
“Siapa yang nelfon tadi malam kak?” tanya Shelby tiba-tiba membuka suara.
Shabina terdiam sesaat, menimbang apa akan menceritakan kepada Shelby bahwa ia bertemu dengan Cillian saat di Jakarta kemarin. Mereka sedang di dapur, menyiapkan sarapan bersama, sudah jadi kebiasaan mereka tiap hari minggu. Adiknya itu sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng.
Karena tidak terdengar suara apapun dari kakaknya, “kak? Kok malah melamun sih … semalam kakak telfonan sama siapa?” tanya nya lagi.
“Hm? Kapan? Kemarin aku banyak nerima telfon” jawab Shabina cuek pura-pura tak tahu, tak langsung menjawab, padahal ia sadar betul telfon mana yang Shelby maksud. Berharap adiknya malas menanggapi dan akan berhenti bertanya.
“Itu … yang semalem loh kak. El denger kakak ngomong semalam sekitar jam 10 …”
Shabina tahu adiknya tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban yang dia inginkan.
“Temen … ” jawabnya santai. Berharap rasa penasaran adiknya benar-benar berakhir. Tapi ia salah besar.
Shelby menoleh ke arah kakaknya, “serius? tapi kok semalem kayaknya kamu kaku bener ngomongnya kak … temen cowok?”
Sial. Kuping adiknya benar-benar tajam walaupun Shabina yakin saat itu Shelby setengah tidur.
“Ya …” suara Shabina mulai pasrah.
“Haaaa … beneran?! Kamu ditelfon jam sepuluh malam sama cowok?!” kata Shelby setengah berteriak, dari suaranya Shabina tahu betul adiknya itu mulai kegirangan dan tak sabar memuaskan rasa penasarannya.
Shabina tidak menjawab, memilih melanjutkan pekerjaannya, membuat telur ceplok.
“Semalam waktu ngobrol di telfon … kamu senyam-senyum sendiri lho Kak ... malu-malu gitu, sambil milin-milin ujung bantal segala lagi …” celetuk Shelby dengan suara menahan tawa.
What?!
Shabina menoleh cepat ke arah adiknya itu, memelototinya kesal, yang dipelototi pasang muka tak bersalah. Yang benar saja, sempat\-sempatnya adiknya itu mengamatinya saat menelfon semalam, apa suaranya semalam terlalu keras?.
Shabina melanjutkan pekerjaannya lagi sambil geleng-geleng kepala. Memilih tidak menjawab.
Shelby masih tidak puas, “siapa sih Kak? aku kenal gak? kalian jumpa dimana?” tanyanya tidak sabar.
Rasa penasaran dan girang Shelby ini bukan tanpa alasan, ia tahu ini momen langka. Jarang-jarang kakaknya ditelfon lelaki -atau tidak pernah?, malam pula. Kalau klien biasanya ya saat jam kerja.
Shabina melengos, mulai pusing dengan tingkah adiknya. “Hhh, pusing aku mau jawab pertanyaan kamu El … banyak banget”
“Cillian. Ya, kamu kenal, kalau kamu belum lupa. Jumpa pertama kali di Switzerland, dua tahun kemudian gak sengaja jumpa di nikahan temenku di Jakarta, kemarin.” Jawab Shabina datar. “Puas kamu? Tuh aku jawapin semua pertanyaan kamu El”
Shelby tidak menjawab.
Sadar adiknya itu terdiam, Shabina menoleh sekilas, “Lah, malah dia yang bengong …”
Shelby membuka suara ragu, “Cillian … maksud Kakak mas Cillian ? yang waktu di Switzerland dulu?”
“Terus … Mas Cillian ada ngomong apa?” tanya Shelby lagi.
Sekilas Shabina mengernyitkan dahinya, merasa pertanyaan Shelby agak aneh. “Hmm… biasa aja, tanya jam berapa kemarin aku nyampe Bandung ….”
Kalau dipikir-pikir memang cuma itu isi obrolan mereka, ya, ditambah ajakan Cillian meet-up weekend depan. Oh mungkin ia akan coba mengajak Shelby sekarang. Baru saja Shabina akan membuka mulutnya, tapi diurungkannya lagi karena Shelby kembali bersuara.
“Udah itu aja … ?” tanya Shelby lagi.
“Iya, itu aja … dan dia ngajak meet-up weekend depan, ada kerjaan disini katanya, jadi sekalian mau ajak ketemuan. Dia bawa adiknya, Claire -kamu masih ingat kan? Jadi aku mau ngajak kamu juga El, aku udah bilang ke Cillian juga … gimana? Kamu kosong kan weekend ini?”
“Minggu ini? … kayaknya aku kosong”
“Oke, sip kalau gitu”
Shelby tampak kembali berpikir, lalu membuka suara enggan “hmm, Kak Na … berarti mas Cillian nggak cerita kami pernah ketemu?”
Shabina mengernyitkan dahinya lagi, dia belum pernah mendengar apapun soal Shelby pernah berjumpa dengan Cillian sebelumnya. Shabina juga yakin betul Cillian tidak ada memberitahunya soal ini.
Shabina menoleh untuk menatap manik mata Shelby. “Nggak … dia gak cerita apa\-apa. Kapan kalian ketemu? Kok kamu gak pernah cerita sama kakak El?” tanya Shabina, sudah lama ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan adiknya ini, tapi ia tidak pernah benar\-benar bertanya. Sekarang ia tahu.
“Apa … laki-laki yang aku lihat waktu jemput kamu di café bulan lalu itu Cillian?” sambungnya lagi, entah kenapa ia berpikir begitu.
Shelby tidak langsung menjawab, ia tampak berpikir sejenak, lalu “iya … waktu itu aku nggak sengaja ketemu mas Cillian dan Claire, aku juga kaget Kak. Mereka ke Bandung sambil lihat\-lihat kosannya Claire, dia keterima kuliah di UNPAD” jawab Shelby dengan nada bersalah, yang ditebak Shabina karena telah menyembunyikan sesuatu dari kakaknya.
Ya, mungkin memang tidak terlalu penting juga kalau Shabina tahu, toh itu pertemuan tidak sengaja. Tapi, tidak pas saja rasanya kalau Shelby tidak memberitahukan pada Shabina fakta itu, bagaimanapun keluarga mereka termasuk akrab saat di Switzerland dulu.
Tunggu dulu, ada yang janggal, sepertinya waktu Shabina menanyakannya tempo hari Shelby mengatakan itu teman SMA-nya, dan dia memberitahukan nama mereka … ah, ia lupa. Kenapa Shelby berbohong?
“Lalu kenapa waktu itu kamu bilang mereka teman SMA kamu?” tanya Shabina lagi dengan nada selidik dan kening berkerut sama seperti tadi.
“Ah, itu …” Shelby mulai merasa benar-benar salah menyembunyikan sesuatu dari kakaknya, apalagi berbohong.
Melihat adiknya yang mulai merasa bersalah, ia jadi kasihan. “Hhh ... yasudah, kayaknya bakal panjang. Kita selesaikan dulu sarapan ini. Kamu masih hutang cerita sama kakak, El” kata Shabina lagi sambil menghela nafas.
∞
Shabina sudah mendengar semua cerita adiknya tentang pertemuannya dengan Cillian, dan alasan kenapa ia menyembunyikannya. Ternyata Cillian yang memintanya. Shelby mengaku tak tahu kenapa, ia hanya diminta untuk tidak memberitahukan Shabina bahwa mereka bertemu di café hari itu. Dan Cillian katanya berencana mengunjungi mereka di Bandung tanggal 20 Februari, dan itu adalah minggu besok. Berarti ajakannya untuk ketemu minggu depan memang sudah direncanakannya dari bulan lalu? Sejak sebelum mereka bertemu tidak sengaja di pesta pernikahan Emma? Skenario macam apa ini? Ah, Shabina mulai merasa pusing.
Shelby juga berkata bahwa Cillian ada bertanya kabar mama mereka, dan Shelby tentu saja mengatakan yang sebenarnya. Sekarang itu mulai terdengar masuk akal. Shabina awalnya berpikir, kenapa waktu bertemu kemarin Cillian tidak ada menanyakan keluarganya ? pun tidak menanyakan kabar mama Shabina. Padahal ketika di Switzerland dulu mereka cukup dekat, Cillian sudah diperlakukan oleh mama seperti putranya sendiri. Ya, ternyata Cillian sudah tahu.
Shabina tidak habis pikir, kenapa Cillian harus menyembunyikannya?.
***