Bloom

Bloom
Chapter 22 Misi Penjemputan



Cillian sudah sampai di alamat yang dibagikan Anne tadi, ternyata tidak terlalu jauh dari kantornya. Tadi di jalan, ada pesan baru yang masuk dari Anne yang belum ia buka.


Setelah mengunci mobilnya, ia berjalan menuju pintu kantor sambil membuka pesan Anne tadi. Lalu langkahnya terhenti.


“Mas Alan itu senior kami waktu di kampus Yan, dia sudah seperti keluarga buat Shabina” begitu bunyi pesan Anne.


Keluarga? Berarti mereka memang dekat? Tapi kenapa Shabina tidak pernah cerita? Ya, ia juga memang tidak pernah bertanya apa Shabina punya teman laki-laki atau tidak. Sial-


Ya Tuhan, ia bahkan tidak pernah bertanya apakah sebelum mereka bertemu lagi, Shabina sudah ada yang mendekati? Atau mungkin jangan-jangan sudah ada yang mengajak perempuan itu menikah sebelum Cillian?.


Cillian menggelengkan kepalanya, menutup ponselnya dan memasukkannya ke saku celana.


Jangan ambil kesimpulan dulu Cillian, jangan ambil kesimpulan dulu, ucapnya dalam hati.


Cillian mendorong pintu kantor, tapi di lantai satu tidak ada siapa-siapa. Sepertinya karyawan-karyawan di sini sudah pulang.


Anne tadi bilang ruangan Shabina di lantai dua. Cillian bergerak menuju tangga satu-satunya yang terlihat oleh matanya. Sebelum menaiki tangga, ia sempat mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di lantai satu, ternyata ruangannya masih luas sampai ke belakang, Cillian yakin itu kitchen pantry, tempat mereka menyiapkan makanan. Bersih, pikir Cillian. Wajar kalau klien mereka banyak yang tidak pindah ke lain hati. Karena sekarang susah ketemu dapur bisnis makanan yang sebersih ini.


Cillian sampai di lantai dua, lalu matanya menangkap sebuah ruangan bertuliskan “Ladyboss” di pintunya. Cillian tersenyum. Itu pasti ruang kerja Shabina.


Cillian mengetuk pelan pintu ruangan itu, tapi tidak terdengar sahutan atau suara apapun dari dalam. Lalu ia memutuskan untuk membuka pintu itu pelan.


“Assalamu’alaikum” ucap Cillian pelan. Kini pintu itu sudah terbuka lebar.


Ruangan itu sudah terlihat gelap, karena memang sudah masuk peralihan waktu dari sore ke malam, dan lampu ruangan belum dihidupkan.


Cillian melihat kursi kerja Shabina kosong, lalu ia mencoba masuk ke dalam, karena dari tempatnya berdiri tadi ia tidak bisa melihat sofa di sisi kirinya -yang tertutup dengan lemari.


Cillian melangkah masuk, lalu menoleh ke kiri. Di sana, ia melihat Shabina tertidur sambil mendekap Aryan.


Come to your senses Cillian ! ucapnya dalam hati. Ini tidak baik. Mereka hanya berdua di kantor, ya sebenarnya bertiga, tapi menyadari umur Aryan … ia tidak masuk hitungan kan?.


Ini bisa mengundang fitnah. Dan sekarang ruangan ini mulai benar-benar gelap, hanya ada cahaya senja yang menerobos masuk melalui jendela yang cukup besar dari belakang meja kerja Shabina.


Ya Tuhan, apakah yang dimaksud Anne tadi mereka tidak akan berdua karena ada Aryan?. Cillian menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melirik sekilas ke arah Shabina lagi.


Shabina masih belum bangun, Aryan pun masih pulas tidur dalam pelukan Shabina. Oh God, mana sudah mau maghrib, batinnya dalam hati.


Cillian memutar otak bagaimana caranya ia bisa membangunkan Shabina. Memanggilnya? Tidak, tidak … pasti perempuan itu bakal kaget sekali dan malu. Ia terdiam sejenak.


Ah iya, cara itu lebih baik.


Cillian mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu, mencari sakelar lampu. Ia berencana menghidupkan lampu, semoga saja Shabina bisa terbangun.


Ia menemukan sakelar itu, dan menekan tombol sakelar pelan.


Seketika ruangan itu terang benderang. Lalu terdengar suara Aryan yang mulai rewel. Sepertinya ia terkejut dan terganggu dengan cahaya lampu yang tiba-tiba.


“Astaghfirullah … sudah jam berapa ini …” gumam Shabina pada dirinya sendiri. “Aryan, maaf ya sayang … tante ketiduran” ucap Shabina lagi sambil menepuk-nepuk pelan punggung Aryan.


Cillian masih berdiri di dekat sakelar lampu, ia tidak terlihat oleh Shabina karena tertutup lemari. Ia masih bingung, harus muncul dengan cara apa di depan Shabina. Ia yakin perempuan itu pasti sangat terkejut.


Shabina sadar ada yang menghidupkan lampu. Ia pikir Anne sudah balik ke kantor,


“Anne? Kamu udah balik?”


Tidak ada jawaban. Shabina memanggil ulang, “Anne?”