
Dua hari lalu terasa seperti dua tahun bagi Shabina. Terlalu banyak yang harus ia cerna, membuat otak juga tubuhnya lelah. Harusnya hari sabtu kemarin menjadi pertemuan kasual antara Shabina dan Cillian, tapi entah kenapa semua jadi sangat serius, tidak, ia bukannya tidak tahu ini ulah siapa, karena dia duluan yang memulainya. Kalau ia tidak memaksakan diri untuk memuaskan rasa penasarannya kemarin, mungkin sekarang hati dan pikirannya masih bisa santai.
Kesepakatan mereka untuk memberi waktu satu sama lain selama sebulan juga adalah idenya. Ia benar-benar harus mulai memikirkan tentang pernikahan ini dengan serius, memikirkan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Shabina melengos pelan, lalu menyenderkan punggungnya di kursi belakang meja kerjanya, mencoba memejamkan kedua matanya.
Kemarin Cillian dan Claire kembali ke Jakarta setelah makan siang, paginya mereka menyempatkan mencari kos-an Claire. Setelah melihat-lihat sekitar empat jam, akhirnya Claire mendapatkan kos yang ia idamkan, sesuai dengan spesifikasi yang ia beritahukan tempo hari.
Cillian kemarin tidak banyak bicara, tidak seperti biasanya. Tingkat kejahilannya juga menurun drastis, membuat Shabina bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi pada laki-laki itu. Tapi ia mencoba untuk tidak terlalu peduli.
Shabina kembali mencoba memikirkan perkataan Cillian sabtu kemarin. Memikirkan pernikahan. Tapi ia sendiri bingung cara memikirkannya, apa yang mau dipikirkan? Ia harus bagaimana? Terima begitu saja? Tidak! Tentu saja tidak. Tapi apa alasannya? Ia juga tidak punya alasan untuk menolak, no, that’s not right. Ia punya alasan untuk menolak, karena ia takut. Tapi sekarang alasan itu terdengar seperti di buat-buat, walau kenyataannya, memang itu yang ia rasakan jika mendengar kata pernikahan. Jadi ia harus bagaimana? Ia benar-benar bisa gila. Andai mama ada di sini, di sisinya.
“Hola! Na!” ucap Anne yang muncul di depan pintu ruang kerja nya.
“Mm-Hm” gumam Shabina
“Kenapa? Sakit kepala?”
“Dikit” gumam Shabina lagi sambil tetap memejamkan matanya, kini tangannya ikut diletakkan di keningnya.
“Udah jam tiga Na … pulang aja, kamu kalau sakit kepala kan sakit banget”
“Mm-Hm … bentar lagi”
Anne menghela nafas melihat tingkah sahabatnya itu, sudah sakit begitu, masih saja ngeyel.
Anne berjalan mendekati meja Shabina, “Na, cerita sama aku … ya?”
Shabina diam, matanya masih terpejam.
“Na …” panggil Anne lagi.
“Aku pengen cerita Anne … tapi aku capek, bahkan hanya memikirkannya aja aku capek An … Aku gak ngerti mau cerita gimana …”
“Apa ini tentang Cillian?”
“Mmm …”
Gumaman itu dianggap iya oleh Anne, dan iya yakin memang itu jawabannya.
“Na … please, don’t be so hard on yourself, would You?” ucap Anne pelan. “Gimanapun kamu harus hadapin situasi ini, kalaupun bukan dengan Cillian sekarang, suatu saat nanti kamu juga bakal menghadapi situasi begini Na …”
“Mungkin orang lain nggak ngerti perasaan kamu, apa susahnya memikirkan pernikahan … apa susahnya menerima laki-laki yang sebenarnya nggak terlalu asing buat jadi suami kamu, tapi aku ngerti yang kamu rasakan Na … I do, bahkan aku bisa ikut ngerasainnya Na … ini nggak mudah buat kamu, sama sekali nggak mudah”
Shabina membuka matanya pelan, tapi tidak menoleh untuk menatap Anne. Ia hanya menatap kosong ke arah tempat seketika matanya tadi membuka.
“Okay … let say you really mean it, when you said you don’t wanna get married … tapi aku nggak yakin itu yang mama kamu inginkan Na …” ucap Anne pelan.
Shabina bergeming, tapi dadanya berdenyut, serasa isi dalamnya sedang diremas.
“Aku Cuma …” Shabina menghentikan kalimatnya, menarik nafas pelan, lalu menghembuskannya, “Aku perlu waktu untuk berpikir sebelum benar-benar memutuskannya … aku cuma gak mau mimpi buruk itu terulang Anne”
Shabina menggigit bibir bawahnya, “Aku gak mau anak-anakku ngerasain apa yang aku rasain waktu kecil … kamu tahu kan An”
“I know, I do … “ ucap Anne sambil menatap sahabatnya itu penuh sayang.
∞
“Ini mau dibawa juga?” tanya laki-laki dengan rambut agak gondrong –melewati kuping- ke laki-laki di sebelahnya, sambil menunjuk sekardus berisi majalah desain interior rumah.
“Lo kenapa sih Yan? dari tadi pagi bawaannya kayak zombie aja lo” celetuk laki-laki itu sambil mengangkat kardus tadi lalu menaruhnya bersama dengan barang-barang yang akan mereka angkut ke mobil.
Cillian tidak menanggapi pertanyaan temannya tadi, ia tahu temannya itu tidak benar-benar bermaksud untuk mengetahui keadaannya.
“PMS?” tanya laki-laki tadi acuh tak acuh
“Sialan”
“Terus lo kenapa sih? Gak biasanya diem gini, bikin takut orang aja … katanya salah satu ciri-ciri orang yang mau mening- “
“Shut your mouth, Ray” potong Cillian.
“Okay … “ ucap lelaki yang dipanggil Ray itu santai.
Ray menatap Cillian sesaat, lalu bergumam “Tapi lo benar-benar aneh hari ini … “
Cillian tidak memperdulikan temannya itu lagi, ia kembali fokus memilah berkas-berkas yang akan dibawanya pindah. Ya, pindah ke Bandung.
Cillian tidak sendiri pindah ke kantor Bandung, ia membawa serta Ray, sahabat karibnya sejak bergabung dengan kantor tersebut. Ray terlibat dalam proyek yang sama dengan Cillian, jadi ia meminta bos mereka untuk memindahkan Ray ke Bandung juga, yang syukurnya di setujui oleh bos.
Kalau dilihat sekilas, mereka sebenarnya terlihat bertolak belakang. Cillian lebih terlihat formal, dari sikapnya, pun pakaian yang ia pilih dan kenakan. Berbeda dengan Ray yang lebih kasual dan pembawaannya yang easygoing. Tapi diluar itu semua, kalau sudah terlibat obrolan tentang pekerjaan atau sesekali tentang kehidupan, mereka akan susah berhenti.
Bandung bukan kota baru bagi Cillian, bertahun-tahun lalu, ia pernah mengenyam pendidikan di kota itu, tepatnya ketika SMA. Jadi, ia tidak terlalu merasa asing. Malah sebenarnya ia cukup menyukai suasana kota Bandung.
Memikirkan Bandung membuatnya teringat pada perempuan yang jaraknya seratus kilometer lebih darinya. Ia masih kepikiran dengan mata Shabina yang bengkak, tentu saja ia tidak berani bertanya pada Shabina sebabnya. Ia bukan siapa-siapa, ralat, belum siapa-siapanya Shabina. Karena ia telah mengungkapkan niatnya untuk berencana memperistri perempuan itu, bukan berarti ia boleh seenaknya bertanya ini itu.
Apa Shabina terbebani dengan semua perkataannya di café waktu itu? Tapi sepertinya itu tidak mungkin sampai membuat Shabina meneteskan air mata, Shabina bukan perempuan seperi itu, pikir Cillian. Lagipula siapa yang akan menangis sampai matanya bengkak hanya memikirkan pernikahan? well, mungkin sedikit berlebihan untuk menyebutnya pernikahan tanpa embel-embel wacana di depannya.
Apa ia tanya saja sekarang? Tapi rasanya egois untuk menanyakan hal itu hanya untuk memuaskan rasa penasarannya, pikir Cillian. Tidak adil bagi Shabina, apalagi kalau dengan menanyakannya membuat hati Shabina tersakiti, Cillian tidak mau hal itu terjadi.
Cillian menghela nafasnya pasrah. Belum apa-apa pikirannya sudah dipenuhi perempuan itu.
***
Halo, akhirnya aku up lagi setelah beporsi porsi lontong dan rendang 🙈
btw Eid Mubarak everyone ❤🙇♀️
May Allah accept our fasts and prayers
... hope we see Ramadhan again next year ❤
🌵🌵🌵🌵🌵
Terimakasih yang sudah setia membaca sampai chapter 14. You ... the readers, means a lot to me 😙
aku tunggu komen serta masukan yang membangun untuk tulisanku...
Jangan lupa tinggalin jejak kalian yaa...
Kalau kalian suka, please hit ❤ button (I appreciate it sooo much💃)
Simpan sebagai favorite supaya kalian terus update ceritanya Shabina dan Cillian 🤗
Looove,
Reeva