Bloom

Bloom
Chapter 13



“Na …” ucap suara itu pelan.


“Sayang …” panggil suara itu lagi.


Shabina tidak mungkin lupa suara itu. Faktanya, ia sangat merindukan suara itu. Suara yang selalu bisa menenangkan hatinya, walau dalam keadaan yang buruk sekalipun.


Suara yang selalu membangkitkan kekuatan dan percaya diri di dalam dirinya. Suara yang membuat hatinya terasa pilu, sakit setengah mati karena tidak akan mungkin mendengarnya lagi.


Hatinya sakit, hancur, rasanya ingin sekali ia mengeluarkan organ itu dari tubuhnya saat ini juga, sangking sakitnya.


“Na …” panggil suara itu lagi.


Matanya membuka cepat. Shabina lalu bangkit secepat kilat dari tidurnya, mencari-cari arah suara yang memanggilnya. Lalu ia menemukannya. Wanita umur empat puluhan akhir sedang menatapnya penuh sayang di pojok ruangan. Seketika itu hatinya kembali sakit bukan main, bagian tubuhnya itu bagai diremas dengan kekuatan penghancur. Ia tahu ini mimpi, ia yakin itu seratus persen.


Tapi kenapa ini terasa begitu nyata? Sakit yang ia rasakan begitu nyata. Ia belum beranjak, masih terduduk di kasurnya menatap wanita tadi. Tangan kanannya meraih kaus tidurnya, meremasnya tepat di bagian yang ia rasa sakit. Matanya yang sudah terasa panas sedari tadi, mati-matian ia pertahankan supaya tidak kebobolan. Tapi rasa sakit di dadanya yang amat sangat memaksanya untuk menjatuhkan pertahan terakhir dirinya. Bulir-bulir air mata yang sejak tadi ditahannya sekarang terjun bebas di pipinya. Ia mulai terisak, tapi masih ditahan-tahan, lalu sejurus kemudian isak tangisnya mulai mengeras, pundaknya bergoncang sambil kedua tangannya menangkup wajahnya yang sudah basah dengan air mata.


“Mama …” ucapnya pelan sambil terisak.


“Na kangen banget … Na pengen banget peluk mama …” lirihnya lagi.


Ia merasakan seseorang memeluknya pelan. Pelukan yang sangat familiar bagi tubuhnya. Ia tak berani membuka matanya, pun balas memeluk pelukan orang itu. Karena ia tahu, ini tidak nyata.


“Mama juga kangen banget sama Na, sayang …” terdengar suara dari perempuan tadi.


Sekarang tangisnya yang berhasil dihentikan untuk beberapa saat tadi kembali terdengar lirih.


Lalu suara itu terdengar kembali, “Na … Mama sayang kamu, mama mau Na bahagia … lakukan apa yang menurut hati kamu benar. Sayang, cobalah lupakan masa lalu … Mama sedih kalau kamu terus dibayang-bayangi oleh orang itu …” sekarang suara itu terdengar seperti sedang berusaha menahan tangis.


Shabina tersentak di tempat tidurnya, ia merasa seperti baru terjatuh dari jurang dan sekejab tadi tubuhnya terasa melayang. Ia mengerjap beberapa kali, kepalanya terasa berat dan sangat sakit. Ia lalu mengangkat tangannya -yang entah kenapa terasa lemas- untuk menyentuh matanya yang terasa panas. Good. Matanya bengkak.


Lalu sekejap kemudian ia sadar, kemudian menoleh ke samping kanannya.


“Kak Na …” ucap Shelby dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.


Shabina terdiam. Apa tadi ia seribut itu sampai Shelby terbangun? Tapi ia masih bersyukur karena yang terbangun hanya Shelby, dan Claire masih tidur di kasur bawah. Harusnya Shelby tidur dengan Claire dibawah, mereka tadi mengangkut kasur ke kamar Shabina, karena tidak mungkin tidur bertiga di atas kasurnya. Tapi sekarang adiknya sedang duduk di sampingnya, di kasurnya.


“Kak Na … “ panggilnya lagi sambil meraih tangan Shabina, kini bulir air matanya mulai mengalir pelan.


Shabina balas menggenggam erat tangan adiknya, ada desakan kuat dalam dada yang membuatnya ia menangis lagi, tapi sekuat tenaga ia tahan, “Aku gak papa …”


“Tadi kakak sebut-sebut mama sambil nangis …” ucap Shelby sambil menatap kakaknya.


“Kakak ser- …” Shelby ragu sejenak, lalu memutuskan untuk tetap bertanya “Kakak sering ngalamin ini ?” tanya Shelby pelan.


Shabina tak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat sambil menunduk.


Shelby tahu, sejak mama meninggal, Shabina tidak baik-baik saja. Walau kakak nya itu selalu berkata sebaliknya dan meyakinkan mereka semua dengan senyum menenangkan miliknya. Shelby juga tahu sejak itu kakaknya mulai gila kerja, seolah menyibukkan dirinya dengan pekerjaan bisa melupakan kenyataan bahwa mama mereka sudah tidak ada.


Shabina menoleh menatap lekat adiknya, lalu tersenyum kecil. “Nggak, cuma sesekali … kayaknya hari ini aku sedang kangen mama … sampe mama nyamperin aku di mimpi … hehe”


Shelby tidak membalas. Ia sedikit ragu dengan jawaban kakaknya itu. Tapi kali ini ia membiarkannya, memutuskan untuk mempercayai Shabina. Ia memeluk kakaknya erat.


Masih pukul dua pagi, jadi mereka memutuskan untuk kembali tidur. Shelby tidak ingin meninggalkan kakaknya, jadi ia memutuskan untuk menemani Shabina di kasur atas.


Shelby sudah kembali terlelap. Dilihatnya wajah adiknya itu lekat-lekat. Mereka hanya berdua, setelah tidak ada mama, sudah otomatis Shabina lah yang merasa bertanggung jawab atas adiknya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat adiknya melihatnya dalam keadaan seperti ini, membuat adiknya itu sedih.


Berapa lama ia menangis dalam mimpi? pikirnya, sampai matanya bengkak dan kepalanya berdenyut, sakit bukan main. Tapi, tadi itu benar-benar terasa nyata.


Ia tidak bisa tidur. Sudah sejam lebih- tidak, sudah dua jam ia memejamkan matanya sambil mengulang-ngulang ayat kursi dalam hati. Tapi tetap saja ia tidak bisa terbang ke alam mimpi.


Ia bangkit dari tidur perlahan. Sebentar lagi Shubuh. Sepertinya mencoba untuk tidur lagi pun tidak akan membuahkan hasil. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu, berniat untuk salat tahajud, berharap dengan melakukan itu bisa menenangkan hatinya.


Selesai salat, ia keluar kamar menuju dapur. Membuka kulkas dan mengeluarkan bahan masakan yang masih beku untuk sarapan nanti. Ia melakukannya dengan pelan-pelan, khawatir membangunkan seisi rumah, karena saat ini masih terlalu pagi, oh- sepertinya sepuluh menit lagi adzan Shubuh.


Shabina membuka pintu yang menghubungkan taman belakang dengan dapur, membiarkan udara dingin pagi menyeruak masuk ke dalam rumah. Lalu menuju ruang tengah untuk menghidupkan lampu disana, ketika ia mendengar suara pintu kamar terbuka … arahnya dari kamar tamu. Ya Tuhan! Ia lupa Cillian ada di rumah sekarang, ia memegangi kepalanya, Mati!. Sontak ia mengeluarkan suara.


“Eeeeeeeehh!” ucap Shabina setengah memekik panik dari ruang tengah.


“Apa?! Kenapa?!” sahut Cillian di depan pintu kamarnya yang kaget mendengar pekikan seseorang, lalu menyadari kalau itu suara Shabina.


Sebenarnya antara kamar Cillian dan ruang tengah dibatasi dinding, jadi kalau Cillian tidak beranjak dari tempatnya itu- ia tidak akan melihat Shabina.


“Kamu jangan keluar dulu! Bentar!”


“Aku udah keluar … di depan pintu kamar” ucap Cillian tenang. Dari suara panik Shabina, sepertinya ia tahu alasannya.


“Masuk lagi bentar Yan … please”


Cillian tersenyum -yang tentu saja tidak terlihat oleh Shabina. Kemudian tanpa menjawab perempuan itu lagi ia membuka pintu kamarnya, masuk, lalu menutup pintunya lagi.


Shabina lari terbirit ke kamarnya, meraih kerudung di gantungan belakang pintunya. Ia mengumpat dalam hati karena kebodohannya. Hampir saja! Hampir saja ia tidak suci lagi. Kalau tadi Cillian keluar kamar selagi ia di dapur, tamat sudah. Terserah mau dibilang berlebihan, bodo amat. Tapi bagi Shabina kalau ada lelaki bukan mahram yang melihat rambutnya, walaupun tidak disengaja, rasanya seperti kesuciannya direbut. Walaupun mungkin itu bakal calon suami. Shabina melengos, lalu meraih kaus kaki di laci, memakainya, dan keluar kamar lagi.


“Yan, udah” ucap Shabina di depan pintu kamar Cillian, lalu kembali ke dapur.


Shabina sudah menyiapkan hati kalau-kalau laki-laki itu keluar kamar dan tertawa terbahak-bahak karena kejadian tadi. Tapi pintu kamar itu tidak langsung dibuka.


Shabina tidak memerdulikannya. Ia mengeluarkan udang dan cumi beku dari freezer, lalu meletakkannya di wastafel cuci piring. Menyiapkan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk membuat mie goreng seafood, ya, ia berencana memasak itu untuk sarapan mereka nanti. Mungkin dengan tambahan bakwan dan tempe goreng, ia teringat Cillian makan tempe gorengnya semalam, tidak bisa berhenti.


Tidak lama, pintu kamar Cillian terbuka. Shabina tidak menoleh sama sekali, tetap melanjutkan pekerjaannya di dapur. Cillian berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa, ia berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai, kembali ke kamarnya.


Saat adzan Shubuh berkumandang, Cillian keluar dari kamarnya lengkap dengan baju koko dan sarung. Semalam nenek menyuruh Shabina meletakkan sarung dan baju koko bersih di kamar Cillian, baju koko itu milik sepupu laki-laki Shabina yang kadang menginap di rumah mereka -yang ternyata ukurannya pas dengan badan Cillian.


“Aku ke masjid ya” ucap Cillian, wajahnya sudah tampak segar, lengkap dengan sarung dan koko berwarna biru dongker.


Shabina mengangguk lalu mengikuti Cillian menuju pintu depan, bukan apa-apa, tentu saja untuk menutup kembali pintu setelah Cillian keluar.


Setelah sampai di depan pintu Cillian berbalik untuk mengucapkan salam, lalu ia melihat wajah Shabina yang menunduk. Walau perempuan itu sedang menunduk, Cillian bisa menangkap sesuatu, matanya termasuk jeli. Ada sesuatu yang tidak biasa, mata Shabina terlihat bengkak, apa karena bangun tidur? Tapi kelihatannya tidak seperti itu. Itu mata yang bengkak karena menangis. Cillian tidak ingin membuat Shabina tidak nyaman, maka ia langsung bergegas keluar setelah mengucap salam.


Setelah menutup pintu depan, Shabina kembali ke kamar untuk mengambil wudhu, tapi langkahnya terhenti di tepi petidurannya yang kosong. Lalu ia memutuskan untuk duduk. Ia menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Apa tadi Cillian menyadari matanya bengkak? Tapi lelaki itu memang tidak bertanya apa-apa. Semoga saja ia tidak menyadarinya, pikir Shabina. Kalau sempat Cillian bertanya macam-macam tentang matanya, rasanya Shabina belum sanggup untuk menceritakan masalah ini.


Shabina melengos, kemudian teringat sesuatu.


Mereka tidak pernah berdua saja. Shabina memang menghindari untuk berdua saja dengan Cillian. Di restoran kemarin, walaupun ia sempat mengobrol berdua saja -dan sempat merasa tidak nyaman, tapi disana masih ramai orang. Padahal ini di rumahnya.


Tapi tadi itu, walaupun mereka sedang di rumah Shabina, tadi mereka hanya berdua. Dan itu rasanya aneh. Ada sesuatu yang menggelitik di dalam tubuhnya. Sepertinya Shabina akan mulai kewalahan dengan perasaannya sendiri. Argh, ini sebabnya dilarang berdua-duaan!.


***