
Cillian baru saja mendapatkan telfon dari jasa pengangkut barang yang mengangkut beberapa barang pindahannya, menginformasikan bahwa mereka sudah hampir sampai.
Cillian menginfokan Ray melalui chat, lalu mengganti kaus tidurnya dengan kaus yang lebih layak. Ia baru berniat ingin menginfokan Shabina, lalu melihat jam -pukul 08.00 pagi, dan mengurungkan niatnya itu, masih terlalu pagi. Mungkin setelah barang-barangnya nanti sudah di dalam unit apartemennya, ia baru akan menginformasikan Shabina.
Sebenarnya barang-barang Cillian tidak terlalu banyak, ia tidak banyak mengangkut perabotan-perabotan besar, hanya meja kerja lipatnya yang berukuran lumayan lebar -yang biasa ia gunakan kalau bekerja di lantai, lesehan. Lainnya, ada dua kardus sedang berisi pakaian, beberapa kotak berisi sepatu, tiga kardus sedang berisi berkas kerja, dua kardus sedang berisi alat makan-minum dan peralatan dapur, serta satu kardus agak besar berisi makanan-makanan yang sudah dimasak -yang dipaksa oleh mamanya untuk dikirimkan.
Cillian memang jarang memasak karena kesibukan kantornya, walaupun sebenarnya ia suka memasak. Karena itulah mamanya memaksa untuk menyetok kulkas apartemennya dengan makanan yang sudah dimasak -tinggal dipanaskan saat mau makan.
Sudah pukul 09.00 pagi, barang-barang Cillian sudah diangkut masuk ke dalam apartemen, begitu juga barang Ray. Cillian sudah mengirimkan chat ke Shabina -menginfokan bahwa barang-barangnya sudah diangkut masuk ke dalam apartemen, seperti permintaan perempuan itu kemarin.
Jarak apartemennya dengan rumah Shabina tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga puluh menit jika menggunakan mobil. Kurang lebih empat puluh menit kemudian, Shabina, Claire dan Shelby sampai di Apartemen Cillian menggunakan mobil Shabina.
Cillian membukaan pintu apartemennya setelah mendengar bunyi bel dan melihat ketiga perempuan itu di depan pintunya melalui intercom.
“Assalamu’alaikum” sapa ketiga perempuan tadi.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah …” jawab Cillian, lalu mempersilahkan mereka masuk.
Claire yang duluan masuk, lalu diikuti Shelby dan Shabina
“Jauh banget sampe lantai dua puluh Mas!” celetuk Claire, yang juga baru tahu lantai tempat masnya tinggal.
“Ya gimana, dapetnya disini … tapi pemandangannya bagus banget lho dek …”
“Ohya …?” tanya Claire dengan raut ceria, yang dibalas anggukan oleh Cillian.
“Tuh, cek aja ke balkon samping ruang tengah” ucap Cillian lagi sambil menunjuk ke ruang tengah.
“Permisi …” ucap Shabina.
Cillian menoleh menatap Shabina, “Kamu bawa kan yang aku minta kemarin?” tanyanya.
“Nih” jawab Shabina sambil mengangkat tas kanvas berwarna kuning.
“Hmm, baunya udah kecium …” ucap Cillian sambil mendekatkan wajahnya ke tas tadi, lalu mencoba meraih tas itu dari tangan Shabina -yang ditahan oleh Shabina.
“Biar aku bawa ke dapur Na” ucap Cillian sambil tidak melepaskan tangannya dari tas itu.
“Aku ikut, biar aku potong, kalau gak bagus potongnya nanti berantakan. Kamu bisa merusak karyaku Yan” balas Shabina dengan wajah serius dan tangan yang masih memegang tas berisikan meat pie.
Cillian seketika terkekeh mendengar ucapan Shabina, lalu melepas tangannya dari tas itu, “okay …”
Shabina mengikuti Cillian ke dapur sedang Shabina dan Shelby bergabung dengan Ray di ruang tengah, bersama kardus-kardus yang belum dibuka. Shabina memperhatikan sekelilingnya selagi mengikuti Cillian menuju dapur, apartemen ini cukup luas. Awalnya Shabina mengira apartemen ini akan bertipe studio -yang sempat membuatnya segan untuk datang kemari, tapi ternyata unit Cillian ini bertipe 1BR (satu Bedroom Room), jadi kamarnya terpisah dengan dapur dan ruang tengah.
Desain dapurnya cukup minimalis, dilengkapi dengan mini bar. Dapur ini didominasi warna putih, membuatnya terkesan luas.
Shabina meletakkan wadah berisi meat pie di atas meja bar.
“Mau dimakan sekarang? Atau selesai beres-beres aja?” tanya Shabina.
“Sekarang dan selesai beres-beres” jawab Cillian cepat sambil tersenyum.
Shabina sudah menduga jawaban Cillian itu, tapi tetap saja ia geleng-geleng kepala, “Ada pisau?”
“Oh bentar aku ambil di kardus sana” ucap Cillian sambil bergerak menuju ruang tengah.
Cillian kembali ke dapur membawa pisau, beberapa piring dan garpu. Shabina mengambil pisau dari Cillian lalu memotong meat pie tadi dengan hati-hati. Cillian melihat Shabina dengan seksama, seakan sedang belajar memotong pie yang baik dan benar.
Shabina mendongak melihat Cillian di depannya, yang serius memperhatikan dirinya memotong pie, lalu terkekeh “serius banget Yan.”
Shabina melengos, “haa ... mulai … mulai, ada aja yang dibecandain …”
“Aku gak becanda, itu do’a lho Na”
Shabina memilih tidak menghiraukan Cillian dan melanjutkan pekerjaannya.
“Emang kalau nggak hati-hati potongnya kenapa Na?” celetuk Cillian, dari nadanya sepertinya ia benar-benar penasaran.
“Ini pie crust nya kalau nggak hati-hati bisa hancur, terus kalau kamu belum pernah motong pie nanti potongnya nggak rata, besar-kecil … ” jawab Shabina sambil meletakkan satu potongan pie ke piring, “nih punya kamu” menyodorkan piring tadi ke Cillian.
“Hooo …” ucap Cillian sambil mengangguk paham, lalu duduk di kursi bar dan mencicipi sepotong pie yang disodorkan Shabina tadi.
Ia mengunyah pelan sambil mengangguk-angguk. Shabina menoleh sesaat kearahnya, tersenyum, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya -meletakkan potongan pie ke piring.
“Enak?” tanya Shabina.
“Enak banget, gak nyesel aku minta dibuatin ini” ucapnya sambil mengacungkan jempol kanannya.
“Baguslah, ayo ke ruang tengah ... nanti pada ribut, apalagi si Shel-“
“Kak Naaaa! mau pie nyaaaa!” sahut Shelby dari ruang tengah.
“Nah, kan …” ucap Shabina sambil memutar bola matanya.
Cillian terkekeh, menghentikan makannya dan mengangkat piring-piring pie tadi menuju ruang tengah.
Selesai mengisi tenaga dengan meat pie buatan Shabina, mereka membuka kardus-kardus di ruang tengah itu. Shabina membantu menyusun alat makan minum dan peralatan masak di dapur, Claire dan Shelby menyusun makanan ke kulkas, Cillian dan Ray membersihkan berkas-berkas dan pakaian Cillian di kamarnya.
Sebenarnya tidak terlalu banyak yang perlu dibereskan, karena barang-barang Cillian tidak terlalu banyak, hanya saja sepertinya mereka harus membeli beberapa perlengkapan untuk bersih-bersih, seperti sapu, pel, dan teman-temannya.
“Yan, kamu belum punya pel, sapu dan lain-lainnya?” tanya Shabina.
“Belum, rencananya mau beli hari ini. Ada gak yang dekat-dekat sini?” jawab Cillian.
“Mau beli di mall aja? Ada yang mau dicari lagi gak?” tanya Shabina lagi.
“Hmmm, ada beberapa sih, sabun, deterjen, kopi, beras … ke mall aja kali ya, biar lengkap” ucap Cillian sambil berpikir.
“Yaudah … ada yang deket sini, cuma lima belas menitan dari sini” balas Shabina.
“Oke, selesai kita beresin unit Ray, kita belanja” ucap Cillian sambil menoleh ke arah Ray.
Ray mengangguk, “tempatku juga gak terlalu banyak yang harus diberesin kok … paling mbak-mbak tolongin yang bagian dapur yaa ... hehe”
“Beres ... tenang Mas Ray” celetuk Shelby.
Entah kenapa, mereka semua sudah terasa seperti keluarga bagi Shabina, padahal mereka belum terlalu lama menghabiskan waktu bersama. Tidak ada rasa canggung saat mengobrol dengan Cillian, Claire, bahkan Ray yang baru ia temui kemarin.
Mengobrol dengan Cillian mungkin sesekali bisa membuat dirinya panik, tapi itu tidak membuat mereka canggung satu sama lain, dalam hitungan menit, mereka sudah kembali seperti semula.
∞
🌵🌵🌵🌵🌵
Hello again 🙆♀️
Terimakasih sudah membaca sampai ch 17. Feedback kalian ... pembaca, sangat aku tunggu. Kalau kalian senang membaca tulisanku, jangan lupa tinggalkan jejak dengan hit ❤ button, komen, vote dan rate karyaku ya ❤💃