
Shabina bangun dari tidurnya dengan perasaan sedikit melayang. Badannya seperti tidak bisa berdiri dengan seimbang, kepalanya juga terasa ringan dan melayang.
Ia memutuskan untuk duduk kembali di tepi tempat tidurnya. Ia berniat mengambil wudhu untuk shalat shubuh, tapi sepertinya ia butuh bantuan.
Ia meraih ponselnya di atas nakas, lalu menelfon Shelby. Tidak sampai dua menit setelah telfon di tutup, Shelby sudah muncul.
“Kak? kenapa?” tanya Shelby cemas setelah mendengar suara kakaknya yang terdengar lemas di telfon tadi, dan sekarang melihat kakaknya tertidur di kasur seperti tidak bertenaga membuat kecemasannya semakin menjadi.
“Mmhm … tiba-tiba waktu bangun tadi rasanya kakak pusing banget, kayak melayang … mau wudhu tapi nggak sanggup berdiri …” ucap Shabina dengan suara lemas.
“Kalau aku bantu sanggup berdiri Kak?” tanya Shelby sambil menatap cemas kakaknya.
Shabina mengangguk pelan.
Shelby menopang Shabina, membantu kakaknya mengambil wudhu. Shabina memutuskan untuk Salat sambil tidur setelah dipaksa Shelby, karena duduk pun ia tak sanggup.
“Kak, masih pusing gak?” tanya Shelby setelah melipat mukena Shabina.
Shabina mengangguk lemas.
“Kok bisa sampai kliyengan gitu kak … kakak beberapa hari ini capek banget ya?” ada nada selidik di suara Shelby.
Shabina tidak menjawab adiknya, ia hanya memejamkan mata, lalu sesekali memijit pelipisnya.
“Kak, hari ini istirahat di rumah aja, biar aku hubungi kak Anne. Aku keluar dulu bikin sarapan … kakak mau dibuatkan apa?”
Shabina menggeleng pelan, masih tetap memejamkan matanya.
“Yaudah, kalau ada apa-apa langsung panggil atau telfon El …” ucap Shelby di bibir pintu kamar Shabina.
“Ya?”
“Kalau Anne tanya, bilang kakak nggak papa … cuma sedikit nggak enak badan, jadi gak usah ke rumah …” ucap Shabina pelan, masih terdengar lemah. Ia tahu bagaimana sahabatnya itu, dengar Shabina demam sedikit saja, sudah bawa macam-macam ke rumah.
Shelby menghela nafasnya, dasar kakaknya ini, sudah kliyengan begitu masih saja mengkhawatirkan orang lain. Tapi ia tetap mengangguk, lalu mengiyakan permintaan kakaknya.
Setelah adiknya keluar, Shabina perlahan mencoba membuka matanya. Ia masih merasa seperti di awang-awang, seakan tubuhnya ringan dan melayang-layang. Kepalanya masih pusing. Ia menatap kosong langit-langit kamarnya.
Ah, hari ini seharusnya ia bertemu klien untuk event minggu depan bersama Anne, tapi ia yakin sahabatnya itu pasti bisa menghandel dengan baik tanpa dirinya.
Padahal bahan meeting hari ini sudah ia persiapkan dengan matang, berharap kliennya senang dengan rekomendasi yang ia tawarkan. Padahal ia sangat berharap bisa hadir dan berdiskusi dengan klien hari ini, karena konsep dan tema acara mereka sangat menarik bagi Shabina.
Ia menghela nafas, lalu memejamkan matanya lagi. Sudah lama ia tidak merasa kliyengan berat seperti ini, ia memang pernah punya riwayat vertigo, tapi itu sudah sangat lama sekali, dan beberapa tahun terakhir dia tidak pernah merasakannya lagi.
Memang, beberapa hari terakhir sepertinya ia memaksakan diri dalam bekerja. Mulai dari menyiapkan bahan meeting dengan beberapa klien, riset resep baru, memperbaharui beberapa standar operasional prosedur di dapur, sampai dengan mengisi workshop. Memang ia dibantu oleh Anne, tapi tetap saja porsi kerjanya lebih banyak Shabina, karena ia termasuk orang yang perfeksionis.
Ditambah dua hari yang lalu ia juga ikut menyiapkan keperluan pesanan untuk kantor Cillian. Ya, mungkin ia terlalu memaksakan diri, ingin memberikan pelayanan terbaik. Ia tidak tahu kenapa, apa karena Cillian orang yang ia kenal? Sehingga tidak ingin membuat laki-laki itu kecewa? Atau … karena itu Cillian? sehingga membuatnya ingin menunjukkan bahwa dirinya berkompeten?
Ia tidak mempercayai dirinya sendiri, sudah di tahap mana Cillian masuk ke dalam kehidupannya? Sampai lelaki itu membuat Shabina merasa perlu untuk menunjukkan kemampuannya.
Apakah Shabina sebegitu inginnya diakui oleh Cillian? Ingin lelaki itu berpikir bahwa ia perempuan yang “baik”? Padahal, nyatanya … ia tahu persis, dirinya tidak sebaik itu. Ia tidak sekuat yang terlihat, bahkan mungkin sangat-sangat rapuh. Dan ia malu pada dirinya sendiri, karena seolah ia bermuka dua.
Pikirannya kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu saat di kantor Cillian...
∞