Bloom

Bloom
Chapter 02



"Na ... “ panggil seseorang. “Na … Shabina !” suara Anne membuyarkan lamunan Shabina.


Ia termenung melihat Anne yang ada di depannya cukup lama, sampai akhirnya ia tersadar ia sudah membuat sahabatnya itu khawatir.


“Are you okay ?” tanya Anne khawatir.


“Yeah, I am okay … no worries Anne” jawab Shabina sambil merapikan kerudung yang sebenarnya sudah sempurna.


Anne hanya diam, ia tahu sahabatnya itu tidak baik-baik saja, dan ia sadar mata Shabina cukup bengkak untuk baik-baik saja. Ia tahu Shabina pandai menyembunyikan perasannya, dan itu membuat Anne khawatir mengenai kondisi sahabatnya itu. Tapi Anne tidak akan bertanya, Anne paham betul watak Shabina, ia tidak akan cerita jika ditanya apalagi dipaksa bercerita, tidak sampai ia memutuskan sendiri untuk bercerita.


Anne tersenyum, menghela nafas dan balik badan sambil berkata, “pasukan sudah ready di bawah tuh … tinggal tunggu Bu Bos aja”


Shabina melirik jam tangannya, ah sudah pukul 08.00 batinnya .


“Oke, aku turun lima menit lagi.” Ucap Shabina.


Ia merogoh tas kerjanya mencari buku sakral tempat ia menulis semua catatan dan pekerjaannya. Sambil berdiri dari duduknya ia mengingat kembali apa saja yang perlu dibawa turun kebawah, sedetik kemudian ia mengambil kacamatanya dan menuju pintu ruangan.


Setiap Senin Shabina akan memimpin briefing mingguan di kantor, untuk hari-hari selanjutnya ia serahkan ke Anne. Tiap Senin ia akan membahas dengan tim untuk target mingguan mereka, apa saja permintaan klien untuk seminggu kedepan, ada perubahan atau tidak, apakah ada klien yang baru bergabung dan pelayanan apa yang harus ditingkatkan.


Shabina adalah orang yang 'passionate about her work', tidak heran ia mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan penuh energi postif.


Lulus sebagai nutritionist membuatnya sadar bahwa kualitas hidup seseorang sangat berpengaruh dengan apa yang masuk ke dalam tubuhnya, dan tentu saja yang sangat berpengaruh adalah makanan.


Maka lima tahun yang lalu ia bertekad membangun bisnis di bidang makanan, berharap dengan makanannya orang-orang bisa lebih sadar dengan pentingnya makan makanan yang bergizi, bukan hanya enak saja.


Awalnya ia bekerja sebagai meal prepper dari rumah kerumah, setelah beberapa bulan ternyata klien-nya banyak yang puas dengan pelayanan Shabina, selanjutnya ia memutuskan untuk serius melanjutkan hal ini sebagai bisnis.


Ia memulai bisnisnya dari rumah, setelah satu tahun klien-nya sudah ratusan dan beberapa dari mereka adalah pelanggan loyal yang meminta disiapkan makanan untuk satu minggu, terkadang dengan beberapa kondisi khusus, seperti keluarga dengan ayah pengidap diabetes. Dan hal itu memerlukan tenaga dan dapur yang besar, maka setahun setelahnya ia memutuskan menyewa gedung untuk dijadikan dapur sekaligus kantor.


Pada dasarnya, bisnis Shabina adalah menyediakan makanan sehat dan bergizi sesuai dengan permintaan dan kondisi klien-nya. Bahkan beberapa keluarga dengan kedua orangtuanya bekerja di kantor dan tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan makanan untuk keluarga, mereka meminta Shabina untuk menyiapkan makanan harian mereka tiga kali sehari yang kemudian disiapkan untuk kebutuhan seminggu. Tapi kebanyakan dari klien mereka adalah karyawan kantoran atau permintaan dari instansi tertentu untuk event mingguan bahkan bulanan.


Sebagai nutritionist, Shabina selalu memperhitungkan gizi di tiap sajian yang dibuatnya, keseimbangan antara karbohidrat, protein, lemak dan vitamin untuk tubuh selalu menjadi perhatian Shabina. Ia juga tidak lupa untuk menggunakan bahan-bahan makanan yang berkualitas.


Pelayanan maksimal yang diberikan Shabina membuat banyak klien tidak berpindah hati dan sangat puas dengan makanan mereka. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang degan kondisi khusus, katakan saja seperti diabetes, hipertensi, bahkan perempuan-perempuan dengan Polycystic Ovarian Syndrome yang membutuhkan perhatian khusus dalam penyiapan juga komposisi makanannya.


Briefing pagi itu cukup membakar semangat timnya yang berjumlah dua puluh orang. Shabina mengakhiri briefing itu dengan salam kemudian kembali ke ruangannya di lantai atas untuk melanjutkan pekerjaannya.



Jam menunjukkan pukul 15.00, Shabina membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk salat Ashar di kantor, lalu setelah itu ia berencana pulang.


Ponselnya berdering, nama Shelby muncul di layar.


“Assalamu’alaikum …” ucap Shabina


“Wa’alaikumussalam warahmatullah … Kak Na dimana?” sahut adiknya diseberang telfon.


“Masih di kantor nih, kenapa El ?” tanya Shabina pada adiknya.


“Oh, Kak bisa tolong jemput El sambil pulang ? El di Café dekat kantor kakak nih, Emerald Café … tahu, kan ?”


“Dua puluh menit lagi kakak keluar kantor, mau Ashar dulu ...” balas Shabina.


“Got it, nanti kalau mau gerak ke sini chat El dulu ya Kak”


“Alright” jawab Shabina lalu kemudian menutup telfon adiknya.


Shabina menunggu adiknya di dalam mobil, sudah dari sepuluh menit yang lalu ia mengabari Shelby kalau dirinya sudah sampai di depan Emerald Cafe. Adiknya tiba-tiba bilang ia baru saja berjumpa teman SMA nya dan mereka ingin mengobrol sebentar. Shabina hanya berpesan jangan lama-lama dan dia akan menunggu di dalam mobil.


Shabina memperhatikan Café itu dari dalam mobil, eksteriornya terlihat cukup bagus dan cerdas untuk Café lokal pikirnya. Dinding Café dominan dicat putih, tapi pintu dan bingkai jendela dibuat berwarna emerald green membuatnya terkesan mewah tapi tidak berlebihan. Jendela Café dibuat transparan sehingga kegiatan di dalam Café terlihat jelas dari luar. Tulisan Emerald Café berwarna emas berlatarkan hitam diletakkan pas di atas pintu masuk, pemilihan font-nya membuat Café ini terkesan romantis. Di samping pintu masuk diletakkan papan menu yang ditulis menggunakan kapur berwarna putih, sejajar dengan beberapa tanaman hias berwarna hijau setinggi pinggang manusia.


Sejak SMA Shabina bermimpi mempunyai dan mengelola Café sendiri, sejak saat itu tiap melihat Café unik ia secara otomatis mendeskripsikan Café itu di dalam kepalanya dan berbicara pada dirinya sendiri, tentunya dalam hati.


Anne beberapa kali mengajaknya untuk duduk santai di Café itu, beberapa karyawan mereka yang sudah pernah kesana heboh merekomendasikan kopi dan makanan di sana. Tapi sejak empat bulan yang lalu kegiatannya luar biasa padat, ia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Semua panggilan untuk seminar dan workshop diiyakannya, dengan begitu pikirannya fokus pada pekerjaan dan mungkin saja ia bisa melupakan kenyataan bahwa mamanya tidak ada, itu pikirnya.


Sepertinya akhir pekan ini ia akan mengajak Anne untuk nongkrong di Emerald Café dan membuktikan benar tidaknya perkataan karyawannya tentang menu di Café itu, atau mereka hanya melebih-lebihkan.


Shabina melirik jam tangan hitamnya, pukul 16.30. Sudah tiga puluh menit sejak ia sampai di depan Café.


Shabina mencoba sabar, tahu betul dia tabiat adik perempuannya yang cerewet, kalau sudah bicara susah berhenti. Konon lagi ketemu teman lama.


“Oh God … Shelby … give me a break” ucap Shabina sambil menghela nafas lalu mematikan mesin mobilnya, ia memutuskan masuk ke dalam Café dan menjemput paksa Shelby.


Shabina mendorong pintu Café pelan, terdengar suara gemerincing lonceng yang tidak terlalu nyaring, sejurus kemudian aroma kopi bercampur roti menyeruak menginvasi indera penciuman Shabina, betapa ia menyukai aroma ini. Tanpa sadar bibirnya membentuk simpul kecil. Alunan musik bergenre britpop-yang ia yakini berjudul “Baby I’m Yours” oleh Arctic Monkeys menambah sempurna suasana di dalam Café.


Shabina mengingat kembali niatnya masuk ke dalam Café, untuk menjemput 'paksa' Shelby. Ia mengedarkan pandangannya ke tiap sudut dan ia menemukan Shelby disana, di sudut kanan Café. Duduk di sofa berwarna krem berhadapan dengan seorang laki-laki dan perempuan.


Shabina menyipitkan matanya, rasa-rasanya raut wajah adiknya agak serius untuk berbicara dengan kawan lama. Ia memutuskan berjalan mendekati mereka. Baru tiga langkah kakinya berjalan, ya tiga langkah, dan Shelby ternyata sadar dengan keberadaan kakaknya itu lalu dengan nyaringnya memanggil “Kak Na !” sambil mengangkat tangannya. Ya, suara Shelby cukup keras membuat setengah pelanggan Café sekarang menoleh ke arah Shabina. Shabina mencoba bersikap cool dan masa bodoh walau dalam hati ia malu dan tidak habis pikir dengan tingkah adiknya, ya, ini bukan pertama kali orang-orang menoleh kearahnya karena dipanggil oleh Shelby dengan suaranya yang nyaring !.


Shabina mencoba melanjutkan langkahnya namun sejurus kemudian menghentikannya lagi karena melihat adiknya sudah bangkit dari duduknya dan mencoba berpamitan dengan kedua orang didepannya, yang menurut Shabina agak canggung.


Adiknya termasuk manusia heboh dan it doesn’t make sense melihat Shelby canggung begitu berpamitan dengan teman lamanya, adegan di kepala Shabina pastilah adiknya itu akan heboh memeluk dan cipika-cipiki dengan teman lamanya, dengan teman lama perempuannya tentu saja.


Shelby berlari kecil kearah kakaknya, Shabina menoleh untuk melihat teman Shelby tadi. Mereka duduk membelakangi Shabina.


Ia sekadar menoleh untuk melihat apakah teman-teman adiknya itu melihat kearahnya, dan mungkin saja jika tatapan mereka bertemu Shabina akan mengangguk sedikit untuk pamit pulang. Ternyata tidak, yang laki-laki hanya menatap sekilas kesamping sedangkan yang perempuan bergeming.


Perawakan laki-laki itu cukup familiar di mata Shabina, tapi ia tidak bisa mengingat siapa. Padahal kenalannya yang laki-laki tidak begitu banyak, tapi ingatannya benar-benar buruk.


Shelby menarik kakaknya yang sontak membuat badannya berputar arah. Sekarang terlihat seperti Shelby yang menjemputnya secara paksa, tapi Shabina pasrah. Ia sibuk mengorek-ngorek ingatannya setelah melihat sosok familiar tadi.


“Maaf lama ya Kak … ” ujar Shelby dengan muka memelas, mukanya cukup meyakinkan. Membuat Shabina melupakan kekesalannya karena sudah menunggu tiga puluh menit di depan Café.


“Hhhh … yasudah, lain kali gini lagi … awas aja kamu” balas Shabina sambil mencubit kecil lengan adiknya.


Di perjalanan pulang, sambil menyetir Shabina sibuk dengan pikirannya, ia benar-benar penasaran dengan sosok laki-laki tadi. Sosoknya tidak asing di mata Shabina, tapi ia menyerah untuk mencoba mengingat kembali, itu membuat kepalanya sakit, dan benar-benar membuatnya frustasi. Ia menoleh ke adiknya yang duduk termenung, sepertinya Shelby juga sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Shelby” panggil Shabina pelan. Tak ada jawaban.


“Hooooy … Nona Shelby Jenna Rosemary” kali ini ia memanggil adiknya dengan nama lengkap.


Shelby tersadar dan menoleh dengan muka polos, “hmm? Kenapa Kak Na ?” tanya nya tak berdosa.


Shabina menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. “Lah… kamu yang kenapa El, kok melamun kamu ?”


“Hoo … agak capek aja Kak, tadi aku ngajar empat jam nonstop hhh” ucapnya sambil menghela nafas panjang.


“Hmm ... yasudah, baring aja kalau capek, nanti kakak bangunkan kalau udah mau nyampe” kata Shabina.


Shelby langsung mengatur posisi nyamannya.


“Oh, El !” ucap Shabina tiba-tiba. Ia baru ingat, tadi sebenarnya ia ingin bertanya pada adiknya itu tentang teman SMA-nya di Café tadi, sebelum ia menemukan adiknya termenung di kursi penumpang disebelahnya.


“Kenapa Kak ?” tanya Shelby, dari suaranya terdengar ia sudah sangat siap terbang ke alam mimpi.


“Tadi yang di Café itu temen SMA kamu ?” tanya Shabina.


“Hnng ... iya ... ada apa Kak ?” balas Shelby.


“Pernah main kerumah ? Siapa nama mereka ?” tanya Shabina lagi.


Hening.


Hampir saja Shabina menoleh untuk melihat adiknya yang barangkali saja sudah ke alam mimpi kalau saja Shelby tidak membuka suara, yang menurut Shabina agak sedikit aneh. Ah mungkin saja itu karena adiknya sudah terlampau mengantuk, pikirnya.


“Hmm ... gak pernah deh kayaknya ... nama mereka ... hnng … Kayla dan Aidan ! yap Kayla dan Aidan ...” jawab Shelby.


Shabina mengernyitkan dahinya, terlalu banyak jeda, pikirnya. Tapi mungkin karena adiknya sudah setengah perjalanan menuju alam mimpi.


Nama Aidan baru pertama kali ia dengar, bisa saja ia salah merasa familiar dengan sosok Aidan ini. Ia tidak melanjutkan percakapan itu lagi, dan memutuskan untuk tidak penasaran dengan sosok laki-laki yang ia lihat di Café tadi.


Tidak lama Shabina bisa mendengar suara nafas Shelby yang teratur, ia benar-benar sudah terbang ke alam mimpi.


***


Terimakasih sudah mampir di Chapter 02 Bloom ❤