Bloom

Bloom
Chapter 10



Mereka memesan beberapa makanan, kebanyakan Shabina dan Shelby yang pesan, Cillian dan Claire menurut dan yakin saja dengan pilihan kakak-beradik itu. Mereka memilih duduk di pojok bagian dalam café & resto itu, karena sebagian tempat duduk yang menurut mereka memiliki posisi strategis sudah ditempati orang. Siang itu memang cukup ramai. Cillian duduk berhadapan dengan Shabina, sedang Claire duduk di samping Cillian berhadapan dengan Shelby.


Sewaktu ingin duduk tadi, awalnya Shabina memilih posisi di depan Claire, tapi ia pasrah setelah Shelby menggusurnya paksa, dengan alasan ingin duduk di dekat dinding. Aneh, tapi ia malas berdebat, malas, karena tahu itu taktik licik adiknya.


Mereka mengobrol santai sambil menunggu makanan datang. Mulai dari mengenang liburan mereka di Switzerland dulu, Shelby yang masih jadi anak bawang di kantornya, bisnis Shabina, proyek Cillian di Bandung, dan Claire yang sedang mencari kos-kosan di Bandung.


“Jadi udah ketemu Claire?” tanya Shabina.


“Bulan kemarin udah nyari-nyari kak, beberapa juga udah dilihat langsung … tapi belum ada yang sreg” jawab Claire


“Kamu nyari yang gimana?” tanya Shabina lagi.


“Banyak maunya … makanya nggak ada yang sreg …” celetuk Cillian, yang dibalas cibiran oleh Claire.


“Pengennya yang deket ke kampus … yang sepuluh atau lima belas menit paling lama udah nyampe, terus kamarnya di lantai satu, ada kamar mandi dan dapur di dalem …” ucap Claire.


“Hmmm … mau dapur di dalem ya? Kamu suka masak?” tanya Shabina lagi.


“Suka aja … pinter nggak” celetuk Cillian lagi.


“Apasih Mas! cerewet banget dari tadi” seru Claire sambil mendengus kesal dan memelototi masnya itu.


Shabina hanya tersenyum melihat tingkah dua bersaudara di depannya. “Ya nggak papa Yan, yang penting suka aja dulu … ntar juga pinter sendiri” ucap Shabina.


“Iya … soalnya dulu Kak Na begituu” celetuk Shelby.


Cillian menoleh ke Shabina “Kamu pinter masak?”


“Ya bisa dikit-dikit…”


“Apaan dikit-dikit, merendah untuk meroket nih!” potong Shelby.


“Apa sih El” gumam Shabina.


“Iya lhooo, Kak Na itu ya … masakannya udah bisa disamain sama masakan-masakan koki professional, sekelas makanan Michelin Star Restaurant … masakan indo bisa, barat bisa, baking bisa ! coba deh meat pie Kak Na, bikin nagih!” ujar Shelby panjang lebar.


Shabina hanya menggeleng pelan, Shelby kalau sudah berbicara jangan harap cepat berhenti. Shabina menatap kedua orang di depannya yang mendengarkan dengan seksama, ada perasaan geli ketika melihat wajah abang-beradik itu, mereka benar-benar menyimak perkataan Shelby. Baru ia akan membuka mulut ingin melanjutkan pembicaraan mereka tentang kos Claire tadi, tapi keduluan Cillian.


“Ya ampun … kok aku nggak tau kamu pinter masak?” tanya Cillian.


Shabina tertawa pelan, pertanyaan Cillian tadi benar-benar lucu menurutnya. “Ya nggak mungkin juga aku tiba-tiba pamer ke kamu aku pinter masak … lagipun masakanku biasa aja, ya masih edible … Shelby aja yang lebay banget”


“Bohong banget … kalau nggak pinter masak gak mungkin bisnisnya bisa kayak sekarang” celetuk Shelby.


“Ah iya … bisnis Kak Na kan di bidang kuliner ya … mau dong bisa masak enak …” ucap Claire.


“Bisa kok Claire … yang penting tetap semangat terus buat masak walaupun rasanya masih belum sesuai ekspektasi kamu, masak itu juga perlu jam terbang … kalau udah terbiasa masak, ntar garam gula gaperlu lagi pake-pake takaran satu sendok teh, dua sendok teh … jarinya pasti udah tau takaran yang pas” ucap Shabina sambil melemparkan senyum menyemangati Claire.


Claire mengangguk paham, lalu tersenyum lebar penuh kemenangan ke arah Cillian, merasa mendapatkan sekutu merangkap penyemangat. Cillian tidak menggubris adiknya, masih menatap Shabina.


“Kenapa?” tanya Shabina menyadari Cillian masih menatapnya, walau dalam hati mulai salah tingkah, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk bersikap santai.


“Nggak, cuma takjub aja kamu se-pinter itu masaknya” gumam Cillian.


“Asyik dong mas ... paket komplit …” celetuk Shelby santai.


Sekarang gantian Shabina yang memelototi adiknya. Yang dipelototi hanya tertawa tak berdosa.


Cillian tersenyum melihat reaksi Shabina, “Kayaknya aku harus coba masakan kamu nih … apa tadi? El? meat ... pie?” sambung Cillian sambil menoleh ke arah Shelby.


“Iya mas, meat pie … minta aja sama Kak Na, pasti dibuatin” jawab Shelby sambil menoleh ke kakaknya.


“Ntar kalau aku main lagi ke Bandung ya?” tanya Cillian pada Shabina.


“Boleh …” jawab Shabina seraya mengangguk.


Claire dan Shelby saling melempar pandang dan tersenyum penuh makna.


Tidak lama, pesanan mereka datang. Mereka memesan nasi goreng kampung, sate ayam, gado-gado, mie goreng seafood, martabak telur dan empat jus jeruk. Shabina meminta tambahan piring makan empat buah, karena mereka akan berbagi makanan-makanan tadi. Mereka kembali mengobrol santai sambil menikmati makanan, sesekali tertawa karena candaan Shelby atau Cillian.


Semua piring penuh makanan tadi sudah licin tanpa tersisa. Cillian sedang menyeruput jus jeruknya ketika Shabina membuka suara.


“Yan” kata Shabina.


“Hm?” balas Cillian yang mengalihkan pandangan dari jus jeruknya ke Shabina.


“Aku mau bahas yang masalah waktu itu …”


Shelby dan Claire sedang sibuk dengan ponsel masing-masing sebelum akhirnya kompak menoleh ke arah Shabina, kemudian saling melempar pandangan.


Cillian menoleh ke arah Shelby sekilas. Menangkap maksud Cillian, Shelby bangkit dari duduknya.


“Mau kemana?” tanya Shabina melihat adiknya berdiri.


“Mau toilet bentar, terus mau ke depan sana … banyak cake enak kayaknya” ucap Shelby sambil menunjuk etalase kue di depan café. “Mau nitip?”


“Aku ikut” potong Claire, yang dibalas anggukan oleh Shelby.


“Cheese cake kalau ada, kalau nggak apa aja boleh … Yan?” tanya Shabina sambil menatap Cillian.


“Oh, aku nggak …”


Shabina mengangguk “Yaudah, itu aja … oh, sekalian tolong mintakan air mineral ya”


“Oke …” kata Shelby. Kemudian beranjak meninggalkan Cillian dan Shabina untuk bisa mengobrol. Semoga mereka baik-baik saja, pikirnya dalam hati.


“Yang waktu itu … maksudnya yang aku nggak sengaja jumpa Shelby di Bandung?” tanya Cillian memastikan.


“Iya, dan alasan kamu untuk merahasiakannya dari aku … “ jawab Shabina sambil mengangguk.


“Kan aku udah jelasin ke kamu Na alasannya …“ balas Cillian pelan.


“Iya, tapi …” Shabina menghentikan ucapannya, ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ada yang tidak pas. Tapi ia bingung menyampaikannya kepada Cillian.


Shabina terdiam. Cillian masih menunggunya melanjutkan perkataannya tadi.


“Aku masih merasa ada yang nggak pas aja sama alasan kamu Yan, ada yang aneh dengan alasan kamu … ada yang mengganjal di hati aku waktu kamu bilang belum siap waktu itu, kenapa?”


Cillian masih diam, menatap perempuan di depannya yang meminta penjelasan.


“Maksudku ... kenapa kamu merasa belum siap? Memangnya ada apa? Akh … kamu ngerti maksudku Yan …” ucap Shabina lagi yang terdengar frustasi di ujungnya. “Kamu tahu, kalau memang niat kamu untuk lebih serius, maksudku hubungan ini … aku nggak mau merasa gak percaya sama kamu Yan, aku gak mau kita awali dengan rasa tidak percaya, dan aku benci kalau itu asalnya dari diriku. Tapi kalau aku salah tentang hubungan ini, its okay. Tapi kamu harus tahu … umurku bukan umur buat pacar-pacaran nggak jelas, gak ada kata pacaran di kamusku Yan ...”


Shabina menggigit bibir dalamnya, ia merasa kelewatan, seperti menyudutkan Cillian. Ia menatap laki-laki di depannya yang menatapnya balik dengan pandangan ... ah entah lah, Shabina tak mengerti tatapan Cillian itu, tapi sepertinya ada sedikit rasa bersalah di sana. Shabina menarik nafas, kemudian mengeha nafasnya pelan, mencoba mengendalikan dirinya. Sebenarnya ia juga tidak terlalu yakin dengan kata-katanya tadi, seolah dia memang sudah siap dan setuju jika Cillian berniat membawa hubungan mereka ke arah yang lebih serius, pernikahan.


Tidak, ia sebenarnya tidak siap jika harus dihadapkan dengan pernikahan. Tapi kenapa mulutnya tidak bersahabat dengan hatinya? mulutnya menuntut penjelasan Cillian sebegitunya, seolah menyiratkan kesan … kalau dia juga berniat serius. Shabina meremas jarinya di bawah meja. Oh God… You just dug your own grave Shabina.


“Aku paham maksud kamu, kalau yang kamu maksud aku lagi bohongin kamu atau menyembunyikan sesuatu ... I’m not ... okay?. Dan kamu nggak salah. Dari awal aku berniat serius, ya, aku berniat ngomong pernikahan sama kamu, tapi aku gak berencana secepat ini Na … bukan, bukan aku ngajak kamu pacaran, aku tau kamu bukan tipe yang mau diajak pacaran … ta-“


“Dosa” potong Shabina


Cillian tersenyum, “Iya … makanya kan aku bilang nggak mau ngajak pacaran, tapi aku cuma minta waktu … mungkin waktu untuk kita saling mengenal keluarga masing-masing … lebih dekat, yeah, I know … keluarga kita udah pernah kenalan … dan aku rasa, kita gak perlu buru-buru Na … atau kamu punya pendapat lain?”


Shabina terdiam. Apa yang harus dikatakannya? Ia tidak siap dihadapkan pernyataan Cillian yang blak-blakan ini, walaupun kata-kata Cillian tadi sudah diprediksi Shabina, tapi tetap saja. Pikirannya seperti menolak diajak untuk berpikir, entah kenapa tiba-tiba hati dan pikirannya kosong, blank. Biasanya di saat seperti ini benaknya akan membuat monologue dengan bar-bar tanpa seizinnya. Oh come on … not now Shabina, he’s waiting for your answer!


Cillian masih menatapnya, menunggu perempuan itu untuk menjawab. Tapi Shabina tidak peduli selama apa Cillian harus menunggu jawabannya, ia harus berpikir jernih dan jangan sampai sembrono memilih kata untuk menjawab pertanyaan Cillian. Ini menyangkut hidupnya, iya, kan? walaupun Cillian tidak -atau belum mengajaknya menikah secara resmi, tetap saja jawabannya berpengaruh, dan dia tidak ingin main-main dengan hidupnya sendiri. Masa bodoh kalau Cillian lama menunggu, salahnya sendiri berurusan dengan perempuan complicated seperti Shabina. Oke, ia mengaku, dia memang perempuan complicated, terutama kalau sudah menyangkut pernikahan.


Shabina menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya pelan.


Sejenak, Cillian hanya menatap perempuan di depannya, lalu mengangguk paham.


“Aku memang bilang nggak harus buru-buru, tapi bukan berarti kita begini terus sampai tahun depan Na … mungkin sebulan dua bulan -sambil kita saling mengenal, keluarga kita juga. Insya Allah itu waktu yang cukup untuk kemudian kita memikirkan ulang semua ini, kamu juga bilang belum yakin apa yang kamu inginkan … gunakan waktu sebulan dua bulan ini untuk cari tahu keinginan kamu Na … apapun nanti keputusannya aku ikhlas …”


Shabina hanya diam sambil menoleh ke piring makanannya yang sudah kosong. Lalu menoleh ke arah Cillian. Cillian menatap perempuan di depannya. Ia tahu, perempuan itu masih menunggu penjelasannya untuk masalah yang satunya, masalah alasan dibalik ketidaksiapannya bertemu Shabina bulan lalu.


Cillian menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan, “Na, sebenarnya aku berencana cerita sama kamu, tapi lagi-lagi … tidak secepat ini.” Untuk sesaat ia tidak melanjutkan perkataannya.


“Aku pernah putus tunang … dua tahun yang lalu, waktu kita ketemu di Switzerland dulu? Itu aku baru sebulan putus tunang, dan keluargaku mengajak liburan untuk menghiburku. Aku perlu waktu untuk benar-benar melupakan itu Na, jujur saja butuh waktu cukup lama … dan aku nggak mau memulai sesuatu tapi masih dibayang-bayangi masa lalu, jadi aku harus benar-benar yakin bahwa aku sudah oke …”


Shabina sedikit terkejut mendengar pengakuan Cillian, tapi ia tidak menunjukkannya. Ia memilih bersikap tenang.


“Dan sekarang kamu sudah oke?” tanya Shabina


Cillian mengangguk pelan “Insya Allah sudah … aku sudah ikhlas …”


Shabina menghela nafasnya panjang. Merasa lega karena ganjalan hatinya selama ini terangkat. Jujur saja Shabina kaget Cillian punya masa lalu seperti itu, selama di Switzerland pun ia merasa Cillian baik-baik saja, bahkan seingatnya Cillian cukup bersemangat ketika disana, ia tidak pernah menyangka saat itu Cillian baru menghadapi hal yang menyakitkan. Dia benar-benar pandai menyimpan perasaannya, pikir Shabina.


Sebenarnya Shabina masih penasaran dengan cerita putus tunang Cillian. Kenapa? Apa sebabnya? Tapi ia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu, apa lagi dari pengakuan Cillian tadi, katanya lelaki itu sudah berusaha melupakan dan mengikhlaskannya. Shabina tidak mau menjadi orang yang membuka luka lama Cillian. Lagipula, itu hanya masa lalu, kan?.


“Oke, kita sepakat dengan tawaran kamu tadi? Tapi saranku cukup sebulan … lalu kita evaluasi …” ucap Shabina


“Kedengarannya sepertinya program kerja …“ balas Cillian sedikit tertawa


Untuk sesaat Shabina menatap tajam lelaki di depannya karena sempat-sempatnya bercanda ketika mereka sedang serius. “Yan, aku rasa itu cukup … kamu tahu kan nggak baik kalau terlalu lama? Sebelas dua belas sama pacaran ntar …”


“Aku oke-oke aja kalau kamu oke dengan sebulan … kan kamu yang masih bingung dan perlu waktu Na …” ucap Cillian sambil tersenyum.


“Insya Allah sebulan cukup” jawab Shabina, terdengar yakin.


Cillian mengangguk tanda mengerti, lalu meraih jus jeruknya dan kembali menyeruput untuk terakhir kali.


“Ah iya, ada yang kelupaan …” kata Cillian tiba-tiba.


“Apa?”


“Aku pindah kantor minggu depan …”


“Kemana? masih di Jakarta kan?”


“Nggak …”


“Jadi?”


Cillian tersenyum simpul.


“Serius Yan …”


“Bandung”


“Hah?!”


Cillian mengangguk sambil tersenyum simpul. Lalu melambaikan tangan ke arah seberang café. Shabina menoleh ke arah Cillian melambaikan tangannya. Dilihatnya Shelby dan Claire dengan tangan penuh -memegang piring cake, melihat ke arah mereka. Sepertinya mereka sedang menunggu kode dari Cillian, kode yang artinya keadaan sudah kondusif dan boleh kembali duduk.


“Serius kamu dipindahin ke Bandung?”


Yang ditanyai hanya tertawa.


“Yan! serius dong!”


“Iya Na … iya, aku dipindah ke kantor cabang di Bandung…”


“Permanen?”


“Hanya enam bulan … tapi mungkin kalau aku minta permanen diizinin …“ balas Cillian sambil mengangkat bahunya. “Gimana? kamu mau aku minta permanen aja kerja di sini?” godanya.


Shabina mendengus kesal “Mulai deh … orang serius malah diajak becanda”


“Ya, kalau nanti kita nikah kamu mau aku angkut ke Jakarta?” tanya Cillian balik, yang dibalas gelengan kuat dari Shabina, Cillian sampai khawatir apa perempuan itu tidak sakit kepala setelah menggeleng sekuat itu. Tapi dia hanya tersenyum.


“Eh eh eeh … apa nih udah ngomong-ngomong nikah aja?” celetuk Shelby yang sudah berdiri di samping Shabina.


Shabina dan Cillian tidak menggubris kedatangan adik mereka.


“Tuh … kamu nggak mau kan. Aku bukan becanda, tapi memikirkan jauh ke depan …” ucapnya lagi sambil tidak berhenti tersenyum.


“Iya kalau nikah …” gumam Shabina, yang tentu saja terdengar oleh Cillian.


“Rencananya iya kan?” balas Cillian.


Shabina hanya mendengus pelan, ia tak menyangka Cillian sejahil ini.


“Serius Mas??!” tanya Claire sambil menatap tak percaya Cillian.


Shelby ikut menatap kakaknya dengan tatapan persis seperti yang Claire berikan pada masnya.


“Sabar … masih proses, kakak kamu minta waktu sebulan katanya …” jawab Cillian santai.


Shabina memilih tidak memedulikan perkataan Cillian itu.


“Jadi Mas udah bilang?” tanya Claire lagi


“Bilang apa?” balas Cillian.


“Bilang kalau Mas mau kak Na jadi istri Mas?”


Shabina sedang menyedot jus jeruknya dan hampir tersedak karena perkataan Claire. Shelby menepuk-nepuk pelan punggung kakaknya sambil tersenyum geli. Cillian menatap Shabina sekilas lalu tertawa pelan dan menoyor kepala adiknya pelan.


“Ngomong itu disortir dulu Claire … sampai kesedak tuh kakak kamu. Mas udah bilang … secara nggak langsung” jawab Cillian sambil tersenyum puas. “Mas juga udah bilang minggu depan bakalan pindah kantor ke Bandung” sambung Cillian.


Claire mengangguk-angguk sambil memotong strawberry cake nya.


“What? Kantor Bandung?!” tanya Shelby


Cillian mengangguk, “yup…”


“Mas dipindah?” tanya Shelby lagi.


“Iya El, kalian kok samaan … tadi kakak kamu juga sampe nanya berkali-kali sangking gak percayanya …”


“Mas dipindah apa minta dipindah?” tanya Shelby curiga.


Kali ini Cillian hanya tersenyum. Shabina menatap laki-laki di depannya. Senyumnya penuh makna. Sekarang Claire yang duduk disamping Cillian pun ikut tersenyum sambil terus mengunyah cake-nya.


Cillian mengangkat bahu, sambil menatap balik Shabina, menyunggingkan senyumnya yang benar-benar lebar!


Shabina mengernyitkan dahinya tak percaya, lalu menoleh ke adiknya yang menghela nafas.


“Sudah kuduga …” gumam Shelby.


What?!


***