
Shabina bangkit dari sofa, lalu melangkah maju sambil menggendong Aryan. Saat ia menoleh ke kanan, saat itulah ia mendengar laki-laki itu berdeham dan mata mereka bertemu.
“Allahuakbar!” pekik Shabina, spontan mengeratkan pelukannya pada Aryan.
Untuk beberapa saat ia hampir tidak mengenali lelaki di depannya, lalu setelah mengerjap beberapa kali ia sadar itu Cillian.
Cillian tersenyum agak bersalah ke arah Shabina.
“Maaf, kagetin kamu …” ucap Cillian masih berdiri di tempatnya.
“Cillian?” panggil Shabina, tak percaya dengan penglihatannya.
“Hmm, tadi aku dimintai tolong sama Anne untuk jeput kamu, katanya meeting-nya lanjut sampai malam. Bukan, awalnya aku telfon kamu mau diskusi untuk pesanan besok, tapi kamu nggak angkat … jadi aku telfon Shelby dan dia kasi nomor Anne ... so, yeah … sekarang aku di sini” ucap Cillian panjang lebar.
Shabina tidak sadar dahinya mengernyit ketika menyimak ucapan Cillian tadi, otaknya masih memproses kata-kata Cillian yang panjang. Tunggu sebentar, pesanan?
“Pesanan? maksudnya?” tanya Shabina.
“Ah iya, aku mau buat pesanan untuk makan siang di kantor besok … makanya aku hubungi kamu”
Shabina mengangguk-angguk. Apa katanya?
“Besok!? besok siang!?” tanya Shabina lagi dengan suara agak keras, membuat Aryan yang masih setengah tertidur menggeliat dalam gendongannya.
“Iya … sorry mepet banget, mungkin kita diskusi di mobil aja sambil jalan ya? udah mau maghrib juga Na …”
Shabina menoleh untuk melihat jam tangannya. Benar, beberapa menit lagi mau maghrib. Ya tuhan, sudah berapa lama ia tertidur? Sepertinya hampir sejam lebih.
Sebentar. Tunggu dulu.
Jadi, Cillian tadi yang menghidupkan lampu? Berarti Anne belum balik?
Wait, wait. Berarti Cillian melihatnya tidur?
“Yan, kamu udah berapa lama nyampe sini?”
Cillian tidak langsung menjawab, ia tampak enggan.
“Hmm, sekitar 15 menit yang lalu …” ucap Cillian.
Shabina merasakan wajahnya memerah. Oke, ia tidak perlu bertanya. Ia yakin Cillian pasti melihatnya tidur, dan Cillian menghidupkan lampu pasti untuk membangunkannya. Ia malu, tapi masih bersyukur dan berterimakasih Cillian memilih cara yang cukup gentleman untuk membangunkannya. Dengan begitu ia tidak terlalu malu, siapa yang nyaman memperlihatkan wajah tidurnya pada laki-laki yang bukan mahramnya?
“Na …? sorry- “ ucap Cillian, tapi dipotong oleh dehaman Shabina.
“Gak papa Yan, jadi kita balik sekarang ya? mau maghrib, kamu maghrib di jalan aja ya... ada masjid dekat sini”
Cillian mengangguk setuju, memilih tidak banyak bicara, ia tahu Shabina malu.
Cillian memang terkadang jahil dan senang melihat reaksi Shabina, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Shabina berjalan mendekati Cillian, lalu menyodorkan Aryan pada lelaki itu.
“Kamu gendong Aryan bentar, aku beresin barang-barangnya dulu …” ucap Shabina, yang dijawab dengan anggukan lagi oleh Cillian.
Shabina dengan cekatan membereskan barang-barang Aryan, yang tadi sempat ia bongkar karena mencari botol susunya.
Setelah itu ia bergerak menuju meja kerjanya, mengambil ponsel dan beberapa kertas di sana lalu memasukkannya ke dalam tas kerja.
Cillian hanya memperhatikan gerakan perempuan itu sambil diam berdiri di bibir pintu, tangannya menggendong Aryan yang setengah tertidur.
Cillian mendekati sofa, lalu mengambil tas perlengkapan Aryan. “Ada lagi Na?”
“Udah itu aja …” ucap Shabina sambil berdiri, tampak berpikir, mengingat apa lagi yang harus diangkutnya pulang.
Cillian turun duluan sambil menggendong Aryan dan menenteng tas perlengkapan bayi. Lalu ia sadar mobilnya tidak punya baby car seat.
Ia berhenti di tengah tangga, lalu bertanya dengan sedikit berteriak pada Shabina yang masih di ruangan kerjanya -memastikan ruangannya aman sebelum dikunci.
“Na! ada baby car seat-nya nggak?!”
Cillian berjalan menuju mobilnya, ia meletakkan tas perlengkapan bayi di kursi belakang, lalu membuka pintu kemudi dan duduk di kursinya sambil menggendong Aryan. Sekarang bayi itu sudah benar-benar bangun, tapi yang membuat Cillian takjub, ia tidak rewel sama sekali.
“Halo, kita ketemu lagi … masih ingat Om nggak? kita ketemu bulan lalu … atau dua bulan yang lalu? Wah Om lupa … “ ucap Cillian terkekeh sambil menatap mata kelereng Aryan.
Shabina mengunci pintu kantor dengan tergesa, karena hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi mau adzan maghrib.
Ia berlari kecil menuju mobil Cillian.
“Huuuuft” ucap Shabina sambil merebahkan dirinya di kursi penumpang sebelah Cillian.
“Udah semua?” tanya Cillian
“Udah … Insya Allah …” jawab Shabina masih terengah, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil Aryan.
“Itu atur dulu nafas kamu Na, tergopoh-gopoh gitu sih tadi” ucap Cillian masih tetap menggendong Aryan.
Shabina tertawa kecil.
Lalu terdengar sayup-sayup adzan berkumandang. Cillian menoleh ke belakang, mencari-cari sesuatu di kursi belakang.
“Kenapa?” tanya Shabina.
“Na, bisa tolong ambil tas biru di kursi belakang?”
Shabina menoleh ke kursi belakang, ia menemukan tas biru yang dimaksud Cillian, tapi kalau ia mengambil tas itu dengan posisi sekarang, jarak mereka akan terlalu dekat, karena Shabina harus memposisikan badannya ke tengah, dan itu akan membuat mereka canggung -setidaknya itu yang akan Shabina rasakan. Jadi Shabina menggeser mundur kursinya.
Menyadari hal itu Cillian tersenyum simpul, sebenarnya tadi ia sempat berpikir Shabina mungkin akan turun dari mobil dan mengambilnya dari pintu penumpang belakang, tapi sepertinya Shabina punya cara lain.
Shabina berhasil meraih tas biru itu, “mau aku keluarin isinya?” tanya Shabina, sadar tangan Cillian penuh karena menggendong Aryan.
“Iya, tolong …”
Shabina membuka tas itu, lalu ia mendapati botol minum dan wadah bulat transparan berisi beberapa kurma.
Ia menoleh ke arah Cillian, “kamu puasa Yan?”
Cillian mengangguk mengiyakan.
“Ya Tuhan, kok gak ngomong-ngomong sih … kan kamu jadi telat bukanya” ucap Shabina sambil mengeluarkan botol minum dan wadah kurma tadi dengan cekatan.
“Aku gak mau dikira pamer sama bakal calon istri …” ucap Cillian sedikit terkekeh.
Shabina hanya menggelengkan kepalanya, membuka botol minum Cillian lalu menyodorkannya pada lelaki itu.
“Bisa? Atau sini kasi Aryan ke aku” ucap Shabina
Sekarang tangan mereka berdua cukup penuh, Cillian dengan Aryan, Shabina dengan kurma di pangkuannya dan botol air putih di tangan kanannya.
“Gak papa, bisa …” Cillian mengambil botol minum yang sudah dibuka Shabina, meneguknya, lalu menyodorkannya kembali pada Shabina. Ia membaca doa berbuka, lalu lanjut doa lainnya agak panjang, karena itu merupakan waktu mustajab untuk berdoa.
Diam-diam Shabina mengamati Cillian yang diam, sepertinya dia sedang berdoa, pikir Shabina.
Selesai berdoa, Cillian menoleh ke arah Shabina, berniat meminta sepotong kurma, lalu ia mendapati Shabina sedang menatapnya, manik mata mereka bertemu untuk beberapa detik.
“Ah em, sini Aryan biar aku pangku, biar kamu nyaman bukanya …” ucap Shabina.
Cillian tersenyum, ia mengangkat Aryan berdiri. Ia sadar kedua tangan Shabina penuh, maka ia yang menyodorkan Aryan pada Shabina, mendudukkan bayi itu di pangkuan Shabina, lalu mengambil botol minum dan wadah kurma dari tangan Shabina.
Cillian mengambil sepotong kurma dan menggigitnya, kemudian tangan kirinya menurunkan rem tangan lalu menggeser persneling mobil.
“Gak selesaikan dulu makannya, Yan?” tanya Shabina menyadari Cillian akan melajukan mobilnya.
“Gak papa, ini satu kurma udah bikin kenyang … ntar kita kelamaan nyampe rumah kamu, ini mau berhenti di masjid lagi …”
Shabina mengangguk, “Oke, hati-hati … gak usah buru-buru, kita bawa Aryan” ucap Shabina lagi.
“Siap” balas Cillian sambil tersenyum.