
Seorang pelayan mengantarkan makanan dan minum yang tadi mereka pesan. Chicken parmigiana, garlic grilled steak, nasi ayam Singapore, quesadilla, crème brulee, latte, dan jus jeruk. Latte untuk Shabina, jus jeruk untuk Anne. Kalau nongkrong di café bareng Anne jangan harap bisa cuma pesan satu menu saja. Makanan tadi itu ide Anne semua, dipesan setelah anggukan dari Shabina. Kebiasaan mereka adalah berbagi makanan bersama, jadi kerjaan icip-icip makanan mereka bisa lebih banyak.
“Makasi mas ...” ucap Shabina sembari mengangguk setelah pelayan tadi selesai mengantarkan pesanan mereka.
Ini jam makan siang dan Emerald café terlihat cukup padat. Ya, akhirnya Shabina berhasil mengajak Anne untuk mengunjungi café ini setelah beberapa kali gagal.
Dari konsepnya, café ini memang terlihat jelas mengadopsi gaya barat, dari interior, suasana, sampai ke menunya. Sebagian besar menunya adalah makanan-makanan barat seperti chicken dan beef steak, tapi ada juga makanan khas Indonesia seperti gado-gado, sate dan lain-lain. Pilihan menu café ini cukup banyak. Mereka memutuskan memesan menu yang ada keterangan recommended-nya, setelah terlebih dahulu tergoda dengan visual makanannya.
Tidak menunggu lama, Anne langsung mengambil garpu dan pisau, bersiap memotong garlic grilled chicken menjadi potongan kotak-kotak. Shabina memilih mencicipi quesadillas terlebih dahulu.
“Gimana …?” tanya Anne sambil mengunyah pelan.
“Enak, kejunya lumayan banyak …”
Anne terkekeh pelan, membuat Shabina memandang bingung sahabatnya itu.
“Eh, maaf … haha, iya aku yang salah nanya waktu kamu lagi makan itu ya … tadinya aku bukan mau nanya enak nggaknya quesadillas itu Na …” ia terkekeh lagi.
Shabina mengernyitkan dahinya sambil menatap bingung Anne, tidak paham maksud sahabatnya tadi.
“Baiklah … syukurlah quesadilla itu enak …” sambungnya lagi, masih sedikit terkekeh.
“Apa sih Anne … jadi kamu nanya gimana apaan” tanya Shabina mulai tidak sabar.
“Itu … gimana sama Cillian?” tanya Anne sambil menggerak-gerakkan alisnya naik-turun.
Shabina paham sekali kalau sudah Anne membuat wajah begitu. Menuntut cerita panjang lebar, tidak boleh ada yang terlewat.
Shabina menghela nafas. Sepertinya percakapan ini bakal panjang, ia harus ikhlas memuaskan rasa penasaran sahabatnya itu.
“Ya gitu … hari sabtu kemarin, malamnya dia sempat nelfon …”
“Oh ya ?? … terus?” suara Anne mulai terdengar antusias.
“Dia nanya gimana di jalan balik ke Bandung, jam berapa nyampe …”
“Terus … ?”
Shabina mencoba untuk tidak memutar bola matanya melihat tingkah Anne. Kenapa ia dikelilingi orang-orang dengan tingkat rasa penasaran super? kemarin adiknya, sekarang Anne, Shabina melengos dalam hati.
“Dia ngajak ketemuan minggu ini, sekalian dia ada kerjaan di Bandung katanya”
Mata Anne membesar. “Terus … terus ... ??!”
Oke, Shabina mulai muak mendengar “terus-terus” Anne.
“Aku kosong weekend ini ... yaudah aku iyain …”
“Berdua aja ?”
“Ya nggak lah ! gila aja cuma berdua … mana mau aku” jawab Shabina sambil memelototi Anne.
“Iya ... aku juga pikir begitu …” balas Anne sambil mengangguk-angguk. “Jadi?”
“Cillian bawa adiknya, Claire … jadi aku juga ajak Shelby bareng”
“Baguslah ….” Anne menyuapkan potongan steak yang sudah dipotongnya tadi ke dalam mulut. “So … menurut kamu ini bakal kemana?” sambung Anne lagi.
Ia tahu maksud pertayaan Anne. Shabina hanya diam. Tampak sedang berpikir.
Anne hanya menatap sahabatnya itu. Ia tahu Shabina malas membahas tentang ini. Tapi Shabina tidak benar-benar berpikir untuk tidak akan pernah menikah kan?.
Anne memang pernah mendengar ide itu dari mulut Shabina, karena ayahnya, Anne tahu. Anne tahu Shabina takut menikah karena ayahnya, takut rumah tangganya tidak berhasil seperti ayah dan mamanya. Anne pernah bilang bahwa tidak semua laki-laki seperti ayah Shabina. Tapi tetap saja saat itu ide untuk tidak menikah seperti sudah tertanam di otaknya. Itu beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Saat itu umur mereka masih dibawah dua lima –awal dua puluh, jadi Anne tidak pernah benar-benar menganggap serius perkataan Shabina itu, mungkin Sahabatnya itu masih senang melajang, pikir Anne.
Tapi sekarang Shabina sepertinya butuh teman hidup. Sejak ibunya meninggal setahun yang lalu, Anne bukannya tidak sadar dengan perubahan sikap Shabina. Memang bukan perubahan sikap besar-besaran, yang tidak terlalu mengenal Shabina mungkin tidak akan sadar, tapi Anne menyadarinya. Shabina mulai sering melamun, mukanya juga sering terlihat lesu, tidak jarang beberapa kali matanya bengkak saat masuk kantor.
Anne tahu Shabina sangat menyayangi ibunya. Tapi Shabina harus bangkit dan menjalani hidupnya lagi dengan sungguh-sungguh dan teratur. Dan mungkin … dengan adanya teman hidup akan membantu Shabina.
Shabina masih menunduk menatap makanannya, tampak masih berpikir.
“Na … lihat aku” ucap Anne.
Shabina mengangkat kepalanya, menatap sahabatnya itu.
“Na … menurut kamu dia gimana?”
“Hm ...? Gimana apanya …?”
“Maksudku, apa kamu terpikir untuk bawa ini ke arah yang lebih serius? Atau dia udah ada singgung ke arah sana?”
Shabina tahu maksud Anne. Arah Pernikahan.
Shabina menghela nafasnya panjang, “aku gak tau Anne … jujur aja kalau ditanya dia gimana … dari yang aku lihat, dia baik … dan sejauh ini aku cukup nyaman ngomong sama dia, ya walaupun tetap canggung ... You know what I mean ...”
Anne mengangguk pelan, menunggu Shabina melanjutkan perkataannya.
“Dia ... termasuk family man An, waktu di Switzerland dulu dia keliatan banget dekat sama keluarganya, bahkan dia cepet banget nyambung sama mamaku …”
“Tipe kamu banget dong ... oh iya, fisiknya juga tuh ... tipe kamu banget kan” celetuk Anne sambil tersenyum.
Shabina hanya membalas senyum, sedikit malu untuk mengakui ucapan Anne tadi. Tapi ia tetap mengangguk samar, yang tentu saja ditangkap oleh Anne.
“Tapi aku masih bingung … aku takut An …”
Anne menarik nafasnya dalam sebelum membuka suara. “Aku ngerti, aku tau Na … aku bisa ngerasain apa yang kamu rasa, aku temen baik kamu … aku nggak mau kamu sedih terus gini Na. Mungkin kamu sendiri nggak sadar, tapi semenjak tante meninggal, kamu jadi suka melamun … kamu tahu?” ucap Anne sambil meraih tangan Shabina yang ada di atas meja dan menggenggamnya.
Mata Shabina mulai berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Anne, entah kenapa ada desakan begitu kuat di dalam hatinya yang ingin melesak keluar. Rasanya sakit.
“Na, aku pengin kamu bahagia … aku pengin kamu untuk kasi kesempatan ke diri kamu sendiri untuk ngerasa bahagia, You deserve it Na … I know You do, kamu manusia terbaik yang pernah aku jumpai …” ucap Anne, sekarang giliran matanya yang mulai berkaca-kaca, genggaman tangannya makin erat.
“Kamu tahu … kamu harus coba buka hati kamu untuk laki-laki, kasi dia kesempatan Na … mungkin dia jodoh kamu, nggak ada salahnya mencoba … kamu harus tahu, gak semua laki-laki harus seperti ayah kamu Na …”
Air mata yang ia coba bendung dari tadi akhirnya tumpah juga. Shabina merasa pertahanannya hancur, dibobol begitu saja oleh perkataan Anne. Ia sadar semua perkataan Anne benar, tapi entah kenapa hatinya sangat sulit untuk menerima. Dan wajah mamanya silih berganti memenuhi kepalanya saat ini.
“Na … you need to give him a chance, at least … biarkan dia mengutarakan niatnya mengenai hubungan kalian” ucap Anne lagi.
Ya, mungkin untuk saat ini ia cukup memberi Cillian kesempatan, pikir Shabina. Kalau memang nanti semua ini berjalan ke arah pernikahan, itu masalah nanti, dan dia akan memikirkannya nanti. Ya begitu saja.
Kalau toh semua ini hanya ujung-ujungnya karena Cillian ingin reuni kecil-kecilan saja? Ya, syukur kalau begitu.
Tapi tiba-tiba dadanya berdenyut. Apa iya dia akan bersyukur kalau memang Cillian hanya berniat reuni? atau jangan-jangan dia berharap lebih? benaknya mulai membuat percakapannya sendiri, dan itu tanda bahwa Shabina harus berhenti berpikir –kalau ia tidak mau sakit kepala sebentar lagi.
Sambil menyeka air matanya, Shabina mengangguk pelan. “Iya … aku coba An, thank you …” jawab Shabina sambil tersenyum. “Tapi ada yang mengganggu pikiranku … tentang Cillian …” sambungnya lagi
“Kenapa?”
Shabina menceritakan tentang pertemuan Cillian dengan Shelby, dan juga fakta kalau Cillian meminta Shelby untuk menyembunyikannya dari Shabina.
“Why? Jadi dia pura-pura waktu kalian ketemu di Jakarta waktu itu? Maksudku, seolah-olah itu pertemuan pertama kalian sejak dua tahun lalu?” tanya Anne.
“Kayaknya dibilang pura-pura sih nggak … nggak pas aja. Ya, waktu itu memang kami pertama kali ketemu secara langsung kan, itu juga kebetulan, dia gak tau aku temennya Emma dan bakal datang ke pestanya Emma ...”
Anne mengangguk-angguk paham, “iya juga … tapi kenapa dia gak mau jumpain kamu di café waktu itu?”
Shabina mengangkat bahu, ia juga sama bingung dan penasarannya seperti Anne.
“Jangan narik kesimpulan dulu ya Na … dia pasti punya alasan, kenapa nggak kamu tanya aja langsung?” ucap Anne.
“Kamu yakin?”
“Iya …”
“Tanya langsung ke dia?”
“Iyaaa Na … telfon aja, jangan dari sms atau chat … ntar dia salah tangkap, kalau jadi salah paham, kan repot.”
“Hmm … aku gak enak mau nelfon duluan”
“Ya tuhan … gak enak apaan, malah aku yakin kalau kamu telfon duluan dia yang kegirangan Na!” kata Anne seperti habis kesabaran.
“Hush!”
“Lho ... kok malah hush sih, bener lho yang aku bilang, gak percaya kamu? Coba telfon sekarang, yakin aku ntar suaranya kayak orang kegirangan …”
Shabina memutar matanya, tak habis pikir dengan kalimat yang keluar dari mulut Anne. “Iya … iya …” lalu meraih ponselnya dari dalam tas.
“Eh, btw, emang dia sebaya kita?”
“Nggak, lebih tua …”
“What? berapa tahun? kok kamu santai banget manggil-manggil dia langsung dengan namanya begitu” tanya Anne dengan nada terkejut.
Shabina mencari nama Cillian di kontak. “Tiga tahun … hmm, dua sembilan berarti. Ya dianya yang minta dipanggil begitu, dulu waktu pertama jumpa aku manggilnya mas Cillian … tapi katanya dia Cuma lebih tua tiga tahun, jadi panggil Cillian aja … yaudah aku nurut”
“Oh, kamu nurut …” ucap Anne sambil tersenyum nakal.
“Apaan sih” gumam Shabina sambil mendengus, tak sadar pipinya mulai memerah.
“Wow, dua sembilan tuh umur yang matang Na … apa lagi”
“Udah ah, mau nelfon nih … “
Shabina baru saja akan menekan tombol hijau untuk menelfon Cillian, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Di layar muncul nama Cillian. Sangking terkejutnya, tangan Shabina refleks menggeser tombol merah, me-reject panggilan laki-laki itu.
“Cillian nelfon …” ucap Shabina.
“Wow, speak of the devil … ya cepat diangkat lah Na”
“Udah ke reject …”
“Hah?!”
Shabina meringis, “ke reject tadi … tanganku refleks, waktu aku mau nelfon dia tadi, tiba-tiba aja dia nelfon …”
“Ya ampun Na … “ Anne menghela nafasnya, ikut frustasi. “Tunggu aja … bentar lagi juga dia pasti nelfon balik”
Shabina menatap Anne dengan tatapan meragukan. Lalu sedetik kemudian ponselnya kembali berbunyi. Nama Cillian muncul kembali dilayar ponselnya.
Sebelum menerima telfon itu Shabina mengucap bismillah dalam hati, entah kenapa ia merasa perlu melakukannya -yang sedetik kemudian membuatnya berpikir betapa konyol dirinya, seakan-akan sedang dihadapi suatu ujian.
∞
Laki-laki itu sedang berada di dalam mobilnya yang di parkir di basement gedung tempat ia bekerja. Rencananya siang ini ia akan kembali ke rumah, pekerjaannya hari ini sudah diselesaikannya, ia juga sudah meminta izin pulang lebih cepat karena merasa kurang enak badan. Sepertinya ini efek lembur dua hari berturut-turut, sudah lama ia tidak bergadang sampai pukul dua pagi, mungkin itu yang membuat tubuhnya drop.
Tiba-tiba ia teringat Shabina. Sudah empat hari berlalu sejak terakhir kali ia mendengar suara perempuan itu.
Dia memutuskan untuk menelfon Shabina, sekedar menanyakan kabar tidak masalah pikirnya, ah, mungkin dia juga akan bertanya apa Shelby sudah diajak.
Cillian mencari kontak Shabina yang ia namai Jane. Menekan tombol hijau, dan menempelkannya di telinga kanannya.
Masih terdengar suara sambungan telfon, lalu tiba-tiba sambungan itu mati. Telfonnya di reject. Cillian menatap ponselnya. Panggilannya di-reject oleh Shabina. Apa dia sedang di kantor? Pikir Cillian. Tapi ini sedang jam makan siang. Untuk beberapa detik lelaki itu ragu, tapi kemudian ia mencoba menelfon perempuan itu lagi.
Tidak lama setelah suara sambungan telfon, panggilannya diterima.
“Assalamu’alaikum … Na?” ucap Cillian memberi salam, suaranya terdengar sedikit serak.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah …“ sahut perempuan di seberang telfon. “Maaf yan, tadi telfon kamu gak sengaja ke reject … hmm, tadi sebenarnya aku lagi mau nelfon kamu … terus tiba-tiba ada panggilan masuk dari kamu, terus gak sengaja kepencet reject … sori.”
Sontak bibir Cillian mengulum senyum setelah mendengar pengakuan dari Shabina. Oh ternyata karena itu. Eh, dia tidak salah dengar kan? Shabina tadi berencana menelfonnya?.
“Oh ya? Aku kira Kamu tadi lagi ada kerjaan di kantor … jadi, tadi kamu mau nelfon ada apa?” tanya Cillian balik.
Jeda sebentar. Tidak terdengar jawaban dari seberang telfon.
“Na?”
“Kamu dimana?”
“Di mobil”
“Lagi di jalan?”
“Nggak ... parkiran kantor”
Jeda lagi.
“Na, ada apa?” tanya Cillian lagi.
Terdengar suara Shabina menghela nafas pelan. Cillian mulai bingung, apa dia ada berbuat salah? pikirnya dalam hati.
“Kamu kenapa telfon aku Yan?” tanya Shabina balik.
“Ah, itu … aku cuma mau tanya kabar kamu, dan apa kamu udah ajak Shelby untuk minggu ini?”
“Alhamdulillah aku sehat, udah, Shelby udah aku ajak … kebetulan dia kosong juga, Insya Allah dia ikut”
“Sip”
Jeda lagi. Lalu tiba-tiba tenggorokan Cillian terasa gatal, dan merasa ingin batuk. Cillian menjauhkan ponselnya dan batuk sambil menutup mulutnya dengan lengan bagian dalam.
“Yan?” panggil Shabina dari seberang telfon.
Cillian meletakkan ponsel kembali ke telinganya.
“Kamu sakit?” tanya Shabina.
“Nggak, cuma kurang enak badan aja … dua malam yang lalu aku bergadang berturut-turut, lembur ...”
“Kamu di mobil mau kemana?”
“Mau pulang, tadi udah izin pulang cepat hari ini … mau istirahat aja kayaknya”
“Oh, gitu …”
Jeda lagi.
“Jadi, tadi kamu mau nelfon aku kenapa?” tanya Cillian lagi untuk ketiga kalinya, ia sadar ia terdengar sangat memaksa, tapi rasanya ada yang tidak beres dengan suara Shabina.
Shabina tidak langsung menjawab. Tapi Cillian masih menunggu.
“Kamu kenapa nggak pernah nanya kabar mamaku?” tanya Shabina.
Kali ini giliran Cillian yang tidak langsung menjawab. Ia terkejut mendengar pertanyaan Shabina. Otaknya sekarang sedang tidak berfungsi seperti hari-hari biasanya, membuatnya susah berpikir dan menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Shabina. Tidak, sebenarnya ia tahu jawabannya, tapi ia tidak tahu cara menyampaikan jawaban itu dengan baik sekarang.
“Kamu ketemu Shelby bulan lalu di Bandung? Kenapa kamu nggak beri tahu aku waktu kita ketemu di Jakarta kemarin?” tanya Shabina lagi. “Kenapa kamu minta Shelby untuk nggak bilang ke aku kalau kalian ketemu?” sambungnya lagi.
Dari pertanyaannya, Shabina memang menuntut jawaban panjang lebar dari Cillian. Tapi Cillian takjub mendengar suara Shabina yang masih tenang. Dalam benak Cillian kalau dalam kondisi seperti sekarang, Shabina pasti akan terdengar sangat frustasi dan suaranya akan terdengar sangat ketus. Tapi ia salah, Shabina bertanya dengan suara tenang.
“Iya, aku memang ketemu Shelby di Bandung waktu itu … tapi itu benar-benar kebetulan Na, aku pun nggak nyangka, Claire duluan yang mengenali Shelby …”
Tidak terdengar suara dari seberang telfon. Cillian memutuskan melanjutkan perkataannya, “waktu itu aku baru tahu kalau tante udah gak ada ... maaf Na”
“Its okay …” jawab Shabina.
“Dan kenapa aku minta Shelby untuk gak cerita ke kamu … ya, aku cuma ngerasa itu yang sebaiknya aku lakukan”
“Maksudnya?”
“Hmm, mungkin ini terdengar konyol … tapi waktu itu aku cuma ngerasa nggak siap aja kalau ketemu kamu, dan aku udah bilang ke Shelby kalau mau ke Bandung bulan depannya, dan aku berencana ketemu kamu saat itu …” terang Cillian, “dan waktu di Jakarta kemarin, rasanya aneh aja kalau tiba-tiba aku bilang tentang aku ketemu adik kamu di Bandung … dan kita juga ngobrol cukup singkat” sambungnya lagi.
Tidak ada tanggapan dari teman bicaranya.
“Maaf Na, aku gak maksud bohong … ya ,itu tadi alasannya …”
Cillian mendengar samar-samar Shabina menghembuskan nafas pelan, sepertinya perempuan itu terdengar lega.
“Ya …” sahut Shabina datar.
Cillian merasa agak bersalah setelah mendengar suara Shabina. Apa setelah ini hubungan mereka akan jelek? Tapi sepertinya Shabina tidak ingin membahas ini lebih lanjut.
“Ini kamu dimana?” tanya Cillian.
“Lagi makan bareng Anne di luar kantor”
“Oh ya? Titip salam buat Anne … ”
“Iya … ntar aku sampein”
“Assalamu’alaikum” ucap Cillian mengakhiri telfon mereka.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah … hati-hati nyetirnya” balas Shabina dari seberang telfon, sebelum perempuan itu memutus sambungan telfon.
Cillian tersenyum. Lalu menurunkan rem tangan mobilnya, bersiap pulang ke rumah.
∞
“Hoo … hati-hati nyetirnya …” ulang Anne setelah Shabina menutup telfon.
Shabina berusaha untuk tidak memutar bola matanya. Anne mulai lagi, pikirnya.
“Cillian titip salam …”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah … dia lagi sakit?”
“Katanya kurang enak badan aja, lembur dua hari berturut-turut katanya …”
Anne mengangguk-angguk mengerti, lalu sejurus kemudian terkekeh sendiri.
Shabina menatap sahabatnya itu heran.
“Kalian kedengarannya udah kayak newly wed aja tahu gak …” celetuk Anne sambil masih terkekeh.
“Apaan sih? Ngaco …”
“Iya, iya … aku mungkin ngaco, tapi coba deh kamu jadi aku … dengar obrolan kalian tadi ...”
Shabina memilih tidak menggubris sahabatnya itu lagi, memilih melanjutkan makannya yang tadi sempat terhenti.
“So, udah tahu alasan dia?” tanya Anne lagi.
Shabina mengangguk pelan, sambil tetap mengunyah makanannya, kali ini ia coba mencicipi chicken parmigiana.
“Puas sama jawabannya dia?”
“Lumayan …” jawab Shabina datar.
“Oh, come on Shabina …” ucap Anne frustasi mendengar jawaban sahabatnya yang acuh tak acuh, tapi dia tau Shabina masih terlihat terganggu dan kurang puas dengan jawaban itu.
Shabina menghentikan makannya, “dia bilang waktu di Bandung kemarin itu … dia merasa nggak siap aja jumpa dengan aku”
“Hah?! Apa-apaan itu?”
Shabina mengangkat bahu. “I don’t know… mungkin dia memang gak nganggap aku seperti yang kamu bayangkan Anne …”
“Nggak … nggak, aku yakin dia nganggap kamu persis seperti yang aku pikirkan Na … trust me” balas Anne, kata-katanya sudah seperti iklan saja. “Tapi kamu harus bahas ini sampai tuntas … kamu masih belum puas dengan jawabannya kan?”
Shabina tidak menjawab, kembali melanjutkan makannya.
“Kenapa kamu gak nanya lebih lanjut? Kenapa oke-oke aja terima alasan dia? Alasannya tadi itu … kedengaran aneh di telingaku Na.”
“Tadinya aku mau minta dia untuk jelasin lebih lanjut … karena aku juga masih bingung sama alasan dia … tapi suaranya udah terdengar serak banget, tadi juga sempat batuk”
Anne menatapnya tidak percaya. Poor you Shabina. Tanpa kamu sadari kamu udah peduli pada makhluk bernama Cillian, teman!.
Anne menarik dan menghela nafasnya panjang, “yaudah … hari minggu nanti, waktu kalian ketemuan, tanya dia lagi … clear-kan masalahnya sampai tuntas Na, supaya gak ada beban yang mengganjal di hati kamu … okay?”
Shabina mengangguk mengiyakan perkataan Anne, “Thank You An …” ucapnya tulus, ia tidak pernah meragukan kalau sahabatnya itu benar-benar peduli menyayanginya.
“Apaan sih … biasa aja kali” giliran Anne yang tersipu.
Anne mengunyah makanannya sambil memandang sahabatnya itu -yang sedang sibuk memerhatikan bentuk luaran crème brulee. Ia berbicara dalam hatinya. Na, aku harap kamu benar-benar bisa bahagia. Melanjutkan hidup seperti dulu lagi, penuh dengan aura positif.