinya, “Berubah gimana?” tanyanya polos.


“Dulu di Switzerland kamu brewokan … parah, sampe bibirmu hampir hilang” jawab Shabina mengingat, yang disambut tawa oleh Cillian.


Cillian tahu pasti apa yang selanjutnya akan dikatakan Shabina.


“Dan sekarang … semuanya hilang, wajahmu jadi benar-benar beda sampai aku … hhh, gak ngerti deh ... sampai aku nggak ngenalin kamu” ucap Shabina sambil melengos, diikuti tawa Cillian yang terdengar lebih keras dari yang pertama.


Sekarang semua penasaran Shabina terjawab, tidak heran sosok lelaki di depannya ini terasa sangat familiar beberapa jam yang lalu.


Walaupun Shabina hanya mengenal Cillian selama tiga hari saat di Switzerland dan setelah itu mereka tidak pernah kontak lagi selama kurang lebih satu tahun, tapi ia merasa telah mengenal Cillian bertahun-tahun. Maka walaupun ini adalah pertama kali mereka bertemu sejak di Switzerland, Shabina merasa nyaman-nyaman saja berbicara dengan Cillian.


“So, kamu sekarang tinggal di Jakarta?” tanya Cillian.


“Oh, nggak, aku masih tinggal di Bandung. Emma temen satu angkatanku di kuliah … jadi, ya tadi pagi aku berangkat kesini dari Bandung” jawab Shabina


“Berdua dengan Anne?” tanya Cillian lagi.


“Tepatnya bertiga, dengan Aryan” jawab Shabina.


“Ah, ya … well, haha ...” balas Cillian tertawa ringan mendengar jawaban Shabina. “Nyetir sendiri?” tanya Cillian lagi.


“Yup, tadi pagi aku yang nyetir. Ntar balik ke Bandung Anne yang nyetir Insya Allah” jawab Shabina santai.


Perempuan menyetir sendiri Bandung-Jakarta sebenarnya bukan ide yang baru bagi Cillian. Ada beberapa teman perempuan di kantornya yang melakukan hal yang sama. Tapi tetap saja itu membuat Cillian berdecak kagum dalam hati, tidak menyangka perempuan seperti Shabina menyetir sendiri untuk perjalan yang menurutnya tidak dekat. Maksudnya, well … Shabina terlihat seperti wanita lembut, pendiam dan keibuan -tak terlihat seperti perempuan yang bakalan menyetir sendiri Bandung-Jakarta.


Tapi Cillian sadar, di sisi lain juga sifat mandiri Shabina sangat dominan, you know … independent woman vibes, membuat Cillian terkadang berpikir dua kali untuk membuka obrolan dengan Shabina, seperti di Switzerland dulu.


Hening sesaat. Sekarang Shabina mulai salah tingkah dalam hatinya, momen begini paling ia benci, terlebih kalau lagi berhadapan dengan laki-laki.


Cillian masih terdiam. Shabina memutar otaknya mencari topik untuk memecah keheningan, apa yang harus aku katakan? Atau tanyakan? Kabar om dan tante? Kabar adik perempuannya? Apa dia masih bekerja sebagai interior designer? Atau apa dia sudah berkeluarga? No-no-no, Shabina don’t you dare ask that question, malunya dia kalau sampai Cillian berpikir dia berharap Cillian masih single.


What? Berharap? Come on, bukan itu yang Shabina maksudkan … tapi, tapi … hhh dia lelah dengan perdebatan batinnya sendiri, dan sejurus kemudian ia mulai berfikir, kenapa aku harus repot mencari topik obrolan dan uneasy dengan keheningan ini? pikirnya. Cillian duluan menyapanya, Cillian duluan yang menatapnya, harusnya Cillian yang bertanggung jawab. Yap! Begitu harusnya. Dan dia memilih terus diam.


Cillian berdeham pelan, kemudian membuka suara “kamu rencana balik langsung ke Bandung Na?”


“Rencananya iya, soalnya bawa Aryan … khawatir juga kalau balik kesorean. Kenapa?” tanya Shabina.


“Oh gitu … Nggak, tadi rencana mau ngajak kalian main ke rumah. Mama sama papa pasti kaget kalau ketemu kamu” jawab Cillian.


Oh, dia masih tinggal dengan orang tuanya, pikir Shabina. Dia belum menikah. Otaknya seperti otomatis berpikir demikian.


“Oh ya? Mungkin lain waktu kalau aku ke Jakarta lagi kita bisa jumpa Yan. Titip salam buat om dan tante, mereka sehat kan ?” tanya Shabina.


“Alhamdulillah … mereka sehat …” balas Cillian. “Boleh aku minta nomer telfon kamu?” sambungnya lagi tanpa ba-bi-bu.


“Sure” jawab Shabina santai, kenapa tidak pikirnya.


Shabina memberikan nomor telfonnya, Cillian menyimpannya lalu mencoba menelfon ke nomor yang disebut Shabina tadi.


Nama Cillian muncul di layar ponsel Shabina. Ia terpaku sesaat, ternyata selama ini Shabina menyimpan nomor Cillian. Ya, mereka memang saling bertukar nomor ketika di Switzerland, tapi ia sama sekali sudah lupa dengan fakta ia pernah menyimpan nomor Cillian selama ini dan mereka sama sekali tidak pernah berhubungan sejak dari Switzerland. Lucu saja rasanya. Kalau diingat-ingat lagi, ya ... ia lupa dengan fakta ini karena tidak lama setelah pulang dari Switzerland mamanya masuk Rumah Sakit, dan sejak itu Shabina hanya fokus merawat mamanya, dan melupakan wacana-wacana mereka sekembali dari Switzerland, seperti kumpul keluarga -dengan keluarga Cillian. Pun Cillian tidak pernah menghubunginya, padahal ia yakin Cillian juga pernah menyimpan nomornya ketika di Switzerland. Ah, mungkin Cillian kehilangan kontaknya atau apapun itu, Shabina tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri.


“Oke … itu nomorku” kata Cillian.


“Ah, oke ... sudah aku save” balas Shabina.


Shabina meraih sumpit dan mengambil dimsum di atas meja, yang kelihatannya sudah agak dingin. Sambil mengunyah dimsumnya ia mengedarkan pandangannya ke arah pelaminan, pengantin sudah disana. Aula pernikahan sudah mulai terasa ramai. Cillian mengikuti arah pandangan Shabina, “oh, mereka sudah disana, mau samperin mereka?” tanya Cillian.


“Iya nih, udah mulai rame juga … tadi rencananya selesai samperin mereka langsung cabut. Aku juga lihat beberapa anak angkatan udah pada ngumpul di meja sana, kayaknya aku dan Anne harus gabung kesana … biar aku telfon Anne” ucap Shabina sambil meraih ponselnya. “Kamu gimana yan?” sambungnya lagi.


“Oh, aku bareng anak kantor … nanti aku bareng sama mereka aja” jawab Cillian.


“Baiklah … hmm, mungkin lain kali kita bisa ngobrol banyak … nice to see you again” ucap Shabina sambil tersenyum.


“Sure … yeah, me too Na, nice to see you. I’ll call you, okay…” balas Cillian sambil bangkit dari duduknya.


Shabina mengangguk pelan, lalu membalas lambaian Cillian pelan, yang diberikan lelaki itu sambil berlalu menuju ke meja awalnya.


Shabina sedikit terusik dengan perkataan Cillian tadi, lelaki itu memberitahunya bahwa ia akan menelfon Shabina nanti? Maksudnya nanti? Nanti malam? Apa maksud Cillian berkata seperti itu?


Ah, Shabina malas memikirkannya. Paling Cillian hanya basa-basi.


Shabina melanjutkan makannya pelan, sambil benaknya sibuk membuat percakapan sendiri. Berjumpa kembali dengan Cillian, bertukar kontak, bukan berarti apa-apa untuknya. Mereka sudah pernah berjumpa setahun yang lalu, dan wajar saja kalau sekarang mereka saling bertukar kontak lagi dan mungkin akan sering mengobrol ke depannya kan? Iya kan?.


Lagi-lagi, suara benaknya sendiri membuatnya kerepotan. Hey, belum terjadi apa-apa, kenapa kamu sudah merasa kerepotan sendiri Shabina? Ya, ini hanya reuni kecil dengan teman lama. Itu dia, REUNI dengan TEMAN LAMA, tidak lebih, Ia meyakinkan dirinya sendiri. Karena ia tidak ingin repot, kalau sampai perasaannya bertengkar dengan akal fikirannya -menolak semua ide-ide untuk membangun rumah tangga, yang selama ini ia katakan pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak membutuhkan itu semua.


Ada apa dengan rumah tangga dan Cillian?.


Shabina teringat, Almarhumah mamanya pernah menanyainya saat di Switzerland, bagaimana pendapatnya tentang Cillian, dari raut wajah mamanya, Shabina tau mamanya sudah menyukai lelaki itu, dan mungkin berharap Shabina bisa membangun rumah tangga bersama dengan Cillian. Tapi Shabina menanggapinya bercanda dan meminta mamanya untuk tidak membahas pernikahan lagi.


Shabina menghela nafas panjang, menyenderkan tubuhnya ke kursi dan memutuskan untuk berhenti berpikir, terlalu banyak berpikir membuat kepalanya pusing. Ia meraih ponselnya dari dalam tas, lalu menelfon Anne.


“Assalamu’alaikum Anne, anak angkatan udah pada ngumpul … kayaknya bentar lagi dipanggil buat foto bareng pengantin. Kamu udah selesai?” ucap Shabina.


“Wa’alaikumussalam, oke Na ... aku udah kelar nih, Aryan juga mulai ngantuk … selesai ini kita cabut?” balas suara Anne dari seberang telfon.


“Iya, udah mulai ramai juga disini … kasian Aryan nanti” balas Shabina.


“Oke” jawab Anne lalu menutup telfon.


Dari suara Shabina, kedengarannya ada yang tidak beres, pikir Anne. Hhh, sahabatnya itu kalau sudah banyak fikiran pasti begitu. Mungkin kali ini Anne tidak akan menunggu Shabina untuk cerita, ia akan memaksa duluan.


***